6 D RAINASE LINGKUNGAN/SELOKAN SEKITAR RUMAH DAN BANJIR
E7. KETINGGIAN AIR YANG MASUK KE DALAM RUMAH
60.13% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00%
E6. JIKA BANJIR, KEJADIAN KAMAR MANDI
Laporan Studi EHRA Kota Depok Tahun 2011
53
31: Kejadian Kamar Mandi dan WC/Jamban Terendam, Jika Banjir
Berdasarkan diagram 31 di atas, responden yang menyatakan tidak pernah kamar mandi /jambannya tidak pernah terendam jika banjir sebesar 60,13%, kemudian yang kadang terendam sebesar 17,65%, yang sebagian terendam sebesar 3,02%, yang selalu terendam sebesar 13,73% dan yang tidak tahu sebesar 4,58%. Dengan demikian
ian besar masih relatif aman.
Diagram 32: Ketinggian Air yang Masuk ke Dalam Rumah
35.26%
12.82% 7.05%
1.28%0.64%0.64%4.49%
1
E7. KETINGGIAN AIR YANG MASUK KE DALAM RUMAH
Tidak masuk rumah Setumit orang dewasa Setengah lutut orang dewasa
Selutut orang dewasa Sepinggang orang dewasa
Sebahu orang dewasa Lebih tinggi dari orang dewasa Tidak tahu 60.13% 17.65% 3.92% 13.73% 4.58% 1
E6. JIKA BANJIR, KEJADIAN KAMAR MANDI DAN WC/JAMBAN TERENDAM
Tidak pernah Kadang Sebagian Selalu Tidak tahu
31: Kejadian Kamar Mandi dan WC/Jamban Terendam, Jika Banjir
Berdasarkan diagram 31 di atas, responden yang menyatakan tidak pernah kamar mandi /jambannya tidak pernah terendam jika banjir sebesar 60,13%, kemudian yang kadang terendam sebesar 17,65%, yang sebagian terendam sebesar 3,02%, yang selalu terendam sebesar 13,73% dan yang tidak tahu sebesar 4,58%. Dengan demikian
Tidak masuk rumah Setumit orang dewasa Setengah lutut orang dewasa
Selutut orang dewasa Sepinggang orang dewasa
Sebahu orang dewasa ih tinggi dari orang dewasa Tidak tahu Tidak pernah Kadang-kadang Sebagian Selalu Tidak tahu
Diagram 32 manunjukkan ketinggian air yang masuk ke dalam rumah menurut responden. 37,82% menyatakan tidak pernah masuk ke rumah, 35,
setumit orang dewasa, 12,82% menyatakan setengah lutut orang dewasa, 7,05% menyatakan selutut orang dewasa, 1,28% menyatakan sebahu orang dewasa, 0,64% sebahu dan lebih tinggi orang dewasa, sisanya 4,49% menyatakan tidak tahu.
Diagram 32 manunjukkan ketinggian air yang masuk ke dalam rumah menurut responden. 37,82% menyatakan tidak pernah masuk ke rumah, 35,
setumit orang dewasa, 12,82% menyatakan setengah lutut orang dewasa, 7,05% menyatakan selutut orang dewasa, 1,28% menyatakan sebahu orang dewasa, 0,64% sebahu dan lebih tinggi orang dewasa, sisanya 4,49% menyatakan tidak tahu.
Diagram 32 manunjukkan ketinggian air yang masuk ke dalam rumah menurut responden. 37,82% menyatakan tidak pernah masuk ke rumah, 35,26% menyatakan setumit orang dewasa, 12,82% menyatakan setengah lutut orang dewasa, 7,05% menyatakan selutut orang dewasa, 1,28% menyatakan sebahu orang dewasa, 0,64% sebahu dan lebih tinggi orang dewasa, sisanya 4,49% menyatakan tidak tahu.
