BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Evaluasi Drug Therapy Problems (DTP)
2. DTP interaksi obat
Tabel XV. Kejadian DTP Interaksi Obat pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rini yang Menerima Obat Antidiabetes Periode Juni – Juli 2009
Pasien Interaksi Penilaian Rekomendasi
P28 Asam mefenamat, gliklazid
Gliklazid berinteraksi dengan asam mefenamat dengan tingkat signifikansi: 4 atau sedang. Asam mefenamat dapat
meningkatkan efek glibenklamid sehingga dapat
terjadi hipoglikemik.
Jika penggunaan asam mefenamat tetap dilanjutkan, maka penggunaan glibenklamid harus dihentikan, digantikan dengan acarbose dan insulin, keduanya tidak berinteraksi dengan asam mefenamat. P46 P67 K8 acarbose, gliklazid
Acarbose berinteraksi dengan gliklazid dengan tingkat signifikansi : 4 atau sedang. Acarbose dapat meningkatkan efek hipoglikemik gliklazid.
Hindari pengunaan kombinasi kedua jenis antidiabetes tersebut dan menggantinya dengan antidiabetes lain.
P59 acarbose, glikuidon
Acarbose dapat berinteraksi dengan glikuidon dengan tingkat signifikansi: 4 atau sedang. Efek hipoglikemik gliklazid meningkat jika dikombinasi dengan acarbose.
Penggantian kombinasi obat antidiabetes yang digunakan dengan antidiabetes lain.
P67 meloxicam, gliklazid
Gliklazid berinteraksi dengan meloxicam dengan tingkat signifikansi: 4 atau sedang. Meloxicam dapat meningkatkan efek hipoglikemik gliklazid.
Penggunaan meloxicam tetap dapat dilanjutkan namun gliklazid harus dihentikan dan dapat diganti dengan acarbose maupun insulin.
P71 meloxicam, glibenklamid
Glibenklamid berinteraksi dengan meloxicam dengan tingkat signifikansi: 4 atau sedang. Efek hipoglikemik meningkat jika glibenklamid diberikan bersamaan dengan meloxicam.
Penggunaan meloxicam tetap dapat dilanjutkan namun penggunaan glibenklamid harus dihentikan dan dapat diganti dengan acarbose maupun insulin.
K8 gliklazid, amitriptilin
Gliklazid berinteraksi dengan amitriptilin dengan tingkat signifikansi: 4 atau sedang. Amitriptilin dapat meningkatkan efek hipoglikemik gliklazid.
Jika penggunaan amitriptilin dilanjutkan, maka penggunaan gliklazid dihentikan dan diganti dengan jenis antidiabetes yaitu acarbose atau insulin yang tidak berinteraksi dengan amitriptilin. K41
K68
acarbose, glibenklamid
Acarbose dapat berinteraksi dengan glibenklamid dengan tingkat signifikansi: 4 atau sedang. Acarbose dapat
meningkatkan efek hipoglikemik glibenklamid.
Penggantian kombinasi obat antidiabetes yang digunakan dengan antidiabetes lain.
Tabel XVI. Contoh Analisis DTP Interaksi Obat* Pasien P59
Subyektif
Bp WGM, nomor RM 15 56 62 umur 65 tahun, pekerjaan pensiunan. Pasien selalu rutin kontrol di Instalasi rawat jalan RS Panti Rini. Pasien lemah, penglihatan kabur, pusing.
Diagnosa: DM II
Obyektif
Parameter Hasil Pemeriksaan Nilai Normal
GDS (ml/dL) 337 < 200
Tekanan darah (mmHg) 110/70 120/90
Penatalaksanaan
Pasien mendapatkan obat:
Glurenorm (glikuidon) XC S.1-1-1
Gludepatic (metformin) XC S.1-1-1
Glucobay (acarbose) XC S.1-1-1 Neurodex XXX S.1.dd.1
Penilaian
Nilai GDS pasien di atas normal, hal ini menunjukkan bahwa pasien positif DM.
Penggunaan kombinasi obat diabetes tidak tepat karena terjadi interaksi antara acarbose dengan glikuidon. Interaksi ini akan meningkatkan efek glikuidon sehingga memungkinkan terjadinya hipoglikemik.
