BAB II : IMPLEMENTASI, KOMUNIKASI VERBAL,
D. Public Speaking
2. Elemen-elemen Public Speaking
Elemen public speaking merupakan bagian dasar yang paling penting, terdapat beberapa elemen yang dikemukakan oleh beberapa tokoh diantaranya:
a. Speaker (pembicara).126
Dalam mempersiapkan isi pembicaraan, pembicara akan menganalisis para pendengar dan mencoba memenuhi hal-hal apa yang diinginkan atau diharapkan oleh pendengar secara tepat. Selain itu, tanggapan pendengar selama pembicaraan berlangsung, misalnya ditandai dengan kerutan dahi, gelengan kepala, tampak bingung seperti sedang bermain “puzzle”, mengharuskan pembicara memodifikasi bagaimana butir-butir kunci pembicaraan diorganisasi, disusun dan dicoba untuk menanggapi keinginan pendengar.127
Seorang public speaker harus mampu mengetahui kompleks gagasan dengan jelas dan meyakinkan, menjaga perhatian audiens, membuat argumen yang masuk akal serta
126 Joseph A. Devito, The Essential Elements of Public Speaking, (USA: Pearson Education Limited, 2009), 6
127 Istianan Rakhmawati, At-Tabsyir Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Volume. 2 Nomor. 1, Keterkaitan Public speaking dalam Komunikasi Dakwah, 2004, 3-5
membantu menyatakan dengan bukti yang valid.128Seorang pembicara (public speaker) mampu disebut efektif jika memenuhi lima indikator diantaranya adalah credibility (citra diri), capability (kecakapan atau kemampuan memadai), clarity (kejelasan dan ketepatan ucapan), sympathy (ketulusan, kesabaran dan kegembiraan), serta enthusiasity (antusias, memiliki semangat tinggi, gerak lincah, penampilan energik dan menarik).129
b. Audience (pendengar atau khalayak)
Tujuan berbicara di depan umum adalah memperoleh tanggapan yang bermanfaat dari pendengar (audience), bagaimana mereka berfikir, merasakan, atau bertindak sesuai dengan yang diharapkan oleh pembicara. Untuk tercapainya tujuan pembicaraan, Anda harus memperoleh sebanyak mungkin informasi tentang pendengar. Bagaimana faktor kerangka kehidupan atau kerangka referensi (frame of
reference) pendengar yang terbentuk dalam dirinya sebagai
hasil dari paduan pengalaman, pendidikan, penampang usia (age profil), jenis jender, latar belakang suku atau etnis, agama, budaya, status sosial-ekonomi, gaya hidup, norma hidup, kecenderungan dalam aliran politik, cita-cita, dan sebagainya.
128 Rothwell, J Dan, In Th Company Of Others An Introduction to Communication, (New York: McGraw-Hill Companies, 2004), 400
129 A. Markarma, Komunikasi Dakwah Efektif dalam Perspektif Al-Quran, Hunafa: Jurnal Studia IslamikaVol. 11, No. 1, Juni 2014: 127-151, IAIN Palu, Sulawesi Tengah, 135-138
Bagaimana gambaran mengenai sikap terhadap pembicara dan terhadap subjek pembicaraan. Sejauh mana mereka telah memahami subjek pembicaraan.
c. Message (pesan yang disampaikan).
Message adalah isi atau sebuah yang disampaikan oleh seorang pembicara kepada para audiens.130Mesaage dalam public speakeng juga bisa dikatakan sebagai sebuah tujuan untuk memberikan informasi.131
Sedangkan Devito menjabarkan public speaking menjadi tujuh elemen, diantaranya adalah:
1) Speaker
Dalam public speaking pembicara adalah orang yang menyampaikan pesan atau informasi melalui ceramah yang relatif lama dan tidak mendapatkan interupsi dari audiens. De Vito mengatakan, “In public speaking you deliver a relatively
long speech and usually are not interrupted”. Public speaker
adalah pusat dari transaksi pesan yang terjadi. Menurut De Vito, “You and your speech are the reason for the gathering”. Hal ini sangat berbeda dengan percakapan pada umumnya yang mensyaratkan terjadinya hubungan timbale balik yang terkadang terjadi secara berulang-ulang. Misalnya, seorang
130 Lisa Schreiber & Morgan hartranft, Public Speaking : The Virtual text, Introduction to Public Speaking, (Millercville University: United Stated License, 2013), 2
131 Daniel Webster, Introducing Public Speaking Chapter 1, E-book PDF, tt, 3
sales yang menawarkan produk kecantikannya pada seorang
ibu. Ibu ini kemudian merespon dengan bertanya ini dan itu sebelum sales menerangkan lagi lebih detil. Demikianlah terjadi percakapan yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh seorang public speaker.132
Dalam praktiknya di lapangan, seorang public speaker tidak hanya berbicara saja, dia juga harus memiliki ketrampilan untuk berinteraksi dan mengontrol percakapan dengan audiens yang terjadi sesekali sehingga pesan yang disampaikan menjadi hidup. Ketrampilan inilah yang sesungguhnya harus dimiliki oleh seorang public speaker. Pertama-tama, seorang public
speaker hendaknya memahami siapa dirinya. Dia adalah orang
yang sedang memberi pengaruh bagi banyak orang atas apa yang dia katakan. Oleh karenanya, pemahaman yang tepat akan materi, perencanaan yang matang, dan penguasaan panggung yang handal perlu dimiliki oleh seorang public speaker yang berpengaruh.133
2) Audience
Audiens dalam public speakingada dua macam. Yang pertama adalah immediate audience (audiens langsung) yakni mereka yang dikenai langsung oleh pesan yang disampaikan oleh public speaker. Sedangkan remote audience (audiens jarak
132 Joseph A. Devito, The Essential Elements of Public Speaking, (USA: Pearson Education Limited, 2009), 6
133
jauh) adalah mereka yang terkena dampak tidak langsung oleh pesan yang disampaika dan oleh pembicara. audiens adalah pihak yang dipengaruhi oleh pesan dalam public speaking,
speaker harus benar-benar memperhatikan siapa audiensnya.
