• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekualisasi

Dalam dokumen SKRIPSI INDRA WAHYUDI (Halaman 55-0)

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

E. Defenisi Operasional

4. Ekualisasi

1. Perhitungan adalah penjumlahan nilai pajak terhutang perusahaan yang harus dibayarkan.

2. Pembayaran atau penyetoran pajak dengan menggunakan formulir ke kas negara memalui tempat pembayaran yang telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

3. Pelaporan adalah penyampaian ke kantor pajak mengenai jumlah setoran pajak yang telah dibayarkan oleh pihak perusahan.

4. Ekualisasi Pajak adalah pemeriksaan tingkat keseimbangan antara satu jenis pajak dengan jenis pajak lain yang memiliki hubungan.

5. Tax Bases adalah nilai uang yang dijadikan dasar perhitungan pajak terhutang dengan mengalikan tarif pajaknya.

E. Metode Analisis

Untuk membahas masalah yang dikemukakan diatas, maka metode analisis yang digunakan penulis adalah Deskriptif kuantitatif terdiri dari data berupa angka-angka yang diperoleh dari jumlah asset dan kewajiban pajak tangguhan, beban dan kewajiban pajak tangguhan yang disajikan dalam laporan keuangan.

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah PT Bank Sulselbar

Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan didirikan di Makassar pada tanggal 13 Januari 1961 dengan nama PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara sesuai dengan Akta Notaris Raden Kadiman di Jakarta No. 95 tanggal 23 Januari 1961. Kemudian berdasarkan Akta Notaris Raden Kadiman No. 67 tanggal 13 Juli 1961 nama PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara diubah menjadi Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara.

Berdasarkan Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.

002 tahun 1964 tanggal 12 Februari 1964, nama Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara diubah menjadi Bank Pembangunan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara dengan modal dasar Rp250.000.000. Dengan pemisahan antara Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan Propinsi Tingkat I Sulawesi Tenggara, maka pada akhirnya Bank berganti nama menjadi Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan.

Dengan lahirnya Peraturan Daerah No. 01 tahun 1993 dan penetapan modal dasar menjadi Rp25 milyar, Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dengan sebutan Bank BPD Sulsel dan berstatus Perusahaan Daerah (PD).

Selanjutnya dalam rangka perubahan status dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) diatur dalam Peraturan Daerah No. 13 tahun 2003 tentang Perubahan Status Bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dari PD menjadi PT dengan Modal Dasar Rp. 650 milyar.

Akta Pendirian PT telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI berdasarkan Surat Keputusan No. C-31541.HT.01.01 tanggal 29 Desember 2004 tentang Pengesahan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan disingkat Bank Sulsel, dan telah diumumkan pada Berita Negara Republik Indonesia No. 13 tanggal 15 Februari 2005, Tambahan No. 1655/2005.

Pada tanggal 10 Februari 2011, telah dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) yang dilakukan secara circular resolution dan Keputusan RUPS LB tersebut telah disetujui secara bulat oleh para pemegang saham. Keputusan RUPS LB tersebut telah dibuatkan aktanya oleh Notaris Rakhmawati Laica Marzuki, SH dengan Akta Pernyataan Tentang Keputusan Para Pemegang Saham sebagai Pengganti Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan Terbatas PT. Bank Sulsel, Nomor 16 Tanggal 10 Februari 2011. Dimana dalam Akta tersebut para pemegang saham memutuskan untuk merubah nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan disingkat PT. Bank Sulsel menjadi PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat disingkat PT. Bank Sulselbar.

Perubahan ini telah memperoleh persetujuan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan nomor AHU-11765.AH.01.02. Tahun 2011 Tentang Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan. Disamping itu, perubahan nama ini juga telah memperoleh Persetujuan Bank Indonesia berdasarkan kepada Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor:

13/32/KEP. GBI/2011 Tentang Perubahan Penggunaan Izin Usaha Atas nama PT.

Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Disingkat PT. Bank Sulsel Menjadi Izin Usaha Atas Nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Disingkat PT. Bank Sulselbar.

