Fadhil Surur
Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota UIN Alauddin Makassar [email protected]
Abstract— Tujuan pembangunan berkelanjutan dapat diimplementasikan jika seluruh kebijakan perencanaan pembangunan mengarah pada prinsip pembangunan berkelanjutan baik berupa perencanaan sektoral maupun perencanaan spasial. Sehingga diharapkan semua pihak yang berpartisipasi dalam proses pembangunan memahami makna dari prinsip pembangunan berkelanjutan tersebut. Dalam penelitian ini dokumen perencanaan yang dikaji adalah dokumen RTRW Kabupaten Soppeng 2012-2032. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan analisis konten. Analisis ini bertujuan mengumpukan dan menganalisis muatan prinsip pembangunan berkelanjutan pada dokumen tersebut dari aspek lingkungan, kelembagaan, ekonomi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa muatan prinsip pembangunan berkelanjutan didominasi pada aspek lingkungan (24,87%) dengan indikator paling tinggi pada neraca sumberdaya dan lingkungan. Secara substantif terdapat ketimpangan muatan prinsip pembangunan berkelanjutan pada seluruh pembahasan di dokumen RTRW Kabupaten Soppeng 2012-2032.
Keywords— pembangunan; berkelanjutan; RTRW
I. PENDAHULUAN
Konsep keberlanjutan adalah konsep yang sederhana, namun cenderung kompleks sehingga makna dasar keberlanjutan bersifat multiinterpretasi dan multidimensi (Fauzi, 2009 dalam Fauzi & Oxtavianus, 2014). Dalam tinjauan pendidikan pembangunan berkelanjutan merujuk pada kemampuan untuk menganalisis, mengerti, dan memahami segala aspek pembangunan berkelanjutan secara multidisiplin (Gunamantha, 2010). Sehingga secara mendasar konsep pembangunan berkelanjutan memuat program terpadu lintas sektor dan multidisiplin yang perlu dikoordinasikan secara kuat mulai pada tingkat pusat sampai tingkat daerah dan masyarakat luas sebagai pelaku pembangunan ekonomi (Rivai dan Anugrah, 2016). Selain itu pembangunan berkelanjutan juga harus dipahami oleh seluruh pihak mulai dari level masyarakat, pemerintah dan swasta dalam proses pembangunan dengan mengendepankan akuntabilitas, tinjauan sistematis, mekanisme pelaporan dan pemantauan (Bäckstrand, 2006).
Dalam tataran sistem penataan ruang nasional, Pemerintah Daerah diwajibkan untuk menyusun suatu rencana pembangunan dalam bentuk rencana penataan ruang yang dijadikan acuan untuk melaksanakan pembangunanya berdasarkan pada kemampuan dan potensi sumber daya (alam dan manusia) serta peluang-peluang ekonomi yang ada, sehingga memungkinkan dapat respon secara cepat (Tuasikal, 2013). Menurut Rustiadi dan Hadi (2004) penataan ruang (produk perencanaan) memiliki urgensi keterkaitan dengan prinsip keberlanjutan, selain sebagai alat distribusi dan optimalisasi potensi sumberdaya. Maka kedudukan perencanaan tata ruang menjadi hal yang penting agar setiap wilayah provinsi, kota/kabupaten memiliki aturan yang akan menjadi pedoman dalam pelaksaanaan pembangunan (Saleh dan Hanafi, 2015).
Pemuatan isu dan konsep sustainable development dapat diawali dari pernyataan pentingnya kesadaran segenap pihak tentang berbagai isu lingkungan global, regional maupun ditingkat lokal (Priyoga, 2010). Demikian halnya dengan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Soppeng Tahun 2012-2032 seharusnya memuat konsep pembangunan berkelanjutan pada seluruh tahapan dan isi dokumen tersebut. Pengukuran prinsip pembangunan berkelanjutan dapat dinilai secara transparan, hasilnya kemudian dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan untuk memaksimalkan keputusan yang selajutnya (Boggia & Cortina, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat muatan dari prinsip pembangunan berkelanjutan dalam dokumen RTRW Kabupaten Soppeng Tahun 2012-2032.
