• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 85-98)

Terima kasih, Bapak.

Pimpinan dan Bapak-bapak Anggota Komisi VI,

Jadi menjawab pertanyaan tadi Pak, beberapa hal memang ada yang duplikasi, sehingga kami akan jawab sekali.

Terkait kebijakan pemerintah Pak. Terkait dengan kebijakan pemerintah ini semangatnya didirikannya Perumnas memang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpengasilan rendah atau MBR, maka memang kami sepakat direksi yang baru ini mengembalikan khitahnya Pak. Perumnas untuk kembali ke khitahnya mengutamakan produk untuk

masyarakat berpenghasilan rendah. Kemudian terkait tadi disinggung mengenai kerja sama dengan Pemda dan BUMN untuk mengatasi kesenjangan atau lack dalam pengadaan tanah.

Sebelumnya kami sudah melakukan kerja sama Pak, ada di yang tadi disebutkan antara lain, di Buru, Pulau Buru, Pulau Samosir, kemudian ada di Jakarta Pak di Jakarta Koja. Kemudian dengan BUMN, di Cirebon juga ada Pak, kami sudah bekerja sama dengan Pemda sana. Kemudian dengan BUMN kami sudah bekerjasama dengan Bhanda ghara Reksa, dengan Pertani, dengan PFN, kemudian dengan PTPN II dan ini sedang berproses.

ANGGOTA:

Pertanyaan utamanya itu, Bapak itu pakai dana talang atau pakai PMN?

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Iya.

Memang kami dalam hal ini mengajukan mana yang lebih cepat Pak, dalam dalam pengertian, kami yang lebih cepat ini adalah pinjaman, sehingga karena memang kebutuhan apa likuiditas kami dalam jangka pendek ini Pak, kewajiban kami bulan Juli sampai dengan bulan November ini ada yang jatuh tempo 600 miliar, inilah yang kami apa tutupi itu dulu Pak. Kalau nanti diberikan PMN ya Allhamdulillah.

ANGGOTA:

Mana lebih cepat, kan lebih cepat?

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Mudah-mudahan cepat semuanya Pak.

KETUA RAPAT:

Lebih cepat pinjam Pak, lebih cepat pinjam atau lebih cepat ke PMN?

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Kalau proses yang sekarang ini kan pinjaman Pak, sekarang ini yang berproses ini pinjaman Pak, apabila nanti ternyata PMN lebih cepat.

ya itu harapan kami.

KETUA RAPAT:

Kalau kalau saya lihat, kalau ngomongin lebih cepat itu pasti PMN lebih cepat, karena PMN lari dulu ke SMI baru kemudian ke Bapak, kan begitu.

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Ya.

KETUA RAPAT:

Ya, kan lebih cepat langsung PMN ke Bapak kan gitu, ini nalar saya ya.

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Tapi mungkin prosesnya aja Pak, proses waktu prosesnya barangkali, waktu. Jadi intinya kami perlu kecepatan untuk ini Pak, karena kami punya kewajiban jangka pendek ini yang harus kami tutup, ini untuk menjaga performance perusahaan juga Pak, karena untuk mempertahankan investment PEP ini supaya tetap terjaga.

ANGGOTA:

Artinya bagi Bapak itu yang penting cepat aja ya Pak ya.

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Jadi harapan kami memang, hari ini kami sebetulnya jatuh tempo Pak, tanggal hari Senin harus terbayar. Itu sementara kami bridging dulu Pak, bridging untuk bisa membayar sampai dengan hari Senin, kemudian.

ANGGOTA:

Bridging dua lagi Pak?

