BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Interpretasi dan Diskusi Hasil
6.1.1 Efektivitas laserpuncture care terhadap tekanan darah
Tekanan darah sistolik yang diambil pada pretest yaitu sebelum dilakukan intervensi laserpuncture care berkisar antara 140-170 mmHg. Hasil pengukuran tekanan darah pada kelompok intervensi setelah pemberian laserpuncture care menunjukkan penurunan nilai median tekanan darah sistolik (TDS) pada hampir seluruh responden penelitian (83,3%) yaitu pretest 150 mmHg dan posttest menjadi 140 mmHg. Penurunan yang terjadi dengan nilai terbesar adalah 20 mmHg dan nilai terkecil adalah -10 mmHg. Hasil uji penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna laserpuncture care terhadap penurunan TDS pada taraf kepercayaan 95%. Nilai efektivitas TDS pada kelompok intervensi adalah 6,67% sedangkan kelompok kontrol adalah 0%. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi laserpuncture care lebih efektif daripada perlakuan pada kelompok kontrol dalam menurunkan TDS.
Tekanan darah diastolik (TDD) pada kelompok intervensi menunjukkan penurunan median yaitu pre test 90 mmHg dan post test menjadi 85 mmHg. Penurunan yang terjadi dengan nilai terbesar 20 mmHg dan terkecil -10 mmHg. Hasil uji analisis pada TDD pretest dan posttest diperoleh nilai p<0,05, hal ini terbukti bahwa terdapat pengaruh yang bermakna laserpuncture care terhadap penurunan TDD pada taraf kepercayaan 95%. Nilai efektivitas TDD pada kelompok intervensi adalah 5,56% sedangkan kelompok kontrol adalah 0,91%. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi laserpuncture care lebih efektif daripada perlakuan pada kelompok kontrol dalam menurunkan TDD.
Tekanan darah merupakan tekanan arteri sistemik yang dihasilkan oleh kontraksi ventrikel kiri dan resistensi dari arteri dan arteriola (Brookes 2012). Tekanan darah sistolik terjadi saat jantung memompakan darah ke sirkulasi sistemik, sedangkan tekanan darah diastolik terjadi saat pengisian darah ke jantung (Dharmeizar 2012). Tekanan darah dikontrol oleh cardiac output (CO), dan resistensi perifer total, serta bergantung kepada jantung, pembuluh darah, volume cairan ekstraseluler, ginjal, sistem syaraf, dan faktor humoral. CO ditentukan oleh stroke volume (isi sekuncup) dan frekuensi denyut jantung (heart rate). Resistensi perifer total diatur oleh suatu mekanisme interaktif yang kompleks, meliputi aktivitas baroreseptor dan sistem saraf simpatis, respon terhadap substansi neurohumoral dan faktor- faktor endotel, respon miogenik dan proses interseluler (Dharmeizar 2012).
Hasil di atas sesuai dengan pernyataan Kreisel & Weber (2012); Saputra (2014) bahwalaserpuncture dapat menurunkan tekanan darah. Menurut keilmuan
akupunktur, stimulasi titik BL-23 (Sen Shu) sebagai sumber qi dari organ ginjal. Stimulasi pada titik ini akan mempengaruhi sekresi aldosteron. Titik ini merupakan titik Su organ ginjal yang efektif untuk menguatkan fungsi ginjal (Kiswoyo & Kusuma 1991; Yeung et al. 2012).Rangsangan pada titik BL-15 (Xin shu) akan mempengaruhi sekresi renin, jika titik ini disedasi maka produksi renin juga menurun. Menurut pandangan akupunktur, titik ini mempengaruhi jantung, menyembuhkan panas pada jantung dan menenangkan jantung serta menguatkan ginjal (Kiswoyo & Kusuma 1991; Yeung et al. 2012).Rangsangan pada titik ST-9 (Renying), titik setinggi sinus caroticus yang berupa baroreseptor, bila dilemahkan akan berefek menurunkan reaktivitas vaskuler (Li et al. 2014; Kiswoyo & Kusuma 1991; ISA 2006). Stimulasi pada titik ST-36 (Zusanli) akan mempengaruhi susunan syaraf simpatis. Berdasarkan sudut pandang akupunktur titik ini sebagai penambah vitalitas, tenaga, penyegar, memperbaiki sistem lambung, limpa, dan usus, serta mengusir penyakit yang bersifat angin dan lembab (Williams et al. 1991; Kiswoyo & Kusuma 1991). Sedasi pada titik LV-3 (Taichong)akan mempengaruhi saraf simpatis dan vasodilator. Secara akupunktur titik ini menentramkan angin, melenyapkan panas pada darah, dan menurunkan panas hati (ISA 2006; Lin et al. 2016). Stimulasi pada titik SP-6 (Sanyinjiao) akan berefek antispasmodik dan vasodilator. Secara akupuntunktur titik ini menggiatkan aktivitas limpa dalam mentransport cairan dan melancarkan sumbatan-sumbatan. Titik ini adalah titik penting karena merupakan pertemuan tiga meridian Yin Kaki yaitu Meridian Hati, Ginjal, dan Limpa sendiri. Artinya jika titik ini distimulasi berarti ada tiga organ yang dipengaruhinya (bermanfaat