B. Visi dan Misi PT. Bank Sulselbar

Visi : Menjadi Bank Kebanggaan dan Pilihan Utama Membangun Kawasan Indonesia Timur.

Misi : 1. Memberikan Pelayanan Prima yang berkualitas dan terpercaya.

2. Mitra Strategis PEMDA dalam menggerakkan sector rill.

3. Memberika nilai tambah optimum bagi stakeholder.

C. Sturktur Organisasi dan Pembagian Tugas

Setelah diuraikan sejarah singkat berdirinya Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Selatan, maka untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, mutlak diperlukan adanya suatu struktur organisasi. Struktur organisasi merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam suatu organisasi atau perusahaan, karena struktur organisasi menggambarkan fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi perusahaan tersebut serta menjelaskan mengenai tugas dan tanggung jawab, suatu fungsi dengan fungsi lainnya sehingga sasaran perusahaan dapat dicapai secara efisien dan efektif.

Sebagaimana lazimnya dalam sebuah organisasi, yang di dalamnya terdapat berbagai macam aktivitas yang memerlukan adanya koordinasi yang mantap untuk

mencapai tujuan, maka diperlukan adanya pembagian atau pengorganisasian kerja yang baik, demikian pula halnya dalam perusahaan ini, bahwa untuk mencapai tujuan jangka pendek sangat diperlukan adanya struktur organisasi. Struktur organisasi Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Selatan didasarkan kepada Surat Keputusan Direksi No. 041/KPTS/DIR-BPDSS/1997. Dengan pengalihan operasional kantor pusat ke Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Selatan cabang utama Makassar, maka ruang lingkup struktur organisasi tersebut lebih diperjelas dengan Surat Keputusan Direksi No. 045/KPTS/DIR-BPDSS/1990 tanggal 18 September 1990 dan kaitannya dengan perubahan kelengkapan lebih lanjut dengan Surat Keputusan Direksi No.

060/KPTS/DIR-BPDSS/1990 tanggal 25 Oktober 1990.

1. Susunan Organisasi

a. Organisasi Bank disusun berdasarkan fungsi, tugas dan kebutuhan Bank dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas di semua bidang.

b. Dalam melakukan fungsi organisasi sebagaimana dimaksud ayat 1 pasal ini, maka tata kerja yang merupakan rincian tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing unit kerja akan diatur lebih lanjut dalam suatu Surat Keputusan Direksi yang disesuaikan dengan Kebutuhan Bank.

RUPS Dewan

Komisaris KOMITE

Direktur Utama

Direktur Umum Direktur Pemasaran Direktur Kepatuhan

Bag. Akun. & PelaporanBag. Kredit Khusus Bag. Kredit ProgramBag. Kredit UMKMBag. Modal & JasaBag. Pasar Uang Bag. Dana

SYARIAH

c. Susunan Organisasi Bank yang terdiri dari Kantor Pusat dan Kantor-Kantor cabang di bawahnya (terlampir) adalah sebagai berikut :

1) Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 2) Dewan Pengawas

3) Direksi

4) Divisi Administrasi Keuangan dan Pengolahan Data Elektronik (PDE) 5) Divisi Sekretariat dan Umum

6) Divisi Sumber Daya Manusia 7) Divisi Treasuri

8) Divisi Kredit

9) Divisi Perencanaan, Pengembangan dan Kepatuhan 10) Satuan Kerja Audit Intern (SKAI)

11) Kelompok Jabatan Fungsional 12) Pembina Provinsi

13) Penasehat Ahli

14) Kantor-kantor di bawah Kantor Pusat Bank 15) Pembina Kabupaten/Kota

16) Satuan-satuan Struktural

d. Tugas dan fungsi dari masing-masing Susunan Organisasi dapat dilihat pada pasal 5 sampai dengan pasal 20 dalam Surat Keputusan ini.

2. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas, divisi/SKAI serta kantor cabang dibantu oleh satuan-satuan struktural dan/atau fungsional yang disesuaikan dengan kebutuhan dan bertanggung jawab kepada masing-masing Pemimpin Divisi/SKAI dan Pemimpin Cabang.

3. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

a. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah pemegang kekuasaan tertinggi pada Organisasi Bank.

b. Untuk merumuskan Kebijakan umum, menjalankan pengawasan, pengendalian dan pembinaan Bank dibentuk Dewan Pengawas yang bertanggung jawab kepada pemegang saham.

c. Direksi Bank mempunyai tugas melaksanakan tugas pokok dan fungsi Bank yang bertanggung jawab kepada para pemegang saham melalui Dewan Pengawas.

d. Dewan Pengawas dan Direksi Bank diangkat dan dipilih oleh RUPS.

4. Dewan Pengawas

a. Dewan Pengawas terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang anggota dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang anggota, dimana salah seorang diantaranya ditunjuk sebagai ketua.

b. Dewan Pengawas mempunyai tugas menetapkan Kebijakan Umum Bank dan melakukan Pengawasan, Pengendalian dan Pembinaan terhadap Bank.

5. Direksi

1) Direksi terdiri dari 4 (empat) orang Direktur utama, Direktur Umum, Direktur Pemasaran, dan Direktur Kepatuhan.

2) Direktur Utama mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas antara anggota Direksi dan melakukan pembinaan serta

3) Direktur lainnya mempunyai tugas melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap Divisi/Cabang.

6. Divisi SKAI

a. Divisi dan SKAI merupakan unsur pembantu utama Direksi yang jumlah, nama serta tugas-tugasnya disesuaikan dengan kebutuhan yang ditetapkan oleh intern Bank.

b. Kedudukan antara Divisi-divisi dan SKAI adalah sama dan setingkat.

7. Divisi Administrasi Keuangan dan Pengolahan Data Elektronika (PDE)

Divisi Administrasi Keuangan dan Pengolahan Data Elektronika (PDE) mempunyai tugas pokok merencanakan dan merumuskan Kebijakan Umum Direksi dalam bidang Administrasi Keuangan dan PDE.

8. Divisi Sekretariat dan Umum

Divisi Sekretariat dan Umum mempunyai tugas pokok merencanakan dan merumuskan Kebijakan Umum Direksi dalam bidang Kesekretariatan, Kearsipan, Bidang Hubungan Masyarakat, Hukum, Bidang Logistik, dan Kerumahtanggaan.

9. Divisi Sumber Daya Manusia

Divisi Sumber Daya Manusia mempunyai tugas pokok merencanakan dan merumuskan Kebijakan Umum Direksi dalam bidang Sumber Daya Manusia termasuk administrasi personalia serta pengembangan sumber daya manusia.

10. Divisi Treasuri

dalam negeri maupun hubungan luar negeri.

11. Divisi Kredit

Divisi Kredit mempunyai tugas pokok merencanakan dan merumuskan Kebijakan Umum Direksi bidang perkreditan termasuk pengendalian dan penyelamatan kredit.

12. Divisi Perencanaan, Pengembangan dan Kepatuhan

Divisi Perencanaan, Pengembangan dan Kepatuhan mempunyai tugas pokok merencanakan dan merumuskan Kebijakan Umum Direksi dalam bidang Perencanaan dan Pengembangan serta menetapkan langkah-langkah yang diperlukan guna memastikan kepatuhan Bank terhadap Peraturan Bank Indonesia peraturan perundang-undangan lain yang berlaku dan perjanjian serta komitmen dengan Bank Indonesia.

13. Satuan Kerja Audit Intern (SKAI)

Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) mempunyai tugas pokok membantu Direktur Utama dan Dewan Pengawas dalam melakukan pengawasan dengan cara menjabarkan secara operasional, baik perencanaan, pelaksanaan maupun pemantauan atas hasil audit serta mengidentifikasi segala kemungkinan memperbaiki dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan dana.