DIREKTUR KEUANGAN PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Ya baik Pak, mungkin saya sedikit terbuka terkait dengan kondisi likuiditas ini Pak. Memang kalau dilihat hasil penjualan kita memang drop, itu betul drop. Selain itu juga ada beberapa yang mungkin kami belum menemukan apa namanya, memerlukan waktu terkait dengan aset quality yang tadi Pak Pak Faisal apa, Pak Faisol sampaikan. Terkait dengan aset quality kita proses untuk dilakukan assessment dulu Pak, terkait dengan aset yang kita miliki seperti inventori maupun piutang, ini karena penting Pak. Karena kalau seandainya ini tidak kita lalukan assessment, kita enggak tahu kualitasnya seperti apa dan kondisi terkininya bahwa kalau

dilihat ini di dalam materi kami, Pak.

Kemudian saya sampaikan ada namanya net operating cash flow kita, itu kalau dites PEP, net operating cash flow kita tuh selalu negatif Pak.

Net operating cash flow negatif artinya apa, untuk menutupinya itu kita harus melakukan pinjaman, ini dalam kurun waktu selama 5 tahun terakhir seperti ini.

Nah, artinya apa Pak makanya tadi saya sampaikan perlunya ada restukturisasi keuangan, kita akan reform terkait dengan jumlah hutang yang kita miliki. Kalau di sini ada sustain sustain ada sustain Pak, tapi saya belum bisa memastikan jumlahnya berapa, karena saya musti harus asses dulu itu aset. Baru kita lihat kalau hutang kita misalnya jumlah sekitar, dari MTN saja, itu hampir sekitar 3,5 triliun, dari perbankan itu sekitar 1 triliun lebih. Nah, bridging saat ini, kami difasilitasi lewat PPA Pak, PT PPA, ini lebih kepada untuk 5 tadi.

Kalau seandainya dana talangan ini masuk Pak, ini kita langsung net off, jadi lebih jangka pendek Pak, jadi tidak, ya, kewajiban. Sebetulnya kita concern-nya adalah menyelesaikan, nantinya ada kewajiban, tetapi ada satu yang tadi disampaikan bahwa kita melakukan satu (suara tidak jelas) untuk menjual stok kita, terutama stok yang sebenarnya bisa dijual cepat, tapi karena kondisi marketnya untuk captive market yang terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah ini akan apa, problem terkait dengan apa, kita kan targetnya kan low income Pak.

Nah, kalau low income-nya aja mereka tidak bisa beraktivitas untuk memperoleh income, kan ini mempengaruhi proses pembayaran installment-nya, ini yang terus terang satu-satunya cara adalah kita dengan partnership atau dengan strategic investor, gitu Pak.

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Jadi saya lanjutkan Pak, terkait memastikan pasar dan kebutuhan perumahan yang diperlukan, kami juga sudah bekerja sama dengan ASN, TNI, Polri Pak, untuk melakukan kerja sama penyediaan lahan untuk, bahkan untuk dengan BPK RI kami sudah berjalan untuk itu. Jadi kepastian pasarnya ini sebetulnya sudah ada. Kemudian kalau terkait bagaimana menjual yang 5.000 unit itu, sebetulnya hari ini pesanan pun sudah lebih dari 5.000, cuma yang tercatat di dalam penjualan itu masih tadi disampaikan 1.200, karena memang sesuai PSAK 72 ini kami boleh membuku penjualan kalau sudah siap Bapak.

Terima kasih.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Mohon ijin Pimpinan. Pak grup market panjenengan kan luar biasa besar ya, kenapa Pak ya kok sampai hari ini kok seperti bleeding terus begitu. Nah, padahal dalam kondisi Covid pun hari ini, temen-temen yang bergerak di bidang properti menengah ke bawah itu juga masih sehat-sehat aja Pak begitu, kenapa ya.

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Jadi memang anu Pak, beberapa perbankkan, beberapa perbankan ini kan meng-hold, meng-hold pemberian kredit Pak, terkait dengan kondisi saat ini. Sebetulnya kalau kami pesanan lebih dari 5.000 sampai hari ini, cuma yang betul-betul bisa kami catat akadnya, sudah serah terima kemudian akadnya sudah ditandatangani itu baru 1.200.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Itu kondisi Covid, pas sebelum Covid ini kan nggak begitu, kenapa kok tetep bleeding, kok likuiditasnya kok tetep nggak membaik waktu itu ya.

