• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dunia dan IMF

Dalam dokumen Apa yang Tersisa dari INDONESIA (Halaman 119-125)

S

ECARA de jure Indonesia sudah merdeka,

namun secara de facto ada indikasi bangsa ini

belum memperoleh kemerdekaan seutuhnya. Salah satunya, Indonesia belum merdeka dari jebakan utang Bank Dunia dan IMF. Jebakan hutang

ini membuat negara Indonesia sebagai negara

berkembang terus-menerus dihimpit berbagai krisis: krisis mulidimensi.

Awal Mula

Bank Dunia dan IMF mulanya berdiri atas

rekomendasi dari Konferensi Perserikatan Bangsa-

Bangsa (PBB) di Breton Woods Amerika Serikat pada bulan Juli tahun 1944. Dengan demikian pada tahun ini, genaplah berusia ke-64. Pendirian Bank Dunia dan IMF sebagai bagian dari keinginan untuk menata dan membangun kembali perekonomian dunia paska krisis terutama setelah dihentak perang

dunia ke-2. Jika IMF diharapkan dapat menstabilkan perekonomian dunia serta memberikan kredit jangka pendek, maka Bank Dunia lebih memfokuskan pada pemberian kredit murah berjangka panjang dan bertanggung jawab atas penyesuaian struktural.

Tuntutan negara berkembang tentang urgensitas reformasi sistem pengambilan putusan Bank Dunia dan IMF – sebagai dua lembaga perumus kebijakan pembangunan global – sudah lama mengemuka. Tuntutan lain yang juga mengemuka adalah pengurangan bahkan penghapusan hutang luar negeri negara-negara berkembang. Sebagaimana banyak analis ekonomi menilai, krisis hutang luar negeri yang dialami negera-negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah akibat langsung dari kebijakan dua lembaga dunia tersebut.

Jebakan Hutang

Untuk mendukung asumsi di atas, misalnya, seiap tahun negara-negara miskin di Afrika mesi mengangsur cicilan hutangnya pada Bank Dunia, IMF, dan negara-negara industri kurang lebih 15 miliar dollar Amerika Serikat. Bahkan menjadi jumlah yang sangat besar jika ingin membandingkannya dengan jumlah hutang atau bantuan pembangunan yang kali pertama mereka terima. Demikian pula negara- negara berkembang yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya, ditawari Bank Dunia bantuan berupa bantuan pembangunan infrastruktur seperi

jaringan kereta api, pelabuhan dan bendungan. Saat ini jumlah kredit yang mengucur dari Bank Dunia pertahun kurang lebih berjumlah 25 miliar dollar AS. Asumsi yang dibangun Bank Dunia dan IMF sejak tahun 1970, bahwa dana tersebut akan dipergunakan sebagai modal dalam memerangi kemiskinan. Kredit murah diberikan untuk memuluskan program-program peninkatan taraf hidup, pendidikan, dan kesehatan. Rencananya begitu.

Namun seiring dengan perjalanannya, akiitas Bank Dunia dan IMF menjadi tumpang indih. Apalagi sejak dihentak oleh krisis hutang pada tahun 1982, kedua lembaga ini terlibat akif dalam “manajemen hutang” yang telah mereka kucurkan. Sebagai contoh, IMF yang berperan seolah sebagai dokter, menyunikkan dana segar pada negara yang hampir bangkrut. Satu sisi ini berhasil memulihkan keadaan ekonomi negara tersebut yang juga berimbas pada pulihnya perekonomian global. Namun pada sisi lain, akibat pinjaman jangka pendek dengan suku bunga inggi, banyak negara yang disunik dana segar oleh IMF terjebak oleh hutang yang sangat besar. Pada saat yang sama, lewat penyesuaian struktural, negara-negara ini juga dipaksa menghapus subsidi. Jelas ini idak menguntungkan bagi masyarakat dengan ekonomi lemah di negara tersebut.

Pelajaran bisa dipeik dari Malawi tahun 2004. Negara yang terletak di imur Afrika ini

dikatakan sebagai 10 dari negara termiskin di dunia. Sebagai negara miskin, Malawi harus mengangsur cicilan hutang luar negerinya idak kurang dari 88 juta dollar AS. Jumlah ini jauh lebih besar dari alokasi dana untuk kesehatan yang diterima yaitu sebesar 58 Juta dollar AS.

Akibatnya, satu dari lima anak Malawi dikabarkan meninggal dunia sebelum usianya mencapai empat tahun. Belum lagi, gagal panen karena banjir yang merendam mereka mengakibatkan melejitnya harga kebutuhan pokok sebesar 300%. Terjadilah bencana kelaparan di Melawi. Sementara Bank Dunia dan IMF bergeming, Melawi wajib melunasi cicilan hutang-hutangnya tepat pada waktunya (Baca Erklaerung von Bern, Juli 2004).

Berbagai kriik terhadap Bank Dunia dan IMF mengemuka di mana-mana. Pada 1999, akhirnya Bank Dunia dan IMF bersedia memberikan potongan hutang kepada 41 negara miskin pengutang berat setelah melalui program penyesuaian selama iga tahun. Sampai hari ini pun, kriik atas Bank Dunia dan IMF yang idak netral kepeningan terus mengemuka, meski keduanya telah banyak melakukan reformasi kelembagaan.

Tapi masalahnya idak sesederhana itu.

Kedua lembaga dunia ini baru bisa dikatakan netral

kepeningan manakala keduanya bersedia melakukan amandemen statutanya dan sepakat menjalankan putusan secara demokrais. Masalahnya, dua lebaga

dunia ini dimodali oleh 183 negara anggota yang mempunyai kepeningan berbeda-beda. Akibatnya, pengambilan suara seringkali idak demokrais: menguntungkan negara industri (misalnya AS) dan

merugikan negara-negara miskin atau negara-negara

berkembang.

Bagaimana dengan Indonesia?

Hingga kini Indonesia masih menjadi good boy, mengikui resep IMF yang ternyata idak juga manjur. Dampaknya fatal, sebagaimana data-data krisis yang dialami Indonesia. Indonesia mengalami krisis sejak tahun 2002. Akibat krisis, pada bidang pendidikan, staisik menunjukkan penurunan murid sekolah sebesar 25%. Sementara angka kemiskinan berdasarkan staisik meningkat tajam dari 11% mencapai 40-60%.

Atas anjuran IMF, Pemerintah Indonesia harus memberikan sunikan dana segar untuk menyelamatkan bank-bank bermasalah. Namun masalah juga idak terselesaikan. Hutang luar negeri Pemerintah Indonesia terus membengkak. Sejak 2001 hingga 2006, meskipun jumlah pokok hutang yang dibayar semakin menngkat, namun nominal stok hutang justru membengkak dari 69,5 miliar dollar AS (tahun 2001) menjadi 80 miliar dollar Amerika Serikat. Tahun ini kondisi ekonomi negara kita juga idak jauh lebih baik.

terutama penerapan liberalisasi pasar modal yang terlalu cepat, senyatanya telah mempertajam destabilisasi ekonomi dunia, dan semakin banyak pihak yang menuntut dua lembaga dunia ini agar

kembali ke-khitah-nya, yakni menyelamatkan

perekonomian dunia. Bukan sebalinya, terkesan sedang menjajah negera-negara miskin dan berkembang.***

(5)

Belum Merdeka dari

Dalam dokumen Apa yang Tersisa dari INDONESIA (Halaman 119-125)

Dokumen terkait