BAB IV DUSUN ANGGREK BARU SEBAGAI HASIL DAN PENGARUH
4.1 Dusun Yang Berpindah
Pagi di Dusun Anggrek Baru mengungkap keindahan alam sawah yang mulai menguning, matahari dari timur tanpa malu bersinar mengurai embun pagi yang terlihat putih. Tanpa mandi dan hanya bermodal cuci muka, di beranda dapur rumah duduk bersila mendengar cerita pagi setelah sebelumnya sibuk dengan memberikan makan unggas. Segelas teh dan hisapan rokok menemani cerita dari Pak Tukiran,
“Dulu Kampung kita bukan di sini, di bandara itulah, itulah pondok kita, bapak lahir ya di situ dan orang-orang tua kita dulu ditempatkan disitu sama Belanda”.
Kata-kata yang keluar menyiratkan sebuah pesan rindu terhadap dusun yang lama, masih terekam dalam benak pikiran. Masyarakat buruh perkebunan yang memiliki pandangan terhadap wilayah pondok yang sekarang telah menjadi kampung. Tahun 1997, masyarakat penunggu (istilah yang digunakan oleh masyarakat buruh perkebunan Ramunia) mendapat ganti rugi atas tanah yang dihuninya. Masyarakat penunggu ini merupakan warga dusun Anggrek baru yang sekarang. Sekitar 125 kepala keluarga pindah bersama-sama ke sebuah tempat di mana mereka mendapatkan hak atas lahan.
Pindahnya masyarakat ke tanah perjuangan (istilah yang disebutkan masyarakat) selain atas ganti rugi bandara juga karena salah satu bentuk
pendudukan lahan yang diperjuangkan. Perjuangan dengan berbagai cara seperti pendudukan lahan, menggarap, aksi massa, melalui lembaga hukum, dan audiensi ke pihak Pemerintah Daerah tingkat 2 dan Tingkat 1 serta Pemerintah Pusat. Perjuangan selama 2 tahun tersebut membuahkan hasil dimana masyarakat dapat memperoleh hak garap dengan SK Camat Pantai Labu pada tahun 1995.
Pindahnya masyarakat ke lahan perjuangan bukan hanya dikarenakan alasan ganti rugi proyek bandara saja, tetapi sebelumnya masyarakat sudah memiliki rencana akan membangun sebuah dusun. Kepindahan secara bersama merupakan sebuah kesepakatan untuk memperkuat identitas masyarakat dan status lahan tersebut. Sampai sekarang, masyarakat dusun Anggrek Desa Perkebunan Ramunia tetap memiliki lahan tersebut. Lahan tersebut digunakan untuk bercocok tanam tanaman pangan.
Pindahnya masyrakat ke sebuah lahan yang diperjuangkan juga mendapat cibiran atau perkataan negatif dari masyarakat di Desa lain, seperti yang diungkapkan oleh Pak Sopat,
Sebaik kami mau pindah itu, banyak kali orang-orang desa tetangga bilang kalok tanah perjuangan ini tempat jin buang anak, ngapain ditempati, jin gatel ku bilang, mana peduli kami tu, kita kan percayanya sama Allah bukan jin.
Lahan perjuangan tersebut dianggap orang-orang dari desa lain sebagai tempat yang angker, mempunyai kekuatan mistis. Alasan ini dibuat karena lahan yang diperjuangkan masyarakat ini adalah lahan yang basah seperti rawa yang terdapat pepohonan dan rerumputan liar. Tetapi masyarakat Dusun Anggrek tidak memperdulikan perkataan buruk dari orang-orang dari desa lain. Bahkan masyarakat semakin semangat untuk membangun rumah di lahan yang telah
dibagi dengan modal ganti rugi perumahan mereka yang dibuat oleh Belanda pada saat menjadi buruh di Perkebunan Ramunia.
