• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIL

II.B.1. Pengertian Eksploitasi Seksual Komersil

ILO-IPEC (dalam Suyanto, 2010) menjabarkan bahwa eksploitasi seksual komersil adalah salah satu masalah kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius karena dampaknya sangat merugikan dan membahayakan kelangsungan serta masa depan remaja putri korban eksploitasi seksual komersil. Remaja putri yang dilacurkan bukan saja rentan terhadap hinaan, penipuan dan marginaliasi, tetapi juga banyak di antara mereka yang tidak dapat menikmati hak untuk memperoleh pendidikan yang layak, serta tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya untuk berkembang secara sehat.

Eksploitasi seksual komersil adalah penggunaan seseorang untuk tujuan-tujuan seksual guna mendapatkan uang, barang atau jasa kebaikan bagi pelaku eksploitasi, perantara atau agen dan orang-orang lain yang mendapatkan keuntungan dari eksploitasi seksual terhadap remaja yang menjadi korban (ECPAT, 2006).

Eksploitasi seksual komersil merupakan sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak yang beranjak dewasa. Pelanggaran tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap korban, atau orang ketiga, atau orang-orang lainnya. Remaja yang menjadi korban eksploitasi tersebut diperlakukan sebagai sebuah objek seksual dan sebagai objek komersial. Eksploitasi seksual komersial yang terjadi pada remaja putri merupakan sebuah bentuk pemaksaan dan kekerasan

terhadap remaja tersebut, dan mengarah pada bentuk-bentuk kerja paksa serta perbudakan modern (ECPAT, 2008). Melalui eksploitasi seksual yang menimpa remaja putri, remaja tersebut tidak hanya menjadi sebuah objek seks tetapi juga sebuah komunitas yang membuatnya berbeda dalam hal intervensi (ECPAT, 2006).

ECPAT Internasional (2008) membagi eksploitasi seksual komersil menjadi lima bentuk, yaitu :

1. Prostitusi, tindakan menawarkan pelayanan atau pelayanan langsung seorang remaja putri untuk melakukan tindakan seksual demi mendapatkan uang atau imbalan lain.

2. Pornografi, pertunjukan apapun atau dengan cara apa saja yang melibatkan remaja putri di dalam aktivitas seksual yang nyata atau yang menampilkan bagian tubuh remaja tersebut demi tujuan-tujuan seksual.

3. Perdagangan remaja putri untuk tujuan seksual, prose perekrutan, pemindah-tanganan atau penampungan dn penerimaan remaja putri untuk tujuan eksploitasi seksual.

4. Wisata seks, eksploitasi seksual komersil yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang lain, dan di tempat tersebut mereka berhubungan seks dengan para remaja putri.

5. Pernikahan dengan remaja berusia dibawah 18 tahun, memungkinkan remaja tersebut menjadi korban eksploitasi seksual komersil, sebab tujuan menikahi remaja tersebut untuk menjadikannya sebagai objek seks dan menghasilan uang atau imbalan lainnya (ECPAT, 2008)

Berdasarakan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa eksploitasi seksual komersil adalah sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak. Perbuatan itu terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa, pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak atau orang ketiga yang menjadikan anak sebagai objek seksual dan sebagai objek komersial.

II.B.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Eksploitasi Seksual Komersil

Saptari (dalam Suyanto, 2010) menyebutkan ada tiga faktor yang mempengaruhi remaja menjadi korban eksploitasi seksual komersil. Pertama, karena keadaan ekonomi atau kondisi kemiskinan yang dialami remaja korban eksploitasi seksual komersil. Kedua, karena pandangan tentang seksualitas yang cenderung menekankan arti penting keperawanan sehingga tidak memberi kesempatan bagi remaja yang sudah tidak perawan kecuali masuk kedalam peran yang diciptakan untuk mereka. Ketiga, karena sistem paksaan dan kekerasan. Selain karena faktor kemiskinan yang membelenggu, menurut Jones et al (dalam Suyanto, 2010) ada faktor lain yang seperti kurangnya perhatian dari orang tua, beberapa kepercayaan tradisional serta kehidupan urban yang konsumtif.

Ada banyak faktor yang memungkinkan terjadinya eksploitasi seksual komersil pada remaja. Walaupu karakteristik setiap daerah tidak persis sama, namun secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya eksploitasi seksual komersil terbagi atas faktor pendorong dan faktor penarik. ECPAT (2008) menjabarkan faktor-faktor tersebut, yaitu :

a. Faktor pendorong

1. Kondisi ekonomi khususnya kemiskinan di pedesaan yang diperberat oleh kebijakan pembangunan ekonomi dan penggerusan di sektor pertanian

2. Perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan pertumbuhan pusat-pusat industrian di perkotaan

3. Ketidaksetaraan gender dan praktek-praktek diskriminasi

4. Adanya tangung jawab anak yang sudah remaja untuk mendukung keluarga

5. Pergeseran dari perekonomian subsisten menjadi ekonomi berbasis pembayaran tunai

6. Peningkatan komsumerisme 7. Disintegrasi keluarga

8. Pertumbuhan jumlah anak gelandangan b. Faktor penarik

1. Jaringan kriminal yang mengorganisir industri seks dan merekrut remaja put ri sebagai korban eksploitasi seksual

2. Pernikahan yang diatur dimana pengantin yang masih remaja terkadang akan dijual ke rumah bordil setelah menikah

3. Permintaan dari pekerja migran

4. Promosi internasionl mengenai industri seks remaja putri melalui teknologi informasi.

Faktor lainnya yang mempengaruhi remaja terjerumus menjadi korban eksploitasi seksual komersil adalah gaya berpacaran remaja yang tidak sehat, berpacaran di luar batas hingga tidak perawan lagi atau dikecewakan pacar. Sementra faktor lainnya adalah gaya hidup konsumerisme, yakni ingin mengikuti gaya hidup mewah seperti punya telepon genggam (handphone) bagus, baju bagus, dan sebagainya. Yang terakhir adalah pengaruh dari teman bergaul serta pengaruh budaya dibeberapa daerah di Indonesia (ECPAT, 2008).

Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya eksploitasi seksual komersil pada remaja putri adalah disebabkan faktor ekonomi, faktor pergaulan bebas serta budaya.

II.B.3. Dampak Eksploitasi Seksual Komersil

Di berbagai komunitas, disadari bahwa eksploitasi seksual komersil adalah sebuah masalah yang sulit untuk dihilangkan begitu saja, paling tidak ada akibat yang kemungkinan besar akan menimpa remaja-remaja korban eksploitasi seksual komersil jika dibiarkan larut dalam kondisi dan pekerjaan tersebut yang sesungguhnya tidak pernah mereka sadari resiko dan bahayanya (Suyanto, 2010). Eksploitasi seksual komersil dalam bentuk apapun sangat membahayakan hak-hak seseorang untuk menikmati masa remaja mereka dan kemampuan mereka untuk hidup produktif (ECPAT, 2006). Tindakan tersebut dapat mengakibatkan dampak-dampak yang serius, seumur hidup, bahkan mengancam jiwa korban eksploitasi seksual tersebut sehubungan dengan perkembang fisik, psikologis, spiritual, emosional, dan sosial serta kesejahteraan remaja korban eksploitasi seksual.

Suyanto (2010) mengungkapkan beberapa dampak eksploitasi seksual komersil pada remaja yaitu, karena remaja-remaja korban eksploitasi seksual komersil itu masih berusia belia dan belum memiliki akses yang cukup terhadap informasi-informasi tentang “reproduksi sehat”, maka sesungguhnya mereka belum menggalami kematangan organ reproduksi. Mereka belum mengetahui resiko dari hubungan seksual yang dilakukan secara bebas, sehingga kehamilan dini dan penularan penyakit menular seksual (PMS) dengan seluruh implikasinya dengan mudah akan menimpa remaja putri yang menjadi korban eksploitasi seksual komersi. Tidak mustahil, remaja putri yang menjadi korban eksploitasi seksual komersil akan mengandung seorang bayi yang tidak pernah dikehendaki, dan kemuadian memilih untuk melakukan aborsi secara illegal dan jauh dari syarat-syarat medis, sehingga bukan tidak mungkin akan mengancam nyawa mereka sendiri.

Selanjutnya, remaja yang menjadi korban eksploitasi seksual komersil dan terjerumus ke dalam dunia prostitusi, sering kali harus menanggung beban psikologis yang berat berupa stigma dari masyarakat atas pekerjaan yang mereka tekuni karena dinilai terkutuk, memalukan, tidak bermoral. Seorang remaja korban eksploitasi seksual, sekalipun mungkin suatu saat mereka menyadari resiko pekerjaannya atau berkat keajaiban berhasil melarikan diri dari cengkraman “germonya”, tidak mustahil suatu saat akan kembali sendiri ke bisnis syahwat ini karena masyarakat sekitarnya cenderung menolak dan menjaga jarak dengan mereka. Seorang remaja korban eksploitasi seksual komersil yang bermaksud akan memasuki kehidupan masyarakat biasanya cenderung memang dilecehkan,

dan bahkan diisolasi karena khawatir dapat menyebarkan pengaruh buruk bagi remaja-remaja putri lain disekitarnya. Dan yang terakhir, dalam berbagai kasus remaja korban eksploitasi seksual komersil, tak jarang harus mengalami berbagai tindak kekerasan seksual; mulai dari rayuan terselubung, penyekapan, penganiayaan, dan berbagai bentuk tindak kekerasan lainnya.

Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa dampak eksploitasi seksual komersil adalah remaja yang menjadi korbannya tidak hanya mengalami dampak psikologis, namun korban eksploitasi rentan mengalami kehamilan dan penyakit menular seksual, serta rentan mengalami kekerasan seksual.

Dokumen terkait