HASIL PENELITIAN
4.9 Distribusi Status Karies Pada Responden Berdasarkan Usia
Status karies tertinggi pada setiap kelompok usia tunagrahita yaitu kelompok usia 5-11 tahun yaitu sebesar 50% dengan kategori sedang, kelompok usia 12-16 tahun 50% dengan kategori sedang, kelompok usia 17-25 tahun 39,28% dengan kategori sedang dan kelompok usia 26-35 tahun 50% pada kategori tinggi.
Status karies tertinggi pada setiap kelompok usia tunadaksa yaitu kelompok usia 5-11 tahun yaitu sebesar 66,66% dengan kategori sedang, kelompok usia 12-16 tahun 50% dengan kategori sedang dan kelompok usia 17-25 tahun 81,81% dengan kategori sedang (Tabel 11).
Tabel 11.Distribusi status kebersihan rongga mulut pada responden berdasarkan usia(n=106).
BAB 5 PEMBAHASAN
Berdasarkan tabel 4, rata-rata skor OHIS pada anak tunagrahita yaitu 1,551,09 dan anak tunadaksa 1,441,20. Penelitian yang dilakukan oleh Sharma A dkk yang menunjukkan indeks OHIS anak berkebutuhan khusus lebih buruk daripada anak normal yaitu 1,51±0,93, sedangkan anak normal 1,15±0,72.8 Hasil penelitian ini menujukkan bahwa skor rata-rata OHIS anak tunagrahita dan tunadaksa lebih tinggi daripada anak normal. Hal ini disebabkan anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan IQ dibawah anak normal sehingga lebih sulit memberikan arahan mengenai kesehatan gigi dan mulut.
Berdasarkan tabel 5, status OHIS terbanyak pada tunagrahita dan tunadaksa adalah kategori sedang, yaitu sebesar 53,75% pada tunagrahita dan 53,84% pada tunadaksa. Hal ini sama dengan penelitian di Manado, menunjukkan status kebersihan rongga mulut terbanyak pada tunagrahita dan tunadaksa adalah kategori sedang, yaitu sebesar 81,3% pada tunagrahita dan 62,5% pada tunadaksa.3 Hal ini disebabkan karena anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam menjaga kebersihan rongga mulutnya, seperti kurangnya minat dan tidak efektifnya dalam menggosok gigi dan memakai benang gigi sehingga dibutuhkan panduan, penjagaan, dan observasi dari keluarga maupun pengasuh ketika membersihkan giginya.1,36
Berdasarkan tabel 6, rata-rata skor OHIS pada tunagrahita tertinggi diperoleh pada kelompok usia 26-35 tahun 2,011,20, diikuti kelompok usia 17-25 tahun 1,721,23 lalu kelompok usia 12-16 tahun 1,491,01 dan kelompok usia 5-11 tahun 1,110,82. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan Kothari dkk.
pada tunagrahita rata-rata skor OHIS tertinggi diperoleh pada kelompok usia 26-30 tahun yaitu 3,300,00, diikuti kelompok usia 21-25 tahun sebesar 3,411,77 lalu kelompok usia 16-20 tahun sebesar 2,991,34, kelompok usia 11-15 tahun sebesar 2,601,31 dan kelompok usia 5-10 tahun sebesar 1,481,11.11 Adanya peningkatan
rerata skor dan status OHIS pada tunagrahita seiring bertambahnya usia. Hal ini dapat disebabkan oleh peningkatan indeks kalkulus dari akumulasi plak yang meningkat seiring bertambahnya usia dan memperburuk OHIS.11,37-8 Pada tunadaksa rata-rata skor OHIS tertinggi diperoleh pada kelompok usia 5-11 tahun 2,301,57, diikuti kelompok usia 7-17 tahun 1,541,40 dan kelompok usia 17-25 tahun 1,100,77.
Hasil ini berbeda dengan penelitian Aastha dkk. pada tunadaksa rata-rata skor OHIS tertinggi diperoleh pada kelompok usia 16-20 tahun yaitu 3,080,10, diikuti kelompok usia 11-15 tahun sebesar 2,381,01 lalu kelompok usia 6-10 tahun yaitu 2,320.99.13 Adanya penurunan rerata skor seiring bertambahnya usia pada tunadaksa dikarenakan semakin bertambahnya usia semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikiran seseorang.