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Memang di tahun 2019 itu properti dirombak, pada saat yang sama sebetulnya temen-temen tidak jualan, teman-teman jualan Pak, cuma pada saat tahun-tahun sebelum, tahun-tahun sebelumnya Pak terlalu cepat membukukan penjualan, yang akhirnya kan harus ditutup pada tahun itu, itu yang sehingga performance pada tahun 2019 ini drop Pak, yang ini tidak akan bisa terjadi lagi dengan diberlakukannya PSAK 72. Karena bisa dibukukan penjualan setelah beralih tanggung jawab, kira-kira begitu Pak.

F-PDIP (dr. H. MUFTI A. N. ANAM):

Perkembangan dari audit BPK yang 2018, gimana itu Pak?

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Memang kami mempunyai tunggakan untuk, tunggakan untuk menutup kasus, temuan-temuan BPK, ini sejak tahun 2010 Pak. Dengan kepengurusan yang baru ini kami sudah buat tim task force untuk menyelesaikan ini dan sudah intens Pak, dan itu sudah ter-progress ya, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Cukup ya.

Kita tayangkan dulu pertanyaan-pertanyaannya apa, dan ini sebentar aja, ini 2 menit ini kalau tayang ini, harus tayang ini dululah, SOP.

Terus Pak Faisol Riza, ada 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, Pak Aria Bima 1, 2, 8, Martin Manurung 5, Pak Dedi Sitorus 8, Pak Darmin 6, Andre Rosiade 12, Mukhtarudin 2, Nasrul Bahar 1 eh 7, Muhti Anam 9, Muhammad Toha 7, 8, Pak Subardi 3, Pak Lamhot 6, Nusron Wahid ada 7, Pak Khaeron ada 8, Pak Khilmi 1.

Ok. Sekarang kita kesimpulan ya, kesimpulan Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPRRI dengan PT Krakatau Steel Persero, TBK, PT Perkebunan Nusantara III Persero dan Perum Pembangunan Perumahan Nasional tentang Dana Talangan Pemerintah terhadap BUMN tahun Anggaran 2020, Rabu 8 Juli 2020:

1. Komisi VI DPRRI dapat menerima penjelasan terkait kebutuhan dana talangan pemerintah dan atau penyertaan modal negara kepada PT Krakatau Steel TBK tahun Anggaran 2020 sebesar Rp3 triliun, yang digunakan untuk memberikan relaksasi di industri hilir dan industri pengguna.

Kita ini, dari semua ini, kita hanya dapat menerima penjelasan Pak, karena nanti keputusannya ada di Raker dengan.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Saya kira bukan dapat menerima ya, mendapat penjelasan saja gitu, kita tidak menerima penjelasan, mendapat aja, mendapat penjelasan, tidak menerima kita.

ANGGOTA:

Enggak menerima apa.

KETUA RAPAT:

Belum kali, dapat menerima penjelasan. Kan belum menyetujui udah dapat menerima penjelasan.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Mendapat penjelasan.

KETUA RAPAT:

Mendapat penjelasan terkait kebutuhan dana.

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Enggak selama ini memang kesimpulan kita begitu.

KETUA RAPAT:

Dapat menerima penjelasan.

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Kan inikan belum kesimpulan.

KETUA RAPAT:

Belum belum disetujui ini, belum disetujui ini.

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Menyetujui belum menyetujui.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Pak Toha, jadi begini gini aja, dapatnya dibuang, jadi Komisi VI DPRRI menerima penjelasan, jadi konteksnya kita hanya menerima penjelasan aja hari ini, kalau dapat menerima, dikira konotasinya sudah menerima.