Pada tahun 1997, masyarakat dusun Anggrek yang telah mendapatkan hak atas lahan yang telah diperjuangkan selama lebih kurang tiga tahun pindah secara serentak satu kampung ke tanah perjuangan yang telah mereka perjuangkan oleh 125 kepala keluarga. Salah satu hal yang melatarbelakangi kenapa masyarakat pindah adalah tanah dusun Anggrek mendapat ganti rugi proyek pembangunan Bandara Kualanamu. Dengan nada yang pelan, Pak Tukiran berbicara,
“Bandara, masyarakat kita itu mendapat ganti rugi, ada yang Rp 9 juta, kalo saya waktu itu dapat 9 juta, ya ini disesuaikan sama kondisi rumah, luas lahan rumah, dan tanaman-tanaman yang ada juga dibayar.” dusun kita dulu gak di sini tempat kita duduk ini, bukan, tapi di Bandara itulah, kena ganti rugi sama.”
Dari ucapan yang dilontarkan bapak paruh baya ini menceritakan tentang dusun Anggrek yang dulunya merupakan sebuah pondok peninggalan Belanda yang telah menjadi milik masyarakat, bukan milik perkebunan. Ganti rugi dari Bandara Kualanamu membuat masyarakat pindah ke lahan perjuangan.
Masyarakat bersama-sama pindah membuat perkampungan baru. Dalam hal ini masyarakat membuat jalan secara bergotong-royong, kemudian membangun gubuk-gubuk sementara sambil menunggu rumah selesai dibangun. Salah satu yang membuat unik adalah seluruh masyarakat pindah secara bersamaan membuat dusun yang baru. Tanah wakaf yang berada di dusun yang sebelumnya juga dipindahkan ke dusun yang baru.
Hal di atas merupakan penjelasan singkat mengenai dusun yang berpindah ke tanah perjuangan. Kepindahan tersebut membuat dusun yang bernama dusun
Anggrek menjadi dusun Anggrek Baru. Penambahan kata baru ini menunjukkan bahwa lahan yang semula adalah lahan perjuangan yang dimenangkan oleh masyarakat menjadi sebuah dusun baru atau sebuah perkampungan.
Perkampungan dusun Anggrek baru inilah merupakan sebuah bukti pendudukan lahan perjuangan menjadi desa baru yang dikembalikan seperti desa sebelumnya dengan berbagai perubahan yaitu masyarakat memiliki hak atas tanah yang ditempati dan dapat diolah demi kebutuhan atas pangan.
4.1. Hasil Perjuangan Dan Pengaruhnya Sekarang 4.1.1. Dusun Anggrek Baru
Terkait dengan penjelasan sebelumnya bahwa dusun Anggrek Baru adalah merupakan dusun yang berpindah ke tanah yang diperjuangkan masyarakat karena dusun yang lama termasuk dalam wilayah bandara Kualanamu yang sekarang telah beroperasi. Setelah masyarakat memperoleh lahan pada tahun 1994, masyarakat langsung membagikaannya ke anggota masyarakat yang berjuang.
Selain itu masyarakat juga menyiapkan lahan untuk fasilitas-fasilitas umum di tanah perjuangan yang menjadi dusun baru. Fasilitas umum itu merupakan fasilitas yang memang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat seperti sekolah, mesjid, Kantor kepala desa, lapangan bola kaki dan tanah wakaf. Masyarakat sama-sama membuat kesepakatan untuk menyediakan lahan untuk fasilitas-fasilitas tersebut. Selain itu masyarakat juga membuat kesepakatan untuk jalan umum di dusun yang baru.