14. Kelompok Jabatan Fungsional

a. Kelompok Jabatan Fungsional adalah satuan fungsional dan merupakan gabungan dari beberapa Kelompok Kerja yang masing-masing memiliki keahlian di bidang tertentu yang penempatannya dalam divisi/SKAI ditetapkan oleh Direksi.

kepada Pemimpin Divisi / SKAI dimana anggota Kelompok Kerja tersebut ditempatkan.

15. Pembina Provinsi dan Pembina Kabupaten/Kota

a. Pembina Provinsi dan Pembina Kabupaten/Kota masing-masing terdiri dari sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang disesuaikan dengan kebutuhan.

b. Tugas Pembina Provinsi adalah memberikan pembinaan terhadap Dewan Pengawas dan Direksi, sedangkan tugas Pembina Kabupaten/Kota adalah memberikan pembinaan kepada cabang yang berada dalam wilayahnya.

16. Penasehat Ahli

Penasehat Ahli mempunyai tugas pokok memberikan nasihat kepada Dewan Pengawas dan Direksi dalam melaksanakan tugas-tugasnya, serta wajib memberikan pandangan, saran dan atau pertimbangan dalam bidang hukum, ekonomi dan sosial lainnya jika dibutuhkan oleh bank.

17. Kantor-kantor Di bawah Kantor Pusat Bank

Kantor-kantor di bawah Kantor Pusat Bank terdiri dari Kantor Cabang Utama, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas dan atau Unit/Jaringan Pelayanan lainnya dengan jumlah, nama serta tugas-tugasnya sesuai dengan hierarki yang ditetapkan oleh Direksi.

18. Satuan-Satuan Struktural

supervisi masing-masing Divisi/SKAI dan Kantor Cabang.

D. Strategi dan Kebijakan Manajemen

Berdasarkan visi dan misinya maka strategi dan kebijakan pengembangan usaha yang diterapkan oleh manajemen :

1. Bidang Operasional

a. Memberikan kredit kepada pengusaha kecil dan menengah secara selektif dengan tetap mengacu pada prinsip prudential banking.

b. Meningkatkan dana masyarakat seoptimal mungkin dan meningkatkan proporsi dana masyarakat dalam portofolio dana melalui upaya pemasaran yang lebih aktif, pembinaan hubungan baik dengan nasabah, kegiatan promosi yang efektif, peningkatan mutu layanan serta diversifikasi produk jasa bank.

c. Meningkatkan kinerja keuangan dengan mempertahankan rasio-rasio keuangan yang sehat.

d. Mengupayakan tingkat perolehan laba yang wajar dan berkesinambungan.

2. Bidang Manajemen dan Organisasi

a. Menerapkan Good Corporate Governance dan kebijakan pengendalian risiko dalam pengolahan usaha.

c. Menyempurnakan sistem dan prosedur guna meningkatkan internal kontrol.

d. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan yang intensif baik pelatihan secara teknis perbankan maupun manajerial.

3. Bidang Penunjang

a. Mengembangkan teknologi sistem informasi yang mengarah pada terintegrasinya sistem administrasi keuangan di seluruh jaringan kantor dan melakukan review.

b. Mengembangkan jaringan kantor dan ATM untuk lebih mendekatkan layanan perbankan kepada masyarakat.

4. Kebijakan Manajemen

a. Menyalurkan dana dalam bentuk kredit maupun penempatan dengan memerhatikan prinsip kehati-hatian.

b. Mengupayakan pertumbuhan yang wajar dan berkesinambungan dengan cara melakukan penghematan biaya, pengembangan jaringan kantor serta penerapan kepatuhan terhadap prinsip kehati-hatian.

c. Meningkatkan pelaksanaan melekat di seluruh unit kerja.

d. Mendukung program pemerintah Daerah dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat dengan mengarahkan kredit kepada sektor usaha kecil/menengah, baik yang bergerak pada bidang pertanian, perdagangan dan jasa-jasa.

e. Memperluas pangsa pasar khususnya perbankan Sulawesi Selatan secara bertahap dengan meningkatkan kualitas pelayanan.