II. METODE PELAKSANAAN
Sumber data utama yang digunakan pada penelitian ini adalah dokumen Laporan Akhir Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Soppeng Tahun 2012 – 2032 yang diperoleh melalui Bappeda Kabupaten Soppeng. Selanjutnya alat analisis untuk mengkaji dokumen tersebut digunakan Analisis Konten, secara sederhana dengan metode untuk mengumpulkan dan menganalisis muatan dari sebuah teks berupa kata-kata, makna gambar, simbol, gagasan, tema dan
62 | F a d h i l S u r u r
bermacam bentuk pesan yang dapat dikomunikasikan (Ekomadyo, 2006). Tahapan Analisis Konten menurut Yuris (2006) mencakup perumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesisnya, penentuan sampling terhadap sumber-sumber data yang telah dipilih, pembuatan kategori (tabel 1) yang dipergunakan dalam analisis, pendataan suatu sampel dokumen yang telah dipilih dan melakukan pengkodean, pembuatan skala dan item berdasarkan kriteria tertentu untuk pengumpulan data, dan penafsiran data yang diperoleh. Tabel 1 Kategorisasi analisis
Prinsip Pembangunan Berkelanjutan Variabel Pengkodean Aspek Lingkungan - Degradasi lingkungan - Potensi SD - Neraca SDA dan lingkungan 1a 1b 1c Aspek Sosial - Keadilan - Rasa aman -Menghargai perbedaan - Kesetaraan 2a 2b 2c 2d Aspek Ekonomi - Pendapatan masyarakat - Kesempatan kerja - Investasi - Pendapatan daerah 3a 3b 3c 3d Aspek Kelembagaan - Partisipasi dan hak-hak publik - Kepemimpinan - Komunikasi & koordinasi 4a 4b 4c Sumber: Rahmaniah, 2012
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Soppeng berperan sebagai alat untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan antar wilayah dan kesinambungan pemanfaatan ruang di Kabupaten Soppeng. Dokumen ini terdiri dari 7 bab yaitu Bab I Pendahuluan, Bab II Tujuan Kebijakan dan Strategi, Bab III Rencana Struktur Ruang, Bab IV Rencana Pola Ruang, Bab V Penetapan Kawasan Strategis, Bab VI Arahan Pemanfaatan Ruang dan Bab VII Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Penataan ruang wilayah Kabupaten Soppeng bertujuan untuk mewujudkan Kabupaten Soppeng yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan serta berwawasan lingkungan berbasiskan agropolitan dan pariwisata dengan memperhatikan integrasi dan dinamisasi pertahanan dan keamanan negara menuju tercapainya masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera. Wilayah perencanaan Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Soppeng mencakup seluruh wilayah administrasi yang terdiri dari Kecamatan Marioriwawo, Lalabata, Liliriaja, Ganra, Lilirilau;, Donri-donri, Marioriawa dan Citta. Hasil Analisis Konten pada seluruh isi dokumen RTRW Kabupaten Soppeng Tahun 2012-2032 diperoleh temuan pada table 2.
Tabel 2 Hasil pengkodean Analisis Konten
Bah asan
Kode
1 Kode 2 Kode 3 Kode 4 Tot a b c a b c d a b c d a b c Bab I 13 15 21 2 2 0 1 2 4 3 14 6 1 1 85 Bab II 4 6 9 0 1 0 1 1 0 0 2 1 0 3 28 Bab III 3 8 0 0 2 0 5 0 0 0 0 0 3 17 38 Bab IV 8 8 3 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 21 Bab V 1 8 0 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 0 13 Bab VI 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Bab VII 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 Jum lah 30 47 33 2 5 0 7 7 4 4 17 7 4 22 189
Sumber: hasil analisis, 2019
Berdasarkan temuan tersebut, bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan dokumen RTRW Kabupaten Soppeng Tahun 2012-2032 dominan diulas pada Bab I Pendahuluan (44,97%) dengan nilai total 85 poin. Pada Bab II Tujuan, Kebijakan & Strategi, Bab III Rencana Struktur Ruang, Bab IV Rencana Pola Ruang dan Bab V Penetapan Kawasan Strategis berada pada kisaran 13-39 poin dengan persentase tidak lebih dari 20%. Sedangkan pada Bab VI Arahan Pemanfaatan Ruang dan Bab VII Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Ruang ditemukan masing masing hanya 1%. Sehingga secara umum terdapat ketimpangan muatan prinsip pembangunan berkelanjutan antar bab, dimana hanya didominasi pada Bab I, semakin mengkhusus pembahasan maka semakin rendah pemuatan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Hasil pengkodean berdasarkan aspek pembanguna berkelanjutan dan variabel yang mendasari masing masing aspek, menunjukkan dominasi aspek lingkungan dengan variabel degradasi lingkungan, potensi sumberdaya dan neraca SDA dan lingkungan dengan persentase mencapai 58%, selanjutnya aspek kelembagaan dengan varibel partisipasi dan hak-hak publik, kepemimpinan dan komunikasi & koordinasi dengan capaian 17,4%. Kemudian aspek ekonomi dengan varibel pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, investasi dan pendapatan daerah dengan nilai 16,93%. Sedangkan aspek paling rendah diulas adalah aspek sosial (keadilan, rasa aman, menghargai perbedaan dan kesetaraan) dengan nilai hanya 7,4%. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi substansi perhatian terhadap aspek kelembagaan dalam dokumen RTRW Kabupaten Soppeng dinilai telah dipahami oleh seluruh stakeholder.
