BAB VIII PUPUK DAN PEMUPUKAN
8.4 Efisiensi Pemupukan
Efisiensi pemupukan dapat dicapai bila memenuhi dasar pertim-bangan berikut: a) Jenis tanaman yang dipupuk, b) Jenis tanah, c)
Jenis pupuk, d) Dosis pupuk, e) Cara pemupukan, f) Waktu pemu-pukan. Pupuk yang diproduksi memegang peran penting dalam melestarikan dan meningkatkan produksi pertanian. Sehubungan dengan mahalnya harga pupuk, maka perlu pengelolaan pupuk yang efisien yang umumnya dikenal dengan lima tepat yaitu tepat jenis tanaman yang pupuk, jenis tanah, jenis pupuk, waktu pemupukan, dan cara pemberian pupuk.
a) Jenis Tanaman Yang Dipupuk
Jenis tanaman mempunyai hasil panen yang berbeda-beda seperti: tanaman padi, jagung, kedelai, kacang tanah yang dipa-nen adalah bijinya, tanaman ramu dan kenaf yang dipadipa-nen batangnya untuk diambil seratnya, tanaman pisang abaca yang dipanen pelepah daunnya yang mengandung serat, tanaman agave yang dipanen daunnya yang mengandung serat, tanaman karet yang dipanen getah kulitnya. Hal ini berarti bahwa setiap kali panen akan diangkut unsur hara dari dalam tanah, sehingga kehilangan unsur hara tersebut perlu diganti dengan jalan pemu-pukan. Mengetahui banyaknya unsur hara yang terangkut pada waktu panen sangat penting untuk program pemupukan karena secara kasar dapat memprediksi kebutuhan hara yang dibutuh-kan oleh tanaman. Pada Tabel 8.7 disajidibutuh-kan banyaknya unsur hara yang diangkut melalui panen.
Dari Tabel 8.7 terlihat unsur hara yang terangkut melalui penen sangat beragam, tergantung dari jenis tanaman dan bagian tanaman yang dipanen serta tingkat produksinya. Jumlah hara yang terangkut melalui panen tidak menggambarkan apa yang diperlukan oleh tanaman, tetapi sebagai prediksi beberapa jumlah hara yang harus tersedia dalam tanah. Tanaman yang dipanen berupa biji memerlukan hara makro N, P, dan K dengan urutan N > K > P dan antara P dan K hampir seimbang, sedangkan pada tanaman hortikultura antara N dan K seimbang. Dengan demikian mengetahui kandungan unsur hara dalam tanaman penting sekali sebagai acuan untuk menentukan dosis pupuk yang diperlukan oleh tanaman.
Tanam- Hasil an t/ha Bagian N P K S Padi 7,5 Gabah 100 18 20 8 Jerami 49 7 89 Total 149 25 109 10,0 Gabah 133 24 27 11 Jerami 64 9 119 Total 197 33 146 Jagung 7,5 Biji 120 21 18 12 Jerami 90 15 80 9 Total 210 36 108 21 10,0 Biji 161 27 39 16 Jerami 129 19 144 17 Total 290 46 183 33 Sorghum 6,25 Biji 100 8 19 7 Jerami 105 11 140 Total 205 19 159 10,0 Biji 158 13 31 11 Jerami 166 22 204 Total 324 35 235 Kedelai 2,5 Biji 200 17 56 10 Jerami 74 7 35 11 Total 274 24 91 21 Kapas 1,08 Biji+serat 67 15 28 Jerami 53 7 44 Total 120 22 72 Kapas 1,68 Biji+serat 40 7 14 Jerami 65 11 52 Total 105 28 66 Tomat 45,0 Buah 128 19 145 15 Batang 92 20 225 Total 220 39 370 Kobis 40,0 Daun 149 12 118 Kentang 20,0 Umbi 57 11 104 5 Batang 63 4 41 2 Total 120 15 145 7 Jeruk 50,0 Buah 65 10 90 Pisang 15,0 Buah 35 8 170 Anggur 20,0 Buah 32 11 45
Jarak pagar1,0 Biji 58 5 227
*) Sumber: Glendinning (1986)
Tabel 8.7 Banyaknya unsur hara utama yang di angkut melalui panen pada beberapa tanaman
b) Jenis Tanah