F-PKB (Drs. H. MOHAMMAD TOHA, S.Sos., M.Si.):

Gini kalau ke lawyer, kalau lawyer nanti oo sudah menerima penjelasan sudah menerima, kalau mendapat penjelasan itu, ya mendapat penjelasan gitu.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.SI):

Lho, ini jangan salah lho kesimpulan ini mengikat kepada kedua pihak ditandatangani Pimpinan itu.

KETUA RAPAT:

Mendapat ya, penjelasan, ya.

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Mendapat penjelasan.

F-PKB (Drs. H. MOHAMMAD TOHA, S.Sos., M.Si.):

Cukup memahami Ketua, dapat memahami penjelasan.

KETUA RAPAT:

Dapat memahami.

F-PKB (Drs. H. MOHAMMAD TOHA, S.Sos., M.Si.):

Dapat memahami penjelasan, ya kira-kira.

KETUA RAPAT:

Dapat memahami penjelasan, kurang paham kita nih. Ok ya. Komisi VI DPRRI dapat memahami penjelasan.

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Oh ada di Fairmont.

KETUA RAPAT:

Komisi VI DPRRI dapat memahami penjelasan terkait dengan kebutuhan dana talangan pemerintah, dan atau penyertaan modal negara pada PT Krakatau Steel, TBK, tahun anggaran 2020 sebesar Rp 3 triliun yang digunakan untuk memberikan relaksasi di industri hilir dan industri pengguna.

Pak Silmy?

(RAPAT: SETUJU)

Komisi VI dapat menerima penjelasan nah ini sama, idem.

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Disesuaikan.

KETUA RAPAT:

Terkait dengan dana pemerintah kepada PT Perhimpunan Nusantara pada tahun anggaran 2020 sebesar Rp 4 triliun 12 miliar yang digunakan untuk investasi yang tertunda karena keterbatasan dana serta tambahan investasi dan modal kerja dalam meningkatkan produksi dan profitabilitas.

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Pimpinan, enggak sekalian aja kita samain, UP sama KS garis miring dan atau PMN gitu, kan boleh juga.

KETUA RAPAT:

Apa ini Pak Bapak, Bapak kalau concern, sudah saya ketok ini.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Kan nanti diputuskanya enggak di sini Pak gitu, jangan dululah nanti kita.

KETUA RAPAT:

Enggak, yang mana?

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Iya kaya begitu Pak slide-nya itu.

KETUA RAPAT:

Oh yang nomor 2?

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Iya nomor 2 itu, kayak Krakatau Steel ya, dana talangan pemerintah dan atau

KETUA RAPAT:

Oh di 2 dan 3 gitu ya, karena banyak usulan juga dari temen-temen ke PMN ya

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Bisa juga begini Pak, di dalam pemaparan itu, sesuai dengan apa yang dicatatkan di sini, kalau kita mau merubah harus ada persetujuan dulu, setuju enggak fraksi-fraksi dengan merubah itu.

KETUA RAPAT:

Kan kan ini baru baru pejelasannya itu.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Iya kan, kan penjelasannya kan dana talang, kalaupun nanti keputusanya oh ini jangan dana talang, harusnya PMN, ya nanti dengan menteri. Kasihan nanti Bapak ini kena ini Pak, kena imbas gitu loh, kecuali kalau ada relasaksi itu bisa di sini gitu.

KETUA RAPAT:

Ok nomor 2 ok ya, semua ya, biar cepet nih.

ANGGOTA:

Iya, ya Pak, ketok aja Ketua.

DIRUT PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO):

Nomenklaturnya mungkin bukan dana talangan ya Pak, pinjaman pemerintah.

KETUA RAPAT:

Pinjaman pemerintah, ya semua berubah itu, oke.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Terus saya usul ya Pak Pak Ketua itu nggak perlulah dijabarkan gitu, program, on farm, program on farm ya, yang besarannya aja, karena bisa saja berubah nanti dalam perjalananya.

