BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja
3. Empat Status Identitas
Pakar psikologi Marcia (dalam Santrock, 1995) menganalisa teori perkembangan identitas Erikson. Fokus dalam penelitiannya adalah seberapa banyak subjek mengeksplorasi pilihan identitas (krisis) dan seberapa luasnya mereka membuat komitmen.
Krisis (crisis) didefinisikan sebagai suatu periode perkembangan identitas selama masa remaja memilih di antara pilihan-pilihan bermakna.
Kata krisis yang dipakai oleh Marcia sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai eksplorasi terhadap peran (Santrock, 2003). Eksplorasi adalah suatu aktivitas yang secara aktif dilakukan individu untuk mencari, menjajaki, mempelajari, mengidentifikasi, mengevaluasi dan menginterpretasi dengan seluruh kemampuan, akal, pikiran, dan potensi yang dimiliki untuk memperoleh pemahaman yang baik tentang berbagai alternatif peran.
Berlangsungnya eksplorasi dalam pembentukan identitas diri, khususnya yang berkaitan dengan pilihan studi lanjutan, ditandai dengan faktor-faktor berikut: (1) knowledgeability, yaitu sejauhmana tingkat pengetahuan yang dimiliki individu yang ditunjukkan oleh keluasan dan kedalaman informasi yang berhasil dihimpun tentang berbagai alternatif pilihan studi lanjutan, (2)activity directed toward gathering information yaitu aktivitas yang terarah untuk mengumpulkan informasi yang menyangkut semua aktivitas yang dipandang tepat untuk mencari dan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, (3) considering alternative potential identity element yaitu sejauhmana individu mampu mempertimbangkan berbagai informasi yang telah dimiliki tentang berbagai kemungkinan dan peluang dari setiap alternatif yang ada, (4)desire to make an early decision yaitu keinginan untuk membuat keputusan secara dini yang ditunjukkan oleh sejauh mana individu memilki keinginan untuk memecahkan keragu-raguan atau ketidakjelasan secepat mungkin secara realistis dan meyakini apa yang dipandang tepat bagi dirinya.
Komitmen (commitment) didefinisikan sebagai bagian dari perkembangan identitas dimana remaja memperlihatkan tanggung jawab pribadi terhadap apa yang akan mereka lakukan. Komitmen ditunjukkan oleh sejauh mana keteguhan pendirian remaja terhadap pilihan-pilihan peran yang dipilihnya yang di tandai oleh faktor-faktor berikut: (1)knowledgeability yaitu merujuk kepada sejumlah infomasi yang dimiliki dan dipahami tentang keputusan pilihan-pilihan yang telah ditetapkan. Remaja yang memiliki komitmen mampu menunjukkan pengetahuan yang mendalam, terperinci dan akurat tentang hal-hal yang telah diputuskan, (2) activity directed toward implementing the chosen identify element yaitu aktivitas yang terarah pada implementasi elemen identitas yang telah ditetapkan., (3)emotional tone yaitu nada emosi yang merujuk kepada berbagai perasaan yang dirasakan individu baik dalam penetapan keputusan maupun dalam mengimplementasikan keputusan tersebut. Nada emosi terungkap dalam bentuk keyakinan diri, stabilitas dan optimisme masa depan, (4)identification with significant other
yaitu identifikasi dengan orang-orang yang dianggap penting yang ditunjukkan dengan sejauhmana remaja mampu membedakan aspek positif dan negatif dari figur yang dianggap ideal olehnya,(5) projecting one s personal future yaitu kemampuan memproyeksikan dirinya ke masa depan dengan ditandai oleh kemampuan mempertautkan rencananya dengan aspek lain dalam kehidupan masa depan yang mereka cita-citakan, (6)resistence to being swayed yaitu sejauh mana individu memiliki ketahanan terhadap godaan-godaan yang bermaksud untuk mengalihkan keputusan yang telah
mereka tetapkan. Mereka tetap teguh pada keputusannya, tetapi mereka bukan anti perubahan. Mereka mampu menghargai berbagai kemungkinan perubahan, mereka mengkaitkannya dengan kemampuan pribadi dan peluang yang ada (Marcia, 1993).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Marcia, subjek diwawancarai tentang krisis dan komitmen dalam identitas pekerjaan (okupasi), relijius, ideologi poltik, peran gender dan seksualitas (Buss, 1995).
