Eksistensi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai lembaga tinggi negara telah jauh berbeda dengan struktur
ketatanegaraan zaman Hindia Belanda. Di era reformasi yang diiringi dengan amandemen UUD 1945 BPK telah ditempatkan sebagai lembaga tinggi negara yang independen.
Masa reformasi telah membawa dampak yang besar terhadap perubahan struktur ketatanegaraan, yang salah satunya adalah adanya amandemen UUD 1945. Amandemen UUD 1945 memang menjadi tuntutan dari berbagai pihak mengingat selama era orde baru telah terjadi sakralisasi yang cukup kuat terhadap UUD 1945. Praktis, dengan adanya amandemen tersebut, perubahan terhadap pola hubungan antara lembaga-lembaga negara tertata lebih baik dari yang sebelumnya.
BPK merupakan salah satu lembaga negara yang juga mengalami perubahan. Bab VIIIA pasal 23E menyebutkan tentang eksistensi BPK yaitu untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri (ayat 1). Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), sesuai dengan kewenangannya (ayat 2).
Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai dengan undang-undang (ayat 3). Mengenai anggota dari BPK, pasal 23F menyebutkan anggota BPK dipilih oleh
31
DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh presiden. Untuk pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota.
BPK berkedudukan di ibu kota negara, dan memiliki perwakilan di setiap provinsi. (pasal 23G ayat 1).
Dari ketentuan yang diatur di dalam pasal 23E UUD 1945 menempatkan eksistensi BPK sebagai lembaga tinggi negara yang jauh berbeda dengan struktur ketatanegaraan zaman Hindia Belanda, dimana saat itu Algemene Rekenkamer mempunyai kewenangan yang luas terhadap pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan Hindia Belanda yang kedudukannya berada dibawah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sedangkan kedudukan dalam ketatanegaraan setelah merdeka BPK merupakan lembaga tinggi negara yang independen.
Independensi itu bisa diperhatikan dalam melaksanakan tugas pemeriksaannya. BPK menilai berdasarkan dua aspek yakni doelmatig yang artinya apakah penggunaan anggaran itu sudah mencapai manfaat yang dituju oleh anggaran itu dan aspek rechtmatig yang maknanya apakah penggunaan anggaran itu sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Lingkup pemeriksaan BPK atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara meliputi seluruh unsur keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 UU No. 17 tahun 2003
tentang Keuangan Negara. Adapun keuangan negara meliputi: hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang dan melakukan pinjaman; kewajiban negara untuk melakukan tugas layanan umum pemerintah negara dan membayar tagihan pihak ketiga penerimaan negara; pengeluaran negara; penerimaan daerah; pengeluaran daerah; kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola senderi atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan negara yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah; kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintah dan atau kepentingan umum; kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.
Sedangkan menurut pasal 3 ayat (2) UU No. 15/2004 dalam hal pemeriksaan dilaksanakan oleh akuntan publik berdasarkan ketentuan undang-undang, laporan hasil pemeriksaan tersebut wajib disampaikan kepada BPK dan dipublikasikan. Maksud dari ketentuan ini adalah kekayaan negara yang dikelola oleh yayasan milik negara dan perusahaan negara/daerah yang sudah tercatat di Pasar Modal, BPK tidak berwenang melakukan audit hanya saja hasil audit itu wajib disampaikan kepada BPK.
Adapun jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK
32
menurut UU No. 15/2004 pasal 4 (1) bahwa: pemeriksaan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 2 terdiri dari pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pemeriksaan keuangan, adalah pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemeriksaan keuangan ini dilakukan oleh BPK dalam rangka memberikan pernyataan opini tentang tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah, pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi, serta pemeriksaan atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen oleh aparat pengawasan intern pemerintah.
Pasal 23E UUD 1945 juga mengamanatkan BPK untuk melaksanakan pemeriksaan kinerja pengelolaan keuangan negara.
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengidentifikasikan hal-hal yang perlu menjadi perhatian lembaga perwakilan. Adapun untuk pemerintah, pemeriksaan kinerja dimaksudkan agar kegiatan yang dibiayai dengan keuangan negara/daerah diselenggarakan secara ekonomis dan efisien serta memenuhi sasarannya secara efektif, pemeriksaan dengan tujuan tertentu, adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan khusus, di luar pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja. Termasuk dalam pemeriksaan tujuan tertentu ini adalah pemeriksaan atas hal-hal lain yang berkaitan dengan
keuangan dan pemeriksaan investigatif.
Menurut penjelasan pasal 16 (1) No. 15 tahun 2004 terdapat 4 opini. Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (i) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, (ii) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), (iii) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan (iv) efektivitas sistem pengendalian intern. Terdapat 4 (empat) jenis opini yang dapat diberikan oleh pemeriksa, yakni (i) opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion), (ii) opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion), (iii) opini tidak wajar (adversed opinion), dan (iv) pernyataan menolak memberikan opini (disclaimer of opinion).
Dalam pasal 17 diatur bahwa laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah pusat disampaikan oleh BPK kepada DPR dan DPD selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah menerima laporan keuangan dari pemerintah pusat, laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah daerah disampaikan oleh BPK kepada DPRD selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah menerima laporan keuangan dari pemerintah daerah, laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) disampaikan pula kepada
33
Presiden/gubernur/bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya., laporan hasil pemeriksaan kinerja disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya, laporan hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya, laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) disampaikan pula kepada Presiden/gubernur/ bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Hasil pemeriksaan melibatkan berbagai pihak menurut ketentuan UU No. 15 tahun 2004 antara lain: pasal 14 tindak lanjut dilakukan oleh aparat penegak hukum jika ditemukan unsur pidana salah satunya dengan Jaksa Agung dengan Kesepakatan Bersama Ketua BPK dan Jaksa Agung nomor 62/S/I-III/2000, pasal 20 tindak lanjut melalui pejabat pemerintah terkait dengan pasal 60 dan 61 berupa ganti kerugian menurut UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
BAB III
ANALISIS HAK DAN TANGGUNGJAWAB AKUNTAN PUBLIK