BAB II KAJIAN TEORITIS
B. Diskripsi Subjek Pendidikan Akhlak
Karakteristik informan yang diteliti adalah anak yang ibunya bekerja sebagai TKW ke luar negri. Usia anak-anak TKW tersebut berkisar antara 6 sampai 12 tahun, dan mereka tinggal di Dusun Bawang, Desa Truko, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang tahun 2017.
Informan yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah empat anak. Adapun daftar nama mereka adalah sebagai berikut:
Tabel 4 Daftar Instrumen No Nama Usia 1 Syarif 12 tahun 2 Alifah 9 tahun 3 Renita 11 tahun 4 Wildan 10 tahun
Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Syarif ( 12 tahun )
Syarif adalah anak dari bapak Nur sholihin dan ibu Endang, yang sekarang berusia 12 tahun dan duduk di kelas 6 MI. Ibunya bekerja menjadi TKW di Hongkong, sedangkan ayahnya bekerja serabutan, kadang dia menjadi buruh tani, menjadi kuli bangunan, atau pakerjaan lainnya. Pendidikan ayah dan ibunya sama-sama sampai MI.
Syarif disekolahkan di MI Truko. Dia selalu berangkat ke sekolah setiap hari dan dia mendapat nilai sedang di sekolahnya, bahkan ada beberapa mata pelajaran yang nilainya rendah. Dia kurang semangat dalam belajar, karena kurangnya perhatian dari ayah dan keluarganya. Dia hanya membuka buku ketika ada PR, itupun tidak terlalu sungguh-sungguh. Syarif hanya belajar di sekolah saja, belajar dipagi hari dan mengikuti les wajib yang diadakan pihak sekolah disore hari.
Syarif mendapat pendidikan agama dengan mengikuti MADIN
(Madrasah Diniyah) di dusunnya. Pembelajarannya dilaksanakan setiap
hari kecuali hari Jum’at, waktunya setelah asar, dan setelah maghrib. Dia sudah bisa membaca Al-Qur’an meskipun belum terlalu fasih dan pemahamannya terhadap tajwid baru sedikit. Untuk wudhu dan shalat sudah bisa, akan tetapi dalam praktiknya kadang kurang tepat. Ramadhan terakhir dia sudah bisa puasa penuh sampai maghrib. Itulah pendidikan keagamaan Syarif.
Dalam pengasuhan Syarif, ayahnya lebih dominan dibandingkan anggota keluarga yang lain. Syarif jarang belajar, dia hanya membuka buku ketika mengerjakan PR atau membuat tugas sekolahnya. Dia mengerjakannya sendiri dan kadang dia bertanya kepada ayahnya ketika mengalami kesulitan. Urusan sekolah seperti mendaftar, mengambil rapot, pertemuan wali murid, dan lain-lain semua di urus oleh ayahnya. Kebutuhan seragam dan keperluan sekolah lain juga ayahnya yang mengurus. Ketika Syarif sakit yang mengurus siapa saja yang sempat, kadang bapaknya, terkadang juga neneknya. Untuk mandi dia sudah dapat melakukannya sendiri, tetapi kesadaranya untuk mandi belum ada dia harus disuruh-suruh agar mau melakukannya. Untuk makan neneknya yang mengurus, karena dia masih serumah dengan neneknya. Dalam mengurus pakaiannya dia dibantu oleh ayahnya, pakaian seragamnya dicucikan ayahnya dan pakaian harianya kadang disuruh mencuci sendiri untuk latihan. Seperti yang ayahnya tuturkan: “menawi belajar teko
belajar kiambak, nak boten saget tangklet kulo. Nak umbah-umbah nopo, nggeh kulo kumbahke engkang seragam-seragam kaleh gombale seng apek, tapi nak engkang damel dolan kulo ken ngumbahi kiambak kaleh latihan”( Nursholihin ).
Syarif tinggal dengan ayahnya, kakeknya, dan neneknya.Kakek dan neneknya tidak selalu di rumah karena mereka bekerja di sawah, jadi cuma di rumah ketika pulang saja. Ketika tidur dia sekamar dengan neneknya, ayahnya tidur sendiri, dan kakeknya biasanya tidur di kursi
panjang depan televisi. Semua anggota keluarga ikut andil dalam mendidik Syarif. Mereka menasehatinya untuk melakukan hal-hal yang baik dan mengingatkannya ketika melakukan kesalahan.
