• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksepsi

Dalam dokumen KEADVOKATAN PENDIDIKAN (Halaman 85-90)

Cara-Cara Membela Perkara

2. Eksepsi

Eksepsi atau tangkisan adalah alat pembelaan dengan tujuan utama untuk menghindarkan diadakannya putusan tentang pokok perkara, karena apabila tangkisan ini diterima oleh pengadilan, pokok perkara tidak perlu diperiksa dan diputus. Eksepsi menurut Luhut M.P.

Pangaribuan adalah untuk menjawab surat dakwaan dan berhu-bungan dengan apakah (1) pengadilan tidak berwenang mengadili perkara, (2) dakwaan tidak dapat diterima, dan (3) surat dakwaan harus dibatalkan.2

Eksepsi di mana pengadilan dinyatakan tidak berwenang dapat bersifat relatif dan absolut. Eksepsi relatif terjadi bilamana pengadilan tidak berwenang atau dua pengadilan atau lebih berwenang mengadili perkara yang sama atau tidak berwenang mengadilinya karena waktu dan tempat tidak pernah terjadi. Hal ini dapat dilihat Pasal 150 KUHAP dan Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP, yang berbunyi:

Pasal 150 KUHAP

Sengketa tentang wewenang mengadili terjadi:

a. jika dua pengadilan atau lebih menyatakan dirinya berwenang mengadili atas perkara yang sama;

b. jika dua pengadilan atau lebih menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili perkara yang sama.3

2 Luhut M.P. Pangaribuan, Hukum Acara Pidana Surat-Surat Resmi di Pengadilan oleh Advokat, Jakarta: Djambatan, 2002, hlm. 24.

3 M. Budiarto, K. Wantjik Saleh, op. cit., hlm. 89–90.

Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP

(2) penuntut umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi:

b. uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.4

Eksepsi absolut adalah bilamana perkara yang akan diajukan bukan wewenang pengadilan di mana perkara diajukan. Misalnya perkara perceraian bagi orang Islam diajukan ke pengadilan negeri, padahal perkara tersebut berada pada pengadilan agama.

Eksepsi berdasarkan dakwaan tidak dapat diterima terjadi karena ketentuan Pasal 143 ayat (2) KUHAP tidak dipenuhi. Syarat ini disebut dengan syarat formil dari surat dakwaan. Ditentukan, surat dakwaan harus diberi tanggal dan ditandatangani dengan berisi (a) nama lengkap, (b) tempat lahir, (c) umur atau tanggal lahir, (d) jenis kelamin, (e) kebangsaan, (f) tempat tinggal, (g) agama, dan (h) pekerjaan terdakwa.

Eksepsi berdasarkan alasan surat dakwaan harus dibatalkan, karena surat dakwaan itu tidak memenuhi syarat materiil, yakni menurut ketentuan Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP di atas.

Surat dakwaan yang tidak cermat terjadi karena perbuatan yang dirumuskan bukan merupakan tindak pidana, atau bukan perbuatan terdakwa, atau kasus tersebut baginya sudah diputus oleh hakim (ne bis in idem), atau juga kasusnya sudah kadaluarsa.

Perlu diketahui bahwa membuat eksepsi itu bervariasi, sehingga tidak mustahil akan terjadi perbedaan susunan kata-kata di dalam suatu eksepsi antara pengacara yang satu dengan pengacara yang lain, sekali pun perkaranya tidak jauh berbeda. Pengajuan eksepsi merupakan bagian dari proses beracara, apa yang ditangkis atau dibantah sebenarnya dimaksud sebagai bantahan pada segi formal surat dakwaan jaksa penuntut umum.

4 M. Budiarto, K. Wantjik Saleh, ibid., hlm. 86.

Adapun contoh penyusunan eksepsi secara sederhana dapat dilihat di bawah ini.

KEBERATAN (EKSEPSI)

Atas Surat Dakwaan dalam perkara Pidana Nomor……

Dalam perkara pidana atas nama terdakwa:

1. Nama lengkap : Soedirman

Tempat dan tanggal lahir : Sungai Penuh, 19 Agustus 1965

Umur : 41 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Kebangsaan : Indonesia

Agama : Islam

Pekerjaan : Tani

Pendidikan : SMP

Tempat tinggal/alamat : Jalan Depati Parbo Desa Karya Bakti Sungai Penuh.

2. Status : Ditahan sejak tanggal ...

3. Didakwa melanggar : Pasal 365 KUHP

4. Disidangkan di : Pengadilan Negeri Sungai Penuh 5. Dibacakan pada : Hari ... Tanggal ...

Bapak Majelis Hakim yang mulia,

Bapak Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati.

Setelah mempelajari dan mendengar secara saksama Surat Dak-waan Bapak Penuntut Umum, sesuai hukum acara, maka sekarang tibalah giliran kami Penasihat Hukum terdakwa, untuk menyam-paikan keberatan dan sanggahan (eksepsi) terhadap Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang telah dibacakan dalam persidangan pada tanggal ... 2005 yang lalu.