DTP: interaksi obat
Rekomendasi
a. Obat antidiabetes golongan α-glukosidase seperti acarbose sebaiknya tidak dikombinasikan dengan obat antidiabetes golongan sulfonilurea karena dapat meningkatkan efek hipoglikemik sulfonilurea. Obat antidiabetes yang digunakan pasien ini sebaiknya diganti dengan antidiabetik lain.
b. Pengaturan diet dan aktivitas yang baik, dapat meningkatkan dampak terapi pasien. *Jenis DTP yang sama terjadi pada pasien P28, P46, P59, P67, P71, K8, K41, K68
Tabel kejadian DTP interaksi obat pada pasien rawat jalan Rumah
Sakit Panti Rini Yogyakarta yang menerima obat antidiabetes menunjukkan
kejadian DTP interaksi obat pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
Kejadian DTP interaksi obat mencapai 33,3% pada kelompok perlakuan dan
17,4% pada kelompok kontrol. Data pasien yang meliputi rekam medis dan
wawancara langsung digunakan untuk melakukan evaluasi adanya kejadian
interaksi obat. Kejadian interaksi obat ini dievaluasi berdasarkan literatur yang
Interaksi obat yang mungkin terjadi pada penggunaan obat memiliki level
yang berbeda-beda, mulai dari level ringan hingga level berat. Dampak dari
interaksi obat yang terjadi tentu saja dapat merugikan pasien. Interaksi obat dapat
menyebabkan penurunan efek obat sehingga efek terapi yang diinginkan tidak
dapat tercapai. Interaksi obat juga dapat meningkatkan efek obat sehingga obat
yang diminum dapat menimbulkan efek toksik.
Berdasarkan tabel XV, kejadian interaksi obat yang paling banyak terjadi
yaitu interaksi obat antara antidiabetes golongan sulfonilurea dengan antidiabetes
golongan Inhibitor α-glucosidase. Pemberian bersamaan antara antidiabetes golongan sulfonilurea dengan antidiabetes golongan Inhibitor α-glucosidase akan meningkatkan efek hipoglikemik dari antidiabetes golongan sulfonilurea. Efek ini
tentu merugikan pasien karena efek terapi yang diinginkan tidak tercapai namun
menyebabkan terjadinya hipoglikemia.
3. DTP ketidaktaatan (non compliance)
Evaluasi DTP ketidaktaatan (non compliance) didasarkan pada data terapi hasil wawancara dengan pasien. Persentase ketidaktaatan (non compliance) pasien kelompok perlakuan sebesar 44,5% sedangkan pasien kelompok kontrol sebesar
73,9%. Sebagian besar pasien pada kelompok perlakuan maupun kelompok
kontrol tidak taat minum obat dengan alasan lupa maupun sibuk bekerja. Perilaku
pasien yang tidak taat terhadap penggunaan obat dapat berakibat buruk bagi
dampak terapi pasien. Pengatasan terhadap permasalahan ini dapat dilakukan
dengan meningkatkan komunikasi antara apoteker dan pasien melalui pemberian
informasi yang dapat diberikan kepada pasien seperti riwayat perjalanan penyakit
serta komplikasi yang mungkin terjadi akibat ketidaktaatan. Hal ini diharapkan
mampu meningkatkan ketaatan pasien.
Tabel XVII. Kejadian DTP ketidaktaatan (non compliance) pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rini yang Menerima Obat Antidiabetes
Periode Juni–Juli 2009
Pasien Jenis Obat Penilaian Rekomendasi
P24 glikuidon Pasien lupa minum obat, pandangan sudah kabur sehingga sulit membaca keterangan obat.
Pasien sudah lanjut usia dan pandangan sudah kabur sehingga perlu adanya pendampingan minum obat. P52 metformin,
glimepirid
Pasien sibuk sehingga lupa minum obat.
P67 acarbose, metformin, gliklazid
Pasien lupa minum obat.
P71 metformin, glibenklamid
Pasien lupa minum obat.
Pemberian informasi kepada pasien mengenai komplikasi penyakit yang mungkin terjadi sehingga timbul kesadaran pasien untuk taat minum obat.
K37 metformin, gliklazid,
Pasien sibuk sehingga lupa minum obat.
K41 acarbose, metformin, glibenklamid
Pasien sibuk, malas membawa obat ketempat kerja sehingga tidak taat minum obat.
Pemberian informasi kepada pasien mengenai komplikasi penyakit yang mungkin terjadi sehingga timbul kesadaran pasien untuk taat minum obat. K42 acarbose,
metformin, gliklazid
Pasien tidak minum obat dengan teratur jika tidak merasakan keluhan.
Informasi kepada pasien tidak cukup hanya mengenai obat, informasi mengenai penyakit pun perlu diberikan seperti komplikasi penyakit sehingga dapat meningkatkan kesadaran pasien untuk taat minum obat. K63 metformin,
glibenklamid
Pasien lupa minum obat. Pemberian informasi kepada pasien mengenai komplikasi penyakit yang mungkin terjadi sehingga timbul kesadaran pasien untuk taat minum obat. K66 gliklazid Jika sudah mengantuk, pasien
sering malas minum obat.