Syarif bersikap baik dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Dia sangat akrab dengan teman-temannya, setiap hari bermain dengan teman sebayanya. Karena terlalu asyik bermain terkadang mereka sampai lupa waktu.
Dia mempunyai perilaku yang sedikit berbeda dengan teman- temannya. Perhatian yang dia dapatkan tidak sama dengan teman- temannya, sehingga dia juga kurang perhatian terhadap segala sesuatu. Kepada orang tua dia patuh dan hormat tetapi terkadang juga tidak menurut sehingga ayahnya memarahinya. Meskipun ayahnya memarahinya, tapi cuma dengan kata-kata tidak sampai dengan tangan atau menyakiti fisiknya.
Ayahnya menanamkan akhlak atau kebiasaan yang baik dengan cara menasehati dan mencontohi. Begitu juga dengan menghindarkan dari perbuatan tidak baik.Ayahnya melarang dan menjauhi atau tidak mengerjakannya. Contohnya ayahnya menyuruh untuk menyapu sambil mengerjakan kemudian meminta Syarif untuk melanjutkan. Selain itu ayahnya mengajak Syarif untuk berjama’ah ke masjid sambil bersiap-siap, dan lain-lain.Ayahnya juga mengajarkan Syarif untuk bersabar, hemat, rajin ibadah dan bekerja, serta hal-hal baik yang lainnya.
Selama ayahnya mendidik Syarif tidak ada kesan yang begitu terasa dia hanya biasa-biasa saja. Hal yang menyenangkan tidak ada tetapi juga tidak terlalu menyusahkan. Jadi kata ayahnya: “biasa-biasa saja” ( Nursholihin ).
Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya semua muslim, dan
mereka juga agamis. Hal itu bisa dilihat dari jumlah jama’ah yang seeiap
harinya ke masjid jumlahnya mencapai 50%. Selain itu masyarakatnya juga banyak yang mengikuti toriqoh, organisasi keagamaan, juga kegiatan keagamaaan yang lainnya. Karena tempat tinggalnya di pedesaan jadi hubungan kekerabatannya masih erat, antar tetangga masih saling mempedulikan.Syarif dan teman sebayanya sangat akrab dia sering bermain bersama, terkadang di sekitar rumahnya terkadang juga di sekitar rumah temannya. Mereka bermain bersama memainkan permainan sederhana.
Ketika observasi dilakukan peneliti mendapati Syarif yang sedang bercakap-cakap dengan ayahnya. Dari situ dapat dilihat sikap Syarif kepada ayahnya. Syarif memang dekat dengan ayahnya, tetapi kedekatannya tidak seperti ayah dan anak. Karena Syarif terlihat akrab dengan ayahnya tetapi dia kurang hormat.
2.Alifah ( 9 tahun )
Alifah adalah anak dari bapak Zainudin dan ibu Musbiroh. Pendidikannya hanya sampai MI. Alifah tinggal bersama kakek dan neneknya. Ibunya bekerja menjadi TKW di Arab Saudi dan bapaknya
bekerja sebagai kuli bangunan. Alifah sekarang berusia 9 tahun dan duduk dikelas 4 MI Miftahul Huda Truko
Alifah tidak sungguh-sungguh dalam bersekolah. Dia tidak rajin ke sekolah dan prestasinya rendah. Dia tidak pernah belajar dan juga tidak mendapatkan pendidikan tambahan. Terkadang dia berangkat sekolah terkadang tidak.
Alifah juga tidak mendapatkan pendidikan keagamaan selain di sekolah dan di rumah, karena dia tidak mengikuti MADIN ( Madrasah
Diniyah ) di dusunnya. Dia baru bisa membaca Al-Qur’an sedikit-sedikit,
karena dia hanya belajar di waktu kecil. Praktik wudhu dan shalat dia sudah bisa, tetapi dia tidak aktif mengerjakannya setiap hari. Puasa ramadhan dia juga jarang melaksanakan. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian dari pengasuh dan kurangnya pendidikan agama yang ia dapatkan. Kemampuannya tertinggal dari teman sebayanya.