Urutan Aspek Pembangunan
Berkelanjutan Varibel yang banyak diulas Kode Aspek Lingkungan - Potensi SD - Neraca SDA dan lingkungan
- Degradasi lingkungan 1b 1c 1a Aspek Kelembagaan
- Komunikasi & koordinasi - Partisipasi dan hak-hak publik - Kepemimpinan 4c 4a 4c Aspek Ekonomi - Pendapatan daerah - Pendapatan masyarakat - Kesempatan kerja - Investasi 3d 3a 3b 3c Aspek Sosial - Kesetaraan - Rasa aman - Keadilan - Menghargai perbedaan 2d 2b 2a 2c
Sumber: hasil analisis, 2019
Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan menurut ISSD (2005) dalam Setiadi, Jawoto, Sophianingrum dan Rosalia (2008) menyebutkan bahwa pembangunan berkelanjutan ditujukan untuk mencari strategi inovatif untuk merubah struktur kelembagaan dan kebijakan serta perubahan perilaku individu hingga tingkat global. Sejauh ini Pemerintah Kabupaten Soppeng dalam tataran kebijakan publik mampu berperan penting dalam mewujudukan implemntasi pembangunan berkelanjutan. Sejalan dengan hal tersebut kepentingan ekonomi juga cenderung stabil dalam dokumen RTRW Kabupaten Soppeng. Perhatian aspek ekonomi dalam pembanguna berkelanjutan ditinaju sebagai proses perubahan yang di dalamnya terdapat upaya sumberdaya, arah investasi, orientasi pengembangan teknologi dan perubahan kelembagaan dalam keadaan selaras serta berupaya meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia (Munasinghe, 2010 dalam Ibrahim, Amanah, Gani dan Purnaningsih, 2013). Manuver pembangunan ekonomi ditekankan oleh Pemerintah Kabupaten Soppeng memalui peningkatan akses pelayanan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah secara merata dan berhirarki. Kondisi muatan aspek sosial yang sangat rendah dibandingkan dengan aspek lingkungan, ekonomi dan kelembagaan menunjukkan rendahnya acuan dari dimensi sosial masyarakat dalam dokumen yang dikaji. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa stakeholder yang terlibat dalam penyusunan dokumen RTRW Kabupaten Soppeng belum mengakomodasi seluruh variabel aspek sosial secara tajam jika dibandingkan dengan varibel pada aspek lainya.
Pada hasil penelitian Rahmaniah (2012) dengan menggunakan pendekatan Analisis Konten terhadap Draft RTRW Kota Sukabumi Tahun 2009-2029 diperoleh prinsip pembangunan berkelanjutan banyak diulas pada Bab II tentang Tujuan kebijakan dan strategi (25,45%), Bab IV tentang Rencana Pola Ruang dan di Bab I Pendahuluan masing masing 20%. Muatan pesan yang berkaitan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan hanya sedikit sekali diulas pada Bab VI tentang Arahan Pemanfaatan Ruang (2,72%). Jika dibandingkan dengan hasil temuan pada
RTRW Kabupaten Soppeng Tahun 2012-2032, nilai prinsip pembangunan berkelanjutan pada RTRW Kota Sukabumi lebih merata disetiap babnya dan tidak didominasi lebih dari 30% hanya pada 1 bab. Namun kondisi yang sama pada Bab VI Arahan Pemanfaatan Ruang juga memiliki interpretasi yang rendah. Penilaian setiap aspek pada RTRW Kota Sukabumi muatan aspek lingkungan (45%), aspek sosial (19%), aspek ekomomi dan kelembaagn (23%). Diintepretasikan bahwa muatan setiap aspek tidak mengalami ketimpangan antar aspek yang siginfikan karena nilai setaip aspek dibawah 50% dan paling tinggi hanya 45%. Sedangkan pada RTRW Kabupaten Soppeng mengalami dominasi nilai pada aspek lingkungan dengan nilai 58,20%, aspek ekonomi dan kelembagaan yang cenderung setara (16% dan 17%) dan aspek sosial yang tertinggal dengan nilai hanya 7,4%. Sehingga dapat diformulasi bahwa RTRW Kota Sukabumi lebih merata baik disetiap bab maupun disetiap aspek dibandingkan dengan RTRW Kabupaten Soppeng.