a. Okupasi (pekerjaan)
Okupasi adalah seperangkat tugas, ketrampilan dan kemampuan yang unik yang berhubungan dengan pekerja yang melaksanakan pekerjaan tertentu (www.nevadaworkforce.com/). Okupasi juga dapat diartikan sebagai suatu nama pekerjaan yang yang menunjukkan aktivitas pekerjaan.
Dalam hal pekerjaan banyak remaja yang kurang mengeksplorasi pilihan karir dan juga terlalu sedikit memperoleh bimbingan karir dari pembimbing di sekolah mereka. Siswa pada umumnya tidak tahu informasi yang perlu dicari mengenai karir, bahkan tidak tahu bagaimana cara mencarinya (Santrock, 2003). Namun eksplorasi, pengambilan keputusan, dan perencanaan dalam perkembangan karir dalam tahap remaja merupakan suatu hal yang sangat penting. Hal ini sangat berkaitan erat dengan perkembangan identitas seseorang. Keputusan mengenai karir dan perencanaan karir secara positif berhubungan dengan pencapaian identitas diri, namun secara negatif berhubungan dengan status identitas
moratorium dan identitasdiffusion (Wallas-Broscios, Seafica, dan Osipow, dalam Santrock, 2003). Remaja yang lebih jauh terlibat dalam proses pembentukan identitas lebih sanggup mengartikulasikan pilihan karir mereka dan menentukan langkah berikut untuk mencapai tujuan jangka pendek maupun jangka panjang mereka (Raskin ,dalam Santrock, 2003).
Memahami bagaimana remaja membuat pilihan dalam pengembangan karirnya dapat melalui tiga teori yaitu teori perkembangan Ginzberg, teori konsep diri Super, dan teori tipe kepribadian Holland. 1) Teori Perkembangan Ginzberg
Teori ini dikemukakan oleh Ginzberg (Santrock, 2003). Teori ini mengatakan bahwa anak dan remaja melalui tiga tahap pemilihan karir yaitu fantasi, tentatif, dan realistis.
Orang dalam tahap fantasi (hingga usia 11 tahun) masa depan terkesan dapat memberikan jutaan kesempatan. Usia 11 – 17 tahun dapat digolongkan dalam tahap tentatif yaitu tahap peralihan antara tahap fantasi dan realistis. Pada tahap ini remaja mulai mengevaluasi minat (usia 11 – 12 tahun), kemudian mengevaluasi kemampuan (usia 13 – 14 tahun), dan pada akhirnya mengevaluasi nilai (usia 15 – 16 tahun). Pada usia 17 dan 18 tahun sampai awal 20-an memasuki tahap realistis. Dalam tahap ini setiap orang mencoba karir yang mungkin, kemudian memfokuskan diri pada satu bidang, dan akhirnya memilih pekerjaan tertentu dalam karir tersebut.
2) Teori Konsep Diri Super
Teori konsep diri ini dikemukakan oleh Donald Super yang menyatakan bahwa konsep diri individu memainkan peranan utama dalam pemilihan karir seseorang. Masa remaja merupakan saat seseorang membangun konsep diri tentang karir.
