• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Efek Sinar Matahari Terhadap Kulit

Dimana : EE = Spektrum efek eritemal I = Intensitas spektrum sinar Abs = Serapan produk tabir surya CF = Faktor koreksi

Tabel 2.2 Ketetapan nilai EE x I (Sayre, et al., 1979) Panjang gelombang (nm) Nilai EE x I 290 0,0150 295 0,0817 300 0,2874 305 0,3278 310 0,1864 315 0,0839 320 0,0180

2.4 Efek Sinar Matahari Terhadap Kulit

Penyinaran matahari mempunyai dua efek, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan, tergantung dari frekuensi dan lamanya sinar matahari mengenai kulit, intensitas sinar matahari, serta aktivitas seseorang. Efek nyata penyinaran matahari, pertama-tama adalah erythema kulit yang diikuti oleh warna

cokelat kemerahan. Pada dasarnya timbulnya warna cokelat kemerahan merupakan reaksi perlindungan terhadap kerusakan akibat sinar matahari (Ditjen, POM., 1985).

Penyinaran matahari yang sedang, secara psikologi dan fisiologi akan menimbulkan rasa nyaman dan sehat, dapat merangsang peredaran darah serta meningkatkan pembentukan hemoglobin (Ditjen, POM., 1985).

Penyinaran matahari mempunyai efek yang merugikan, baik yang singkat maupun yang lanjut. Penyinaran matahari yang singkat pada kulit dapat menyebabkan kerusakan epidermis sementara, gejalanya biasa disebut sengatan surya. Sinar matahari dapat menyebabkan erythema ringan hingga luka bakar yang nyeri pada kasus yang lebih parah. Umumnya, erythema tersebut terjadi 2-3 jam setelah sengatan surya. Penyinaran yang lama akan mengakibatkan perubahan degeneratif pada jaringan pengikat dalam korium. Keadaan tersebut menyebabkan kulit akan menebal, kehilangan kekenyalan sehingga kulit terlihat keriput disebabkan karena kulit kehilangan kapasitas ikat-air (Ditjen, POM., 1985).

2.5 Oksibenzon

Gambar 2.1 Rumus bangun Oksibenzon (Sumber : USP 26-NF 21, 2003). Rumus Molekul : C14H12O3

Berat Molekul : 228,25 g/mol

Oksibenzon merupakan turunan dari benzofenon. Tabir surya benzofenon memiliki absorbansi pada panjang gelombang lebih besar dari 320 nm dan digolongkan sebagai tabir surya UVA. Oksibenzon ini banyak digunakan dengan konsentrasi mencapai 10% dengan dikombinasi dengan tabir surya UVB untuk memberikan spektrum perlindungan (Butler, 2000). Menurut FDA (American Standard) penggunaan oksibenzon mencapai konsentrasi maksimal hanya 6% (Barel, et al., 2001).

2.6 Oktilmetoksisinamat

Gambar 2.2 Rumus bangun Oktilmetoksisinamat (Sumber : Budavari, 2001).

Rumus Molekul : C18H26O3 Berat Molekul : 290,40 g/mol

Kelarutan : Larut dalam minyak (lipofilik) (Barel, et al., 2001). Oktilmetokisinamat adalah bahan yang paling banyak digunakan dalam sediaan tabir surya. Oktilmetoksisinamat tergolong dalam tabir surya kimia yang melindungi kulit dengan cara menyerap energi dari radiasi UVB (Barel, et al., 2001).

2.7 HPMC (Hydroxy Propyl Methyl Cellulose)

Dalam suatu formula HPMC digunakan sekitar 0,25 – 5%. Selain sebagai pembuat gel, HPMC juga digunakan sebagai emulsifier, suspending agent, bahan pengental, dan bahan penstabil untuk sediaan topikal gel. Sebagai pelindung

koloid, HPMC dapat mencegah droplet dan partikel dari koalesensi dan aglomerasi, dan juga menghambat terjadinya sedimentasi (Rowe, et al., 2009). 2.8 Tween 80

Gambar 2.3 Rumus bangun Tween 80 (Sumber : Rowe, et al., 2009). Rumus Molekul : C64H124O26

Berat Molekul : 1310

Nama Lain : Polioksietilen (20) sorbitan monooleat

pH : 6,0 – 8,0

Nilai HLB : 15,0

Tween 80 berupa cairan kental berwarna kuning dan agak pahit. Konsentrasi Tween 80 yang digunakan untuk emulsi minyak dalam air jika dikombinasikan dengan emulsifier hidrofobik adalah 1-10%. Tween 80 larut dalam air dan etanol (95%), namun tidak larut dalam mineral oil dan vegetable oil (Rowe, et al., 2009).