untuk tiga organ yaitu hati, limpa, dan ginjal (Seyam & Shawky 2016; Kiswoyo & Kusuma 1991). Penyinaran yang dilakukan pada titik akupunktur akan merangsang terjadinya mekanisme efek mekanik dan fisiologis (Kreisel & Weber 2012; Saputra 2014). Efek fisiologis yang terjadi adalah aktivitas impuls dalam mekanisme reflek akson (Wiryana 2012). Impuls yang terjadi dalam saraf sensorik kulit ini akan dipancarkan secara antidromik menuruni cabang saraf sensorik yang mempersarafi pembuluh darah dan impuls ini menimbulkan pelepasan substansi P (SP) yang menimbulkan vasodilatasi (Ganong 2011). Efek mekanik berupa penekanan pada area kulit juga merangsang pelepasan beberapa zat kimia diantaranya adalah SP (Guyton & Hall 2007). Aktivitas vasodilator SP ini ditengahi oleh reseptor neurokinin 1 (NKl) yang terletak pada sel endotel. Efek farmakologis dari peningkatan jumlah SP dalam plasma dapat menurunkan tekanan darah (Sari et al. 2014; Saputra 2014). SP sebagai vasodilator mempunyai korelasi negatif dengan tahanan perifer total. Tahanan perifer total merupakan faktor yang mempengaruhi tekanan arteri disamping cardiac output. Perubahan pada salah satu variabel ini akan menimbulkan perubahan pada tekanan arteri (Gach 2008). Meningkatnya SP mengakibatkan tahanan perifer total menurun sehingga tekanan darah menurun.
Menurut konsep teori adaptasi Roy, terdapat 3 stimulus yang dapat mempengaruhi sebuah proses adaptasi yaitu stimulus fokal, residual dan kontekstual (Alligood & Tomay 2008). Salah satu bentuk stimulus kontekstual merupakan intervensi secara nonfarmakologis. Laserpuncture care di dalam penelitian ini menjadi stimulus kontekstual sebagai input terjadinya proses
regulator di dalam subsistem adaptasi lansia. Subsistem regulator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan pada sistem syaraf, kimia tubuh, dan organ endokrin (Alligood & Tomay 2008). Stimulasi pada titik akupunktur mengaktivasi TRPV1 pada saraf sensoris menyebabkan pelepasan neuropeptida sensoris vasoaktif termasuk calcitonine gene related peptide yang mempengaruhi sekresi renin dan memediasi transmisi sensoris dan vasodilator (Abraham & Chen ML 2011; Schwarz & Gu 2012). Menurunnya produksi renin mengakibatkan gagalnya perubahan angiotensinogen menjadi angiotensin sehingga tidak terjadi vasokonstriksi pembuluh darah. Hal ini didukung dengan menurunnya aldosterone mengakibatkan tidak terjadi retensi Na (Abraham & Chen ML 2011).
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa laserpuncture care efektif menurunkan nilai sistolik dan diastolik pada responden melalui dua mekanisme. Mekanisme pertama adalah aktivasi substansi P yang berfungsi sebagai vasodilator pembuluh darah. Selanjutnya mekanisme yang kedua adalah aktivasi kanal ion TRPV1 yang menyebabkan penurunan sekresi renin, dan aldosteron. Penurunan aldosteron mengakibatkan penurunan retensi Na. Na memiliki sifat mengikat air sehingga volume pembuluh darah tidak meningkat . Stimulasi pada titik-titik akupuntur juga berpengaruh pada sekresi renin, dan aldosterone yang mengakibatkan perubahan tekanan darah pada lansia.
Meskipun pada hasil penelitian ini menunjukkan hasil uji yang bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, namun ada beberapa responden yang tidak mengalami perubahan tekanan darah bahkan mengalami peningkatan
tekanan darah. Banyak faktor yang menyebabkan hipertensi pada lanjut usia, misalnya faktor genetik, gaya hidup yang tidak sehat, stres dan perubahan- perubahan biologis karena proses menua (aging process). Faktor genetik mempunyai kontribusi terhadap variasi tekanan darah berkisar antara 30-45% (Depkes RI 2007). Faktor gaya hidup memiliki kontribusi terhadap vasiasi tekanan darah berkisar 50-60% (Strasser 2009), sedangkan faktor stres juga memiliki kontribusi terhadap variasi tekanan darah antara 30-40% (Sumiati 2010; Depkes RI 2007). Keadaan ini dihubungkan dengan berbagai macam faktor, misalnya berhubungan dengan sistem renin angiotensin dan ACE (angiotensin converting enzym). Sistem ini dapat membentuk angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor kuat dan mempengaruhi peningkatan sekresi aldosteron yang menyebabkan retensi natrium dan air yang menyebabkan tekanan darah meningkat. Pada responden penelitian ini tidak terkaji tentang riwayat hipertensi pada keluarga, gaya hidup, dan tingkat stres.