• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Ekstrak Benalu Teh (Scurulla atropurpurea [BL] Dans.)

Tanaman benalu teh yang digunakan telah dilakukan determinasi di B2P2TO2T Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah (Lampiran 1). Determinasi benalu teh bertujuan untuk memastikan kebenaran tanaman yang digunakan dalam penelitian.

Ekstrak kental benalu teh dibuat secara infundasi dan sari yang diperoleh dipekatkan sampai terbentuk ekstrak kental. Berdasarkan hasil pembuatan ekstrak tersebut diperoleh rendemen 12,54% (Tabel 4).

Tabel 4. Rendemen Hasil Pembuatan Ekstrak Kental Benalu Teh

Berat simplisia (gram) Berat ekstrak kental (gram)

Rendemen (%)

1500 188,1 12,54 Ekstrak kental yang dihasilkan dilakukan pemeriksaan ekstrak, meliputi:

1. Pemeriksaan Organoleptis

Ekstrak kental benalu teh yang dihasilkan berbentuk kental, berwarna coklat kehitaman, berasa pahit, dan berbau khas aromatik.

2. Uji Daya Lekat

Uji daya lekat dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar konsistensi suatu ekstrak. Ekstrak kental benalu teh memiliki waktu lekat yang singkat sehingga

daya lekatnya juga relatif kecil. Ekstrak benalu teh mempunyai waktu lekat rata-rata 4,7±0,4 detik (lampiran 5).

3. Uji susut pengeringan ekstrak kental

Hasil pemeriksaan susut pengeringan ekstrak kental benalu teh diperoleh nilai rata-rata sebesar 27,46±1,32 % (lampiran 5). Hasil pemeriksaan sudah memenuhi persyaratan yaitu susut pengeringan tidak lebih dari 30% (Voigt, 1984). Ekstrak yang memiliki kadar air yang tinggi akan mudah ditumbuhi bakteri dan jamur sehingga mengakibatkan kerusakan sediaan tersebut.

Ekstrak kental yang dihasilkan kemudian dibuat ekstrak kering dengan cara dikeringkan dengan aerosil. Ekstrak kental sebanyak 1 gram menghasilkan 1,449 gram ekstrak kering.

B. Hasil Pemeriksaan Sifat Alir Granul

Pemeriksaan sifat fisik granul meliputi waktu alir, sudut diam dan pengetapan yang bertujuan untuk mengetahui apakah granul yang diperoleh memenuhi persyaratan sehingga akan menghasilkan tablet yang baik. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap granul yang sudah dikeringkan.

1. Waktu alir granul

Gambar 1. Histogram nilai rata-rata waktu alir granul

Berdasarkan histogram diatas menunjukkan bahwa waktu alir yang diperoleh memenuhi persyaratan yaitu kurang dari 10 detik ( gambar 1 ).

Berdasarkan pada uji Kolmogorov-Smirnov dapat diketahui bahwa data waktu alir granul untuk tablet kunyah benalu teh merupakan data yang terdistribusi normal. Dari uji statistik ANAVA diperoleh hasil signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti ada perbedaan bermakna pada kelima formula. Dilanjutkan dengan uji t didapatkan hasil signifikansi (0,000-0,001) < 0,005 yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara formula I-II, I-III, I-IV, I-V, II-III, II-IV, II-V, III-IV, III-V, IV-V (Lampiran 6). Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi bahan pengisi yaitu konsentrasi sorbitol-laktosa berpengaruh terhadap kecepatan alir untuk masing-masing antar formula. Mudah tidaknya granul mengalir dipengaruhi antara lain bentuk, ukuran, keadaan permukaan, kerapatan dan kelembaban granul. Kandungan lembab granul dari formula I (2,72%±0,3), formula II (2,21%±0,08), formula III (2,0%±0,09), formula IV (1,8%±0,05), formula V (1,28%±0,08). Kandungan lembab granul

menurun dari FI sampai FV berbanding terbalik dengan meningkatnya kecepatan waktu alir (lampiran 6). Semakin tinggi kandungan lembab granul (MC), ikatan antar partikel akan lebih kuat karena luas kontak antar permukaan serbuk naik. Apabila gaya tarik antar partikel serbuk semakin kuat, maka serbuk akan semakin sukar mengalir dan waktu alir yang dihasilkan juga semakin lama.

