• Tidak ada hasil yang ditemukan

Electoral Volatility dan Konsistensi Politik Aliran

Dalam dokumen SISTEM KEPARTAIAN INDONESIA (Halaman 99-103)

POLITIK ALIRAN DAN PEMILU LOKAL

B. Electoral Volatility dan Konsistensi Politik Aliran

Politik aliran masih tetap berjalan, pergeseran politik yang signifikan hanya terjadi pada partai-partai yang berada dalam payung ideologis yang sama. Pergerakan suara dari satu partai ke partai lainnya akan lebih aktif dalam sesama partai Islam atau sesama partai Nasionalis.

Sementara pergeseran antar partai yang berbeda ideologis, relatif lebih kecil jika dibanding dengan pergeseran antar partai yang berbeda ideologis. Sebagai contoh pergeseran politik pemilih dari PAN ke PKS yang sama modernis, pergeseran dari PKB ke PKNU (2009) yang sama tradisional, pergeseran dari PDIP dan Partai Golkar ke Partai Demokrat yang sama Nasionalis.

1. Konsistensi Aliran dalam Pergeseran Politik Antar Partai

Berdasarkan data yang diperoleh dari KPUD, di wilayah Kabupaten Malang yang paling banyak ditinggalkan oleh pemilih adalah Partai Golkar, pada pemilu 2009, khususnya untuk dapil 7, Partai Golkar kehilangan suaranya sebesar 18,26%.

Tabel 3.3. Perolehan Suara Tujuh Partai pada Pemilu 1999, 2004, dan 2009 di Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu

Sumber: Data KPUD Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu yang telah diolah penulis.

Selanjutnya partai yang mengalami kehilangan suara cukup signifikan adalah PDIP yang kehilangan suara sebesar 15,44%, disusul

175 Statemen ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang diajukan wartawan kompas terkait dengan pemilu yang dilaksanakan pada tahun 2004. Ibid.

oleh PAN sebesar 2,08%. Sementara partai politik yang paling banyak mendapatkan penambahan suara adalah partai Demokrat, dengan tambahan suara sebesar 5,65%, disusul oleh PPP sebesar 2,83%, PKB berjumlah 0,88, dan PKS sebesar 0,26%.

Fenomena pemilih meninggalkan partai dalam pemilu 2004 dan 2009 tidak hanya kasus di dapil, namun secara umum hasil perolehan suara di tingkat Kabupaten dan Kota juga menunjukan fenomena yang sama. Sebagai perbandingan, bisa dilihat bahwa hampir semua partai baik di Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu mengalami penurunan suara, kecuali Partai Demokrat, dan PKS.

2. Konsistensi Aliran dalam Pergeseran Antar Kluster

Dari data menunjukan bahwa perubahan politik yang terjadi antar golongan ideologis partai politik dari Islam ke Nasionalis maupun sebaliknya pada tahun 1999 ke 2004 baik di Kabupaten Malang, Kota Malang, maupun Kota Batu tidak begitu signifikan yaitu hanya sekitar 1-2%.

Tabel 3.4. Pergeseran Politik Antar Kluster di Malang Raya

Sumber: KPUD Kabupaten, Kota Malang, Kota Batu yang telah diolah penulis.

Pergeseran antar kluster partai yang cukup signifikan justru terjadi pada pemilu 2004 ke pemilu 2009, khususnya di Kabupaten Malang yaitu sekitar 15%. Kenyataan tersebut bisa dijelaskan dengan kemunculan 2 partai baru pada pemilu 2009 yang mendapat apresiasi cukup signifikan dari pemilih, yaitu Partai Hanura dan Partai Demokrat.

Sementara pergeseran yang terjadi dalam partai Kristen menunjukan tren meningkat, khususnya yang terjadi di Kota Malang. Partai berhaluan Kristen yang pada pemilu 1999 hanya mendapatkan 0,25%, pada pemilu 2004 meningkat menjadi 4,20%, dan pada pemilu 2009 mendapakan suara 5,24%.

Dalam pemilu 1999, sebagai justifikasi pada politik aliran, bisa dikemukakan bahwa organisasi massa solidaritas yang dikemukakan Geertz menunjukkan afiliasinya terhadap partai politik tertentu.

Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang modernis walaupun secara formal tidak menjadi bagian pendukung partai (PAN), namun kelahiran PAN mau tidak mau akan selalu dikaitkan dengan Muhammadiyah dikarenakan Amin Rais sebagai pendiri PAN merupakan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Apa lagi di tingkat kepengurusan baik Wilayah maupun Daerah, sebagian besar mereka adalah orang-orang yang merupakan aktivis Muhammadiyah. Artinya ada benang merah yang menghubungankan antara Muhammadiyah sebagai organisasi massa keagamaan yang Modernis dengan PAN sebagai partai politik.