2.9 Span 80

Gambar 2.4 Rumus bangun Span 80 (Rowe, et al., 2009). Rumus Molekul : C24H44O6

Berat Molekul : 429

Nama lain : Sorbitan monooleat

pH : < 8,0

Nilai HLB : 4,3

Span 80 merupakan ester sorbitan yang secara luas digunakan dalam kosmetik, produk makanan, dan formulasi sebagai surfaktan nonionik lipofilik. Ester sorbitan secara umum dalam formulasi berfungsi sebagai emulsifying agent dalam pembuatan krim, emulsi, dan salep untuk penggunaan topikal. Ketika digunakan sebagai emulsifying tunggal, ester sorbitan menghasilkan emulsi air dalam minyak yang stabil dan mikroemulsi, namun ester sorbitan lebih sering digunakan dalam kombinasi bersama bermacam-macam proporsi polisorbate untuk menghasilkan emulsi atau krim, baik tipe m/a atau a/m. Konsentrasi Span 80 yang digunakan untuk emulsi minyak dalam air jika dikombinasikan dengan

emulsifier hidrofilik adalah 1-10% (Rowe, et al., 2009). 2.10 Emulgel

Emulgel merupakan campuran emulsi dan gel. Pada kenyataannya keberadaan bahan pembentuk gel pada fase air mengubah emulsi sederhana menjadi emulgel. Sistem minyak dalam air dalam emulgel digunakan untuk menjerat obat lipofilik sedangkan obat hidrofilik dikemas pada sistem air dalam minyak (Haneefa, et al., 2013).

Suatu emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamik yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan sebagai bola-bola dalam fase cair lain. Sistem dibuat stabil dengan adanya suatu zat pengemulsi. Baik fase terdispers atau fase kontinyu

bisa berkisar dalam konsistensi dari suatu cairan sampai suatu massa setengah padat (semisolid). Diameter partikel dari fase terdispersi umumnya berkisar dari 0,1-10 µm, walaupun partikel sekecil 0,01 µm dan sebesar 100 µm bukan tidak biasa dalam beberapa sediaan (Martin, dkk., 1993).

Dibandingkan sediaan lain, emulgel memiliki beberapa kelebihan, yaitu : 1. Obat yang bersifat hidrofobik dapat dengan mudah digabungkan ke dalam

gel dengan adanya emulsi tipe m/a. Kebanyakan obat yang bersifat hidrofobik tidak dapat menyatu secara langsung ke dalam basis gel karena kelarutannya yang bertindak sebagai penghalang. Obat hidrofobik dilarutkan dalam fase minyak dan kemudian globul minyak didispersikan ke dalam fase air sehingga membentuk emulsi m/a yang kemudian emulsi ini akan dicampurkan ke dalam basis gel.

2. Stabilitas yang lebih baik. Sediaan transdermal/topikal lain memiliki stabilitas yang lebih rendah bila dibandingkan dengan emulgel. Misalnya salep dapat menjadi tengik karena menggunakan basis berminyak.

3. Kapasitas penyerapan obat lebih baik bila dibandingkan dengan sistem partikulat seperti niosom dan liposom. Niosom dan liposom yang berukuran nano dan merupakan struktur vesikular dapat menyebabkan kebocoran dan menyebabkan efisiensi penyerapan obat yang lebih rendah. Sedangkan gel yang merupakan konstituen dengan jaringan yang lebih luas dapat menyerap obat lebih baik.

4. Memungkinkan biaya produksi yang lebih rendah. Pembuatan emulgel terdiri dari tahapan yang pendek dan sederhana sehingga memungkinkan untuk diproduksi. Tidak ada alat khusus yang dibutuhkan untuk

memproduksi emulgel. Selain itu, bahan yang digunakan merupakan bahan yang mudah didapat dan ekonomis.

5. Tidak memerlukan proses sonikasi yang intensif. Dalam membuat molekul vesikular memerlukan sonikasi yang dapat menyebabkan kebocoran atau degradasi obat. Namun, permasalahan ini tidak ditemui ketika membuat emulgel karena tidak memerlukan sonikasi (Haneefa, et al., 2013).

2.11 HLB (Hydrophile-Lipophile Balance)

HLB pada emulsifier merupakan pernyataan keseimbangan ukuran dan kekuatan dari gugus hidrofilik (polar) dan gugus lipofilik (nonpolar) dari

emulsifier. Seluruh emulsifier terdiri dari molekul yang terdapat kombinasi

keduanya yaitu gugus hidrofil dan lipofil. Emulsifier yang bersifat lipofilik ditandai dengan angka HLB yang rendah (dibawah 9) dan emulsifier yang bersifat hidrofilik ditandai dengan angka HLB yang tinggi (diatas 11) (ICI Americas, 1976).

Adapun fungsi surfaktan yang ditetapkan berdasarkan HLB dikelompokkan menjadi :

Tabel 2.3 Aktivitas dan harga HLB surfaktan

Aktivitas HLB

Antibusa 1 sampai 3

Pengemulsi (a/m) 3 sampai 6

Zat pembasah 7 sampai 9

Pengemulsi (m/a) 8 sampai 18

Pelarut 15 sampai 20

Detergen 13 sampai 15

(Sumber : Ansel, 2008).

Dalam suatu sistem HLB, harga HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dari zat-zat yang seperti minyak-minyak. Dengan menggunakan dasar HLB dalam

penyiapan suatu emulsi, seseorang dapat memilih zat pengemulsi yang mempunyai harga HLB sama atau hampir sama sebagai fase minyak dari emulsi yang dimaksud.

Dokumen terkait