Kandungan lembab semakin menurun sejalan dengan menurunnya konsentrasi sorbitol sebagai bahan pengisi sehingga waktu alir yang dibutuhkan semakin lama. Hal ini disebabkan karena semakin bertambahnya konsentrasi sorbitol yang bersifat higroskopis (Anonim, 1995) akan menyebabkan granul mudah menyerap uap air di udara yang akan menaikkan harga kandungan lembab granul sehingga waktu alirnya pun semakin lama.

2. Sudut diam granul

Berdasarkan histogram di atas menunjukkan bahwa semua formula memenuhi persyaratan sudut diam yaitu tidak melebihi 40º sehingga granul mudah mengalir dan memberikan kemudahan pada saat penabletan (Gambar 2).

Berdasarkan pada uji Kolmogorov-Smirnov dapat diketahui bahwa data sudut diam granul merupakan data yang terdistribusi normal sehingga dilanjutkan uji statistik ANAVA satu jalan dengan tingkat kepercayaan 95% dan diperoleh nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna pada kelima formula. Selanjutnya dilakukan uji t (Scheffe) dan diperoleh nilai signifikansi antara 0,000-0,006 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara formula I-II, I-III, I-IV, I-V, II-III, II-IV, II-V, III-IV, III-V, IV-V (Lampiran 6). Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi bahan pengisi yaitu konsentrasi sorbitol-laktosa berpengaruh terhadap sudut diam granul untuk masing-masing antar formula.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa konsentrasi sorbitol semakin menurun menyebabkan semakin kecilnya sudut diam granul. Sudut diam dipengaruhi oleh banyaknya granul, ukuran granul, kelembaban granul, besar kecilnya gaya tarik dan gaya gesek antar partikel (Wadke dan Jacobson, 1980). Semakin kecil gaya tarik maka sudut diamnya akan kecil pula dan menyebabkan campuran serbuk atau granul lebih cepat mengalir sehingga terdapat korelasi antara waktu alir dengan sudut diam granul. Semakin cepat waktu alirnya akan semakin kecil pula sudut diamnya. Sifat sorbitol yang higroskopis menyebabkan massa yang basah sehingga kandungan lembabnya semakin tinggi. Kondisi tersebut akan mengurangi kelicinan granul

sehingga ikatan antar partikel semakin kuat dan berakibat granul sukar mengalir dan sudut diamnya semakin tinggi.

3. Pengetapan granul

Gambar 3. Histogram Nilai Pengetapan (%)

Hasil pengetapan ini menunjukkan bahwa semua formula memenuhi persyaratan indeks pengetapan yaitu kurang dari 20% (Gambar 3).

Berdasarkan pada uji Kolmogorov-Smirnov dapat diketahui bahwa data nilai pengetapan merupakan data yang terdistribusi normal sehingga dilanjutkan uji statistik ANAVA satu jalan dengan tingkat kepercayaan 95% dan diperoleh nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna pada kelima formula. Selanjutnya dilakukan uji t (Scheffe) dan diperoleh nilai signifikansi antara 0,000-0,003 < 0,05 antara formula I-II, I-III, I-IV, I-V, II-III, II-IV, II-V, III-V, IV-V yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antar formula tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa variasi konsentrasi bahan pengisi yaitu konsentrasi sorbitol-laktosa berpengaruh terhadap nilai pengetapan granul untuk masing-masing antar formula tersebut. Selain nilai signifikansi di atas juga diperoleh nilai signifikansi

0,670 > 0,05 antara formula III-IV yang berarti bahwa perbedaan konsentrasi bahan pengisi antara formula III dengan formula IV tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai pengetapan granul (Lampiran 6).

Nilai pengetapan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bentuk, kerapatan, dan distribusi ukuran partikel. Bentuk partikel yang sferis biasanya akan lebih mudah menata diri dan memampat lebih rapat. Kenaikan konsentrasi sorbitol menyebabkan massa granul yang lebih lembab sehingga menghasilkan ukuran granul yang lebih seragam. Kondisi ini menyebabkan kemungkinan terbentuknya celah lebih banyak, pemampatan granul semakin sedikit sehingga penurunan volume juga semakin sedikit.

Dokumen terkait