Di sisi lain, Nahdlotul Ulama (NU) yang menjadi representasi dari organisasi massa keagamaan Tradisional, harus merelakan diri apabila diklaim sebagai ormas pendorong lahirnya partai politik, dalam hal ini PKB. Kelahiran PKB sebagai partai politik tidak lepas dari karyanya Gus Dur atau Abdurahman Wahid sebagai cucu pendiri NU yang sekaligus mantan Ketua Umum PB NU, dan juga sebagai mantan Presiden. Dengan adanya Gus Dur, PKB sepertinya dianggap sah mempergunakan basis pemilih NU yang cukup besar khsusunya di Jawa Timur. Oleh karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka, baik PAN atau pun PKB, walaupun tidak secara formal mencantumkan Islam sebagai asas partai, keduanya baik secara sosiologis maupun historis merupakan partai Islam. Alasan sosiologis yang sangat jelas tergambar dari para elit partai maupun konstituennya, serta historis dari kelahiran partai-partai itu.

Lebih jauh, bagi kelompok yang disebut dengan abangan, walaupun dalam hal organisasi tidak bisa di lihat secara jelas sebagaimana pada kelompok Santri baik yang Tradisional maupun Modern, namun kelompok masyarakat yang dibedakan dari perilaku keberagamaannya yang minimalis (Islam Nominal) mempunyai hubungan yang kuat dengan partai Nasionalis. Pada pemilu 1999 dan 2004 pemilih abangan ini sebagian besar afiliasi politiknya pada PDIP yang merupakan partai politik yang berhaluan Nasionalis. Dengan demikian, sesuai dengan kerja dari politik aliran bahwa kelompok santri yang taat beragama akan membentuk partai politik yang sama yaitu Islam, sementara abangan akan membentuk partai yang bukan agama yaitu Nasionalis.

Dalam pemilu 2004 para pemilih Santri juga tidak bisa dipisahkan dari partai-partai Islam atau yang secara sosiologis dan historis dengan Islam seperti PKB, PPP, PAN, PKS dan PBB, walaupun ada sebagian

yang memilih partai Partai Nasionalis Religius, seperti Golkar dan Demokrat. Secara khusus PKB, PPP, PPNU merupakan partai politik yang menjadi afiliasi bagi kalangan Santri Tradisional, dan PAN, PKS dan PBB merupakan partai politik yang menjadi afiliasi bagi kalangan Santri Modernis. Sementara Partai Golkar dan Partai Demokrat merupakan partai tempat penyaluran aspirasi dari sebagian kalangan Muslim baik yang Tradisional maupun Modernis.

Sebagai mana telah dikemukakan, afiliasi politik pemilih Abangan punya kecenderungan besar tertuju pada PDIP, di samping Partai Nasionalis yang lain seperti Golkar, Demokrat, dan lain-lain. Dalam kelompok pemilih Abangan PDIP merupakan pilihan politik yang mayoritas, sehingga di Malang Raya pada pemilu 1999 dan 2004 PDIP menjadi partai politik yang mempunyai suara signifikan. Bahkan dalam pemilu 1999, PDIP di Malang Raya melebihi perolehan PDIP secara nasional. Secara nasional PDIP mendapat 37,78%, sementara di Malang Raya berdasar wilayah berturut-turut mendapat 39,66% di Kabupaten Malang, dan 41,22% di Kota Malang. Secara nasional PDIP, pada pemilu 1999 memperoleh suara sebesar 33,76%.

Konsfigurasi politik di Malang Raya menunjukan bahwa politik aliran yang dikemukakan Clifford Geertz (1960) masih jelas. Kenyataan ini bisa dilihat dari konsistennya pilihan masyarakat pada Partai Islam maupun Partai Nasionalis. Walaupun pada pemilu 1999, tidak semua partai-partai berlabel Islam mendapat suara signifikan, kecuali empat partai saja, yakni PBB, PAN yang mewakili pilihan Santri Modernis dan PKB PPP, yang mewakili pilihan Santri Tradisional. Dan di sisi lain partai politik berhaluan Nasionalis yang di wakili PDIP menjadi pilihan politik bagi kalangan Abangan.

Kekuatan partai yang lahir di era Orde Baru, yaitu partai Golkar mampu tetap bertahan karena masih banyaknya pemilih baik Santri maupun Abangan yang tetap setia. Adanya keseimbangan pemilih Santri dan Abangan, menunjukan bahwa Partai Golkar sebagai partai Nasionalis yang berwajah catchall party. Partai Golkar berupaya menanggalkan ideologinya, untuk menjangkau konstituennya yang datang dari kalangan Santri dan Abangan. Dengan demikian ada spektrum afiliasi politik yang bergeser keluar baik dari kelompok Santri maupun Abangan. Sebagian pemilih Santri maupun Abangan berafiliasi dengan Partai Golkar.

Dengan demikian, walaupun telah mengalami sedikit perubahan, namun secara garis besar dapat dikatakan bahwa aliran politik masih tetap eksis dalam pemilu era multipartai ini. Pemilih Santri masih berkecenderungan memilih partai politik yang Islam, sementra pemilih Abangan masih punya kecenderungan memilih partai yang Nasionalis.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pemilu 1999 dan 2004 di Malang Raya keyakinan sosio-religi yang bersumber aliran seperti yang dikemukakan Geertz, masih menjadi bagian yang mewarnai kehidupan politik masyarakat. Hal ini, mungkin akan terus berlangsung dalam beberapa pemilu ke depan, dengan derajat yang berbeda.

C. Dinamika Politik Aliran dalam Pemilu Pasca Reformasi

Dalam dokumen SISTEM KEPARTAIAN INDONESIA (Halaman 99-103)