Berdasarkan tabel 7, Status OHIS tertinggi pada setiap kelompok usia tunagrahita yaitu kelompok usia 5-11 tahun yaitu sebesar 54,54% dengan kategori baik, kelompok usia 12-16 tahun 50% dengan kategori sedang, kelompok usia 17-25 tahun 57,14% dengan kategori sedang dan kelompok usia 26-35 tahun 40% pada kategori sedang. Hasil ini hampir sama dengan penelitian Hardiani AK dkk. status OHIS tertinggi pada setiap kelompok usia tunagrahita yaitu kelompok usia 6-10 tahun yaitu sebesar 73,04% dengan kategori sedang, kelompok usia 11-15 tahun 21,74% dengan kategori sedang, kelompok usia 16-20 tahun 43,48% dengan kategori sedang dan kelompok usia 21-25 tahun 21,74% pada kategori buruk.14 Status OHIS pada tunagrahita, semakin bertambah usia semakin buruk status OHIS. Hal ini terjadi karena rendahnya intelektualitas dan keterbatasan motorik tunagrahita yang menyebabkan daya ingat dan daya tangkap menurun sehingga sering lupa dan kesulitan dalam membersihkan gigi. Kesulitan dan jarang membersihkan gigi menyebabkan terjadinya penumpukan kalkulus seiring bertambahnya usia.37 Status OHIS tertinggi pada setiap kelompok usia tunadaksa yaitu kelompok usia 5-11 tahun yaitu sebesar 66,66% dengan kategori sedang, kelompok usia 12-16 tahun 58,33%
dengan kategori sedang dan kelompok usia 17-25 tahun 55,54% dengan kategori
dengan kategori baik, kelompok usia 11-15 tahun 41,2% dengan kategori sedang dan kelompok usia 16-20 tahun 50% dengan kategori buruk.15 Status OHIS anak tunadaksa, semakin bertambah usia semakin banyak kategori baik. Seiring bertambahnya usia, maka pengetahuan yang akan didapat semakin banyak, diiringi dengan perkembangan mental yang lebih baik sehingga motivasi untuk berprilaku baik menjadi lebih besar.39
Berdasarkan tabel 8, skor DMFT rata-rata pada anak tunagrahita, yaitu 3,56
3,47 dan anak tunadaksa 2,53 2,21. Penelitian yang dilakukan oleh Purohit MB dkk yang membandingkan status karies anak berkebutuhan khusus dengan anak normal, indeks DMFT anak berkebutuhan khusus lebih tinggi yaitu berkisar 2,52±2,61 sedangkan anak normal yaitu 0,61-1,12.17 Skor DMFT anak berkebutuhan khusus lebih tinggi terjadi karena anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam menjaga kebersihan rongga mulut dan pola makan serta kurangnya perhatian orang tua terhadap masalah gigi dan mulut anak.38
Berdasarkan tabel 9, status karies terbanyak pada tunagrahita dan tunadaksa adalah kategori sedang, yaitu sebesar 40% pada tunagrahita dan 61,53% pada tunadaksa. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Tulangow dkk.
status karies pada tunagrahita dan tunadaksa terbanyak adalah kategori sedang, yaitu sebesar 87,5% pada tunagrahita dan 50% pada tunadaksa.21 Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran tentang kunjungan ke dokter gigi, tindakan kesehatan gigi dan mulut kurang memadai, kebiasaan makan yang tidak teratur dan kurangnya insiatif untuk melakukan pencegahan.40-2
Berdasarkan tabel 10, skor DMFT rata-rata pada anak tunagrahita yang paling tinggi pada responden kelompok usia 26-35 tahun yaitu 6,506,43 diikuti kelompok usia 17-25 tahun 3,892,89 lalu kelompok usia 12-16 tahun sebesar 2,902,22 dan kelompok usia 5-11 tahun 2,402,53 dan skor DMFT rata-rata pada anak tunadaksa yang paling tinggi pada kelompok usia 17-25 tahun 3,902,58 diikuti kelompok usia 12-16 tahun 2,331,96 lalu kelompok usia 5-11 tahun 1,33 1,52. Pada peneliltian ini menunjukkan skor rerata DMFT meningkat saat bertambahnya usia. Hal ini sesuai
dengan penelitian dilakukan oleh Jain skor DMFT rata-rata pada tunagrahita yang paling tinggi pada responden kelompok usia 26-30 tahun sebesar 2,751,86, diikuti kelompok usia 21-25 tahun sebesar 2,632,16, lalu kelompok usia 16-20 tahun 2,612,40 dan kelompok usia 12-15 tahun sebesar 1,502,1322 dan penelitian dilakukan oleh Aastha skor DMFT rata-rata pada tunadaksa yang paling tinggi pada responden kelompok usia 16-20 tahun yaitu 3,60,03 diikuti 11-15 tahun sebesar 1,91,74 lalu kelompok usia 6-10 tahun sebesar 1,36 2,01.13 Rerata DMFT semakin meningkat saat bertambahnya usia dikarenakan anak jarang dibawa ke dokter gigi untuk melakukan perawatan gigi dikarenakan keterbatasan fisik dan ketakutan pergi ke dokter gigi sehingga karies terus bertambah karena waktu yang lebih panjang untuk proses terjadinya karies.21,22
Berdasarkan tabel 11, status karies gigi kategori tinggi tertinggi tunagrahita diperoleh pada kelompok usia 26-35 tahun yaitu sebesar 50% diikuti kelompok usia 17-25 tahun 32,14% lalu kelompok usia 12-16 tahun 20 % dan kelompok usia 5-11 tahun 9,09% dan status karies gigi kategori tinggi tertinggi tunadaksa diperoleh pada kelompok usia 17-25 tahun 9,09% lalu kelompok usia 12-16 tahun 8,33 % dan kelompok usia 5-11 tahun tidak ada. Hasil penelitian ini menunjukkan semakin bertambah usia semakin tinggi kategori karies gigi. Hal ini terjadi karena rendahnya kesadaran tentang kunjungan dokter gigi dan anak mengkonsumsi makanan kariogenik seperti coklat, permen yang sangat rentan terhadap karies.
BAB 6