• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskusi Bersama Masyarakat Kabupaten Pati

Dalam dokumen NEGARA MELAYANI AGAMA DAN KEPERCAYAAN (Halaman 73-77)

REALITAS SOSIAL KEAGAMAAN DAN PROSES MENUJU REFORMULASI

1. Diskusi Bersama Masyarakat Kabupaten Pati

1. Diskusi Bersama Masyarakat Kabupaten Pati

Kegiatan FGD pertama pada senin 19 Oktober 2015 dengan komunitas Baha’i dilakukan di rumah tokoh Baha’i di Cebolek Kidul, kecamatan Margoyoso. Kelompok Baha’i menyambut peneliti dengan ramah serta menjamu peneliti dengan aneka makanan. Diskusi berlangsung dengan pada tahun 1892 di Melolo (ibukota kecamatan Rindi-Umalulu)

berupa Volks School (Sekolah Rakyat). Namun, usaha-uasaha tersebut tidak mendapat hasil yang memuaskan.

Hingga tahun 1982, hanya 1,1% saja dari seluruh jumlah penduduk Umalulu yang beralih agama menjadi pemeluk agama Kristen, selebihnya masih memeluk agama asli mereka, yaitu Marapu. Semenjak tahun 1990-an, sebagian besar dari mereka (sekitar 80%) dengan berbagai alasan sudah beralih agama menjadi pemeluk agama Kristen. Masyarakat memilih agama Kristen karena tidak melarang mereka untuk makan daging babi dan mereka masih tetap dapat menjalankan upacara-upacara keagamaan mereka sendiri. Selain itu dengan menjadi seorang Kristen, mereka mendapat jaminan bahwa anak-anak mereka dapat bersekolah

Proses Menuju Reformulasi Kriteria Agama yang Dilayani

Penelitian ini diawali dengan persiapan penelitian yaitu merancang desain penelitian dan instrumen penelitian menentukan lokasi dan metode pengumpulan data. Proses persiapan tersebut menghadirkan narasumber untuk pengayaan teori dari UIN Sunan Kalijaga Dr. Fatimah Husain, antropolog dari UGM Prof, Dr. Heddy Shri Ahimsa –Putra, dan Dr. M.Muhsin Jamil, MA., sosiolog UIN Walisongo Semarang yang dilakukan dalam beberapa kali diskusi.

Langkah selanjutnya dilaksanakan studi pendahuluan pada tanggal 27 September sampai dengan tanggal 03 November 2015. Studi pendahuluan ini untuk memperoleh informasi tentang kondisi keberagamaan masyarakat, kasus-kasus keagamaan yang terjadi di lokasi penelitian, kasus pendirian rumah Ibadah, aliran kepercaayan dan agama

dihadiri oleh beberapa pengurus Baha’i mereka adalah tokoh-tokoh yang dapat memberikan informasi dan pandangan relasi baha’i dan negara. Para penganut Baha’i sangat antusias menyambut peneliti karena sebelum datang ke sana sudah menghubungi terlebih dahulu untuk kesediaannya dan menentukan waktu pertemuan. Dari FGD tersebut diperoleh informasi tentang layanan negara terhadap kelompok Baha’i maupun hal-hal yang belum dipenuhi oleh negara terkait dengan hak untuk beragama sesuai dengan agama dan keyakinannya. Selain hasil diskusi peneliti mendapatkan beberapa dokumen tentang keberadaan Kelompok Baha’i di Pati antara lain hak perlindungan negara terhadap Baha’i. Sebagaimana agama yang enam yang telah mendapatkan legalitas negara Baha’i juga mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pembawa wahyu dan juga memiliki kitab suci. Pengikut Baha’i telah terorganisir dan tersebar di Indonesia.

Kegiatan FGD kedua Selasa, 20 Oktober 2015 dengan komunitas Sedulur Sikep yang berdomisili di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo. Pertemuan dengan Sedulur Sikep ini diatur oleh Kasi kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Pati bapak Soponyono dan Bapak Sumadi warga Baturejo yang menjadi perantara untuk mengumpulkan Tokoh Sedulur Sikep. Diskusi dilakukan di rumah yang biasa dipakai pertemuan Sedulur Sikep. Para sesepuh sudah berkumpul ada 6 orang, mereka adalah orang-orang yang masih mempertahankan ajaran Samin yang mereka sebut dengan agama Adam. Dalam diskusi ini yang banyak berperan adalah Mbah Ndoyo yang oleh komunitas Sikep dianggap sebagai sesepuh dan Mbah Nyoto yang lebih banyak menyampaikan informasi tentang Sedulur Sikep terkait

dengan pelayan pemerintah dan hak–hak sipil mereka seperti kepemilikan KK, KTP dan dalam perkawinan.