Foto 1: Kondisi Jalan di dusun Anggrek Baru Sumber: Dokumen Pribadi
Jalan ini merupakan jalan dusun yang biasa dilalui oleh masyarakat setempat, sebelum dusun Anggrek pindah ke lokasi lahan perjuangan, masyarakat sudah membuat jalan ini, awalnya jalan ini adalah jalan setapak yang digunakan untuk menuju ke lahan sawah. Kemudian, sejak masyarakat pindah ke lokasi ini, jalan ini diperlebar oleh masyarakat secara gotong royong. Awal masyarakat pindah ke dusun yang baru, jalan ini merupakan jalan utama bagi dusun Anggrek Baru. Kemudian karena jalan penghubung antara Lubuk Pakam –Pantai Labu terkena proyek Bandara Kualanamu, maka dibuat jalan baru yang melewati dusun Anggrek Baru dan jalan ini menjadi jalur penghubung antara Lubuk Pakam-Pantai Labu. Dari foto di atas dapat dilihat bahwa perumahan masyarakat di dusun Anggrek Baru berdampingan dengan lahan pertanian.
Foto 2: Jalan Utama yang menghubungkan Pantai Labu- Pakam Sumber Dokumen Pribadi
Foto 3: Lapangan Sepak Bola di dusun Anggrek Sumber Dokumen Pribadi
Lapangan Sepak Bola juga merupakan salah satu lahan yang diperjuangkan masyarakat dusun Anggrek Baru, Lapangan ini merupakan lapangan yang sering digunakan dalam acara resmi di Kecamatan Pantai Labu. Acara resmi yang sering diadakan yaitu upacara 17 Agustus, Maulid Nabi dan Isra’ Mi’rad Kecamatan
Pantai Labu. Lapangan ini bersebelahan dengan kantor desa Perkebunan Ramunia dan berada di jalan besar yang menghubungkan Lubuk Pakam dengan Pantai Labu. Terdapat kantor kepala desa yang berada di pinggir jalan utama dan bersebelahan dengan lapangan.
Foto 4: Kantor Kepala Desa Sumber Dokumen Pribadi
Di Dusun Anggrek Baru, terdapat yang dibagun di tanah yang diperjuangkan masyarakat. Adapun tanah SD ini memang sudah disediakan oleh masyarakat setelah mendapatkan lahan dari proses perjuangan. Sekolah ini merupakan sekolah dasar yang menjadi tempat bersekolah bagi anak-anak di desa Perkebunan Ramunia. Selain lahan SD, masyarakat juga mnyediakan lahan untuk tanah wakaf. Pindahnya dusun Anggrek ke tanah perjuangan juga mengikutsertakan tanah wakaf. Tanah wakaf di lahan desa yang lama dipindahkan ke lahan perjuangan yang menjadi dusun baru.
Foto 5: Sekolah Dasar di dusun Anggrek Sumber Dokumen Pribadi
Foto 6: Tanah Wakaf di Dusun Anggrek Sumber Dokumen Pribadi
Dapat dilihat bahwa perjuangan lahan merupakan salah satu cara memperoleh identitas. Identitas itu berarti sebuah ketetapan yang dicapai dalam proses-proses yang tidak berlangsung secara cepat. Proses-proses tersebut membentuk suatu persatuan yang utuh yang terdapat dalam benak masing-masing
masyarakat. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai cita-cita dari masyarakat sendiri yang menginginkan sebuah wilayah dimana mereka dapat hidup layaknya masyarakat lain. Proses ini juga tidak berlangsung secara cepat dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat menjadi identitas sendiri yaitu petani. Latar belakang yang sebenarnya bukan petani melainkan sebagai masyarakat pekerja di sebuah perkebunan tidak membuat masyarakat tetap ingin menjadi pekerja atau buruh. Bukan tanpa alasan mengapa masyarakat melakukan hal ini, justru alasan-alasan dari masyarakat semakin menguatkan dan menyatukan masyarakat. Alasan-alasan ini juga didasarkan pada status pekerja atau buruh yang semakin tidak jelas, seperti dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa perkebunan selalu berganti kepemilikan atau pihak yang mengelola perkebunan berganti-ganti sehingga membuat keadaan semakin susah bagi masyarakat dan tidak bisa lagi mengharapkan dari apa yang dihasilkan dari bekerja di perkebunan. Sekarang Dusun Anggrek merupakan sebuah dusun persawahan. Persawahan tampak hijau di sekitar desa. Persawahan ini berdampingan dengan rumah. Lahan menjadi milik masyarakat, walaupun tidak dapat dikatakan luas bagi setiap kepala keluarga.