IV. KESIMPULAN
Muatan prinsip pembangunan berkelanjutan pada RTRW Kabupaten Soppeng terdapat ketimpangan antar aspek, secara spesifik hanya dipahami secara mendalam pada aspek lingkungan dibandingkan dengan aspek kelembagaan dan ekonomi. Sedangkan muatan aspek sosial tidak sesignifikan dengan tiga aspek yang lain. Muatan antar bab juga menunjukkan hal yang sama, lebih didominasi pada Bab I, padahal secara substantif Bab III, Bab IV dan Bab V merupakan muatan yang berkaitan dengan rencana masa depan, namun memiliki porsi muatan yang lebih sedikit. Perbandingan dengan muatan dokumen RTRW pada daerah lain, RTRW Kota Sukabumi jauh lebih merata muatan prinsip pembangunan berkelanjutan yang dibahas baik dari sisi muatan setiap bab maupun muatan antar aspek. Dalam rangka peningkatan muatan prinsip pembangunan berkelanjutan, maka diperlukan sosialisasi yang lebih massif terhadap edukasi tentang konsep pembangunan berkelanjutan, perlunya penyimbangan muatan setiap bab dan setiap aspek agar empat pilar pembangunan berkelanjutan saling terintegrasi dan perlunya penelitian lanjutan dengan mengkaji dokumen RTRW yang relevan.
DAFTAR PUSTAKA
Bäckstrand, K. (2006). Multi ‐ stakeholder partnerships for sustainable development: rethinking legitimacy, accountability and effectiveness. European environmen, 16(5), 290-306.
Boggia, A., & Cortina, C. (2010). Measuring sustainable development using a multi-criteria model: A case study. Journal of environmental management,, 91(11), 2301-2306.
Ekomadyo, A. S. (2006). Prospek Penerapan Metode Analisis Isi (Content Analysis) dalam Penelitian Media Arsitektur. Jurnal Itenas: Jurnal Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni, 10(2), 51-57.
64 | F a d h i l S u r u r
Fauzi, A., & Oxtavianus, A. (2014). Pengukuran Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Mimbar, 42-52.
Ibrahim, H., Amanah, S., Gani, S. D. S., & Purnaningsih, N. (2013). Analisis Keberlanjutan Usaha Pengrajin Ekonomi Kreatif Kerajinan Sutera di Provinsi Sulawesi Selatan. Journal of Agroindustrial Technology, 23(3).
Pemerintah Kabupaten Soppeng. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Soppeng Tahun 2012-2032. Kabupaten Soppeng
Gunamantha, I. M. (2010). Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan: Mengapa, Apa dan Bagaimana. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 215-221.
Priyoga, I. (2010). Desain Berkelanjutan (Sustainable Design). Dinamika Sains, 8(16).
Rivai, R. S., & Anugrah, I. S. (2016, August). Konsep dan implementasi pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia. In Forum Penelitian Agro Ekonomi (Vol. 29, No. 1, pp. 13-25).
Rahmaniah, I. (2012). Kesenjangan Persepsi dan Pemahaman Indikator Pembangunan Berkelanjutan Dalam Perencanaan Wilayah di Kota Sukabumi. Tesis. Sekolah Pascasarajana IPB.
Rustiadi, E., & Hadi, S. (2004). Pengembangan Agropolitan Sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Pembangunan Berimbang. In Makalah Workshop Pengembangan Agropolitan Sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Wilayah Secara Berimbang. P4W-IPB dan P3PT. Bogor.
Saleh, C., & Hanafi, I. (2015). Implementasi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan. JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 4(2)
Setiadi, R., Jawoto, S., Sophianingrum, M., & Rosalia, D. (2008). Indikator Pembangunan Berkelanjutan Kota Semarang. Riptek, 1(2), 1-15. Tuasikal, A. (2013). Fenomenologis Perencanaan Dan Penganggaran
Pemerintah Daerah. Jurnal Akuntansi Universitas Jember, 11(2). Yuris, A. (2009). Berkenalan dengan Analisis Isi (Content of Analysis).