Laporan Studi EHRA Kota Depok Tahun 2011 55
7.P
ENGELOLAAN AIR MINUM, MASAK,
MENCUCI DAN GOSOK GIGI YANG AMAN
DAN HYGIENE
Bab ini menyajikan informasi mengenai kondisi akses sumber air untuk minum, masak, mencuci dan gosok gigi bagi rumah tangga di Kota Depok. Hal yang diteliti dalam EHRA terdiri dari 2 (dua) hal utama, yakni 1) sumber air yang digunakan rumah tangga, dan 2) pengolahan, penyimpanan dan pengamanan air yang baik dan hygiene. Kedua aspek ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat risiko kesehatan bagi anggota di suatu rumah tangga.
Terkait dengan sumber air, studi EHRA mempelajari tentang jenis sumber air untuk keperluan minum, mandi, memasak, dan gosok gigi. Yang menggunakan sumber air dari ledeng atau PDAM ditanyakan juga tentang penurunan volume yang dialami dan penurunan kualitasnya. Kemudian untuk jenis sumur gali/ sumur bor/ sumur pompa ditanyakan jarak sumber air tersebut dengan tempat penampungan atau pembuangan tinja.
Dari sisi jenis sumber air diketahui bahwa sumber-sumber air memiliki tingkat keamanannya tersendiri. Ada jenis-jenis sumber air yang secara global dinilai sebagai sumber yang relatif aman, seperti air ledeng/ PDAM, sumur bor, sumur gali terlindungi, mata air terlindungi dan air hujan (yang ditangkap, dialirkan dan disimpan secara bersih dan terlindungi). Di lain pihak, terdapat sumber-sumber yang memiliki risiko yang lebih tinggi sebagai media transmisi patogen ke dalam tubuh manusia, di antaranya adalah, sumur atau mata air yang tidak terlindungi dan air permukaan, seperti air kolam, sungai, parit ataupun irigasi.
Suplai atau kuantitas air pun memegang peranan. Para pakar higinitas global melihat suplai air yang memadai merupakan salah satu faktor yang mengurangi risiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare. Sejumlah studi mengonfirmasi bahwa mereka yang memiliki suplai air yang memadai cenderung memiliki risiko terkena diare yang lebih rendah, karena sumber air yang memadai cenderung memudahkan kegiatan higinitas secara lebih teratur. Karenanya, kelangkaan air dapat dimasukkan sebagai salah satu faktor risiko (tidak langsung) bagi terjadinya kesakitan-kesakitan seperti gejala diare.
Terkait dengan pengolahan, penyimpanan dan pengamanan air yang hygiene studi EHRA mempelajari tentang penyimpanan air, tempat yang digunakan untuk menyimpan, cara
mengambil air, pengolahan air sebelum diminum, cara pengolahannya, penyimpanan air setelah diolah, alat penyimpanan air setelah diolah, juga penggunaan air olahan selain untuk minum. Hal-hal tersebut penting dipelajari karena terkait dengan risiko keseh bagi anggota rumah tangga tersebut.
Tabel 15: Sumber Air untuk Keperluan Rumah Tangga
Minum F re k u e n si
Air botol kemasan 666
Air isi ulang 353
Air ledeng PDAM 226 Air hidram
umum-PDAM
15
Air kran umum-PDAM/PAMSIMAS
3
Air sumur pompa tangan
8
Air sumur gali terlindungi
1,227
Air sumur gali tak terlidungi
1,526
Mata air terlindungi 62
Mata air tak terlindungi
8
Air hujan 1
Air dari sungai 2
Air dari waduk 2
Lainnya 1
Tabel 15 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar warga Kota Depok menggunakan sumur gali baik yang tak terlindungi maupun yang terlindungi untuk keperluan minum, masak, cuci dan gosok gigi. Air dari sumur gali tak terlindungi menem
pertama terbanyak disusul kemudian air sumur gali terlindungi untuk semua jenis keperluan baik itu minum, masak, cuci dan gosok gigi. Sedangkan bila dilihat untuk keperluan minum saja urutan pertama sumur gali tak terlindungi, kedua sumur gali terlindungi dan ketiga dan keempat masing
mengambil air, pengolahan air sebelum diminum, cara pengolahannya, penyimpanan air setelah diolah, alat penyimpanan air setelah diolah, juga penggunaan air olahan selain
hal tersebut penting dipelajari karena terkait dengan risiko keseh bagi anggota rumah tangga tersebut. Berikut hasil studi EHRA selengkapnya.