Sawah pun hanya dapat memenuhi kebutuhan akan beras.
4.2.2. Petani dan Pandangan Dunianya
Kini masyarakat Dusun Anggrek Desa Perkebunan Ramunia sudah dapat dikatakan sebagai petani walaupun mereka tidak dapat menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian tersebut. Masyarakat tetap harus mencari sumber pencaharian dari sektor lainnya. Terdapat ingatan-ingatan terhadap masa lalu yang dianggap kelam bagi masyarakat dimana itu justru mempengaruhi bagaimana mereka
bertindak saat ini, bagaimana masyarakat memiliki pandangan dunianya yang dalam hal ini merupakan pandangan terhadap sebuah dusun yang berubah dalam segala hal termasuk masyarakat sendiri juga berubah.
Bagi petani di dusun Anggrek Desa Perkebunan Ramunia, lahan merupakan sumber kehidupan dimana mereka bisa tinggal di lahan tersebut, mendirikan rumah dan bercocok tanam. Selain itu, fakta di lapangan juga terdapat masyarakat yang terpaksa harus menjual lahan. Hal ini dikarenakan kebutuhan yang semakin tinggi, dan juga untuk membayar utang. Beberapa masyarakat yang sewaktu berjuang mendapatkan lahan mereka tidak bekerja, maka untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka menerima sumbangan masyarakat lain dan utang dengan kerabat. Ini membuat sebahagian lahan yang diperoleh dari hasil perjuangan terpaksa harus dijual sebagian untuk menutupi utang tersebut.
Petani dusun Anggrek Baru memahami dirinya sebagai orang yang sering bersentuhan dengan tanah, tanaman, dan alam. Terkait dengan hal ini maka petani membutuhkan suatu lingkungan pendukung bagi aktivitas sehari-harinya yaitu lingkungan ekologi desa. Aktivitas petani yang dilakukakan setiap harinya berupa mengolah lahan, menanam padi, memupuk, menyemprot, dan lain sebagainya.
pembicaraan-pembicaraan yang timbul dikalangannya yaitu seputar apa yang dilakukannya. Terkadang pembicaraan-pembicaraan ringan di lahan yaitu tentang pekerjaan di luar aktivitas bertani masyarakat. Bagi masyarakat, bertani hanya sebatas pekerjaan sampingan. Walaupun demikian, ini adalah segala-galanya, tidak dapat diganti dengan apapun. Seperti apa yang di ungkapkan oleh seorang Buk Ngatini,
“Walaupun aku seorang penjual jamu, tetap saja lah aku ngerjain tanaman padi ku, dulu kami susah-susahnya masyarakat berjuang demi lahan ini. makanya aku tetaplah ngurus lahanku, ya sambil-sambil jualan jamu inilah”.
Ini membuktikan bahwa kegiatan bertani merupakan cita-cita dari setiap masyarakat di Dusun Anggrek. Latar belakang masyarakat dan orang-orang tuanya merupakan buruh di perkebunan dan tidak ada hubungannya dengan aktivitas bertani padi. Keadaan yang sangat susah membuat keinginan dan cita-cita tersebut muncul. Shahin dalam Redfield mengatakan bahwa pada dasarnya, sulit mencari petani yang menjadi petani, jika bukan karena faktor orang tuanya adalah petani juga. Kebanyakan mereka menemukan dunia sebagaimana dunia petani setelah melakukan aktivitas-aktivitas kepertanian lewat kedua orang tuanya15. Apa yang dikatakan Shahin mengenai hal di atas justru kebalikan dari kasus dusun Anggrek. Masyarakat justru tidak memiliki latar belakang sebagai petani, orang tua mereka adalah buruh, dan mereka dulunya juga merupakan buruh di perkebunan.