Dari jenis tanah yang terpenting yaitu bagaimana reaksi tanah-nya, termasuk tanah masam (pH rendah), netral atau alkalin (pH tinggi). Tanah yang sedikit masam dan alkalin dapat dipupuk dengan pupuk masam sedangkan tanah yang sedikit masam dan masam dapat di pupuk dengan pupuk netral dan basa. c) Jenis Pupuk
Unsur hara di dalam tanah mempunyai mobilitas yang beragam. Terdapat empat macam bentuk pupuk N yaitu: nitrat (amonium nitrat, natrium nitrat, kalium nitrat), amonium (amonium nitrat, amonium sulfat), amida (urea) dan organik (tepung tulang). Dari ke empat bentuk tersebut, nitrat paling cepat diserap oleh akar, mudah bergerak dengan bebas, tidak diikat oleh kompleks liat, sehingga mudah mengalami pencucian oleh air hujan. Pupuk nitrat paling banyak digunakan pada tanaman tembakau karena tanaman tembakau bila dipupuk yang mengandung klor seperti kalium klorida dapat menurunkan mutu daun dan menurunkan daya bakar rokok.
Fosfor di dalam tanah relatif tidak mobil, tidak bergerak jauh dari tempat penempatannya sehingga memerlukan cara tertentu agar dapat diserap oleh akar tanaman. Fosfor yang diberikan ke dalam tanah hanya sebagian yang diserap oleh akar, sebagian difiksasi menjadi bentuk tidak tersedia, meskipun dalam periode waktu tertentu dapat digunakan oleh tanaman dan sebagian membentuk suatu “bank” fosfor tersedia yang dapat digunakan oleh tanaman dalam musim berikutnya. “Bank” semacam ini disebut mempunyai nilai susul atau “residual
ef-fect” (pengaruh sisa atau pengaruh daya susul). Hal ini telah
dikemu-kakan oleh Sri Adiningsih (1998) bahwa dari sekitar 3,65 juta ha lahan sawah terdapat 1,45 juta ha berstatus P tanah tinggi, 1,66 juta ha berstatus P sedang dan 0,54 juta ha berstatus P rendah. Disimpulkan bahwa tanah berstatus P tinggi cukup di pupuk sekali selama 4 musim dengan dosis 59 Kg TSP/ ha, tanah berstatus P sedang dipupuk sekali
selama 2 musim dengan dosis 75 Kg /ha dan tanah berstatus P rendah dipupuk 125 Kg/ha setiap musim.
Unsur kalium dalam tanah berbentuk ion K+ yang mudah diikat oleh kompleks adsorpsi, sehingga mempunyai daya pergerakan antara unsur nitrogen dan fosfat yang menyebabkan unsur K tidak mudah tercuci serta tidak mudah diikat menjadi senyawa-senyawa tak tersedia bagi tanaman. Bila terdapat banyak ion kalium dalam tanah sering kali tanaman mengambil unsur ini melebihi dari kebutuhan yang normal dan disebut konsumsi mewah. Pupuk kalium nitrat (KNO3) sangat baik untuk tanaman tembakau karena dapat menyediakan N dan K, meng-ingat pupuk tersebut mengandung 13 % N dan 44 % K2O. Penggunaan pupuk nitrat mampu menekan serapan Cl–, sehingga kadar Cl daun tembakau rendah dan ini sangat cocok bagi tembakau. Penggunaan pupuk kalium tanpa bersamaan dengan pupuk amonium pada temba-kau dapat meningkatkan efisiensi serapan K+ karena tidak terjadi “bloking NH4+ “yang menekan serapan K+ (Soewardjiman, 1998).
d) Waktu Pemupukan
Tiap tanaman mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda se-hingga waktu pemberian pupuk perlu disesuaikan dengan ritme pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk yang terlalu awal, akan berakibat hilangnya pupuk oleh pencucian sebelum dapat diambil oleh tanaman.
