BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.3. Distribusi Sampel Pre Kemoterapi dan
Pada penelitian ini diperoleh data dengan dua kali pengambilan sampel darah, pertama pemeriksaan dilakukan sebelum pasien mendapatkan kemoterapi dan yang kedua adalah sesudah pasien menjalani 4 siklus atau 6 siklus kemoterapi. Pada penilaian pada penilaian terhadap parameter hemostasis adalah PT, INR, APTT, TT
PT INR APTT D-dimer TT CEA Cyfra
21-1 NSE Nilai p 0.15 0.01 0.20 0.00 0.00 0.00 0.00 0.10
dan D-dimer, dan penilaian pada nilai serum marker kanker paru adalah CEA, Cyfra 21-1 dan NSE.
Dari pemeriksaan parameter hemostasis sebelum kemoterapi diperoleh nilai rata-rata PT pasien adalah 13,3, nilai rata-rata INR pasien adalah 0.96, nilai rata-rata APTT pasien adalah 30.3, nilai rata-rata TT pasien adalah 14.56, nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 763.6, nilai rata-rata CEA pasien adalah 62.66, nilai rata-rata Cyfra 21-1 pasien adalah 29.51, nilai rata-rata NSE pasien adalah 27.90.
Gambar 4.1. Perbandingan Nilai Parameter Hemostasis dan Serum Tumor Marker sebelum dan sesudah kemoterapi.
Dari pemeriksaan hemostasis parameter setelah kemoterapi di peroleh nilai rata-rata PT pasien adalah 14.9, nilai rata-rata INR pasien adalah 1.06, nilai rata-rata APTT pasien adalah 30.6, nilai rata-rata TT pasien adalah 15.4, nilai rata-rata D-dimer pasien adalah 721.6, nilai rata-rata CEA pasien adalah 30.56, nilai rata-rata
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
sebelum kemoterapi sesudah kemoterapi
Cyfra 21-1 pasien adalah 19.2, nilai rata-rata NSE pasien adalah 19.84, perbandingan nilai parameter hemostasis dan serum tumor marker dapat dilihat pada gambar 4.1.
4.1.4. Perbedaan Nilai Parameter Hemostsasis dan Tumor Marker Sebelum dan Sesudah Kemoterapi
Untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang terjadi pada variabel sebelum kemoterapi dengan variabel sesudah kemoterapi maka variabel ini dapat dilakukan uji beda. Dalam penelitian ini dilakukan uji beda yang dilakukan pada faal hemostsasis dan tumor marker sebagai variabel dependent terhadap kemoterapi sebagai variabel independent adalah ujimann whitney.
Dari Uji Mann Whitney dibawah diperoleh nilai P pada PT terhadap kemoterapi adalah 0.019, nilai p pada INR terhadap kemoterapi adalah 0.026, nilai p pada APTT terhadap kemoterapi adalah 0.827, nilai p pada TT terhadap kemoterapi adalah 0.284, nilai P pada D-dimer terhadap kemoterapi adalah 0.044, nilai p pada CEA terhadap kemoterapi adalah 0.853, nilai p pada Cyfra 21.1 terhadap kemoterapi adalah 0.697, dan nilai p pada NSE terhadap kemoterapi adalah 0.025.
Tabel 4.4. Perbedaan Nilai parameter Hemostsasis dan Tumor Marker Sebelum dan Sesudah Kemoterapi
PT INR APTT TT D-dimer CEA Cyfra
21-1 NSE Nilai p 0.019 0.026 0.827 0.284 0.044 0.853 0.697 0.025 Uji Mann Whitney
Dari hasil diatas diketahui masing-masing variabel dependent PT, INR, D-dimer dan NSE memiliki nilai p terhadap kemoterapi dibawah 0.05 yang memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai masing-masing variabel dependen sebelum melakukan kemoterapi dengan nilai sesudah melakukan kemoterapi, variabel dependent APTT. TT, CEA, Cyfra 21-1 memiliki nilai p pada terhadap kemoterapi diatas 0.05 yang memberikan informasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari nilai masing-masing variabel dependen sebelum melakukan kemoterapi dengan nilai sesudah melakukan kemoterapi.