Bu Ngatini bisa dikatakan sebagai sosok perempuan yang berani dalam melakukan perjuangan lahan. Buk Ngatini sebagai perwakilan perempuan dalam memperjuangkan lahan dusun Anggrek Baru. Pada tahun 2000, Buk Ngatini mendapat penghargaan Women’s World Summit Foundation yang merupakan penghargaan yang diberikan terhadap perempuan yang terlibat dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat. Menurut beberapa informan lain dan
15 Dikemukakan secara defenitif oleh Shahin tentang beberapa aspek yang melatari diri petani ; yakni ladang keluarga sebagai asas unit multaidimensional dari organisasi sosial, pengolahan tanah sebagai sarana untuk memperoleh nafkah, pola-pola kultural spesifik berkaitan dengan pandangan hidup komunitas pedesaan kecil, posisi ketertindasan dari dominasi terhadap kaum tani dari orang luar. Robert Redfield, Masyarakat Petani dan Kebudayaan. (Jakarta: CV.
Rajawali, 1982)
pengakuan Buk Ngatini sendiri, dia selalu berani berbicara menyampaikan aspirasinya kepada Pemerintah saat sedang melakukan aksi massa di kantor Gubernur, dan beberapa tempat lainnya serta kepada pihak organisasi ABRI yang kala itu menjadi musuh bagi masyarakat. Buk Ngatini memiliki seorang suami yang pekerjaannya sopir lintas hanya 1 kali seminggu pulang ke rumah. Bu Ngatini sebagai orang yang berani, vokal dalam berbicara, apalagi saat orasi di depan kantor DPR, Berbicara di depan Tentara yang berjaga di lahan dan menghadapi pihak-pihak pengambil kebijakan. Hal ini dapat diketahui dari cerita-cerita, hasil wawancara dengan Informan lain. Dari ungkapan Buk Ngatini yang penuh semangat saat bercerita masa lalu, menggambarkan rekam yang terdapat di benak pikirannya dan dikeluarkan melalui kata-kata dengan nada yang kuat mengalahkan usianya.
Sekarang, sambil berjualan jamu keliling menggunakan sepeda tua yang didominasi dengan warna karat, ia masih tetap juga mengolah lahan sawahnya.
Sementara suaminya bekerja sebagai supir lintas, terkadang sesekali waktu saat suaminya tidak bekerja, ia dibantu ke ladang dan berjualan jamu. Buk Ngatini tinggal berdua dengan suaminya, sementara ke empat anaknya sudah berumah tangga semua, bahkan cucunya pun sudah duduk di bangku kuliah. Anak-anak Bu Ngatini dapat dikatakan berhasil semua dan tidak ada yang tinggal di Dusun Anggrek. Anak-anaknya bekerja sebagai Tentara, PNS, dan Ibu Rumah Tangga.
Pak Tukiran, seorang informan yang memang paham mengenai desa juga masih mengolah lahan. Usianya yang tua yaitu sekitar 60 tahun tidak membuatnya berhenti mengolah lahan, kesehariannya memang mengolah lahan yang jaraknya
hanya beberapa meter dari rumahnya. Bercocok tanam padi, kacang panjang, memelihara ayam, angsa, entok adalah aktivitas sehari-harinya. Pak Tukiran tinggal bersama anak bungsunya dan suaminya serta 2 cucunya, seorang orang anak berusia 4 tahun dan seorang lagi baru lahir. Sementara itu, istri Pak Tukiran meninggal di tahun 2012 lalu. Tepat di samping rumahnya, tinggal anak perempuan Pak Tukiran bersama suaminya, sementara dua anaknya yang lain tinggal di daerah lain.
