• Tidak ada hasil yang ditemukan

ELSAMKompas, Senin, 14 Juli 2003

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 98-101)

Kasus 27 Juli 1996 Kebenaran Dua Rezim

Presiden Megawati Soekarnoputri mengambil sebuah prakarsa politik yang cukup berarti. Ketua Umum PDI Perjuangan yang pernah menjadi korban rezim otoriter Orde Baru ini memutuskan untuk membuka kembali kasus kekerasan politik yang terjadi tanggal 27 Juli 1996, tujuh tahun lalu. Sebanyak enam terdakwa, satu di antaranya telah meninggal dunia, diajukan ke persidangan koneksitas.

PEMBACAAN dakwaan telah dilangsungkan akhir bulan lalu dalam persidangan koneksitas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dan, hari Senin ini, kuasa hukum terdakwa akan membacakan eksepsi atas dakwaan tersebut. Bagi rezim Orde Baru, Peristiwa 27 Juli 1996-yang diawali dengan penyerbuan Kantor DPP PDI dan berdampak dengan kerusuhan sosial di sebagian wilayah Jakarta-telah dinyatakan selesai. Sebanyak 124 orang pendukung Megawati yang bertahan di dalam Gedung DPP PDI divonis hukuman penjara satu hingga empat bulan penjara. Militer Indonesia menuduh aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dipimpin Budiman Sudjatmiko sebagai dalang kerusuhan sosial setelah penyerbuan Kantor DPP PDI. Namun, dalam proses persidangan, pengadilan sama sekali tak bisa membuktikan bahwa anak-anak muda PRD itu sebagai dalang kerusuhan 27 Juli.

Aktivis PRD diganjar hukuman 4 hingga 13 tahun penjara atas tuduhan subversi. Alasannya, dalam AD/ART PRD tak mencantumkan Pancasila sebagai asas partai.

Kepala Staf Sosial Politik ABRI Letjen Syarwan Hamid dalam penjelasannya kepada perwakilan negara asing di Departemen Luar Negeri tanggal 5 Agustus 1996 menegaskan bahwa Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan upaya sekelompok orang untuk menghidupkan kembali faham komunis di Indonesia. Upaya untuk menghidupkan kembali komunisme itu dilakukan dengan menggunakan konflik internal di tubuh Partai Demokrasi Indonesia sebagai "kuda troya".

Penggunaan PDI sebagai "kuda troya" adalah karena PDI menyimpan konflik internal yang dapat dieksploitasi dan diprovokasi. Status PDI sebagai lembaga politik formal mengakibatkan kelompok-kelompok yang bermain politik praktis tak dicurigai.

Di antara kelompok ekstrem itu adalah PRD dengan berbagai faksinya yang dapat disamakan dengan PKI. Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung menuding mimbar bebas yang digelar di halaman Kantor DPP PDI adalah embrio makar terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto. Sebelumnya, tanggal 19 Juli 1996, Soeharto memanggil sejumlah pembantu militernya untuk membahas mimbar bebas tersebut. Soeharto mengingatkan agar pembantu militer mewaspadai makar.

Hingga berakhirnya kekuasaan Soeharto, militer Indonesia sukses membangun sebuah konstruksi teoretis bahwa Peristiwa 27 Juli 1996 adalah sebuah upaya kelompok komunis untuk bangkit kembali di panggung politik Indonesia dengan memanfaatkan konflik internal di tubuh PDI.

Namun, teori yang mau dibangun militer Indonesia soal kebangkitan komunis itu terpatahkan oleh Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang ditandatangani Ketua Komnas HAM Munawir Sjadzali dan Baharuddin Lopa (Sekjen). Komnas HAM, sebuah lembaga yang dibentuk Soeharto, mengatakan, latar belakang peristiwa 27 Juli 1996 tak terlepas dari konflik intern PDI yang menjadi terbuka karena faktor ekstern.