4.1.5. Korelasi antara Nilai Parameter Hemostasis terhadap Tumor Marker pada Pasien Kanker Paru Bukan Sel Kecil dengan Kemoterapi
Pada akhirnya dalam menilai adakah korelasi antara nilai parameter hemostasis sesudah kemoterapi dan nilai tumor marker sesudah kemoterapi dilakukan Uji Korelasi Spearman. Uji ini dilakukan dengan cara menguji korelasi 1 (satu) variabel parameter hemostasis dengan nilai tumor marker satu persatu sampai ditemukan nilai korelasi pada seluruh sampel yang dinilai.
Dari uji korelasi spearman diperoleh bahwa nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis PT terhadap CEA adalah - 0.233 nilai p 0.143. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis PT terhadap NSE adalah -0,298 dengan nilai p 0.059. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis PT terhadap Cyfra 21-1 adalah -0,480 dengan nilai p 0.789.
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis INR terhadap CEA adalah -0,237 dengan nilai p 0.136. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis INR terhadap NSE adalah -0,228 dengan nilai p 0.152. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis INR terhadap Cyfra 21-1 adalah 0,010 dengan nilai p 0.951.
Tabel 4.5. Korelasi antara Nilai Parameter Hemostasis terhadap Tumor Marker pada Pasien Kanker Paru Bukan Sel Kecil dengan Kemoterapi
CEA NSE Cyfra 21-1
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis APTT terhadap CEA adalah -0,195 dengan nilai p 0.221. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis APTT terhadap NSE adalah - 0.135 dengan nilai p 0.401. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis APTT terhadap Cyfra 21-1 adalah 0.138dengan nilai p 0.391.
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis TT terhadap CEA adalah -0,069 dengan nilai p 0.669. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis TT
terhadap NSE adalah -0.027 dengan nilai p 0.865. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis TT terhadap Cyfra 21-1 adalah 0.270dengan nilai p 0.088.
Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis D-dimer terhadap CEA adalah -0,178 dengan nilai p 0,264. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis D-dimer terhadap NSE adalah -0.047 dengan nilai p 0.769. Nilai koefisien korelasi variabel faal hemostasis D-dimer terhadap Cyfra 21-1 adalah -0.048 dengan nilai p 0.766.
4.2. Pembahasan Penelitian
Pada penelitian ini ditemukan dari 41 sampel dengan tumor paru di RSUP HAM yang menjalani kemoterapi 85 % berjenis kelamin laki-laki dan memiliki usia rata-rata ± 57 tahun. Hal ini sesuai dengan beberapa literatur dan penelitian sebelumnya yang menyebutkan prevalensi tumor paru juga lebih tinggi pada laki-laki dan memiliki rata-rata usia diatas 40 tahun. (Faruk Tas et al, 2012). PDPI menyebutkan pada pertengahan tahun 1990-an adenokarsinoma menjadi tipe histologi kanker paru yang paling banyak pada laki-laki di Amerika Serikat. (Pdpi,2011).
Pada penelitian ini diperoleh jenis sel kanker adenokarsinoma mencapai 75%
dari seluruh sampel, dan 25 % lainnya adalah kanker jenis sel skuamous. Hal ini sesuai dengan beberapa literatur dan penelitian sebelumnya juga melaporkan jenis kanker paru terbanyak adalah adenokarsinoma. (Berna Komurcuoglu et al, 2011).
PDPI juga menyebutkan prevalensi jenis kanker sel adeno lebih tinggi dari sel skuamous. (Pdpi 2011). Pada penelitian ini juga diperoleh bahwa jenis rokok
terbanyak yang dihisap pasien adalah kretek dengan isapan dalam, disebutkan bahwa rokok kretek memiliki kandungan cengkeh, tar dan nikotin yang lebih tinggi dari rokok putih, dan kebanyakan rokok kretek belum memiliki filter. Dengan kandungan senyawa yang lebih banyak dan kebiasaan merokok dengan isapan dalam, maka kecendrungan mendapatkan keganasan paru pada bagian bronkus bagian perifer seperti adenokarsinoma semakin besar.