: Sumber Air untuk Keperluan Rumah Tangga
Minum Masak Cuci piring/gelas Cuci pakaian % F re k u e n si % F re k u e n si % F re k u e n si 17.6 82 2.2 8 0.2 8 9.4 86 2.3 18 0.5 17 6.0 322 8.5 319 8.5 317 0.4 19 0.5 20 0.5 21 0.1 6 0.2 6 0.2 6 0.2 12 0.3 14 0.4 14 32.5 1,547 41.0 1,650 43.7 1,650 40.4 1,671 44.3 1,686 44.7 1,685 1.6 66 1.7 70 1.9 69 0.2 10 0.3 10 0.3 11 0.0 2 0.1 1 0.0 2 0.1 2 0.1 2 0.1 2 0.1 2 0.1 2 0.1 1 0.0 1 0.0 1 0.0 1
di atas menunjukkan bahwa sebagian besar warga Kota Depok menggunakan sumur gali baik yang tak terlindungi maupun yang terlindungi untuk keperluan minum, masak, cuci dan gosok gigi. Air dari sumur gali tak terlindungi menem
pertama terbanyak disusul kemudian air sumur gali terlindungi untuk semua jenis keperluan baik itu minum, masak, cuci dan gosok gigi. Sedangkan bila dilihat untuk keperluan minum saja urutan pertama sumur gali tak terlindungi, kedua sumur gali terlindungi dan ketiga dan keempat masing-masing air botol kemasan dan air isi ulang. mengambil air, pengolahan air sebelum diminum, cara pengolahannya, penyimpanan air setelah diolah, alat penyimpanan air setelah diolah, juga penggunaan air olahan selain hal tersebut penting dipelajari karena terkait dengan risiko kesehatan
Berikut hasil studi EHRA selengkapnya.
Cuci pakaian Gosok gigi
% F re k u e n si % 0.2 26 0.7 0.5 28 0.7 8.4 320 8.5 0.6 19 0.5 0.2 7 0.2 0.4 14 0.4 43.7 1,63 1 43.2 44.6 1,67 9 44.5 1.8 69 1.8 0.3 11 0.3 0.1 2 0.1 0.1 2 0.1 0.0 2 1.0 0.0 1 0.0
di atas menunjukkan bahwa sebagian besar warga Kota Depok menggunakan sumur gali baik yang tak terlindungi maupun yang terlindungi untuk keperluan minum, masak, cuci dan gosok gigi. Air dari sumur gali tak terlindungi menempati urutan pertama terbanyak disusul kemudian air sumur gali terlindungi untuk semua jenis keperluan baik itu minum, masak, cuci dan gosok gigi. Sedangkan bila dilihat untuk keperluan minum saja urutan pertama sumur gali tak terlindungi, kedua sumur gali
Laporan Studi EHRA Kota Depok Tahun 2011 57
Diagram 33: Pengamalan Menurunnya Volume Pasokan Air yang Dikonsumsi N = 249
Warga yang menggunakan air ledeng dari PDAM berdasarkan diagram 33 di atas yang menyatakan tidak pernah mengalami penurunan volume pasokan air sebesar 46,99%, mengalami penurunan satu kali dalam setahun sebesar 13,25%, beberapa kali dalam setahun 14,06% dan sekali atau lebih dalam sebulan sebesar 2,41%. Namun yang menyatakan tidak tahu cekup besar yaitu 23,29%. Hal ini berarti masih cukup rawan. Diagram 34: Pengalaman Menurunnya Kualitas Air yang Dikonsumsi
N = 250