Terima kasih, Pak Ketua.
Itu yang pertama, tadi Pak Mufti Anam. Saya pertama mohon maaf Pak, kadang memang kemarin beberapa permintaan paket itu banyak sekali, Pak.
Terus, dibarengi dengan tragedi Covid, Pak. Jadi memang, PSBB itu akibatnya kita nggak bisa memproduksi banyak, Pak. Memang, beberapa memang ada keterlambatan, Pak. Tapi, insya Allah nanti, karena kami sudah pengalaman itu, kami sudah mau membuat beberapa peningkatan mesin, kapasitas untuk kita memproduksi. Sehingga, insya Allah ke depan apa pun yang diminta Bulog bisa terpenuhi.
Bapak Ibu sekalian.
Tentunya, masalah Bulog ini tergantung memang pada khususnya pada CBP, Bapak Ibu sekalian. CBP ini memang tergantung pada anggaran yang diberikan pada Bulog. Karena, selama ini memang justru yang pertama karena kita kena biaya pinjaman dengan biaya komersial. Yang kedua, kepastian penggunaan JBP itu yang tidak ada. Sehingga, dampak akibatnya rusak, Bapak Ibu sekalian. Bunganya tinggi, tapi kualitasnya menurun.
Karena, jujur yang perlu kami sampaikan bahwa sekarang ini, Bulog itu belum punya memiliki gudang yang khusus beras, Pak. Apalagi kita bicara gula, bicara kedelai, bicara jagung. Kita ini hanya bicara gudang. Jadi, gudang kita ini gudang biasa sebenarnya, Pak. Jadi, gabah pun tidak, Pak.
Jadi, gudang biasa. Karena, kalau gudang untuk beras itu ada aturan ketentuannya. Ada temperaturnya, ada sistemnya dan menyimpan beras itu harusnya dengan model celo. Apalagi gabah juga demikian. Jadi, tadi Ibu sampaikan bagaimana kita ke depan menyerap itu dengan kualitas yang baik, ya memang kita harus bangun Pak, Bapak Ibu sekalian. Dan ini sudah kita bangun. Yang tadi penggunaan dana PMN itu, salah satu yang membangun sarana prasarana. Kita membangun, akan membangun sistem modernisasi dari pada proses.
Termasuk Bapak Ibu sekalian, perlu kami sampaikan bahwa ke depan memang Bulog itu sudah berkomitmen. Kita juga membangun setiap gudang itu ada mesin rice to rice. Jadi, baik berupa pupuknya, beras yang disimpan oleh Bulog. Karena memang gudangnya tidak spesial untuk beras, maka harus melalui prosedur rice to rice. Sehingga, itu menjamin jadi menjamin kualitas berarti bagus.
Jadi, jangan kan tadi disampaikan ada kutunya, ada telurnya. Memang itu kejadiannya seperti sekarang. Karena memang, sistem yang ada seperti itu, jadi potensi terjadinya kutu sama netesnya telur kutu itu bisa terjadi. Tapi kalau, sudah melalui proses rice to rice, itu dipastikan bahwa beras yang kita keluarkan pasti kualitasnya bagus.
Ini sudah kita buktikan pada saat kemarin kita mendapatkan tugas untuk penyaluran Bansos yang di DKI atau Jabotabek. Nah, itu yang pertama yang tahap pertama kita harus menyalurkan 1,4 juta KPM dalam waktu 2 minggu, kita bisa salurkan itu dengan kualitas yang baik. Tidak ada satu pun KPM
yang complain terhadap beras yang disalurkan oleh Bulog. Karena, semua sudah melalui proses rice to rice.
Dan kita juga, Pak membuktikan bahwa kita sistem sudah kita bangun.
Sehingga, yang kemarin kita salurkan dari Bulog itu door to door, Pak. Jadi, sesuai dengan data, kita pegang data itu dari Mensos, kita teruskan pada yang bersangkutan door to door. Jadi, tidak lagi di orang-orang kumpul di satu tempat untuk mengambil itu. Ini sudah kita buktikan dan sistem itu sampai sekarang juga kita lakukan terus-menerus, Pak dengan kita kerja sama tentunya dengan swasta.
Yang kedua juga demikian, Bapak Ibu sekalian. Untuk Bansos yang berikutnya, itu juga tahap kedua 1,9 juta KPM untuk Jabotabek. Itu juga dalam waktu 2 minggu, kita bisa menyalurkan masing-masing KPM itu 25 kg beras. Nah, itu juga sampai ke sasaran tidak juga melebihi waktu, kualitasnya juga tidak kurang termasuk timbangannya. Ini juga membuktikan bahwa kita sudah komit, kita juga tetap menjaga kualitas beras.