Dari follow-up 1 bulan pertama setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) pasien tanpa keluhan, 14 (34,1%) pasien dengan keluhan berupa disabilitas motorik dan sisanya 25 pasien (61,0%) meninggal dunia. Pada follow-up 1 tahun setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) orang tanpa keluhan, 3 orang pasien (7,3%) dengan disabilitas motorik, dan sisanya 36 (87,8%) pasien meninggal dunia. berdasarkan data diatas diperoleh 1-year survival rate adalah 12,2 % Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Salah Abbasi dan Ahmed Badheed di jordania menyebutkan pasien kanker paru bukan sel kecilyang tidak diobati memiliki 1-year survival rate sebesar 10%, dengan kemoterapi angka ini meningkat menjadi 19-32%. Hasil yang berbeda ini disebabkan karena pada penelitian tersebut pasien yang diikutkan pada peneliatian tersebut datang dengan stage yang lebih rendah dan jenis obat kemoterapi yang digunakan yang terbanyak adalah docetaxel + platinum based dan docetaxel monoterapi. (Salah Abbasi dan Ahmed Badheed, 2010)
Pada penelitian ini, disebutkan PT, INR, D-dimer dan NSE memiliki perbedaan yang signifikan antara nilai sebelum kemoterapi dibandingkan dengan nilai variabel ini setelah kemoterapi (nilai p < 0.05), dan tidak adanya perbedaan nilai yang
signifikan pada nilai sebelum dan sesudah kemoterapi pada variabel APTT, TT, CEA dan Cyfra 21-1 (nilai p > 0.05). Sebuah penelitian yang dilakukan di Turki menyebutkan nilai faal hemostasis PT, INR, APTT meningkat pada pasien kanker paru yang jenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan kelamin wanita, tetapi nilai ini tidak berlaku pada nilai serum D-dimer. (Faruk Tas et al, 2012)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara PT dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, NSE dan hubungan yang moderat pada Cyfra 21-1 dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai PT dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Faruk tas pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan PT akan memanjang pada keadaan stadium lanjut (Faruk Tas et al,2012) dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun.(R Molina et al, 2003)
Korelasi antara INR dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, NSE, Cyfra 21-1 dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai INR dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Faruk tas pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan INR akan memanjang pada keadaan stadium lanjut dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun. (Faruk Tas et al, 2012), dan penelitian di Amerika Serikat juga menyebutkan INR meningkat setelah pemberian
kemoterapi lini pertama pada pasien-pasien kanker payudara. (Anthony Letai and David J Kuter, 1999)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara APTT dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, dan NSE dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai APTT dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumya pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan APTT akan memanjang pada keadaan stadium lanjut (Faruk Tas et al, 2012, Slavica kvolik, 2010) dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun.(R Molina et al, 2003)
Korelasi APTT dengan Cyfra 21-1 memberikan hubungan lurus yang lemah dengan nilai p yang tidak signifikan hal ini dimungkinkan karena diketahui bahwa Cyfra 21-1 adalah marker yang kuat terhadap kanker paru tetapi marker ini tidak memiliki nilai korelasi yang kuat pada salah satu jenis histologi kanker paru, tetapi ada penelitian lain menyebutkan marker ini memiliki korelasi pada jenis histologi karsinoma sel skuamous. Pada penelitian ini disebutkan bahwa jenis karsinoma skuamous sel cukup sedikit. (R Molina et al, 2003, P.P. Mumbarkar et al, 2006)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara TT dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang kurang berarti pada nilai CEA, dan NSE, dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai TT dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya pada pasien dengan
kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan TT akan memanjang pada keadaan stadium lanjut dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun.
(Faruk Tas et al, 2012)
Korelasi TT dengan Cyfra 21-1 memberikan hubungan lurus yang lemah dengan nilai p yang tidak signifikan dimana diketahui bahwa Cyfra 21-1 adalah marker yang kuat terhadap kanker paru tetapi marker ini tidak memiliki nilai korelasi yang kuat pada salah satu jenis histologi kanker paru, tetapi ada penelitian lain menyebutkan marker ini memiliki korelasi pada jenis histologi karsinoma sel skuamous. Pada penelitian ini disebutkan bahwa jenis karsinoma skuamous sel cukup sedikit. (R Molina et al, 2003, P.P. Mumbarkar et al, 2006)
Pada penelitian ini diperoleh korelasi antara D-dimer dengan tumor marker memberikan hubungan terbalik yang lemah pada nilai CEA, dan hubungan yang kurang berarti dengan NSE, Cyfra 21-1 dengan nilai p yang tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara nilai D-dimer dengan nilai tumor marker pasien sebelum dan sesudah kemoterapi. Hasil ini sesuai dengan penelitian di Turki pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi menyebutkan D-dimer akan memanjang pada keadaan stadium lanjut dan bila ditemukannya adanya tanda-tanda metastasis (Berna Komurcuoglu et al, 2011) dan sebagai respon kemoterapi serum tumor marker akan menurun. (R Molina et al, 2003).
Pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan beresiko meningkatnya kejadian koagulasi 16%,dan komplikasi tromboemboli akan meningkat pada 3 bulan pertama kemoterapi. (Paolo Prandoni et al, 2005) Beberapa literatur juga menyebutkan bahwa kemoterapi akan memperpanjang PT, APTT dan meningkatkan D-dimer setelah kemoterapi dan membaik setelah 7 hari dan kembali seperti sebelum terapi 2 bulan setelah siklus kemoterapi selesai. Penurunan sintesa antikoagulan oleh hati dan penurunan fibronolisis oleh beberapa jaringan dapat terjadi selama kemoterapi.
(Slavica kvolik, 2010).
CEA, Cyfra 21-1, NSE telah lama digunakan untuk mengevaluasi terapi pada kanker paru bukan sel kecil. Sebuah penelitian di china tahun 2011 oleh Hongbing Liu dan kolega menyebutkan serum CEA akan secara signifikan berkurang setelah dua siklus kemoterapi pada pasien dengan kanker paru bukan sel kecil. CEA dan NSE memiliki korelasi yang lemah terhadap jenis kanker adenokarsinoma tetapi tidak dengan Cyfra 21-1, walau ada beberapa penelitian menyebutkan Cyfra 21-1 berkorelasi lemah dengan karsinoma sel skuamous. (Hobgbing Liu, 2011)
Melihat respon variabel ini terhadap kemoterapi dapat disimpulkan adanya hubungan terbalik pada kedua variabel ini dan hal ini juga ditemukan pada penelitian ini. Dapat dimungkinkan nilai salah satu variabel dapat memprediksi nilai dari variabel lainnya, hal ini dapat membantu para klinisi dalam menangani pasien kanker paru bukan sel kecil di berbagai rumah sakit termasuk rumah sakit yang belum memadai pemeriksaan penunjangnya dalam menilai prognostik pasien
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Karakteristik 41 pasien kanker paru bukan sel kecil yang dilakukan kemoterapi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
1. Jenis Kelamin terbanyak adalah laki laki sebanyak 35 orang (85,4%)
2. Usia rata-rata sampel adalah 56,7 tahun, dimana 29 orang (70,7%) dengan usia 40 sampai dengan 60 tahun,
3. Jenis Histologi terbanyak adalah adalah adeno karsinoma dengan 31 orang (75%).
4. Tiga puluh lima orang (85,5%) adalah perokok.
5. Jenis kemoterapi terbanyak yang digunakan adalah kemoterapi lini pertama dengan platinum based therapy dengan Gemsitabin dan Karboplatin pada 27 orang (65,9%).
6. Dari follow-up 1 bulan diperoleh 2 (4,9%) pasien tanpa keluhan, 14 (34,1%) pasien dengan keluhan berupa disabilitas motorik dan sisanya 25 pasien (61,0%) meninggal dunia. Pada follow-up 1 tahun setelah kemoterapi diperoleh 2 (4,9%) orang tanpa keluhan, 3 orang pasien (7,3%) dengan disabilitas motorik, dan sisanya 36 (87,8%) pasien meninggal dunia.
7. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai parameter hemostasis dan serum tumor marker sebelum dan sesudah kemoterapi siklus 4 atau 6. Tetapi
ada peningkatan nilai PT, INR, APTT, TT, NSE sebelum dan sesudah kemoterapi siklus 4 atau 6.
8. Terdapat korelasi negatif yang tidak bermakna pada nilai faal hemostasis dan serum tumor marker.
9. Hasil yang berbeda terlihat antara APTT dengan Cyfra 21-1 dan TT dengan Cyfra 21-1 dan NSE dimana terdapat korelasi positif yang bermakna.
5.2. Saran.
Masih dibutuhkan penelitian baru yang mampu menjelaskan korelasi parameter hemostasis terhadap tumor marker berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis histologi sel dan jenis kemoterapi.
DAFTAR PUSTAKA
A. A. Ponomaryova et al, 2011 Molecular Genetic Markers in Diagnosis of Lung Cancer, Institute of Oncology, Siberian Branch, Russian Academy of Medical Sciences, Tomsk, 634001 Russia, ISSN 0026_8933, Molecular Biology, 2011, Vol. 45, No. 2, pp. 175–189.
A. Falanga et al, 2013, Coagulation and cancer: biological and clinical aspects, Jurnal of Thrombosis and Haemostasis,II,Itali, 2013, 223-233.
