HASIL PENELITIAN
B. Dukungan Suami terhadap Akseptor IUD dan Suntik
Perempuan sering tak punya kekuatan memutuskan metode kontrasepsi yang mereka inginkan, masih ada ketergantungan pada keputusan suami.
Kontrol suami terhadap ibu dalam memutuskan untuk ber-KB sangat dominan. Pentingnya suami terlibat dalam KB dan kesehatan reproduksi didasarkan bahwa suami adalah mitra reproduksi dan seksual, sehingga sangat beralasan apabila pria dan wanita berbagi tanggung jawab dan peran secara seimbang untuk mencapai kepuasan kehidupan seksual dan berbagi beban untuk mencegah penyakit serta komplikasi kesehatan reproduksi (Fatmawati, 2010; Israr dkk, 2008).
Dukungan berhubungan dengan berkurangnya kecemasan, gangguan umum, somatisasi dan depresi. Dukungan dirasakan artinya apabila diperoleh dari orang-orang yang dekat, akrab dan dipercayainya terutama suami yang juga termasuk mitra seksualnya, sehingga ibu mengerti bahwa suami
commit to user
memperhatikan, menghargai dan mencintai dirinya. Suami yang bersifat mendukung akan selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Hal ini dapat mengurangi rasa cemas yang dirasakan ibu dalam mengatasi permasalahannya, dan dapat memberikan kenyamanan fisik maupun psikologis yang akan mempengaruhi ibu dalam ber-KB (Creasoft, 2008; Irianti dan Herlina, 2010).
Suami secara tidak langsung dapat berperan aktif dalam KB, suami hanya memberikan dukungan secara motivasi, informasi, kedekatan sosial, harga diri dan instrumental serta bantuan praktis lainnya kepada ibu. Dukungan suami merupakan bentuk nyata dari kepedulian dan tanggung jawab suami dalam pelaksanaan KB. Dukungan yang diberikan oleh suami akan memantapkan pemakaian kontrasepsi ibu. Ibu akan merasa tenang menjadi peserta KB apabila suaminya memberikan dukungan penuh. Ibu merasa selalu ada pelindung yang setiap saat dapat diajak bicara, tempat berbagi rasa termasuk keluhan yang dialaminya (Irianti dan Herlina, 2010; Warmi, 2009).
Hasil penelitian yang dilakukan Sukaisih (2005) yang menunjukkan dukungan suami mempunyai pengaruh terhadap pemakaian KB terutama IUD dengan (p= 0,044) dan juga diperkuat dengan penelitian dari Wurjayanto (2007) bahwa dukungan suami mempunyai hubungan yang bermakna dengan pergantian dini metode KB (p= 0,001).
Berdasarkan hasil penelitian ini tentang dukungan suami terhadap akseptor IUD dan suntik di desa Sine kecamatan Sragen terhadap 126 responden yang terdiri dari 63 akseptor IUD dan 63 akseptor suntik yang
commit to user
memenuhi kriteria restriksi, diperoleh hasil bahwa dukungan suami baik pada suntik lebih banyak dibandingkan IUD sedangkan pada dukungan suami sedang lebih banyak IUD dibandingkan suntik. Pada akseptor suntik dari pihak suami menilai bahwa suntik lebih praktis, tidak berhubungan dengan senggama, sudah banyak dipakai orang (afdol), dan murah. Sedangkan pada akseptor IUD para suami menilai bahwa benang IUD mengganggu saat bersenggama, sedikit yang memakai (tidak afdol) dan mahal, sehingga dapat dikatakan bahwa dukungan suami pada akseptor suntik lebih baik dibandingkan IUD (Imbarwati, 2009).
Dalam penelitian ini pada akseptor suntik dan IUD yang mendapatkan dukungan suami baik atau sedang, ibu masih menggunakan kontrasepsi suntik atau IUD dikarenakan dalam pemakaian tidak hanya dipengaruhi oleh dukungan suami saja tetapi ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi yaitu dari faktor individu (ibu) dan faktor sosial. Dari faktor individu seperti nyaman karena tidak mengganggu pola haid, tidak merepotkan karena tidak harus balik untuk pakai, tidak menimbulkan efek samping pada kontrasepsi yang dipakai. Faktor sosial seperti pengaruh orang lain misalnya suntik lebih banyak dipakai karena alasan praktis dibandingkan IUD, penyuluhan dari tenaga kesehatan yang lebih banyak diberikan pada kontrasepsi tertentu misal suntik. Jadi walaupun tidak didukung suami ibu tetap memakai kontrasepsi karena disini ibu yang merasakan dan ibu berhak memutuskan (Ilyas, 2009).