KETUA RAPAT:

Ya, jadi mengikat kalau gini nih, setuju ya, waduh sangat setuju Pak saya.

ANGGOTA:

Jadi dihapus yang dengan rincian itu.

KETUA RAPAT:

Dengan rinciannya dihapus. Ketok ya.

karena ada Pak Nusron, tadi tuh gak setuju dengan ini, jadi harus pindah juga ke gula dikit, katanya tuh.

ANGGOTA:

Siapa tahu berubah pikiran.

KETUA RAPAT:

Nah, kan ada gula yang harus diperbaiki karena selama ini menjadi isu yang cukup hangat. Ok.

Komisi VI DPRRI dapat memahami penjelasan terkait dengan kebutuhan dana pinjaman pemerintan kepada PT Perkebunan Nusantara III Persero tahun anggaran 2020 sebesar Rp 4 triliun 12 miliar yang digunakan untuk investasi yang tertunda karena keterbatasan dana serta tambahan investasi dan modal kerja dalam menyediakan produksi dan

profisitas perusahaan.

Setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

KETUA RAPAT:

Nomor 3, Komisi VI DPRRI dapat memahami penjelasan terkait kebutuhan dana pinjaman pemerintah kepada Perum Pembangunan Perumahan Nasional tahun anggaran 2020 sebesar Rp650.000.000.000,- yang di gunakan untuk membantu likuiditas perusahaan dan mempertahankan keberlangsungan bisnis perusahaan, titik. Yang lainnya hapus. Setuju Pak Bapak ya, Bapak setuju? Bapak kok, kalau nggak setuju, kalau enggak setuju kita cantumin, kan begitu, setuju ya?

DIRUT PERUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN NASIONAL:

Setuju

(RAPAT:SETUJU)

KETUA RAPAT:

Komisi VI DPRRI akan membahas terkait dana pinjaman pemerintah ke BUMN tahun 2020 kepada PT Krakatau Steel, TBK dan Perum, itu dan atau, dan atau itu, di itu dana pinjaman, dana top atau PMN gitu.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Disamakan aja semua Ketua, ini ya supaya enggak enggak, maksud saya ini, kan supaya sama semua tidak ada pembedaan yang satu dengan BUMN yang lain.

KETUA RAPAT:

Enggak apa-apa, karena ada ada kebutuhan yang berbeda.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Bukan, kita kan berpatokan terhadap presentasi yang disampaikan oleh para mitra, ada yang memang dan atau, seperti yang tadi yang punya Krakatau Steel itu kan dan atau, tapi yang lain kan memang dana pinjaman, kecuali kalau ada keputusan politik lain yang.

KETUA RAPAT:

Ya, ya nanti di sana di.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Disesuaikan paparan mereka sajalah ya.

KETUA RAPAT:

Komisi VI DPRRI akan membahas terkait dana pinjaman pemerintah ke BUMN, dan atau dong, pinjaman pemerintah dan atau dan peminjaman pemerintah, pinjaman pemerintah, minta modal, ke BUMN tahun 2020 kepada PT Krakatau Steel, dan PT Perkebunan Nusantara dan Perum Pembangunan Perumahan pada Rapat Pleno Komisi VI DPRI sebagai bahan pengambilan keputusan dalam Rapat Kerja dengan Menteri BUMN gitu ya.

ANGGOTA:

Salah Pak itu kalau itu tafsirnya bisa semua pinjaman dan atau apa namanya PMN kan, enggak maksudnya kalau satu satu, artinya PTPN juga ikut PMN.

KETUA RAPAT:

Begini Pak, begini Pak, ya sebenarnya begini Pak kami juga ingin penjelasan siapa yang disebutkan oleh Pak Lamhot tadi. Kami sebenarnya terus terang masih bingung dana talangan ini Pak, iya kan.

