• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MASALAH TIMOR-LESTE DAN HEGEMONI ORDE BARU

H. Pembangunan Timor Timur

I. Diplomasi Indonesia

I. Diplomasi Indonesia

Hal penting yang tidak menjadi titik acuan diplomasi Indonesia, maupun diabaikan pers, adalah fakta bahwa Timor-Leste sejak tahun 1975 hingga 1999 tidak diakui PBB sebagai wilayah Indonesia, dan dikategorikan sebagai wilayah tidak berpemerintahan sendiri.217 Hal ini mendapat pengakuan Indonesia, pada masa Orde Lama, yang pada tahun 1961, melalui Menteri Luar Negeri Indonesia, Subandrio, mengatakan: 218

Mengenai pulau besar Borneo…yang bagian utaranya merupakan wilayah Inggris, dan sama halnya mengenai setengah pulau Timor, yang milik Portugis, kami tidak memiliki klaim teritorial apapun; karena yang kami anggap sebagai milik Indonesia dan milik wilayah Indonesia adalah tidak lain dan tidak bukan seluruh wilayah bekas koloni Hindia Belanda.

Kebijakan ini terus dipertahankan selama masa Orde Baru, hingga menjelang dekolonisasi di Timor-Leste. Namun rupanya lebih pada peryataan publik, setelah dipersiapkan keputusan rahasia tingkat tinggi untuk

216

Di antaranya Robby Sumampouw memonopoli kopi Timor-Leste lewat PT Denok Fernandes, dan memasok peralatan militer bagi ABRI. Lihat Chega! Op.Cit., Bagian 7.9. ‘Hak Ekonomi dan Sosial’. Hlm 12-13.

217

Chega! Op.Cit., Bagian 7.2. ‘Hak Penentuan Nasib Sendiri’, Hlm. 17. Ini didasarkan pada deklarasi PBB tahun 1960, mengenai pemberian kemerdekaan bagi negara- negara dan bangsa koloni.

218

mengintegrasikan Timor-Leste dengan alasan-alasan kemanusiaan, keamanan regional, pertahanan, dan budaya.219 Pada mulanya penyatuan Timor-Leste, hendak disamakan dengan koloni Portugal, Goa, di India, yang pada tahun 1960, diduduki Nehru, tanpa setetes darah pun tertumpah. Namun ada perbedaan besar. Benedict Anderson, mengatakan Nehru sebagai manusia yang manusiawi dan pemimpin yang terpilih secara demokratis; ia memberikan Goa pemerintahan negara otonom, yang dalam banyak hal Jenderal Suharto, kebalikan 180 derajat dari Nehru.220 Demikian juga fakta penting lain menunjukan bahwa orang-orang Goa memandang Nehru sebagai pembebas; sedangkan di Timor-Leste, hubungan dengan Indonesia nyaris tidak berkembang.221 Selain itu, pers mengambarkan secara negatif ketidakhadiran Fretilin dalam Konferensi Tingkat Tinggi (Cimeira) Makao, Juni 1975,222 dan setelah invasi, menyamakan Fretilin dengan kelompok RMS (Republik Maluku Selatan) yang kasusnya berbeda dengan Timor-Leste, termasuk menyamakan Australia dengan Belanda yang menerima aktivis RMS, ketika delegasi Fretilin pada tahun 1983 diijinkan berkunjung ke Australia.223

Meskipun semua fakta- fakta tersebut menunjukkan ketidaksesuaian, namun pemerintah maupun pers, selalu menekankan bahwa keputusan rakyat

219

Ibid., Hlm. 24-25.

220

Benedict Anderson. 2002. Ibid., Hlm. 235.

221

Geoffrey Gunn. Op.Cit., Hlm. 409.

222

Fretilin menolak hadir karena Apodeti turut diundang, bahwa tidak masuk akal membahas dekolonisasi dengan sebuah partai yang hanya ingin mengubah status kolonial Timor-Leste [dari Portugal ke Indonesia]. Lihat Helen Mary Hill. Op.Cit., Hlm. 163.