Pupuk N umumnya diberikan sebagai pupuk awal atau pada wak-tu tanam dan wakwak-tu tertenwak-tu pada saat kebuwak-tuhan tanaman akan unsur ini terbesar, mengingat pupuk ini mudah tercuci. Pupuk fosfat yang yang tidak larut dalam air sebaiknya diberikan beberapa saat sebelum tanam, karena pupuk ini tersedianya lambat dalam tanah, sedangkan yang melarut dalam air dapat diberikan pada waktu tanam atau segera sesu-dahnya, sebab fosfat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan akar. Pupuk kalium dapat diberikan sebelum tanam atau waktu tanam. Pada tanaman tahunan pupuk diberikan pada awal dan akhir musim penghujan, karena pada musim penghujan tanaman tumbuh dengan cepat.
e) Cara Pemberian Pupuk
Cara pemberian atau penempatan pupuk beragam, tergantung dari berbagai faktor antara lain jenis tanaman, pupuk dan sifat tanah. Pada prinsipnya pupuk ditempatkan sedemikian rupa sehingga tanaman memperoleh hara tanaman semaksimal mungkin. Cara pemberian pupuk yang umum dilakukan yaitu: 1. Ditabur (broadcast)
Pupuk ditabur (disebar merata di permukaan tanah) kemu-dian dibenamkan dangkal atau agak dangkal. Biasanya digunakan pada pemupukan dengan pupuk kompos, kan-dang, pupuk yang mudah larut, pupuk fosfat yang larut dalam asam sitrat (basic slag, dikalsium fosfat, batuan fosfat, pupuk tepung tulang untuk tanah masam (moderat sampai sangat masam) dan juga pemberian kapur pada tanah masam. Pemupukan susulan pada padi juga disebarkan asalkan daun padi tidak basah, untuk menghindari kerusakan daun.
2. Top Dressing yaitu pupuk disebar setelah tanaman tumbuh
dan tidak dibenamkan.
3. Side dressing yaitu pupuk disebar sepanjang sisi tanaman
untuk menghindari kerusakan daun, biasanya bersamaan dengan penyiangan.
4. Pemupukan pada jalur-jalur sepanjang barisan tanaman atau jalur pembajakan sehingga pupuk berada dalam daerah perakaran atau melingkar sekeliling tanaman (band
place-ment).
5. Pemupukan setempat-setempat (drill placement) penem-patan tidak jauh dari biji atau tanaman, terutama bila dosis pupuk tidak banyak. Sebagai contoh yang umum pemupukan pada jagung dan tembakau. Pada jagung pupuk diberikan pada akar tugal dengan jarak 7 – 15 cm dari tanaman. 6. Pupuk cair dapat diberikan melalui penyemprotan ke daun,
langsung ke tanah dan melalui air irigasi.
Gambar 8.5a Pupuk disebar sebelum
ta-nam (broadcast)
Gambar 8.5c Pupuk ditempatkan pada alur
melingkar (brand placement)
Gambar 8.5b Pemupukan pada tanaman
kenaf (30x15cm) Pupuk di-tempatkan pada alur pupuk (brand placement) di antara dua baris tanaman
Gambar 8.5d Pupuk ditempatkan pada alur
pupuk (brand placement) menggunakan traktor
Gambar 8.5e Pupuk ditempatkan pada alur
pupuk (brand placement) menggunakan traktor
Gambar 8.5f Pemupukan pada tanaman
kenaf (30x15c m) Pupuk ditempatkan pada lubang puuk ( drill plac ement).x-tanaman kenaf; o-lubang pupuk
Gambar 8.5g Pemupukan pada tanaman
Pupuk yang diberikan ke tanah harus segera ditutup tanah agar tidak terjadi kehilangan unsur hara akibat penguapan atau ikut aliran air hujan.