Pengasuhan Alifah dilaksanakan oleh keluarga secara bersama- sama. Perhatian keluarga terhadap pendidikan Alifah masih redah. Mereka tidak telaten untuk mengurusnya sampai hal-hal yang pelit dan rumit. Yang mereka utamakan adalah hal-hal yang terlihat seperti makan, mandi, dan kebersihan pakaian. Setiap harinya Alifah belajar sendiri jika mau, nenek dan kakeknya tidak mengetahui tentang keaktifannya mengerjakan PR atau tugas sekolah. Yang mengurus sekolahnya termasuk mendaftar, mengambil rapot, atau pertemuan wali murid adalah neneknya, karena kakeknya sudah repot mengurus sawah dan ternaknya. Ketika Alifah sakit
yang mengurus adalah neneknya. Keperluan sekolahnya seperti seragam, buku, saku, diurus oleh Ayahnya karena dia yang membawakan uang kiriman ibunya. Dia makan di rumah neneknya, dan pakaiannya juga dicucikan olehnya karena dia belum mau mencuci sendiri.
Alifah tinggal bersama ayah, nenek, dan kakek di rumahnya sendiri. Dia tidur berama ayahnya. Meskipun begitu dia lebih sering bersama nenekya
Alifah akrab dengan teman sebayanya. Dia tidak banyak bicara ketika diingatkan, paling hanya tersenyum. Tetapi senyumnya belum berarti menurut. Karena dari penuturan ayahnya ketika dinasehati dan diingatkan kadang menurut kadang tidak tetapi sering tidaknya:”nak di
kandani teko plengah-plengeh, kadang manut kadang yo ora tapi kerep orane” ( Mulyanto ). Dia rukun dan tidak pernah berkelahi dengan saudaranya dan teman-temanya, tetapi mereka kurang mengurusi kepentingan satu sama lain.
Kesulitan dan masalah yang dihadapi Alifah biasanya diketahui ketika neneknya ke sekolah. Jika Alifah menghadapi masalah, nenek dan anggota keluarga yang lain juga mengetahuinya. Mereka segera mengurus dan menyelesaikan masalahnya. Jika Alifah sulit dinasehati dia dibiarkan saja oleh neneknya. Neneknya mengutamakan keuangannya dan hanya mengingatkan perilakunya sekedarnya saja.
Cara neneknya mengajarkan kebiasaan atau hal-hal baik dengan memberikan contoh seseorang yang tepat untuk dia tiru, supaya dia
menjadi baik seperti orang yang dicontohkan. Dan untuk menghindarkan dari perbuatan baik dengan menasehati agar manjauhinya. Neneknya juga menasehatinya agar tidak boros, agar rajin ibadah, dan bersungguh- sungguh ketika sekolah. Dia juga diingatkan bahwa ibunya bekerja susah payah untuk dia.
Masyarakat di sekitar tempat tinggal Alifah muslim semua, dan mereka juga agamis. Hal itu bisa dilihat dari jumlah jama’ah yang setiap harinya ke masjid jumlahnya mencapai 50%. Selain itu masyarakatnya juga banyak yang mengikuti toriqoh, organisasi keagamaan, juga kgiatan keagamaaan yang lainnya. Karena tempat tinggal Alifah di pedesaan jadi hubungan kekerabatannya masih erat, antar tetangga masih saling mempedulikan. Alifah setiap harinya hanya di rumah, jika keluar hanya ke rumah bibinya di sebelah.
3.Renita ( 11 tahun )
Renita adalah anak dari bapak Safarudin dan ibu Lestari.Renita tinggal bersama neneknya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga mengasuh cucunnya. Cucunnya bernama Renita, dia berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5 MI Truko.Ibu Renita bekerja sebagai TKW di Taiwan, sedangkan ayahnya bekerja sebagai tani. Ayah Renita tinggal di dusun sebelah yaitu dusun Pucunng.Renita tidak mau ikut bapaknya, dia lebih senang ikut neneknya.
Renita anak yang baik dan cerdas. Dia rajin ke sekolah, prestasinya juga bagus. Setiap hari dia belajar di rumah dengan bibinya. Untuk
pendidikan keagamaan dia aktif mengikuti MADIN. Karena keaktifannya, dia sudah bisa membaca Al-Qur’an meskipun belum terlalu lancar. Praktik wudhu dan shalat dia juga sudah bisa, karena materi itu diajarkan di MADIN dan Renita selalu berangkat. Puasa ramadhan juga sudah melaksanakan, tetapi ketika di ajak ke pasar dia tidak kuat sehingga puasanya batal.