223

Para wakil Fretilin sempat dilarang ke Australia, sampai kemenangan Partai Buruh 1983.

Leste, untuk bergabung dengan Indonesia, sudah selesai melalui proses yang adil dan benar. Berdasarkan pada prinsip ini, Indonesia menolak mematuhi 10 resolusi PBB mengenai Timor-Leste, sejak tahun 1975 hingga 1982, yang dua di antaranya wajib dijalankan oleh semua negara anggota PBB.224 Dalam hal ini, Indonesia berupaya mengalihkan opini pada sistem pemungutan suara di PBB, yang dianggap merugikan Indonesia, karena peran negara- negara mini. Seperti dikatakan Menteri Luar Negeri Adam Malik: 225

…kemungkinan adanya mayoritas yang menindas dari negara- negara kecil…menyerukan diadakannya “studi dan penelitian yang mendalam” untuk menentukan bagaimana memperbaiki badan dunia itu dan diperlukannya permufakatan mengenai apakah sistem perwakilan itu didasarkan pada jumlah penduduk/pun faktor-faktor lain…Indonesia yang merupakan negara ke-5 dan jumlah penduduk terpadat di dunia…ternyata disejajarkan dengan negara- negara yang jumlahnya hanya 1 pct dari 130 juta jiwa.

Sementara itu, pers tidak pernah menanggapi secara kritis pelanggaran Resolusi PBB oleh Indonesia, dan sebaliknya memberikan persetujuan. Berita Buana menuliskan: 226

Mayoritas anggota PBB sangat dogmatis terhadap dalil “hak-hak menentukan nasib sendiri” yang harus sama dengan kemerdekaan, dan tidak bisa lain, tidak peduli apakah negeri dan rakyat yang bersangkutan benar-benar mempunyai kemauan nasional, kemauan politik, untuk merdeka…Rakyat Timor Timur yang telah menyatakan kemauannya,

224

Resolusi No 31/50 yang diadopsi pada 1 Desember 1976, butir kelimanya menegaskan: menolak klaim bahwa Timor-Leste telah berintegrasi ke dalam negara Indonesia, karena rakyat wilayah ini belum bisa dengan bebas menjalankan hak penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dan menolak keabsahan integrasi yang disahkan Indonesia dengan UU No 7/ 1976.

225

‘Menlu Malik Kecam “Mayoritas Yang Menindas” di PBB’, Kompas, 2 Juli 1976. Pct asli, artinya persen.

226

‘Timor Timur Jadi Masalah Abadi di PBB’, Berita Buana, 22 November 1977.

melaksanakan hak-hak menentukan nasib sendiri melalui prosedur yang demokratis menurut adat dan kebiasaan masyarakat setempat, dianggap tak pernah berbuat demikian.

Dalam hal ini, pernyataan para diplomat Indonesia, menjadi titik sentral pemberitaan pers, khususnya Menteri Luar Negeri, mulai dari Adam Malik (1966-78), Mochtar Kusumaatmadja (1978-88), hingga Ali Alatas (1988-98); dan pada saat yang sama mengecilkan pandangan atau sua ra yang mengusung penentangan terhadap Integrasi Timor Timur dengan Indonesia. Sehingga hampir semua berita, menolak mentah- mentah seruan PBB, Portugal, dan beberapa negara yang mendukung hak penentuan nasib sendiri rakyat Timor-Leste,227 termasuk para diplomat Fretilin, organisasi-organisasi non-pemerintah maupun sejumlah individu yang konsisten membela hak rakyat Timor-Leste. Sebaliknya pers Indonesia, menjadi corong utama dalam mengambarkan diplomat Fretilin sebagai pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab; melarikan diri dari Timor- Leste dan hidup dari menjajakan masalah Timor-Leste. Media cetak seperti Suara Pembaharuan, Jawa Pos dan Kompas, banyak terlibat dalam ’pembantaian pribadi’ (character assassination), menyusul kegagalan propaganda hitam terhadap upaya para diplomat Timor-Leste, yang reputasinya menanjak di mata internasional.228

227

Dukungan terutama datang dari 5 negara Afrika berbahasa Portugis (Angola, Mozambique, Tanj ung Verde, Guinea-Bissau, dan São Tome e Principe), Brazil dan sekutu-sekutunya.