FGD ke tiga dilakukan dengan kelompok penghayat aliran kepercayaan. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah sekretaris HPK Bapak Wardoyo pada 24 Oktober 2015. Kegiatan ini diikuti perwakilan dari aliran Sapto Dharmo, Suci Rahayu, Pramono Sejati, dan Roso Sejati. Peserta lima orang ditambah satu orang dari Dinas Kebudayaan. Para tokoh ini dipilih berdasarkan kriteria jumlah anggota yang tergolong banyak, sedang dan sedikit. Jumlah anggota terbanyak panganut Sapto Dharmo dengan jumlah anggota 2572 orang, kemudian yang tegolong sedang aliran Pramono Sejati 356 orang dan Roso Sejati jumlah anggota 325 orang,dan yang paling sedikit aliran Suci Rahayu anggotanya 62 orang. FGD dimulai pada jam 09.30 oleh Marmiati Mawardi, karena perlu menunggu hasil foto kopy dukumen tentang aliran kepercayaan untuk bahan diskusi, namun sebelum acar formal di buka sudah terjadi dialog kepada para tokoh aliran kepercayaan yang telajh hadir. Diskusi diawali dengan perkenalan baik peneliti maupun penghayat setelah itu peneliti menyampaikan dasar pemikiran dan diskusi tujuan diskusi. Selanjutnya para tokoh dimohon umtuk menyampaikan pendapatnya maupun pengalamannya terkait dengan pelayanan negara terhadap penghayat aliran kepercayaan. Ketua HPK menyampaikan definisi agama dan perbedaan antara agama dan aliran kepercayaan dan pendapat tersebut dikuatkan tokoh lainnya. Terkait dengan pelayanan negara dibahas mengenai pelayanan pendidikan, perkawinan, penulisan agama dalam kolom KTP dan hal-hal yang belum dilayani negara. Bagi penghayat sudah cukup terlayani pemerintah terkait dengan hak-gak sipil mereka. dihadiri oleh beberapa pengurus Baha’i mereka adalah

tokoh-tokoh yang dapat memberikan informasi dan pandangan relasi baha’i dan negara. Para penganut Baha’i sangat antusias menyambut peneliti karena sebelum datang ke sana sudah menghubungi terlebih dahulu untuk kesediaannya dan menentukan waktu pertemuan. Dari FGD tersebut diperoleh informasi tentang layanan negara terhadap kelompok Baha’i maupun hal-hal yang belum dipenuhi oleh negara terkait dengan hak untuk beragama sesuai dengan agama dan keyakinannya. Selain hasil diskusi peneliti mendapatkan beberapa dokumen tentang keberadaan Kelompok Baha’i di Pati antara lain hak perlindungan negara terhadap Baha’i. Sebagaimana agama yang enam yang telah mendapatkan legalitas negara Baha’i juga mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pembawa wahyu dan juga memiliki kitab suci. Pengikut Baha’i telah terorganisir dan tersebar di Indonesia.

Kegiatan FGD kedua Selasa, 20 Oktober 2015 dengan komunitas Sedulur Sikep yang berdomisili di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo. Pertemuan dengan Sedulur Sikep ini diatur oleh Kasi kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Pati bapak Soponyono dan Bapak Sumadi warga Baturejo yang menjadi perantara untuk mengumpulkan Tokoh Sedulur Sikep. Diskusi dilakukan di rumah yang biasa dipakai pertemuan Sedulur Sikep. Para sesepuh sudah berkumpul ada 6 orang, mereka adalah orang-orang yang masih mempertahankan ajaran Samin yang mereka sebut dengan agama Adam. Dalam diskusi ini yang banyak berperan adalah Mbah Ndoyo yang oleh komunitas Sikep dianggap sebagai sesepuh dan Mbah Nyoto yang lebih banyak menyampaikan informasi tentang Sedulur Sikep terkait

FGD keempat dilaksanakan di Kota Pati pada Selasa, 27 Oktober 2015. Peserta FGD para tokoh agama dari lima agama yaitu dari tokoh agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu. Sedangkan perwakilan dari agama Khonghucu tidak ada karena belum ada perwakilan di Kemenag. Selain itu, informasi keberadaan umat Khonghucu tidak diperoleh. Dalam kegiatan tersebut perwakilan dari agama Hindu tidak hadir. Selain tokoh agama juga diundang kepala Kementerian Agama Kabupaten Pati, namun beliau tidak bisa hadir dan diwakilkan kepada kasi Bimas Islam. Akademisi yang diundang dalam kegiatan FGD tersebut dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati. Hasil diskusi tersebut antara lain para tokoh agama maupun akademisi mempertahankan agama yang telah dilayani negara adalah enam dan tidak perlu penambahan, Baha’i maupun agama Adam tidak bisa digolongkan sebagai agama. Kriteria agama mengacu kepada No.1/PN.PS/1965.

FGD kelima juga dilakukan di kota Pati pada Kamis, 29 Oktober 2015. Peserta FGD aparat pemerintah yang dipilih berdasarkan tugas dan fungsinya dalam memberi pelayanan hak-hak sipil kepada warga negara penganut agama dan kepercayaan yaitu; Kesbangpolinmas, Dinas Kependudukan, Dinas Pendidikan, Kantor Litbang Kabupaten Pati, Kasubag TU Kementerian Agama yang kebetulan juga pengurus MUI, Bagian Kesra Kantor Pemerintah Kabupaten Pati dan FKUB secara kebetulan Ketua FKUB juga akademisi karena menjadi tenaga pengajar di STAIN Kudus. Dalam diskusi ini masukan dari dinas ini cukup mewarnai diskusi. Para peserta secara berurutan menyampaikan pendangannya mengenai agama dan pelayanan yang terkait dengan hak-hak sipil pemeluk agama dan penghayat aliran kepercayaan. Tidak beda dengan

agama yang dilayani negara sesuai kriteria yang telah ditetapkan dalam PNPS.

Dalam dokumen NEGARA MELAYANI AGAMA DAN KEPERCAYAAN (Halaman 73-77)