Selanjutnya ucapan terima kasih Kami sampaikan pula kepada Jaksa Penuntut Umum yang telah melaksanakan tugas dan kewajibannya serta kerja sama yang baik dalam rangka mencari dan menemukan kebenaran materiil sebagaimana dikehendaki Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Sebelum kami menanggapi Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum kiranya perlu kami sampaikan bahwa Surat Dakwaan merupakan dasar pemeriksaan perkara suatu pidana dalam sidang pengadilan. Oleh karena itu, Surat Dakwaan merupakan hal yang sangat penting dalam proses penuntutan perkara pidana, maka surat dakwaan haruslah dibuat sedemikian rupa dalam arti cermat, jelas dan lengkap yang didukung oleh fakta-fakta sebagaimana ditentukan oleh Pasal 143 ayat (2) KUHAP.

Di samping itu, pentingnya surat dakwaan bagi terdakwa adalah merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaannya, karena surat dakwaan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 143 ayat (2) KUHAP akan merugikan hak pembelaan diri terdakwa sebagai pencari keadilan. Begitu juga Jaksa Penuntut Umum bahwa surat dakwaan itu penting yakni sebagai dasar untuk proses pembuktian perbuatan terdakwa, di samping itu juga sebagai dasar untuk pembuatan surat dakwaan.

Selanjutnya Hakim dalam surat dakwaan itu juga penting sebagai dasar pemeriksaan di persidangan dan sekaligus merupakan ruang lingkup pemeriksaan, serta sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil putusannya kelak.

Secara konkret bahwa syarat sahnya surat dakwaan harus memenuhi syarat formil dan materiil sebagaimana ditentukan dalam Pasal 143 ayat (2) KUHAP, bahwa syarat formil, harus memuat identitas terdakwa yang berisi nama lengkap, tempat lahir/umur, tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan terdakwa. Syarat materiil, yaitu harus diuraikan secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebut waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.

Bahwa apabila syarat yang ditentukan dalam Pasal 143 ayat (2) KUHAP tidak terpenuhi, maka menurut ketentuan Pasal 143 ayat (3) KUHAP, dakwaan Jaksa Penuntut Umum batal demi hukum.

Bapak Majelis Hakim yang terhormat, Jaksa Penuntut Umum yang terhormat.

Setelah kami meneliti dan mempelajari surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum No ... tanggal ... dengan ini kami sampaikan bahwa terdapat hal-hal yang tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap sebagai berikut.

1. Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum diketik dengan huruf “u” Sudirman halaman 1, 2, dan 3 yang seharusnya diketik dengan “oe” Soedirman.

2. Pada halaman 4 tertulis…” Bahwa ucapan-ucapan terdakwa-terdakwa tersebut”, sedangkan yang sebenarnya hanya ada seorang terdakwa saja.

Apa yang dilakukan Jaksa Penuntut Umum dalam hal nama Soedirman yang salah ketik, ucapan-ucapan terdakwa-terdakwa termasuk klasifikasi uraian tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap yang menjadi alasan surat dakwaan batal demi hukum sebagaimana ditentukan dalam Pasal 143 ayat (3) KUHAP yang berbunyi sebagai berikut: “Surat dakwaan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b batal demi hukum”.

3. Bahwa dalam dakwaan terdapat kalimat-kalimat antara lain berbunyi:

a. ”atau pada waktu lain setidak-tidaknya dalam Maret 2005,"

b. ”atau setidak-tidaknya di tempat lain dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Sungai Penuh Kerinci”.

Dari kalimat-kalimat seperti di atas yang ada dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dapat ditarik kesimpulan bahwa Jaksa Penuntut Umum masih berpikir, baik waktunya masih ada kemungkinan tanggal lain selain tanggal 14 Maret 2005, maupun tempatnya yakni masih ada kemungkinan di tempat lain dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Sungai Penuh Kerinci selain di Jalan Depati Parbo.

Cara berpikir Jaksa Penuntut Umum seperti tersebut di atas dari soal waktu dan tempat kejadian tindak pidana terdapat sikap yang ragu-ragu, sikap yang tidak pasti, maka unsur waktu dan tempat seperti cara berpikirnya Jaksa Penuntut Umum dalam surat

dakwaan tersebut, termasuk tidak memenuhi syarat uraian cermat, jelas, dan lengkap. Oleh karena itu, dapat menjadi alasan Majelis Hakim untuk membatalkan demi hukum surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum tersebut.

4. Bahwa Jaksa Penuntut Umum dalam surat dakwaannya men-dakwa ...

Bapak Majelis Hakim yang Mulia, Jaksa Penuntut Umum yang terhormat.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas kami mohon kepada Majelis Hakim memeriksa dan mengadili perkara ini dan memutus sebagai berikut:

1. Menyatakan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara pidana atas nama terdakwa Soedirman tidak memenuhi ketentuan formil maupun materiil sebagaimana ditentukan dalam Pasal 143 ayat (2) KUHAP.

2. Menyatakan surat dakwaan tersebut kabur (obscuur libell), sehingga batal demi hukum.

3. Menolak surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara pidana atas nama Soedirman.

Sungai Penuh,………..200…

Hormat Kami

AN, S.H.

Dalam dokumen KEADVOKATAN PENDIDIKAN (Halaman 85-90)

Dokumen terkait