• Tidak ada hasil yang ditemukan

39 dukungan terhadap rencana pemberlakuan

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 49-51)

kurikulum 2013 dilandasi pemikiran bahwa memang perubahan kurikulum sudah selayaknya dilakukan untuk merespon transformasi zaman dan kebutuhan abad 21, (Anita Lie, 2013). Dengan harapan diterapkannya kurikulum 2013, sekolah dapat menyiapkan peserta didik menjadi berkarakter, berpengetahuan, dan berketrampilan.

Kurikulum 2013 disusun oleh tim pengembang kurikulum 2013 (Hamid Hasan, 2013). Tim tersebut adalah tim narasumber, tim pengarah dan pelatihan guru, tim inti, tim teknik, dan tim pengembang perbukuan. Tim tersebut berisikan tim Wapres (tokoh masyarakat), akademisi, birokrat Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Badan Standar Nasional Pendidikan, dan Pusat Kurikulum Perbukuan. Peran guru dan dosen sebagai PusKurBuk, yang secara tidak langsung perannya masih kurang dalam penyusunan kurikulum 2013.

Dalam pelaksanaannya, kurikulum melibatkan guru sebagai pelaksana kurikulum di sekolah. Peran guru dalam pelaksanaan kurikulum menurut Murray Printr antara lain, sebagai implementer, adapter, pengembang kurikulum dan peneliti kurikulum (Anonim, 2013). Namun sampai saat ini, peran guru hanya sampai pada implementer atau yang mengaplikasikan kurikulum saja. Sehingga peran guru dalam perencanaan kurikulum belum terlibat, dan identifikasi kompetensi kurikulum oleh guru belum terlihat.

Pemerintah telah mensosialisasikan kurikulum 2013, namun beberapa kalangan belum memahami, dan menganggap sosialisasi yang diberikan pemerintah belum cukup. Kesiapan pelaksanaan kurikulum pun belum diketahui banyak oleh guru sebagai pendidik. Guru masih belum jelas dengan isi kurikulum 2013 karena minimnya informasi yang diperoleh. Sekolah di Malang yang berjumlah 270 SD dan 250 SMP/SMA/SMK yang menerapkan kurikulum 2013, guru belum mendapatkan pelatihan (Anonim, 2013). Diskusi terbuka majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung memberikan rekomendasi bahwa pemerintah diminta menunda pelaksanaan kurikulum 2013 karena belum disosialisasikan secara luas dan terdapat berbagai kesalahan substantif yang harus diperbaiki (Anonim, 2013).

Kesiapan implementasi kurikulum 2013 Teknik Sepeda Motor (TSM) dinyatakan belum siap, karena mengalami berbagai kendala dalam

pelaksanaannya. Implementasi kurikulum 2013, belum jelas kompetensi kurikulum Teknik Sepeda Motor (TSM) saat ini, ditambah lagi dengan belum teridentifikasinya kompetensi kurikulum 2013 sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum 2013 memang sudah dicanangkan oleh pemerintah untuk segera dilaksanakan, namun kondisinya masih memiliki kekurangan di berbagai aspek. Sehingga masih memerlukan evaluasi untuk menunjang implementasi yang baik dan sesuai yang diharapkan.

Kurikulum 2013 Teknik Sepeda Motor (TSM) belum siap untuk dilaksanakan, dengan memiliki kendala di berbagai aspek antara lain, dokumen yang belum jelas, sosialisasi belum jelas dan kompetensi kurikulum yang diberikan belum pasti, karena daftar kompetensi yang diberikan kepada sekolah belum disahkan. Kompetensi kurikulum 2013 Teknik Sepeda Motor (TSM) sudah ada namun belum jelas, dibuktikan dengan kompetensi kurikulum yang diberikan oleh pemerintah substansinya sama, hanya berubah metode pembelajarannya. Kompetensi kurikulum 2013 belum teridentifikasi sesuai dengan kebutuhan, sehingga dalam pelaksanaannya masih menggunakan kurikulum sebelumnya (KTSP). Secara jelas, implementasi kurikulum 2013 masih memiliki kendala sehingga dalam pelaksanaannya masih perlu evaluasi dan revisi untuk mendapatkan kesatuan implementasi kurikulum yang baik.