5. Target Pasar

a. Penyaluran Dana

berpegang pada prinsip kehati-hatian. Dalam rangka mendukung program Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi rakyat, maka penyaluran kredit diarahkan kepada pengembangan sektor usaha kecil/menengah, baik yang bergerak dan tidak bergerak, utamanya yang padat karya. Sedangkan untuk dana-dana yang belum disalurkan dalam bentuk kredit maka akan diarahkan dalam bentuk penempatan antar bank untuk mengoptimalkan pendapatan dengan memerhatikan faktor likuiditas, rentabilitas dan risiko.

b. Penghimpun Dana

Dalam upaya penghimpunan dana, PT. Bank SulSel senantiasa meningkatkan kerjasama dengan pihak-pihak lain baik mitra usaha di dalam lingkungan Pemda SulSel maupun masyarakat lainnya.

Diharapkan dengan adanya kerjasama yang dijalin antara Bank dengan pihak-pihak tersebut dapat lebih menggali potensi sumber dana dan target pertumbuhan dana bank dapat tercapai. Mobilitas dana juga dilakukan melakukan diversifikasi produk dan peningkatan kualitas pelayanan.

6. Produk dan Jasa Bank

Dalam menjalankan visi dan misinya, PT. Bank SulSel melakukan aktivitas penghimpunan dan penggunaan dana sebagai berikut :

a. Penghimpun dana yang berasal dari simpanan masyarakat dan Pemda berupa:

1) Giro

a) Simpeda (Simpanan Pembangunan Daerah) b) Tapemda (Tabungan Pembangunan Daerah) c) Tabungan Haji PT. Bank SulSel

b. Penggunaan dana disalurkan dalam bentuk kredit kepada masyarakat dengan berbagai jenis dan sektor ekonomi yang terdiri dari :

1) Kredit Umum

a) KIB (Kredit Investasi Biasa) b) KMK (Kredit Modal Kerja) c) KUM (Kredit Usaha Mandiri) d) KUL (Kredit Umum Lainnya)

2) Kredit Program

a) KKPA (Kredit Kepada Koperasi Primer untuk Anggaran) b) KUK – DAS (Kredit untuk Konservasi Daerah Aliran Sungai)

c) KPRS/KPRSS (Kredit Pemilikan Rumah Sederhana/Rumah Sangat Sederhana)

d) KPKM (Kredit Pengusaha Kecil dan Mikro) e) Kkop (Kredit Kepada Koperasi)

f) Kredit Pundi

g) Kredit Dana Bergulir

c. Jasa-jasa bank disamping aktivitas penghimpun dan penggunaan dana. PT. Bank SulSel juga memberikan jasa-jasa perbankan lainnya antara lain:

1) Kiriman uang 2) Inkasso

5) Bank Penerimaan setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPS-BPH) 6) Money Changer

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Laporan Keuangan Perusahaan dan Laporan Keuangan Fiskal 1. Laporan Keuangan perusahan

Untuk meningkatkan aktivitas operasional suatu perusahaan, maka perusahaan perlu menyusun suatu laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan baik internal maupun eksternal.

Peranan laporan keuangan dalam perusahaan dimaksudkan untuk dapat menyajikan informasi keuangan terhadap pengambil keputusan keuangan bagi suatu perusahaan, sebab dengan adanya laporan keuangan maka perusahaan dapat mengetahui keadaan dan posisi keuangan suatu perusahaan.

berhubungan dengan hutang pajak perusahaan yang dapat dilihat dari table berikut ini :

Tabel 5 Neraca

PT BANK SULSELBAR NERACA

Per 31 Desember 2012

Keterangan (Rupiah)

Aktiva

-Kas 234.244.500,00

-Penempatan pada bank lain 1.651.694.897,00

Penyisihan aktiva produktif ABA -/- (8.217.709,00)

-Kredit yang diberikan 12.674.429.843,00

Penyisihan aktiva produktif kredit -/- (118.270.403,00) -Penghasilan yang masih akan diterima 89.320.122,00