Mengenai harga memang, sementara ini kita mengikuti mengatur pemerintah untuk penyerapannya khususnya untuk CBP, Bapak Ibu sekalian.
CBP akan dibatasi, itu kita ngikutin ketentuan. Namun demikian, untuk mengatasi bagaimana produksi pertanian dari petani ini bisa kita serap. Kita juga melakukan sistem komersial, Pak. Jadi, kita membeli juga dengan harga pasaran, Pak. Kalau untuk CBP kita nggak mendapatkan, maka kita akan mengadakan dengan sistem untuk komersial CBP. Sehingga, komersial, sehingga produksi petani itu semua bisa diserap. Karena, sampai saat ini juga ada beberapa wilayah, Pak, Bapak Ibu sekalian. Pertanian yang selama ini, petani tidak tersentuh oleh kita. Karena, dikuasai oleh apa, oleh tengkulak-tengkulak. Nah, Covid ini tengkulaknya lari, Bapak Ibu sekalian, kebetulan.
Nah, sekarang sudah kita kuasai dan petani di situ terima kasih, karena Bulog membelinya sudah melebihi daripada kebiasaan dari tengkulak. Jadi, kita membeli dengan standar waktu itu, sampai hari ini pun kita membeli gabah petani itu dengan harga yang diinginkan petani. Kita serap semua, Pak dan sekarang, berupa gabah, Pak. Kita prioritas adalah gabah, Pak. Kering panen juga kita beli, kering giling juga kita beli, Pak. Jadi, supaya petani itu semangat dan sekarang petani-petani itu semua berharap Bulog itu membeli, Pak. yang membangun pengilingan padi dan penampungan.
Dan kita juga membangun celo, Pak. Di 14 titik celo. Sehingga, nanti kita menyerapnya berupa gabah, Pak kita simpan. Insya Allah kalau itu sudah terbangun, Pak. Itu kita simpan dalam kurun waktu 2 tahun tanpa kita mengeluarkan biaya besar untuk merawat, itu bisa kita lakukan dan ini nanti seperti Bu Novi sampaikan tadi, Bu Nevi bahwa bagaimana kualitas beras ini bisa terjadi. Nah, ini kita harus bangun sistemnya, Pak teknologinya. Dan ini, selama ini belum pernah, Pak. Sehingga, Bulog itu kecenderungannya dulu,
berasnya jelek, buruk. Karena, kita memaksakan diri untuk menyerap dengan apa adanya. Sehingga, begitu kita keluarkan kualitasnya sudah rendah.
Sedangkan, kalau kita jual murah, itu Bulog juga akan mendapat kerugian, karena bunganya tetap berjalan, karena bunga komersial. Nah, ini sudah kita perbaiki.
Oleh sebab itu, kami pada saat itu menawarkan kepada, menyampaikan kepada pemerintah bahwa ke depan Bulog itu harus mendapatkan dukungan untuk penyerapan, Bapak Ibu sekalian. Karena, kalau penyerapan ini dilepas seperti sekarang, kita harus pinjam. Maka, akan terulang beban Bulog ini.
Apalagi sekarang BPNT sudah jelas tidak menggunakan beras Bulog. BPNT dilepas bebas, berasnya bisa beli di mana saja dan ini lah faktanya tadi disampaikan bahwa berasnya diminta premium juga tidak premium. Bahkan, berasnya lebih jelek daripada medium yang ada di Bulog.
Nah, ini yang memang faktanya. Tapi memang, kita sedang terus kerja sama dengan Mensos, supaya meyakinkan. Kemarin, sudah kita buktikan bahwa Bapak Ibu sekalian, bahwa yang kita salurkan itu lebih baik dari yang disalurkan oleh pihak lain. Ini kita sudah buktikan kemarin. Namun demikian, memang kita terus kerja sama berusaha meyakinkan ini, kerja sama dengan apa, Menteri Sosial.
Kemudian, memang kita menyarankan bahwa apa, mengajukan juga, Pak kepada Menteri Keuangan, supaya penyaluran beras Bulog khususnya yang CBP itu juga bisa kembali lagi bisa disalurkan ini kepada TNI-Polri dan ASN, yang selama ini sudah dilepas. Artinya, ke pasar bebas. Ini lah potensi sebenarnya penyerapan Bulog itu bisa bergerak, barang tidak seperti sekarang diam. Karena, kalau BPNT itu tidak ada, BPNT itu tidak pakai beras Bulog, Rastra tidak ada, Raskin tidak ada, maka ini stuck Pak.