Semua kepentingan Renita diurus oleh neneknya.Termasuk kegiatan setiap harinya, kepentingan dan perlengkapan sekolahnya, kesehatannya, dan kebutuhan setiap harinya seperti makan, mandi, dan pakaiannya. Renita tinggal bersama nenek dan kakeknya. Dia setiap hari tidur bersama neneknya, mereka seperti ibu dan anak. Meskipun hampir semua diurus oleh neneknya, namun semua pihak keluarga ikut terlibat dalam mendidik akhlak Renita. Semua ikut mengawasi dan menasehatinya.
Interaksi Renita dengan orang lain juga baik. Dia akrab dengan teman sebayanya. Dia patuh dan sayang pada neneknya. Ketika Renita ada masalah atau menghadapi kesulitan kadang neneknya tahu kadang tidak, karena Renita tidak selalu menceritakannya. Jika dia merasa hal itu tidak terlalu penting, dia tidak menyampaikannya. Neneknya segera menyelesaikan masalah yang dihadapi Renita. Ketika Renita sulit dinasehati terkadang neneknya sampai menggunakan tangan, seperti yang disampaikannya: “nak dikandani angel kadang nggeh tak jiwet. Tapi nak
niku”( Nenek Sumiati). Meskipun Renita berinteraksi baik dengan orang- orang di sekitarnya, tetapi dia tidak dekat dan tidak mau ikut dengan bapaknya. Karena sejak kecil dia diasuh neneknya. Walaupun ada bapak kandungnya dia lebih nyaman dengan pengasuhan perempuan meskipun bukan ibu kandungnya.
Neneknya mengajarkan kebiasaan atau hal-hal baik dengan cara memberikan nasehat, begitu juga dengan menghindarkan dari perbuatan yang tidak baik yaitu dengan menasehati agar tidak melakukan hal-hal tersebut. Nenek mengajarkan agar Renita selalu rajin, menghormati orang yang lebih tua, disiplin, jujur, dan lain-lain.
Kesan menyenengkan selama mendidik Renita yaitu prestasi yang didapat Renita, dia selalu mendapat peringkat 3 setiap penerimaan rapot. Meskipun tidak peringkat pertama dia sudah senang, karena dibanding teman sebayanya di dusun dia paling bagus nilainya. Renita anaknya rajin dan penurut, sehingga dia selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh neneknya. Kesan kurang menyenangkannya ketika dia sulit dinasehati.
Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya muslim semua, dan mereka juga agamis. Hal itu bisa dilihat dari jumlah jama’ah yang seeiap harinya ke masjid jumlahnya mencapai 50%. Selain itu masyarakatnya juga banyak yang mengikuti toriqoh, organisasi keagamaan, juga kgiatan keagamaaan yang lainnya. Karena tempat tinggalnya di pedesaan jadi hubungan kekerabatannya masih erat, antar tetangga masih saling
mempedulikan. Orang-orang di sekitar Renita sangat memperhatikannya. Dia ikut menasehati perilaku Renita.
4.Wildan ( 10 tahun )
Wildan adalah anak dari bapak Muhlikin dan ibu Rianah. Keduanya sama-sama lulusan MI Truko. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan di Semarang dan ibunya bekerja sebagai TKW di Hongkong. Dia di rumah bersama kakek dan neneknya. Dia sekarang berumur 10 tahun dan sekarang duduk di bangku kelas 4 MI Miftahul Huda Truko.
Dia rajin ke sekolah, tetapi prestasinya kurang baik, tetapi dia rajin mengikuti MADIN di dusunnya. Dia sudah bisa praktik wudhu dan shalat meskipun ketika melaksanakan kurang sungguh-sungguh. Dia sudah belajar puasa dibulan ramadhan sampai duhur dan orang biasa menyebut puasa beduk. Begitulah keadaan pendidikan Wildan.
Dalam mengasuh Wildan dilaksanakan secara bersama-sama oleh ayah, kakek dan neneknya. Ketika belajar dan mengerjakan PR dia didampingi oleh kakeknya. Kadang juga di antar kerumah tetangganya untuk mengerjakan PR tersebut. Yang mengurus sekolah Wildan adalah kakeknya sendiri mulai pendaftaran, pertemuan, dan mengnambil rapot. Kebutuhan sekolah seperti buku, tas, saku dan kesehatan Wildan semua diurus oleh kakek dan neneknya. Untuk makan diurus oleh neneknya, karena kakeknya pergi ke sawah setiap harinya. Yang biasanya memandikan juga neneknya karena jika Cuma disuruh dia tidak segera
mengerjakan. Pakaiannya juga dicucikan oleh neneknya, karena dia malas untuk mencucinya sendiri. Dia tidur bersama kakek dan neneknya.