Pemberian informasi kepada pasien mengenai komplikasi penyakit yang mungkin terjadi sehingga timbul kesadaran pasien untuk taat minum obat.
Lanjutan Tabel XVII
Tabel XVIII. Contoh Analisis DTP Ketidaktaatan pada Pasien*
Pasien Jenis Obat Penilaian Rekomendasi
K68 acarbose, metformin, glibenklamid
Pasien minum obat tidak sesuai aturan pakai namun minum obat jika makan saja, jika tidak makan pasien tidak minum obat karena takut hipoglikemik.
Edukasi kepada pasien untuk makan yang teratur karena pasien diabetes melitus memerlukan asupan gizi yang cukup sehingga tidak ada alasan untuk tidak taat minum obat.
K73 metformin, gliklazid
Pasien sering lupa minum obat. K81 glimepirid Pasien sibuk sehingga lupa
minum obat. K83 metformin,
gliklazid
Pasien sibuk sehingga lupa minum obat.
Pemberian informasi kepada pasien mengenai komplikasi penyakit yang mungkin terjadi sehingga timbul kesadaran pasien untuk taat minum obat.
Pasien K37
Subyektif
Ny VS, nomor RM 165373 umur 52 tahun, pekerjaan pegawai negri sipil. Pasien kontrol di Instalasi rawat jalan RS Panti Rini pada tanggal 12 juni 2009. Pasien selalu sibuk bekerja, terkadang lupa minum obat. Saat dilakukan kunjungan 1 bulan kemudian, obat pasien yang seharusnya sudah habis ternyata masih sisa . Keluhan pasien yaitu terkadang lemah, pusing. Diagnosa: DM II
Obyektif
Parameter Hasil
Pemeriksaan Nilai Normal
GDS (ml/dL) 180 < 200
Tekanan darah (mmHg) 180/100 120/90
Penatalaksanaan
Pasien mendapatkan obat:
Glucodex LX S.1-0-1 Gludepatic LX S.1-0-1 Adalat oros XXX S.1-0-0 Valsartan XXX S. 0-0-1 Neurodex XXX S.1.dd.1 Penilaian
Penggunaan obat antidiabetes yang diberikan sudah tepat indikasi, tepat dosis dan tepat aturan pakai.
Pasien selalu sibuk bekerja sehingga lupa minum obat. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasien terhadap penyakit yang diderita menyebabkan ketaatan pasien rendah.
DTP: ketidaktaatan (non compliance)
Rekomendasi
a. Memberikan tambahan edukasi kepada pasien mengenai penyakit yang diderita seperti komplikasi yang mungkin terjadi akibat ketidaktaatan minum obat. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan ketaatan pasien.
b. Pengaturan jadwal minum obat yang baik dapat membantu pasien lebih taat minum obat. *Jenis DTP yang sama terjadi pada pasien P24, P52, P67, P71, K37, K41, K42, K63, K66 K68, K73, K81, K83
Jenis DTP yang ditemukan pada pasien kelompok perlakuan yaitu: dosis
terlalu rendah sebesar 22,2%; interaksi obat sebesar 33,3%; dan ketidaktaatan
(non compliance) sebesar 44,5%. Pada kelompok kontrol, jenis DTP yang ditemukan yaitu: dosis terlalu rendah sebesar 8,7%; interaksi obat sebesar 17,4%;
dan ketidaktaatan (non compliance) sebesar 73,9%.
Tabel XIX. Pengelompokan Kejadian DTP pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta yang Menerima Obat Antidiabetes Periode
Juni – Juli 2009 Perlakuan Kontrol Jenis DTP Jumlah kejadian Persentase (%) Jumlah kejadian Persentase (%)
Dosis terlalu rendah 4 22,2 2 8,7
Interaksi Obat 6 33,3 4 17,4
Ketidaktaatan
(non compliance) 8 44,5 17 73,9
D. Evaluasi Perbedaan Ketaatan Pasien yang Menggunakan Obat Antidiabetes antara Pasien yang Diberi Informasi versus Informasi plus
Alat Bantu Ketaatan
Evaluasi perbedaan ketaatan pasien antara pasien yang diberi informasi
versus informasi plus alat bantu didasarkan pada jumlah obat antidiabetes yang
digunakan dan cara pakainya. Hasil evaluasi perbedaan ketaatan pasien anatara
kelompok perlakuan dan kontrol digunakan untuk mengevaluasi pengaruh alat
bantu terhadap ketaatan pasien.