Andrew, D Blann, et al, 2011, Arterial and Venous Thrombosis in Cancer Patients, Cardiology Research and Practice, 2ulation and Anticoagulation.
Annie Young et al, 2012, Thrombosis and cancer, Department of Haematology, University Hospital, Clifford Bridge Road, Coventry CV2 2DX, UK.
NATURE REVIEWS | Clinical Oncology, Volume 9 | August 2012.
Anthony Letai and David J Kuter, 1999, Cancer, Coagulation and anticoagulation, Hematology Oncology Departement, Boston, USA.
Berna Komurcuoglu et al, 2011, prognostic value of plasma D-dimer levels in lung carcinoma, Tumori 97, Turki, 2011, 743-748
Bo Jin et al, 2010, The Value of Tumor Markers in Evaluating Chemotherapy Response and Prognosis in Chinese Patients with Advanced Non-Small Cell Lung Cancer, Department of Pulmonary Medicine, Shanghai Chest Hospital, Shanghai Jiaotong University, Shanghai, China, Chemotherapy 2010;56:417–42
Buku ajar Penyakit Dalam FK UI, 2006, Dasar-dasar Hemostasis dan Thrombosis pada kanker, Jakarta.
Dangfan Yu et al, 2013, Prognostic Value of Tumor Markers, NSE, CA125 and SCC,in Operable NSCLC Patients Department of Nuclear Medicine, Zhejiang Provincial Corps Hospital, Chinese People‟s ArmedPolice Force, Jiaxing 314000, China Int. J. Mol. Sci.
D. Ferrigno et al, 1994, Serum tumour markers in lung cancer: history, biology and clinical applications Dept of Nuclear Medicine, S. Croce General Hospital, Cuneo, Italy. Eur Respir J, 1994, 7, 186–197,
Ebru Unsal et al, 2003, Prognostic pnificance of hemostatic parameters in patients with lung cancer,ELSEVIER, Turki 2003.
Faruk Tas et al, 2013, Clinical and prognostic pnificance of coagulation assays in lung cancer, Institute of Oncology, University of Istanbul, Istanbul, Turkey, Elsevier Ltd., Respiratory Medicine, 2013, 107, 451e457
Gerald A. Soff, 2013, Pathophysiology and management of thrombosis in cancer:150 years of progress, J Thromb Thrombolysis (2013) 35:346–351 DOI 10.1007/s11239-013-0897-9
IASLC/ATS/ERS, 2011, Internasional Multidisciplinary Classfisication of Lung Adenocarcinoma, Journal of Thoracic Oncology, IASLC.
Isabel Dos Santos Silva, 2010, Circulating Levels of Coagulation and Inflammatin markers and cancer risks: individual participant analysis af data from three long-terms cohort, Departement of Epidemiology and Population health,
London school of Hygiene and Tropical Medicine, London, International Journal of Epidemiology, London.
Jung zao et al, 2012, Tumor response and survival in patients with advanced non-small-cell lung cancer: the predictive value of chemotherapy-induced changes in fibrinogen, Department of Medical Oncology, The First Hospital, China Medical University, Shenyang, China, Zhao et al. BMC Cancer 2012, 12:330. http://www.biomedcentral.com 1471-2407/12/330
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011, Pedoman Interpretasi Data Klinik, Jakarta.
Kostas D.Hatzakis et al, 2002, Prognostic Value of Serum Tumor Markers in Patients with Lung Cancer, Departemens of Pneumonology and Nuclear Medicine, University of Crete Medical School, heraklion, Greece, Repiration; Jan/Feb 2002;69; Proquest
Ljiljana Vasic, 2007, A Role of Cyfra 21-1 Among Tumor Markers for Non-Small-Cell Lung Cancer Acta Fac Med Naiss 2007; 24 (2): 65-69
Michael. E. Bromberg et al, 1999, Cancer and Blood Coaguloation: Molecular Aspect, The Cancer Journal From Scientific American.
M. Roselli et al, 2014, Clinical models and biochemical predictors of VTE in lung cancer, Department of Systems Medicine, Medical Oncology, Tor Vergata Clinical Center, University of Rome “Tor Vergata”, Viale Oxford 81, 00133 Rome, Italy, Cancer Metastasis Rev, 2014, 33:771–789 DOI 10.1007/s10555-014-9500-x
Paolo Prandoni et al, 2005, Cancer and venous thromboembolism, Department of Medical and Surgical Sciences, Second Chair of Internal Medicine, University of Padua, Padua, ItalyLancet Oncol 2005; 6: 401–10
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), 2011, Kanker paru, Pedoman Diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta, 2011.