228

Harian Kompas misalnya beberapa kali memuat kesaksian seorang perempuan Australia, Wendy Holland, yang mengaku bekas istri Jose Ramos-Horta. Di Australia, majalah picisan seperti New Idea yang memuat cerita serupa, digugat di pengadilan oleh Ramos-Horta, sehingga menganti rugi ribuan dollar, atas cerita isapan jempolnya. Lihat Aditjondro, dalam Sindhunata, (Editor). Mengenang Y. B. Mangunwijaya: Pergulatan Intelektual Dalam Era Kegelisahan. Op.Cit., Hlm. 209-210. Sementara Xanana Gusmão ketika ditangkap tahun 1992,

Pers juga memberi label terhadap para penentang Integrasi Timor-Timur sebagai kelompok anti-Indonesia. Sedangkan negara-negara yang menentang integrasi, digambarkan sebaga i solidaritas sosialis (komunis) internasional,229 dan menganggap upaya mereka sebagai campur tangan terhadap urusan dalam negeri Indonesia, sehingga mengabaikan uraian yang jelas tentang prinsip anti-kolonial dalam menentang Integrasi Timor Timur.

Secara umum pemberitaan pers mencitrakan diplomasi Indonesia, dengan nada positif, seiring resolusi- resolusi yang dihasilkan di Dewan Keamanan PBB, dari tahun ke tahun sejak 1979 hingga 1982 tidak mendapat dukungan dari negara-negara besar [terutama negara-negara- negara-negara barat], seperti AS, yang lebih banyak menggunakan hak veto-nya menentang resolusi. Sementara jumlah suara bergeser dari mayoritas menentang integrasi mendekati titik seimbang pada tahun 1982, membuat isu Timor-Leste di PBB sementara ditunda, bahkan ‘dikecilkan’ ketika dialihkan sebagai masalah bilateral antara Portugal dan Indonesia. Ini membuat Indonesia mulai menganggap masalah Timor-Leste sebagai non-issue di PBB, meskipun tetap diagendakan hingga 1999.230

Bagaimanapun diplomasi Indonesia, secara pragmatis mengedepankan hubungan ekonomi untuk mendapatkan dukungan, sehingga banyak negara besar jarang mendukung Timor-Leste yang ‘kecil’ dan dianggap tidak penting. Ini digambarkan sebagai haus seks. Suatu tuduhan yang pernah dilakukan terhadap Gerwani pada 1966 di Indonesia.

229

Berita Buana, 10 Mei 1976. Hal ini tidak sebetulnya benar, sebab negara-negara non komunis/sosialis seperti Islandia, Aljazair, Brazil, dan Swedia turut menentang Indonesia.

230

disadari betul oleh para diplomat Indonesia, yang terbiasa korup untuk menekan negara-negara lain, termasuk menggunakan bantuan secara finansial maupun material, dalam merayu kritikus mereka.231 Diplomasi ala Orde Baru ini, oleh George J. Aditjondro, secara sarkastis disebutnya sebagai ‘pentungan dan pemikat dalam diplomasi Indonesia’.232

Pada masa ini, pencapaian-pencapaian Indonesia, mendapat pujian dari pers, bahwa masalah Timor-Leste tinggal menunggu waktu, dan akan terselesaikan dengan sendirinya. Sehingga memasuki paruh pertama 1980-an, opini pers mulai mengesampingkan isu hak penentuan nasib sendiri yang gaungnya ditelan berita pembangunan di Timor-Leste.