Ketiga unsur yang terlibat adalah unsur pihak yang bertikai: Kelompok PDI Kongres Medan (Soerjadi) dan Kelompok PDI Munas (Megawati), kedua unsur pemerintah dan ketiga unsur masyarakat.

Komnas HAM juga menyebutkan sebanyak lima orang tewas, 149 luka-luka baik sipil maupun aparat keamanan, sebanyak 23 orang per tanggal 10 Oktober 1996 hilang. Pengertian hilang adalah belum pulang ke alamat asal, belum dapat dihubungi dalam perjalanan dan/atau kemungkinan meninggal, dan sebanyak 136 orang ditahan. UPAYA rezim Orde Baru untuk membangun sebuah konstruksi cerita Peristiwa 27 Juli 1996 ini mulai coba "direvisi" secara tanggung oleh pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Langkah Megawati untuk meluruskan sejarah kekerasan politik tanggal 27 Juli 1996 sebenarnya merupakan bagian dari pemenuhan keadilan transisional (transitional justice).

kliping

ELSAM

Upaya pengungkapan kebenaran itu dikatakan "tanggung" karena pemerintahan Megawati ternyata hanya mengajukan pelaku-pelaku lapangan, tanpa menyentuh pejabat- pejabat militer Orde Baru. Pasal yang dituduhkan amat sumir, yakni pasal perusakan yang melanggar Pasal 170 KUHP.

Lima terdakwa yang diadili terdiri atas dua personel militer dan tiga orang sipil. Kol CZI (Purn) Budi Purnama (Mantan Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya) dan Lettu Inf Suharto (mantan Komandan BKI-C Detasemen Intel Kodam Jaya) adalah dua anggota militer yang dimintai pertanggungjawaban. Sedang tiga orang sipil adalah Mochamad Tanjung (buruh), Jonathan Marpaung (wiraswasta), dan Rahimmi Ilyas (karyawan ekspedisi). Seorang lagi, Djoni Moniaga, seorang buruh, yang diajukan juga sebagai terdakwa, telah meninggal dunia.

Persidangan kasus 27 Juli 1996 ini menimbulkan protes dari keluarga korban Kasus 27 Juli. Dalam persidangan pertama, keluarga korban kasus 27 Juli menilai persidangan itu hanyalah sandiwara.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Trimedya Panjaitan mengharapkan agar persidangan koneksitas yang dipimpin Hakim Ny Rukmini mampu untuk mengungkap otak di balik penyerbuan Kantor DPP PDI. "Janganlah persidangan kasus itu hanya sebagai pelipur lara bagi para korban," kata Panjaitan.

Dalam dakwaan yang disusun Jaksa Penuntut Umum Bastian Hutabarat tampak sekali adanya keterlibatan pejabat- pejabat militer Orde Baru dalam pengambilalihan Kantor PDI. Namun, juga tampak ada upaya untuk melokalisir pihak- pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

Hutabarat menyebutkan bahwa untuk mengambil alih Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro No 58, Ketua Umum DPP PDI Hasil Kongres Medan Soerjadi menunjuk Alex Widya Siregar (pengurus PDI) untuk mengambil alih kantor. Alex kemudian berkoordinasi dengan Brigjen Zacky Anwar Makarim (salah seorang direktur di Badan Intelijen ABRI).

Terjadi serangkaian pertemuan di Hotel Sunter dan Holiday Inn yang dilakukan petinggi militer Kodam Jaya dengan fungsionaris PDI Soerjadi. Pejabat militer Kodam Jaya dalam dakwaan jaksa terlibat secara aktif dalam

pengumpulan massa. Massa dikumpulkan dan diberi tahu untuk dipekerjakan di Proyek Sirkuit Sentul yang kemudian dibelokkan untuk mengambil alih Kantor DPP PDI.

Massa yang didatangkan dari Cengkareng dan Pasar Induk Kramat Jati dikumpulkan di Gedung Arta Graha sejak 26 Juli 1996. Sabtu, 27 Juli 1996, pukul 04.00, massa yang berjumlah sekitar 1.000 orang dibagikan kaus warna merah bertuliskan "Kongres IV Medan" dan pengikat kepala.