Peter Oppelt et al, 2015, Approach to chemotherapy-associated thrombosis, Case Western Reserve University, Cleveland, OH 44106, USA, Vascular Medicine 2015, Vol. 20(2) 153–161
Petra Stieber et al, 2006, National Academy of Clinical Biochemistry Guidelines for the Use of Tumor Markers in Lung Cancer NACB: Practice Guidelines And Recommendations For Use Of Tumor Markers In The Clinic Lung Cancer (Section 3P, NACB.2006
P.P. Mumbarkar et al, 2006, Significance of Tumor Markers In Lung Cancer Department of Biochemistry, Tata Memorial Hospital, Parel, Mumbai Indian Journal of Clinical Biochemistry, 2006, 21 (1) 173-176
R Molina et al, 2003, Tumor Markers (CEA, CA 125, CYFRA 21-1,SCC and NSE) in patients with Non-Small Cell Lung Cancer as an Aid in Histological Diagnostic and Prognosis, Comparison with the Main Clinical and Pathological Prognostic Factors, Laboratory of Clinical Biochemistry,Unit for Cancer Research, Hospital Clinic and Unit of Epidemiology and Cancer
Registry,Hospital I Duran I Reynals, Barcelona, Tumor Biology 2003:24;24;209-218.
Salah Abbasi and Ahmed Badheed, Prognostic Factors in advanced Non-Small-Cell Lung Cancer patients: Patient Characteristic and Type of Chemoterapy, Clinical Oncology Department,King Hussien Center, Al-jubeiha, Amman 11941,Jordan
Shaker A. Mousaet al, 2004, Angiogenesis Inhibitors: Current & Future Directions, Albany College of Pharmacy & Pharmaceutical Research Institute (PRI) at Albany, Albany, NY and 1Cornell University, Ithaca, NY, USA Current Pharmaceutical Depn, 2004, 10, 1-9
Slavica Kvolik, 2010, An overview of coagulation disorders in cancer patients, Department of Anesthesiology and ICU, University Hospital Osijek, J.
Huttlera Osijek, Croatia, Surgical Oncology.
U.S. Cancer Statistics-working Group, 2012, United State Cancer Statistics 1999-2012, incidence and mortality web-based Report, Atalanta, U.S. Deparment of Health and Human Services, Center of diseases Control and Prevention, and National Cancer Institute, 2015. Available at: www.cdc.gov/uscs. . Yuan liu et al, 2011, Tissue Factor-activated Coagulation Cascade in the tumor
Microenvironment in Critical for tumor Progression and an effective Target for Therapy, Therapeutic, Targets and Chemical Biology, North Carolina, 2011.
LAMPIRAN 1
LEMBARAN PEMERIKSAAN PENELITIAN
Nama :
Umur : Tahun
Tempat/ Tanggal Lahir :
Alamat :
Pekerjaan :
No.Telepon :
Jenis Kelamin : 1. Laki-laki
2. Perempuan Keluhan respiratori yang pernah dialami :
1. Batuk 2. Sesak Napas 3. Nyeri
4. Batuk darah 5. Lainnya Riwayat Merokok:
1. Merokok 2. Tidak Merokok
Riwayat penyakit paru sebelumnya :
Hasil Foto toraks PA/Lateral : Hasil CT Scan Toraks (bila ada) : Hasil Bronkoskopi (bila ada) :
Hasil Citologi Jaringan :
Hasil Histopatologi Jaringan :
Diagnosa Akhir :
LAMPIRAN 2
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN
Selamat pagi/siang Bapak/Ibu, saya dr. Ganda M. Leonard Samosir, PPDS Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, saat ini sedang melakukan penelitian yang berjudul “Korelasi Faal Hemostasis dengan Tumor Marker Pada Pasien Kanker Paru Bukan Sel Kecil dengan Kemoterapi”, Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara faal hemostasis dan tumer marker bapak/ibu dalam pengaruhnya terhadap kemoterapi, yang nantikan akan digunakan dalam menilai prognosis dari penyakit bapak/ibu.
Bapak/ibu yang bersedia mengikuti penelitian ini nantinya akan dilakukan
Bapak/ibu yang bersedia mengikuti penelitian ini nantinya akan dilakukan