Wildan anaknya agak usil dia suka mengganggu temannya. Dia kurang patuh dan hormat dengan orang tua. Dia juga sering berkelahi. Ketika mereka ada masalah kakeknya mengetahuinya tetapi kadang sulit diselesaikan, karena dia sulit diatur. Ketika dia sulit diatur biasanya kakek dan nenek memarahinnya. Mereka mengajarkan kebiasaan atau hal-hal baik dengan cara memancingnya dengan hadiah dan menghindarkan dari perbuatan tidak baik dengan cara mensehatinya. Hal yang menyenangkan bagi kakek dan neneknya yakni ketika dia mau belajar, itu sangat menyenangkan karena dia sangat sulit disuruh belajar. Dan hal yang tidak menyenangkan yaitu ketika dia nakal. Dia sangat sulit untuk dinasehati, dan juga sering membantah nasehat yang diberikan padanya.
Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya muslim semua, dan mereka juga agamis. Hal itu bisa dilihat dari jumlah jama’ah yang setiap harinya ke masjid jumlahnya mencapai 50%. Selain itu masyarakatnya juga banyak yang mengikuti toriqoh, organisasi keagamaan, juga kgiatan keagamaaan yang lainnya. Karena tempat tinggalnya di pedesaan jadi hubungan kekerabatannya masih erat, antar tetangga masih saling mempedulikan. Tetapi kadang para tetangga agak jengkel dengan dia karena keusilannya, akan terapi kejengkelannya disertai rasa iba. Sebagian masyarakat berpendapat jika kenakalannya karena kurangnya kasih sayang dan perhatian yang didapatkannya.
Wildan dan teman sebayanya sangat akrab dia sering bermain bersama tetapi terkadang juga berkelahi, Dia biasanya bermain di lingkungan rumah, mencari buah-buahan, dan kadang menangkap hewan separti belalang dan capung. Dia sering dimarahi orang karena tingkah lakunya yang kurang baik. Mereka sering keluar masuk masjid tanpa mencuci kaki terlebih dahulu, sedangkan dia tidak mengenakan alas kaki.
Dia juga sering bercanda diwaktu shalat berjama’ah di masjid.
C. Pendidikan Akhlak Anak Keluarga TKW
Pendidikan akhlak anak sangat tergantung dengan orang yang mengasuhnya. Jika pengasuh itu bersungguh-sungguh dalam mengasuhnya kemungkinan besar anak akan memiliki akhlak yang baik, tetapi sebaliknya jika dia kurang bersungguh-sungguh harapan anaknya mempunyai akhlak yang baik sangatlah kecil. Kadang meskipun anak sudah dididik dengan baik masih mempunyai akhlak yang kurang baik, jika hal itu terjadi setidaknya sudah ada ikhtiar dari pengasuh untuk membentuk anak yang berakhlak baik.
Pendidikan akhlak bisa dia dapatkan dari beberapa sumber yaitu keluarga, lingkungan sekitar, dan tempat anak belajar. Dari beberapa sumber tersebut yang paling mendominan adalah keluarga, karena keluarga merupakan yang terdekat, paling lama, dan paling sering ketemu dengan anak. Tetangga dilingkungan sekitar serta tempat dia belajar juga memberikan pengaruh tetapi tidak sebesar keluarga. Sementara tingkat pendidikan orang tua juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan
rohaniah anak, terutama kepribadian dan kemajuan pendidikannya ( Ahmadi & Soleh, 2005:55).
Lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhinya. Jika disekitarnya orang-orang mempunyai kebiasaan yang baik kemungkinan besar anak akan melakukan hal yang baik pula. Dilingkunngannya banyak kegiatan keagamaan, banyak kegiatan yang positif maka anak akan mengikutinya. Namun jika orang disekitarnya banyak melakukan hal-hal yang kurang baik anak lebih sulit diarahkan untuk melakukan hal baik.
Dengan pertimbangan beberapa hal diatas maka orang yang mengasuh anak TKW harus total dalam mendidiknya. Dia sebagai keluarga dan pendidik utama bagi anak harus semaksimal mungkin mendidiknya, dan berkomunikasi dengan baik pada pihak-pihak yang membantu dalam mendidik anak seperti pihak sekolah, ustad, atau guru lesnya. Selain itu pengaruh juga harus selektif dalam memilihkan sesuatu untuk anak.
BAB IV