Nah, kalau kita suruh menyerap lagi. Satu hal yang tidak ada kepastian tadi, sehingga ada keragu-raguan di pihak Bulog terutama teman-teman di wilayah. Kalau kita menyerap, jaminannya apa dulu pakai. Karena, kalau begitu beras di gabah rusak, kita yang tanggung jawab, Bu. Nah, ini yang memang sedang kita sampaikan kepada kementerian. Terutama juga, kita harus sinergi dengan Kementerian Pertanian. Di satu sisi, Kementerian Pertanian memproduksi pertanian itu sendiri, tapi di sisi lain offtaker nya
Kapolri masih Pak Tito waktu saat itu, kita menginginkan itu Pak dan jaminan kualitas. Karena, kita sudah menjaga kuantitasnya, Pak.
Harga di kita waktu itu, kita tawarkan beras yang kita ajukan kepada TNI/POLRI ada 9.450 rupiah, Pak per kilo. Rimbun, Pak. Karena, kita langsung dari gabah, Pak. Tapi ternyata, uang yang ada di gaji TNI/POLRI dan ASN itu hanya 7.000 rupiah, Pak. Jadi, selisihnya 2.450. Nah, ini yang menjadi masalah, Pak. Tidak mungkin ditarik dari para personil itu, Pak.
Karena, mereka tahu gajinya yang dihitung beras, itu ada 7.000. Sedangkan, kenyataan mereka membeli 12.000 di lapangan, di kenyataannya. Tapi,
mereka tidak complain, karena dia tidak tahu kalau mereka beli itu 12.500 rata-rata di lapangan.
KETUA RAPAT:
Jadi, sinkronisasi antar departemen perlu ini.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Iya, Pak. Karena memang,
F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):
Interupsi dulu, Pak Ketua. Satu, sedikit saya mengomentari Pak Buwas.
Pak Buas, sekarang ini. Dulu kan ada slot anggaran untuk Raskin yang 20, antara 20 sampai 22 triliun. Kemudian, ada untuk CBP (Cadangan Beras Pemerintah) itu sebesar 2 triliun. Ini sudah ada semua dana ini?
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Jadi Pak, yang slot untuk penyerapan yang dulu, Pak. Masih ada, sekarang kita pakai terus Pak. Tapi kan, dengan sekarang kita memerlukan dengan nilai yang besar, Pak. Kita kan memerlukan dana kurang lebih 15 triliun, Pak untuk penyerapan kita yang ditentukan oleh pemerintah bahwa Bulog harus menyiapkan CBP itu 1 sampai 1,5 juta ton, Pak.
Nah, ini yang anggaran ini yang kita pinjam dengan dana komersial tadi, Pak. Yang lainnya, kami sudah tidak ada lagi Pak. Itu Pak.
F-PG (NUSRON WAHID):
Pak Interupsi, Pak.
1 sampai 1,5 juta ton CBP itu setara dengan berapa persen jumlah konsumsi kebutuhan manusia Indonesia beras, Pak?
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Jadi, sebenarnya kalau saya kecil sekali Pak. Kalau dibandingkan dengan konsumsi makanan. Kita kan hanya sebagai buffer, Pak untuk stabilisasi keterjangkauan dan tadi, Pak. (suara tidak jelas)
F-PG (NUSRON WAHID):
Tolong terangkan kepada saya idealnya CBP itu, Pak harus berapa persen dari total konsumsi nasional, Pak? Jadi, hitungan saya kalau total konsumsi nasional, kalau nggak salah saya 38 juta atau berapa, Pak? 30, 38 kan?
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
38, itu satu tahun Pak.
KETUA RAPAT:
33 juta konsumsi nasional ya.
F-PG (NUSRON WAHID):
Bahkan CBP kita harus 8% dari 38 juta ton itu. Kalau cuma satu juta sampai satu setengah juta ton, Pak. Belum nendang, Pak kalau ada apa-apa, Pak ya kan. Betul nggak Pak hitungan saya?
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Iya, betul Pak. Itu kan tertebak di mana-mana.