Pak Tukiran memandang, petani di dusun Anggrek berbeda dengan mereka dulu. Hal ini dikarenakan kebanyakan lahan sudah diwariskan. Tapi bukan berarti masyarakat tidak kompak, keseharian masyarakat memang tidak menunjukkan kebersamaan, apalagi jarak rumah yang tidak begitu dekat. Pak Tukiran juga mengatakan bahwa sudah menjadi hal yang umum apabila melihat sesama masyarakat terlihat acuh. Ini sudah menjadi biasa dan bukan berarti mencerminkan tidak kompaknya masyarakat. Bersama Pak Tukiran selama penelitian menunjukkan hal yang berbeda yaitu bahwa ia sering disapa dan disinggahi masyarakat lain. Kadang-kadang, ada petani-petani lain yang singgah ke rumahnya sebelum berangkat ke ladang ataupun selesai dari ladang. Di sinilah peneliti mendengar pembicaraan-pembicaraan mengenai tanaman, dan kadang-kadang tentang hal-hal umum sambil diselingi canda tawa.
Sekarang ini, Dusun Anggrek Baru tidak memiliki masalah, terutama permasalahan lahan. Tetapi, ini Bukan berarti masalah-masalah baru tidak akan muncul. Berikut ini sebuah perkataan yang dilontarkan oleh seorang Pak Misran,
“Sekarang ini kita baik-baik saja, lahan uda punya, ya walaupun sedikit. Kalo sekarang selagi kita-kita ini masih ada,
ya orang-orang yang berjuang dulu itu masih ada, kita gak kan takut apabila ada pihak-pihak yang ingin mengganggu kita.
Kalau ada ya kita bersatu, langsung aja pukul kentongan di Mesjid, kalo uda dengar itu, warga kita uda tau semua bahwa sedang ada masalah. Jadi tetap kuat persatuan kami ini, ya walaupun kadang seperti Situ lihat sehari-hari kami kayaknya biasa-biasa aja.”
Kondisi lahan kampung atau lahan pertanian saat ini masih dikelola oleh masyarakat. Masyarakat tidak takut apabila ada pihak yang mengganggu lahan mereka. Apalagi masih terdapat tokoh-tokoh penting dalam perjuangan dahulu yang memahami betul bagaimana sejarah desa ini dan bagaimana perjuangan dilakukan. Permasalahan baru dapat menjadikan persatuan masyarakat seperti saat berjuang. Sekarang masyarakat adalah petani yang bercocok tanam di lahannya sendiri. Rentetan perjuangan yang dilakukan membuahkan hasil seperti sekarang ini, bertani padi merupakan cita-cita masyarakat yang telah terwujud dengan lahan yang tidak begitu luas. Walaupun demikian, masyarakat tetap merasa ada hal yang belum lengkap. Hal ini dikarenakan mereka mengolah lahan sendiri dan telah menjadi milik masing-masing walaupun lahan yang dikelola tersebut tidak memiliki sertifikat.
Pengakuan lahan di dusun Anggrek Baru hanya sebatas surat keterangan Kepala Desa dan Camat. Ini menjadi keinginan masyarakat akan pengakuan kepemilikan lahan secara sah dan legal. Tidak adanya sertifikat ini membuat kekhawatiran masyarakat terhadap lahan yang sekarang dikelola. Tanggapan dari pihak BPN (Badan Pertanahan Nasional) kabupaten Deli Serdang yang dalam hal ini merupakan sebuah lembaga negara yang menangani pertanahaan mengkonfirmasi bahwa mereka tidak tahu soal pengurusan sertifikat masyarakat
dusun Anggrek. Pihak BPN Deli Serdang menanggapi bahwa hal ini dikarenakan lahan tersebut merupakan bagian dari HGU Puskopad sejak tahun 1984 yang selalu berubah-ubah luasnya. Pihak BPN tidak mengetahui dusun Anggrek Baru Desa Perkebunan Ramunia berada dibagian mana dari sejarah HGU Puskopad.