Hasil penelitian ini diperjelas dengan penelitian deskriptif yang dilakukan Isti (2007) yang menunjukkan faktor yang mempengaruhi
commit to user
dukungan suami terhadap pemakaian KB terutama IUD adalah pendidikan suami (PT) sebesar 35,8%.
Dukungan suami pada akseptor IUD dan suntik ini tidak terlepas dari pengaruh pendidikan/ pengetahuan dari istri maupun suami, faktor sosial dan ekonomi, kepraktisan, pengaruhnya dengan hubungan seksual serta faktor budaya maupun pandangan dari masyarakat. Dari pernyataan dapat ditarik kesimpulan suntik lebih banyak mendapatkan respon positif dari suami maupun dari pihak istri sedangkan untuk IUD mendapatkan respon negatif.
Dukungan suami sangat diperlukan dan penting saat istri ber-KB disamping untuk memberikan kenyamanan fisik dan psikologis, dengan adanya interaksi dengan orang lain terutama orang terdekat istri yaitu suami dapat mengubah persepsi istri pada kejadian tersebut sehingga mengurangi potensi timbulnya stress (Creasoft, 2008; Proverawati dkk, 2010).
Kesulitan peneliti selama penelitian antara lain kesusahan bertemu responden karena kebanyakan responden bekerja mulai dari pagi hingga siang hari setelah itu ada beberapa ibu yang sibuk mengurus anaknya, sibuk mengurusi urusan rumah seperti bersih-bersih dan memasak, sehingga penelitian membutuhkan waktu yang lama untuk bertemu secara langsung dengan responden dan untuk mengatasi hal tersebut penelitian dilakukan pada sore sampai petang hari atau pada saat hari libur untuk memudahkan peneliti bertemu dengan responden secara langsung.
commit to user BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, yang bertujuan untuk mengetahui dukungan suami terhadap akseptor IUD dan suntik yang dilakukan di desa Sine kecamatan Sragen pada bulan Mei – Juni tahun 2011, dapat diambil kesimpulan bahwa pada responden yang mendapat dukungan suami baik akseptor suntik 46% (58 responden) lebih banyak dibandingkan akseptor IUD 38,9% (49 responden). Sedangkan yang mendapat dukungan suami sedang akseptor IUD 11,1% (14 responden) lebih banyak dibandingkan akseptor suntik 4% (5 responden).
A. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, saran yang dapat disampaikan pada penelitian ini adalah:
1. Bagi Desa Sine Kecamatan Sragen
Setelah dilakukan penelitian ini maka saran lebih pada pihak desa khususnya bidan desa agar pro aktif dalam memberikan informasi atau penyuluhan pada pasangan baik istri maupun suami, tentang materi pengaruh dukungan suami terhadap akseptor KB terutama akseptor IUD dan suntik. Bagi akseptor IUD lebih ditekankan karena masih ada persepsi yang salah tentang IUD.
commit to user 2. Bagi Keluarga dan Masyarakat
Keluarga khususnya suami dan istri serta masyarakat diharapkan meningkatkan pengetahuan dengan mencari informasi atau mengikuti penyuluhan disekitarnya terutama di tenaga kesehatan tentang pengaruh dukungan suami dan alat kontrasepsi terutama IUD dan suntik. Dan diharapkan dalam pengambilan keputusan dalam ber KB atas keputusan bersama (istri dan suami).
3. Bagi Suami
Suami agar dapat mempertahankan dan lebih meningkatkan dukungan kepada istrinya pada akseptor IUD dan suntik. Terutama dukungan suami pada akseptor IUD karena masih ada pandangan negatif dari masyarakat tentang IUD.
4. Bagi Peneliti
Diharapkan untuk penelitian selanjutnya agar bisa dijadikan masukan dalam penelitian ini. Dimana dimungkinkan ada perbedaan maupun persamaan. Diupayakan untuk menambah variabel penelitian, misalnya perbedaan dukungan suami terhadap akseptor lain (seperti implant, pil, tubektomi, dll), bisa ditambah variabel yang berhubungan dengan akseptor KB tidak hanya dukungan suami tetapi bisa pengetahuan istri atau suami, agama, sikap suami atau istri, sosial budaya, ekonomi sehingga bisa mengungkap dan memperjelas faktor-faktor yang berpengaruh dalam masalah pemakaian kontrasepsi.