KETUA RAPAT:
33 juta semestinya sih 3 jutalah itu.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Siap. Saya juga terakhir, Pak. Kami rapat dengan presiden. Pak Presiden mengharapkan stok kita itu harus 3 juta, minimal Pak. Nah, kami juga siap saja Pak, karena gudang kami siap untuk 3,6 juta, Pak. Jadi, wajar Pak. Yang tidak wajar adalah penganggarannya, Pak. Nah, itu saja saya.
KETUA RAPAT:
Ok, Pak.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Tapi, tetap kami memohon, meminta kepada pemerintah bahwa CBP itu dianggarkan oleh APBN, Pak. Sehingga, kita siap untuk menyimpan, untuk mendistribusikan apa di seluruh Indonesia. Karena, kita siap gudangnya, Pak.
Nah, tapi penganggarannya kami nggak siap, Pak. Kadang, kalau nanti tidak ada hilirnya. Maka, itu bumerang buat Bulog. Itu saja, Pak.
KETUA RAPAT:
Nanti, pendalaman lebih lanjut kita perdalam di kunker nanti Pak ya.
Kunker kita kan sempat lagi ketemu dengan Pak Buwas. Kalau kita nanti ke Jawa Barat, kita mau undang Pak Buwas untuk kita bicara di kunker nanti ya.
Karena, kita bicara hampir 10 menit lagi kita mau berakhir ini. Kalau baca-baca kesimpulan saja, sudah lebih dari 10 menit ya.
Tapi, oleh karena itu kita ke kesimpulan Pak ya.
F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):
Pak Pimpinan, mohon izin. Mohon izin interupsi sebentar.
Terkait mitigasi apa namanya, beras, kita sepakat apa namanya belum dijelaskan terkait mitigasi gula. Karena, ini urgent juga kita perlu penjelasan dari panjenengan. Sebenarnya, ini apa sih masalahnya terkait gula ini. Saya dengar juga masih terhambat perizinan di sana, Pak.
Sebenarnya, panjenengan ini sama Mendag-Mendag ini ada masalah apa sih, Pak sebenarnya? Kita perlu penjelasan di sini, Pak. Nah, ke depan bagaimana? Apa sudah clear ini ke depan? Karena, ini Pak Bulog ini sebagai topang utama terhadap apa pangan kita. Kalau kondisi seperti ini terus, rakyat dikorbankan, Pak. Bapak harus tegas soal ini dan disampaikan saja di sini, Pak masalahnya apa, Pak. Biar kita carikan solusi bersama-sama, Pak.
ANGGOTA KOMISI VI DPR RI:
Ini Pak Mufti atau betul Mendag masalah dengan siapa.
KETUA RAPAT:
Silakan, Pak dijawab, Pak. Secara ini Pak.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Baik, Pak.
Bulog ini sifatnya penugasan, Pak. Jadi, kami tidak bisa disamakan dengan swasta. Kalau kita dikasih penugasan, artinya semua kita diaudit, pak.
Kita mengikuti prosedur pengadaan. Beda dengan swasta, Pak. Swasta begitu penugasan, dia bisa impor langsung.
F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):
Artinya kan, Bapak dapatnya lebih cepat dari swasta, Pak ini Pak.
Padahal, Bapak ini penugasannya. Tapi, kenapa Bapak lebih lambat begitu, kok dapat izinnya lebih lambat dari swasta, kenapa Pak? Apa karena jangan-jangan swasta lebih menguntungkan buat mereka atau bagaimana? Kita perlu anu dari panjenengan penjelasan.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Ya, saya kira gini Pak. Bapak Ibu sekalian.
Itu yang bisa menjawab mungkin dari pihak Mendag, Pak. Karena, kami terus terang berusaha untuk secepatnya, karena penugasan, Pak. Tapi, ya itu tadi Pak, ada persyaratan-persyaratan yang memang menghambat kita.
Artinya, kita nggak bisa exist di situ, Pak untuk percepatan.
F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):
Pingin tahu, yang menghambat itu apa sih Pak? Di sisi mana gitu, kita perlu tahu.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Jadi, penyidik di disidik juga nih.
KETUA RAPAT:
Ya, Pak Buwas. Itu menjadi PR bagi Pak Mufti dan Pak Nusron untuk dipertanyakan nanti di Menteri Perdagangan, kan gitu ya.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Iya, artinya begini Pak. Kami kan selalu penugasan melalui keputusan Rakortas, Pak. Jadi, nggak putus. Harusnya, tidak ada pertanyaan lain, kecuali kita diberikan peluang untuk segera (suara tidak jelas) selesai, Pak.