Beberapa SMK Jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) masih menerapkan kurikululum sebelumnya (KTSP) dengan alasan ketidak jelasan isi kurikulum 2013. Ditambah dengan guru-guru Teknik Sepeda Motor (TSM) yang belum mendapat sosialisasi pelaksanaan kurikulum 2013. Sehingga dikatakan kurikulum 2013 SMK Teknik Sepeda Motor (TSM) belum nampak kejelasannya.

Uraian diatas, menggambarkan kondisi pelaksanaan kurikulum 2013 yang belum siap dilaksanakan. Berbagai alasan, antara lain kesiapan guru sebagai pendidik yang kurang mendapatkan kejelasan informasi, isi kurikulum yang belum dipahami oleh guru, sosialisasi yang kurang di berbagai daerah, serta terdapat kesalahan substantif dalam kurikulum. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pro kontra pelaksanaan kurikulum 2013, dengan berbagai pandangan dan persepsi. Sehingga kejelasan kurikulum 2013 masih dipertanyakan. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian yang mengindentifikasi kompetensi SMK Jurusan

40

Teknik Sepeda Motor guna memberikan kejelasan berkaitan kompetensi dan isi kurikulum 2013 Teknik Sepeda Motor yang sesuai dengan kebutuhan lulusan peserta didik.

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi dan berbasis karakter (competency and character based curriculum). Kurikulum 2013 berbasis kompetensi adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2013: 68). Kurikulum berbasis karakter dapat diintegrasikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat pada kurikulum. Kurikulum 2013 diterapkan dengan memiliki tujuan peserta didik dapat secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai- nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam kehidupan yang sebenarnya.

Kurikulum 2013 berbasis kompetensi memfokuskan pencapaian kompetensi oleh peserta didik. Kurikulum 2013 mencakup sejumlah kompetensi, dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau ketrampilan peserta didik sebagi krtiteria keberhasilan (Mulyasa, 2013: 68). Dalam pelaksanaannya, peserta didik diarahkan pada pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan kompetensi.

Menurut Mulyasa (2013: 68-69), landasan teoritis yang mendasari kurikulum 2013 berbasis kompetensi adalah (1) adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual dan (2) pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar sebagai penguasaan (learning for mastery). Hal tersebut di atas memiliki penjelasan bahwa dengan kurikulum 2013 peserta didik dapat belajar sesuai dengan cara dan kemampuan masing- masing individu. Selain itu kurikulum 2013 juga memberikan arah pada pembelajaran tuntas, yaitu peserta didik dapat menguasai bahan pembelajaran yang diberikan. Kurikulum 2013 sebagai sarana yang optimal mencapai tujuan pembelajaran, dengan penguasaan kompetensi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Kompetensi Siswa SMK

Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, “kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dann perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai dalam melaksanakan tugas profesionalnya”. Penjelasan lain mengenai kompetensi diungkapkan oleh Mulyasa (2002: 37-38), “kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Kompetensi merupakan indikator yang menunjuk pada perilaku yang dapat diamati dan sebagai konsep yang berisi pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai yang terkandung dalam pembelajaran.

Hal tersebut senada diungkapkan oleh Burke (dalam Mulyasa, 2013: 66), yang menyatakan kompetensi ... is knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the exent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, afective, and psychomotor behaviors. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan, kemampuan yang dikuasai oleh seseorang sehingga dapat melahirkan dirinya yang memiliki perilaku- perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kompetensi merupakan penguasaan terhadap suatu tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan (Finch dan Crunkilton dalam Mulyasa, 2002: 38). Kompetensi mencakup tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas- tugas pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pendapat lain menurut Oemar Hamalik (2007: 133) menyatakan, kompetensi juga dicirikan dengan kinerja. Selain kompetensi berkaitan dengan unsur penguasaan pengetahuan, sikap, nilai dan ketrampilan, kompetensi juga mengandung unsur kinerja. Kinerja yang dimaksud adalah kemampuan peserta didik setelah menguasai pengetahuan, sikap, nilai dan ketrampilan diwujudkan dengan kinerja peserta didik. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat yang menyatakan: “kemampuan peserta didik melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur” (Oemar Hamalik, 2007μ 135). Peserta didik dianggap menguasai kompetensi dengan ditunjukkan kinerja yang tinggi terhadap suatu pekerjaan.

41

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 49-51)

Garis besar

Dokumen terkait