• Tidak ada hasil yang ditemukan

Umum dan

B. Hasil Penelitian

3 Dukungan masyarakat

atau dukungan publik

Dukungan masyarakat dalam pelaksanaan PAUD non formal tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan masih sedikit masyarakat yang mengikutsertakan anaknya ke lembaga-lembaga PAUD non formal karena faktor kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya PAUD non formal, faktor ekonomi dan kesadaran orang tua yang masih rendah untuk memasukkan anaknya ke PAUD non formal.

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Implementasi Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal di Kabupaten Purworejo dilakukan melalui 3 tahap, yaitu sosialisasi, pelaksanaan dan pengawasan:

a. Sosialisasi. Sosialisasi dalam pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal di Kabupaten Purworejo dilakukan melalui beberapa tingkatan yaitu dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga kelurahan/desa. Di tingkat kabupaten dilakukan oleh dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Purworejo, di tingkat kecamatan dilakukan oleh penilik dan di tingkat kelurahan/desa dilakukan oleh lurah/kepala desa dan tim penggerak PKK. Sosialisasi sudah dilaksanakan tetapi masih belum maksimal karena belum dilakukan rutin dan masih ada masyarakat yang belum memahami tentang pentingnya pendidikan anak usia dini non formal. Media sosialisasi untuk pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal dilakukan melalui penyuluhan-penyuluhan dan berbagai media cetak berupa buku-buku pedoman tentang PAUD non formal.

commit to user

99

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan program pendidikan anak usia dini (PAUD) non formal di kabupaten Purworejo dilakukan melalui tiga tahap yaitu: a. Pembentukan lembaga-lembaga PAUD non formal. Persyaratan

utama untuk membentuk PAUD non formal antara lain: memiliki pengurus lembaga, pengajar minimal SMA, mempunyai tempat untuk kegiatan, memiliki sarana dan buku-buku yang menunjang pelaksanaan program dan memiliki anak didik minimal 20 anak. TPA dan KB diselenggarakan masyarakat atau yayasan yang berminat untuk membentuk lembaga tersebut. Sedangkan untuk SPS atau Pos PAUD dibentuk atas kesepakatan masyarakat yang diintegrasikan dengan Posyandu.

b. Pelatihan bagi pendidik PAUD non formal. Pelatihan bagi pendidik PAUD non formal dilaksanakan dari tingkat provinsi, kabupaten maupun SKB (Sanggar Kegiatan Belajar). Pelatihan yang diadakan, tidak sepenuhnya menjangkau pendidik, karena masih ada pendidik yang sama sekali belum mengikuti pelatihan. Hal ini dikarenakan jumlah dana yang digunakan untuk pelatihan terbatas.

c. Pemberian dana dari pemerintah. Aliran dana untuk pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal di Kabupaten Purworejo, berasal dari dana APBN, APBD I (Provinsi) dan APBD II (Daerah). Macam dana-dana tersebut antara lain dana rintisan, dana bantuan operasional PAUD (BOP), dana bahan ajar, dana APE (dalam dan luar) serta dana intensif. Tidak semua lembaga PAUD non formal mendapatkan semua dana-dana

program PAUD non formal.

c. Pengawasan. Pengawasan dilaksanakan oleh dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo. Proses pengawasan dilakukan oleh dinas dan oleh lembaga PAUD non formal. Pengawasan dari dinas yaitu dengan cara monitoring ke lembaga-lembaga yang ada. Sedangkan dari lembaga terkait yaitu dengan membuat laporan tentang perkembangan pelaksanaan program yang diserahkan setiap 1 bulan sekali ke dinas.

2. Faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal di Kabupaten Purworejo, yaitu komunikasi, sumber daya dan dukungan masyarakat/dukungan publik:

1. Komunikasi. Frekuensi komunikasi dalam sosialisasi program PAUD non formal masih kurang, untuk itu masih ada masyarakat yang belum mengerti tentang arti pentingnya pendidikan anak usia dini non formal. Media yang digunakan di tingkat kelurahan/desa untuk sosialisasi hanya menggunakan pertemuan-pertemuan kelurahan/desa. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan jika ada masyarakat yang tidak hadir, sehingga tidak mengetahui sosialisasi tentang pentingnya PAUD non formal.

2. Sumber daya. Faktor yang menghambat dari sumber daya meliputi sumber daya manusia, dana dan sarana prasarana. Dari segi kualitas sumber daya manusia, hanya terdapat satu penilik di tiap-tiap

commit to user

101

kecamatan. Untuk itu kerja penilik dianggap kurang maksimal. Hal ini karena satu orang harus mengurusi semua desa-desa yang terdapat di tiap-tiap kecamatan, padahal di tiap kecamatan terdiri dari berpuluh-puluh kelurahan/desa. Oleh karena itu, informasi yang di dapat oleh masyarakat tidak maksimal. Terbatasnya sumber dana menyebabkan banyak lembaga PAUD non formal yang belum memperoleh bantuan dana. Lembaga-lembaga PAUD non formal tidak mendapatkan semua dana-dana dari pemerintah, tetapi hanya memperoleh salah satu macam dari dana-dana itu. Untuk itu banyak lembaga TPA, KB maupun SPS yang kekurangan dana. Sarana prasarana seperti gedung dan APE belum sepenuhnya mencukupi. Karena banyak lembaga PAUD non formal yang belum memiliki gedung tetap. Hal ini menyebabkan proses kegiatan belajar mengajar menjadi terganggu karena setiap hari harus memindah barang-barang tempat sewaannya. APE juga belum mencukupi karena masih ada lembaga yang bergantian dengan TK. Untuk itu kegiatan bermain dan belajarnya menjadi terganggu.

3. Dukungan masyarakat/dukungan publik

Dukungan masyarakat untuk pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal di kabupaten Purworejo tergolong masih rendah. Hal ini karena masih terdapat masyarakat yang tidak mengikutsertakan anaknya ke PAUD non formal karena faktor ketidakpahaman orangtua terhadap pentingnya PAUD non formal,

B. SARAN

Untuk peningkatan pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal di kabupeten Purworejo, maka peneliti memberikan beberapa saran atau rekomendasi untuk dijadikan bahan masukan. Saran atau rekomendasi peneliti antara lain:

1. Untuk meningkatkan frekuensi sosialisasi program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal perlu ada peningkatan sosialisasi di daerah pelosok agar dapat menjangkau seluruh masyarakat sasaran. Untuk pelaksanaan sosialisasi yang hanya dilakukan setiap satu bulan sekali dan terkadang tidak menentu maka perlu adanya rencana program sosialisasi agar pelaksanaan sosialisasi berjalan rutin sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Perlu adanya penambahan jumlah penilik. Hal ini karena jika penilik lebih dari satu orang, maka mereka dapat membagi tugas agar kewajibannya dapat dilaksanakan lebih baik, tetapi jika tidak memungkinkan untuk menambah jumlah penilik maka perlu mengoptimalkan sistem kerjanya agar semua masyarakat dapat lebih memahami pentingnya PAUD non formal.

3. Karena sarana prasarana tidak mencukupi maka diperlukan kerjasama yang baik dengan pihak swasta untuk penyediaan sarana seperti (Alat Permainan Edukatif) APE dalam maupun (Alat Permainan Edukatif) APE luar.

Dokumen terkait