Tapi, faktanya kan bolak balik bolak balik. Nah, inilah yang kami juga tidak tahu permasalahan pokoknya itu apa, Pak. Ya, karena kita ini bukan cari untung, gitu tidak Pak. Kita ingin percepat dan jumlah yang kita butuhkan kalah sama swasta, Pak.
Maka, seperti Bulog ini kadang-kadang kalau dikasih penugasan, Pak.
Ibarat seperti menggarami air laut, Pak. Jadi, butuhnya umpamanya 50.000 ton, hanya dikasih 10.000 gitu kan. Ya, berarti nggak ada, apa-apa. Belum lagi prosedurnya sulit, Pak. Nanti ibaratnya, dapatnya juga sulit, Pak. Ya, ini memang yang jadi masalah, Pak. Makanya, ini yang perlu kita-kita samakan persepsinya bahwa peran Bulog itu apa sih. Nah, ini yang harus ada pemahaman.
F-PDIP (dr. H. MUFTI ANAM):
Pimpinan, dikit.
KETUA RAPAT:
Silakan.
F-PDIP (dr. H. MUFTI ANAM):
Itu kan ada waktu kemarin kan Pak Buwas ya, rapat gabungan Komisi VI dan IV yang Bapak hadiri juga. Ada Mentan, ada Mendag ya. Itu kan ada satu
wacana pada waktu itu, cuma itu muncul di akhir Pak Buwas belum sempat menanggapi dengan wacana Bulog untuk dikembalikan pada fungsi sebelum Krismon 98. Jadi, bukan lagi dalam bentuk atau apa tidak bergiat dalam jasa komersial, tapi nonkomersial dan memang bergiat pada stabilisasi harga dan yang lain sebagainya.
Bagaimana menurut Bapak sekalian. Karena, ditugaskan juga waktu itu di Komisi VI untuk me apa namanya, membahasnya gitu. Silakan, Pak.
DIREKTUR UTAMA PERUM BULOG (BUDI WASESO):
Baik, Pak. Jadi, kalau harus saya berpendapat memang mohon izin, Pak. Memang saya akhirnya tahu, Pak. Saya kan tamatan polisi. Kemudian, saya jadi Dirut Bulog. Tadinya tidak tahu, Pak tapi pada akhirnya saya paham, Pak.
Sekarang, kalau kita mau jujur, Pak. Harga bawang saat impor itu sampai di Indonesia berapa rupiah sih, kan itu kita jelas Pak. Gula juga mau rafinasi, mau BKP juga kita tahu berapa sih kalau impor sampai di Indonesia.
Nah, kenapa di sini harganya mahal Pak? Sebenarnya yang bikin mahal bukan karena harga Gurmen, Pak. Karena, terlalu banyak yang terlalu banyak pungutan, Pak. Ya pengambilan-pengambilan ini, Pak. Sehingga pada akhirnya, bebannya itu ada di konsumen, Pak.
Nah, oleh sebab itu kan, saya pernah bilang, kasih saya saja Pak satu (suara tidak jelas), Pak. Saya berani jamin jualnya murah, Pak. Karena, kita komitmennya bukan pure bussiness Pak. Kita komitmennya untuk keuntungan negara bangsa, Pak. Ya, saya bilang kalau gula di tangan saya, gini saja Pak 10.000 sampai konsumen, Pak paling mahal, Pak. Karena, sekarang kan kita nggak mungkin, Pak bersaing dengan impor atau impor itu diambil bebas.
Banyak hal, Pak saya kira juga demikian juga dengan penugasan-penugasan kita yang lain, Pak. Jadi, begitu kita dapat penugasan-penugasan bawang putih, Pak. 100.000 ton untuk menjaga stabilisasi bulan puasa lebaran, dibatalkan sepihak dan bisa, Pak. Hasil Rakortas batal sepihak bisa ternyata, Pak. Jadi, nggak ada gunanya juga Rakortas menurut saya. Jadi, itu Pak.
Karena apa, mereka kita takut Pak, kalau harganya jadi turun, karena ada Bulog intervensi, gitu Pak. Ya, pedagang-pedagang itu Pak, ya kan. Yang mendapat kuota-kuota besar itu. Saya kira itu terang berderang kok Pak. Jadi, saya kira Anggota DPR tahu kok, siapa yang dapat kuota terang berderang.
Ada yang dapat kuota ke pabrik apa pun, nggak dapat kuota. Nah, itu kan fakta. Ya itu, Pak sebenarnya itu saja masalahnya, Pak.