Lembaga pertanahan ini juga mengatakan bahwa apabila masyarakat dusun Anggrek Baru Desa Perkebunan Ramunia ingin mengurus sertifikat, maka BPN harus mengukur kembali dan mengambil titik koordinat batas-batas HGU Puskopad, terkait sertifikat maka menyangkut perorangan, bukan satu wilayah dusun atau desa.
Kekhawatiran masyarakat adalah apabila tanah tersebut sudah diturunkan atau diserahkan tanpa sertifikat lahan kepada anak-anak mereka yang tidak memahami secara betul bagaimana lahan tersebut dan sejarahnya. Masyarakat tidak ingin apabila nanti ketika anak-anak mereka yang mengurus lahan diganggu oleh pihak-pihak tertentu yang mau mengambil lahan. Oleh karena itu, masyarakat ingin memiliki sertifikat atas lahannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. Berbeda kondisi dengan sekarang ini dimana tokoh-tokoh perjuangan petani desa masih ada.
4.2.3. Konflik Horizontal Masyarakat Dusun Anggrek Baru dengan Desa Tetangga
Keberhasilan masyarakat dusun Anggrek Baru mendapatkan lahan menjadi perhatian masyrakat desa tetangga. Pada tahun 2008, desa tetangga yang didominasi oleh masyarakat Melayu meluncurkan kabar ingin mengeksekusi lahan Dusun Anggrek. Kabar eksekusi ini sampai ke telinga masyarakat dusun
Anggrek, awalnya masyarakat tidak mengetahui siapa ada di balik rencana ini.
Pak Sopat berkata,
“Waktu itu tahun 2008, Desa sebelah itu, mau ngambel lahan kita, orang itu uda bawa pendamping hukum, pas pula Pak Tukiran ini lagi merantau, terpaksalah kami ngubungi dia.
Kami gak tinggal diam, enak aja kok tiba-tiba lahan kami mau diambil, kami lawan lah, terus lah dipukul kentongan di Mesjid biar pada ngumpul semua kayak waktu berjuang dulu.”
Kebersamaan itu sangat terlihat ketika ada pihak-pihak yang mengganggu desa dan bukan dalam hal itu saja. Terdapat pihak tertentu tepatnya dari desa sebelah atau desa yang bertetanggaan dengan desa Perkebunan Ramunia berusaha merebut lahan Dusun Anggrek Baru. Alasannya adalah klaim yang dilakukan desa yang mengatakan bahwa lahan di dusun Anggrek Baru merupakan lahan desa mereka. Pihak-pihak tertentu tersebut membawa orang bayarannya dari pengadilan untuk mengeksekusi lahan tersebut, dan menyebarkan berita eksekusi ke masyarakat dusun Anggrek. Mendengar kabar tersebut, pada malam harinya kentongan Mesjid berbunyi. Hal ini menjadi simbol untuk mengumpulkan
Kebersamaan itu sangat terlihat ketika ada pihak-pihak yang mengganggu desa dan bukan dalam hal itu saja. Terdapat pihak tertentu tepatnya dari desa sebelah atau desa yang bertetanggaan dengan desa Perkebunan Ramunia berusaha merebut lahan Dusun Anggrek Baru. Alasannya adalah klaim yang dilakukan desa yang mengatakan bahwa lahan di dusun Anggrek Baru merupakan lahan desa mereka. Pihak-pihak tertentu tersebut membawa orang bayarannya dari pengadilan untuk mengeksekusi lahan tersebut, dan menyebarkan berita eksekusi ke masyarakat dusun Anggrek. Mendengar kabar tersebut, pada malam harinya kentongan Mesjid berbunyi. Hal ini menjadi simbol untuk mengumpulkan