Makanya kita kita berikan ruang di situ, dan atau nya Pak, ya, karena kan ruang daripada kita, biar jangan semuanya salah kalau salah gitu loh. Jadi nanti kalau salah kita nanti kita bersama-sama Menteri BUMN nanti salah, kalau memang ini menjadi dana talangan gitu loh, gitu Pak iya kan. Jangan Bapak nanti dengan siapa disampaikan Pak Lamhot tadi, saya jadi tersadar tadi.

Jangan sampai nanti kita udah tenang-tenang, udah main golf sama Pak Hero tenang gitu, tiba-tiba ada masalah gitu Pak. Kalau umur masih segini sih, masih nggak penting, kalau udah 65 gitu nanti repot Pak. Gitu Pak ya, karena dan atau, jadi nanti kalau memang diambil keputusan yang berbeda, nanti atau ada hal-hal yang sesuai dengan aturan dan apakah itu gunakan Perpu, selama ini memang belum ditemukan Pak. Kami diskusi sering di grup belum ditemukan ini cantolannya untuk dana talangan ini Pak gitu loh. Yah ini program baru, jadi kita jadi kita, kita, kita perlebar itu dulu Pak, ya untuk membentengi kita juga Pak. Ketok ya.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Tapi yang jelas istilahnya aspirasi Bapak kan sudah kita pahami.

KETUA RAPAT:

Pahami dan aspirasi teman-teman di sini juga dimasukkan, di situ.

Sama-sama kita.

F-PD (DR. Ir. H.E. HERMAN KHAERON, M.Si.):

Saya pribadi akan perjuangan Bapak PMN. Ya Pak ya.

KETUA RAPAT:

Ya Pak ya. Ya ok.

(RAPAT: SETUJU)

KETUA RAPAT:

(suara tidak jelas) sebenarnya mudah PMN ya. Andre sudah?

Bentar dulu bentar dulu ini ada yang baru yang ini, saya perlu semangat (suara tidak jelas)

F-P. GERINDRA (ANDRE ROSIADE):

Pak Dirut ini ada dari PTPN I ini.

KETUA RAPAT:

Ayo dong.

F-PKS (RAFLI):

Marilah mari mulai dengan semangat baru, hoy, hoy.

KETUA RAPAT:

Baik.

Itu Pak. Ini lama kita ga jumpa jadi ini kita harus bersemangat, Pak.

Oh mitra harus ikut ya, sekali lagi mitra harus ikut.

F-PKS (RAFLI):

Marilah mari mulai dengan semangat baru, hoy, hoy.

KETUA RAPAT:

Hoy, hoy, itu.

Ini hilang ini Pak ngantuk atau lelah kita, rapat ini cukup panjang ini

Lima, Komisi VI DPRRI meminta PT Krakatau Steel Persero, Tbk, PT Perkebunan Nusantara III Persero, dan Perum Pembangunan Perumahan Nasional untuk memberikan jawaban secara tertulis dalam waktu paling lama 10 hari kerja, atas pertanyaan Anggota Komisi VI DPRRI ya. Pak Silmy, Pak Budi setuju ya?

(RAPAT: SETUJU)

Demikianlah, kata akhir nggak usahlah, nggak usah ya Pak ya nggak usah kata akhir.

Kepada rekan-rekan Komisi VI terima kasih atas atensinya dan begitu dengan seksama memperhatikan memberikan masukan dan maupun pertanyaan kepada teman-teman Komisi di BUMN, kami sangat apresiasi. Dan begitu juga dari BUMN, PT Krakatau Steel, PT Perkebunan Nusantara dan PT Perumnas yang telah hadir kami ucapkan terima kasih, maka untuk itu saya tutup pertemuan pada sore hari ini.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Om santi santi santi om.

(RAPAT DITUTUP PUKUL 19.43 WIB)

Jakarta, 8 Juli 2020

a.n KETUA RAPAT

SEKRETARIS RAPAT, Ttd.

DEWI RESMINI, S.E.,M.Si

NIP.197104071992032001

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 85-98)

Dokumen terkait