-Beban dibayar dimuka 111.575.268,00

-Aktiva tetap

Harga perolehan 769.008.725,00

Akumulasi penyusutan-/- (370.111.643,00)

-Aktiva lain-lain 15.085.943,00

Jumlah aktiva 15.048.759.543,00

-Kewajiban segera lainnya 109.966.341,00

-Tabungan 2.627.555.306,00

-Deposito berjangka 7.580.900.000,00

-Simpanan dari bank lain 1.775.000.000,00

-Beban bunga YMH dibayar 43.081.027,00

-Penghasilan diterima di muka 66.033.433,00

Sub jumlah kewajiban 12.202.536.107,00

Ekuitas

Modal saham 1.000.000.000,00

Cadangan 0,00

Saldo laba(rugi) 1.846.223.436,00

Sub jumlah ekuitas 2.846.223.436,00

Jumlah kewajiban dan ekuitas 15.048.759.543,00

Tabel 6

PT. BANK SULSELBAR LAPORAN LABA RUGI

Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012

Keterangan (Rupiah)

Pendapatan dan beban operasional Pendapatan bunga

-Bunga 3.368.475.878,00

-Provisi dan Komisi 138.552.502,00

Jumlah pendapatan bunga 3.507.028.380,00

Beban bunga 976.157.856,00

Jumlah beban bunga 976.157.856,00

Pendapatan bunga bersih 2.530.870.524,00

Pendapatan operasional lainnya 456.058.299,00

Beban penyisihan kerugian aktiva produktif 107.549.834,00 Beban operasional lainnya

-Beban tenaga kerja 1.327.790.562,00

-Beban administrasi dan umum 616.491.696,00

-Beban lainnya 81.751.322,00

Jumlah beban operasional lainnya 2.026.033.580,00

Laba operasional 853.345.409,00

Pendapatan dan (beban) non operasional

-Pendapatan non operasional 10.074.669,00

-Beban non operasional 20.292.675,00

Pendapatan (beban) non operasional (10.218.006,00) Laba (sebelum pajak penghasilan) 843.127.403,00

2. Kebijakan Akuntansi

Ikhtisar kebijakan akuntansi penting yang dianut oleh perusahaan adalah sebagai berikut:

a. Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang disajikan dalam Rupiah disusun sesuai dengan pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK 31) tentang Akuntansi Perbankan yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Penyusunan Laporan Keuangan berdasarkan harga perolehan. Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode tidak langsung (indirect method).

Kas dan setara kas merupakan bentuk investasi yang jatuh temponya tidak lebih dari 3 bulan, yang terdiri dari kas, giro, dan penempatan pada bank lain.

b. Penempatan Pada Bank Lain

Penempatan pada bank lain dinyatakan sebesar saldo penempatan. Bank menempatkan penyisihan kerugian berdasarkan review atas masing-masing saldo penempatan pada bank lain di akhir tahun.

c. Kredit Yang Diberikan

Kredit yang diberikan dinyatakan sebesar saldo kredit dikurangi dengan penyisihan penghapusan kredit. Penyisihan tersebut merupakan jumlah kerugian yang diperkirakan atas kredit yang diberikan, yang ditetapkan berdasarkan review terhadap masing-masing saldo akhir tahun.

d. Klasifikasi dan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif Kewajiban bank membentuk penyisihan penghapusan aktiva produktif dalamjumlah yang cukup bertujuan untuk menutup resiko kemungkinan kerugian, yang besarnya berpedoman pada Peraturan Bank Indonesia No.6/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Klasifikasi Aktiva Produktif dan Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif Bank Perkreditan Rakyat dan Surat Deputi Gubernur Bank Indonesia No.9/1/DpG/DP tanggal 2 Mei 2007 point A.1 dan A.2.

e. Biaya dibayar dimuka

Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaat. f. Tagihan lainnya

Tagihan lainnya merupakan tagihan atas biaya perkara, biaya pengadilan, biaya somasi kepada nasabah bank, Western Union dan tagihan pada pihak lain.