Letkol Budi Purnama, Lettu Suharto, saksi Kolonel Haryanto, dan beberapa orang lain memberikan pengarahan. "Bubarkan mimbar bebas dan ambil alih Kantor DPP PDI yang ditempati pengurus DPP PDI Pro-Megawati Soekarnoputri, kita membela negara dan berjuang untuk pemerintahan yang sah dan kalian tidak usah takut." Massa berangkat dari Arta Graha menuju Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro. Letkol Budi Purnama, Lettu Suharto, Kolonel Haryanto, dan Serma Ratiman mengikuti massa dengan mobil mereka sendiri.

Setibanya di Kantor PDI, massa diperintah untuk menyerbu dan melempari ke arah gedung. Dalam dakwaannya Jaksa Bastian Hutabarat mengatakan, "Pada saat massa dengan atribut pro-Soerjadi melakukan penyerangan, Mayjen Sutiyoso, Mayjen Hamami Nata, Letkol Abubakar, Letkol Zulkarnaen Effendi, Mayor Pol R Sumaryo, dan Letkol Tritamtomo berada di tempat kejadian." Jaksa tak menjelaskan lebih jauh peranan mereka.

DAKWAAN yang diajukan Jaksa Bastian Hutabarat sangatlah sederhana, terlebih jika dikaitkan dengan persaingan politik di sekitar pembantu Soeharto, menyusul terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI. Persaingan politik antara Soeharto dan para pembantu militernya dengan faksi lain dalam tubuh militer yang berpihak pada Megawati Soekarnoputri sama sekali tak tercermin dalam dakwaan tersebut. Pertemuan di rumah Soeharto yang dihadiri para pembantu militer Soeharto tanggal 19 Juli 1996 sama sekali tak disentuh.

Analis politik Harold Crouch dalam buku Peristiwa 27 Juli yang diterbitkan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) menyebutkan, kekhawatiran Soeharto atas tampilnya Megawati Soekarnoputri harus dilihat dari segi budaya politik orang Jawa, khususnya generasi tua. Dalam sistem politik tradisional Jawa, seorang Sultan membutuhkan dukungan bulat dari rakyatnya.

Jika dukungan tidak bulat, maka negara dianggap dalam keadaan bahaya dan kedudukan Sultan terancam. Dalam perspektif itu, Megawati dianggap sebagai pesaing Soeharto.

kliping

ELSAM

Mantan Kepala Staf Umum ABRI Letjen Soeyono dalam bukunya, Bukan Puntung Rokok, mengungkapkan teori pertarungan srikandi kembar yang melatarbelakangi penyerbuan Kantor DPP PDI. Soeyono yang diberhentikan sebagai Kepala Staf Umum ABRI beberapa hari setelah meletusnya Peristiwa 27 Juli menyebutkan, "Srikandi Kembar" merupakan persaingan di antara dua wanita yang sedang berebut panggung politik, yaitu Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Mbak Tutut) dari Golkar dan Megawati Soekarnoputri dari PDI. Tutut adalah putri Soeharto yang berkuasa saat itu, sedangkan Megawati adalah putri Soekarno, presiden pertama dan proklamator.

Persaingan dua srikandi kembar ini telah mengakibatkan pejabat pemerintah dan ABRI terlibat dalam intrik pro dan kontra serta friksi yang tajam. Secara moral, jelas Megawati lebih unggul, tetapi politik kekuasaan lebih banyak berpihak kepada Tutut.

Dalam bukunya, Soeyono mengatakan, "Yang pasti tidak mungkin ada dua mawar yang mekar bersamaan. Tidak boleh ada dua srikandi yang mentas bersamaan di panggung politik Indonesia." Menurut dia, "Pengambilalihan Kantor PDI tanggal 27 Juli 1996 merupakan klimaks dari upaya menggembosi pamor Megawati dan menaikkan popularitas Mbak Tutut."