Di dalam public speaking, walaupun seorang speaker sudah mahir, tetaplah harus melakukan audience research, yakni kegiatan untuk meneliti, mengklasifikasikan, serta menyimpulkan siapa audiensnya.
3) Message
Pesan dalam public speakingterdiri dari tanda-tanda verbal maupun nonverbal. De Vito mengatakan, a message on
public speaking has a purpose. Namun, pada praktiknya,
sebenarnya yang memiliki tujuan dalam public speakingadalah
speakernya.
Di dalam public speaking, menyusun sebuah pesan tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Sama seperti ketika menentukan karakteristik audiens, menyusun pesan pun harus didahului dengan riset.. Menurut De Vito (2011: 6), in public
speaking organization is crucial because it adds clarity to your message and therefore make it easier for listener to understand and to remember what you say. Bahkan, dalammembungkus
yang bervariasi, disesuaikan dengan siapa audiensnya, topik yangakan dibahas, serta di mana tempat public speaking-nya.134
4) Noise
De Vito membedakan antara noise dengan signal. Jika
signal adalah segala macam informasi atau pesan yang ingin
didengar oleh audiens maka noise adalah segala sesuatu yang tidak ingin didengar dan mengganggu audiens saat menerima
signal. Karena public speaking bisa dalam bentuk verbal
maupun nonverbal maka noise-nya pun juga dalam bentuk verbal dan nonverbal. Speaker hendaknya benar-benar berlatih mengelola noise ini karena seringkali noise bisa tidak terkontrol.
5) Context
De Vito membagi konteks ini menjadi konteks fisik, psikososial, temporal, dan konteks cultural. Konteks fisik adalah tempat dan lingkungan yang sebenar-benarnya yang digunakan sebagai tempat berbicara (ruangan, lapangan, gedung, dll), beserta peralatan dan perlengkapan yang ada di dalamnya. Ruangan yang sempit menyebabkan speaker harus berbicara dengan persiapan yang berbeda dengan ruangan yang luas atau lapangan. Konteks psikososial merupakan hubungan antara
speaker dengan audiensnya. Bagaimana karakter dan latar
belakang speaker dan audiens serta hubungan di antaranya selalu
134
mempengaruhi pesan yang disampaikan. Konteks temporal meliputi waktu dan jam di mana public speakingitu dilakukan. Konteks cultural mencakup kepercayaan, gaya, nilai-nilai, bahkan gender dan perilaku dari speaker dan audiens yang dibawa pada saat presentasi.135
6) Channel
Channel adalah sebuah medium untuk membawa signal pesan dari pengirim kepada penerima. Dalam public speakingchannel ini wujudnya bisa bermacam-macam, baik
secara visual maupun nonvisual, misalnya melalui slide-slide di computer atau video, gambar-gambar, dll.
7) Ethic
Ethics berbicara tentang benar atau salah atau implikasi
moral dari pesan yang disampaikan. Seorang speaker harus menguasai hal-hal apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan ketika menyampaikan suatu pesan.136Adapun menurut Linda J. Webster sebagaimana Aristoteles menyatakan bahwa dalam public speaking harus memiliki tiga elemen penting yang meliputi Ethos (karakter dan kebaikan manusia), Logos (logis, penalaran) dan Pathos (pengaruh emosi dan perasaan manusia).137
135 Joseph A. Devito, The Essential Elements of Public Speaking, 7
136 Joseph A. Devito, The Essential Elements of Public Speaking, 9
137 Linda J Webster , Introduction to Public Speaking, (America Louisiana State University: Fountainhead Press, 2012), 11.