g. Aktiva tetap dan inventaris

aktiva tetap dan inventaris dinilai sebesar harga perolehannya (at cost) dan penyusutannya menggunakan metode garis lurus (straigt line) dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 7 :

Data Aktiva Tetap Per 31 Des 2012

Jenis Harta

Tabel 8 :

Perhitungan Penyusutan Fiskal Atas Aset Tetap Per Des 2012 JENIS

h. Anggunan yang diambil alih (AYDA)

Anggunan yang diambil alih sehubungan dengan penyelesaian pinjaman nasabah disajikan dalam akun “Aktiva Lain-Lain”.

diberikan yang telah diambil alih oleh bank dan telah diikat secara notarial.

Anggunan yang diambil alih sehubungan dengan penyelesaian kredit dicatat berdasarkan nilai yang disepakati bersama. Dalam hal taksiran nilai anggunan lebih rendah dari nilai kredit, maka selisih lebih dari saldo pinjaman yang tidak dapat ditagih lagi dibebankan ke penyisihan penghapusan kredit sebagai penghapusan tahun berjalan.

Biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pengambilalihan bangunan tersebut dibebankan ke rekening nasabah. Rugi akibat realisasi

penjualan anggunan yang diambil alih dilaporkan dalam laporan laba rugi tahun yang bersangkutan, sedang laba akibat realisasi penjualan anggunan yang diambilalih dilaporkan dalam pos ”Kewajiban Segera Dibayar”.

j. Pengakuan Pendapatan dan Beban

Pendapatan dan Beban diakui secara akrual (Acrual Basis), kecuali pendapatan bunga dari kredit dan aktiva produktif lainnya dengan klasifikasi kurang lancar, diragukan dan macet (Non Performing Loan) diakui apabila pendapatan tersebut telah benar-benar diterima. Pendapatan bunga atas aktiva produktif dengan klasifikasi kurang lancar, diragukan, dan macet yang belum diterima dilaporkan sebagai pendapatan bunga dalam penyelesaian pada laporan komitmen dan kontinjensi.

k. Pengakuan pendapatan dan komisi

Pendapatan (beban) provisi dan komisi diakui sebagai berikut:

- provisi dan komisi yang berkaitan langsung dengan kegiatan perkeditan dan terkait dengan jangka waktu diperlakukan sebagai pendapatan atau beban ditangguhkan dan diamortisasi secara sistematis selama jangka waktu kreditnya.

- provisi dan komisi yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan perkreditan diakui sebagai pendapatan atau beban pada periode terjadi transaksi.

l. Pajak penghasilan

Pajak penghasilan dihitung berdasarkan laba kena pajak setelah koreksi fiskal.

m. Transaksi Yang Mempunyai Hubungan Istimewa (Afiliasi)

(i) Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan yang berpengaruh secara signifikan dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksud dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan).

(ii) Karyawan kunci yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan bank

pelapor yang meliputi anggota Dewan komisaris, Direksi dan Manager dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut.

(iii) Perusahaan dimana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan di atas atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh

utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan–perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor.

B. Rekonsiliasi Laporan Keuangan

Untuk membuat Rekonsiliasi laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal dapat disusun setelah analisis dilakukan atas transaksi transaksi usaha. Hasil analisis tersebut akan menghasilkan beda tetap dan beda temporer yang menjadi dasar koreksi fiskal yaitu koreksi fiskal positif yang menyebabkan Penghasilan Kena Pajak membesar, dan koreksi fiskal negatif yang membuat Penghasilan Kena Pajak berkurang.

Untuk membuat Rekonsiliasi laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal dapat disusun setelah analisis dilakukan atas transaksi transaksi usaha. Hasil analisis tersebut akan menghasilkan beda tetap dan beda temporer yang menjadi dasar koreksi fiskal yaitu koreksi fiskal positif yang menyebabkan Penghasilan Kena Pajak membesar, dan koreksi fiskal negatif yang membuat Penghasilan Kena Pajak berkurang.

Dalam dokumen SKRIPSI INDRA WAHYUDI (Halaman 55-0)