Persaingan dua srikandi kembar itu telah membuat persaingan di tubuh ABRI. Setelah pecahnya kerusuhan tanggal 27 Juli, Soeharto melakukan konsolidasi di tubuh militer. Kepala Staf Umum ABRI Letjen Soeyono, Kepala BIA Mayjen Syamsir Siregar, dan Wakil Kepala BIA Brigjen Achdari diberhentikan.

Soeyono digantikan Tarub dan Syamsir digantikan Farid Zaenuddin. Syamsir Siregar merasa tidak senang dengan pemberhentian dirinya. "Yang paling tidak saya senangi, saya dibilang mendalangi pembakaran Jakarta. Padahal, justru kami yang menangkapi orang- orang PRD," kata Syamsir dalam buku Bukan Puntung Rokok.

Ketika kekuasaan Soeharto berakhir, pejabat militer Orde Baru itu saling menuding dan melepaskan tanggung jawab. Mantan Pangdam Jaya Letjen (Purn) Sutiyoso termasuk yang dituduh harus bertanggung jawab atas pengambilalihan kantor tersebut.

Dalam bahan konferensi pers tertulis yang disiapkannya, Sutiyoso secara tak langsung tidak membantah bahwa ia harus bertanggung jawab. Namun, Sutiyoso mengatakan, "Akan sangat tragis dan bertentangan dengan rasa keadilan jika risiko akibat kebijakan politik elite penguasa (pemerintah pusat dan komponen pendukungnya) semata-mata hanya menjadi tanggung jawab institusi dan orang per orang, pada level pelaksana operasional pemerintahan di tingkat bawah."

Sutiyoso juga tidak membantah bahwa ia berada di lokasi kejadian. "Saya mengetahui pertama kali kejadian itu dari Kolonel Tritamtomo selaku Komandan Sektor I Pengamanan Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang berada di Posko Kodam Jaya," ujarnya. Sutiyoso kemudian turun langsung ke lokasi."Itu keharusan dalam kepemimpinan ABRI. Dalam situasi genting, komandan harus berada di tempat kejadian. Jadi, keberadaan saya di tempat kejadian jika dilihat dari sifat dan prinsip kepemimpinan TNI, tak ada yang aneh," tulis Sutiyoso.

PANGGUNG untuk mengungkap kebenaran telah digelar. Rezim Megawati mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan kebenaran akan peristiwa 27 Juli 1996 yang sampai sekarang masih merupakan sebuah peristiwa yang tak terungkap dan bagian dari sejarah yang tak diketahui, tersembunyi, dan penuh dengan rahasia.

Persidangan koneksitas kasus 27 Juli merupakan sebuah panggung untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dalam kekerasan politik yang ikut memicu berakhirnya kekuasaan Soeharto. Panggung itu juga merupakan peluang bagi mantan Pangdam Jaya Sutiyoso untuk menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan "akibat aliran kebijakan politik elite penguasa". Juga bagi mantan Kepala Staf Umum ABRI Soeyono dan mantan Kepala Sospol ABRI Syarwan Hamid untuk mengungkapkan kebenaran kasus tersebut.

Menurut Priscilla Hayner, rekonsiliasi tak mungkin bisa dicapai jika masih terlalu banyak versi kebenaran. Ada kebenaran versi Orde Baru, ada kebenaran versi Soeyono, ada kebenaran versi Syarwan Hamid, ada kebenaran versi Megawati. Upaya untuk mendekatkan fakta-fakta atas suatu kejadian yang mendekati kebenaran akan memudahkan bangsa ini menuju sebuah rekonsiliasi.Mampukah pengadilan koneksitas melakukan tugas itu? Hal tersebut sepenuhnya tergantung dari kemauan para pelaku di panggung pengadilan.

Akan sangat lebih baik kalau putusan-putusan pengadilan mampu berfungsi sosial dengan mengungkap kebenaran secara lebih mendalam, bukan hanya sekadar membuktikan pasal-pasal dakwaan. (Budiman Tanuredjo)

kliping

ELSAM

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 98-101)