Dalam pekembangan karir terdiri dari lima fase berbeda. Pertama adalah fase kristalisasi sekitar usia 14 – 18 tahun, remaja membangun gambaran tentang kerja yang masih tercampur dengan konsep diri mereka secara umum yang telah ada. Ke dua adalah fase spesifikasi sekitar usia 18 – 22 tahun, remaja mempersempit pilihan karir mereka dan mulai mengarahkan tingkah laku diri agar dapat bekerja pada bidang karir tertentu. Ke tiga adalah fase implementasi antara usia 21 – 24 tahun, orang dewasa muda menyelesaikan masa sekolah atau pelatihannya dan menapaki dunia kerja. Ke empat adalah fase stabilisasi, antara usia 25 – 35 tahun, dalam fase ini seseorang masuk dalam tahap dimana pengambilan keputusan terhadap karir tertentu dilakukan. Yang terakhir adalah fase konsolidasi yang berlangsung setelah usia 35 tahun. Dalam fase ini seseorang akan memajukan karir mereka dan akan mencapai posisi yang lebih tinggi. Pengelompokan usia dalam teori ini merupakan suatu perkiraan dalam arti bukan sesuatu yang mutlak.
3) Teori tipe kepribadian Holland
Teori tipe kepribadian adalah teori John Holland yang menjelaskan perlu dilakukan suatu usaha agar piihan karir seseorang sesuai dengan kepribadiannya (Holland, dalam Santrock, 2003). Menurut Holland (Santrock, 2003) orang akan lebih menikmati pekerjaan tersebut dan bekerja dibidang tersebut lebih lama jika orang tersebut menemukan karir sesuai dengan kepribadiannya.
b. Relijius
Relijius adalah suatu sistem kepercayaan yang berkenaan dengan kekuatan atau makhluk melebihi manusia biasa atau hal-hal yang gaib yang melebihi dunia material sehari-hari (www.anthro.wayne.edu/ant2100/GlossaryCultAnt.htm).
Pada masa remaja, ketertarikan terhadap agama dan keyakinan spiritual semakin meningkat. Remaja menunjukkan adanya minat yang kuat terhadap hal-hal spiritua, sebagai contoh hampir 90% remaja mengatakan bahwa mereka berdoa (Gallup & Perriello, dalam Santrock, 2003). Dibandingkan dengan anak-anak, doa remaja memiliki karakteristik seperti tanggung jawab, subyektivitas, dan kedekatan (Scarlett & Polimg, dalam Santrock, 2003).
James Fowler (Santrock, 2003) mengajukan pandangannya dalam perkembangan konsep relijius. Individuating-reflexive faith adalah tahap yang dikemukakan Fowler, muncul pada masa remaja akhir yang
merupakan masa yang penting dalam perkembangan identitas keagamaan. Tahap ini menggambarkan remaja untuk pertama kalinya berpandangan bahwa individu memiliki tanggung jawab penuh atas keyakinan relijiusnya.
c. Ideologi politik
Pada masa remaja ini, mereka mulai merefleksikan nilai, ideologi, dan tradisi dalam komunitas mereka, dan peran yang memungkinkan yang akan mereka bawa pada saat dewasa.
Erickson (Miranda & James, 1998) menggambarkan perkembangan komitmen politik sebagai aspek kunci formasi perkembangan identitas pada masa remaja. Pengalaman remaja sebagai warga negara dapat menjadi acuan yang dapat membantu dalam formasi pemahaman dan ikatan politik. Aktivitas kewarganegaraan yang diikuti oleh remaja, bentuk perilaku kewarganegaraan dan pemahaman terhadap perilaku tersebut, dan penempatan suatu penekanan dalam memperjelas proses sosial dimana pemahaman politis muncul merupakan beberapa bidang dalam perkembangan identitas politik pada masa remaja (Miranda & James, 1998)
d. Peran gender
Peran gender merupakan suatu set harapan yang menetapkan bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki berpikir, bertingkah laku,
dan berperasaan. Perbedaan psikologis dan tingkah laku antara laki-laki dan perempuan menjadi lebih jelas selama masa remaja awal karena adanya peningkatan tekanan-tekanan sosialisasi masyarakat untuk menyesuaikan diri pada peran gender maskulin dan feminin tradisional, oleh karena itu remaja harus mulai banyak bersikap sesuai dengan stereotipe perempuan dan laki-laki dewasa.
Perbedaan antara peran gender laki-laki dan perempuan dapat dipahami melalui streotipe peran gender. Stereotipe peran gender adalah kategori-kategori yang bersifat umum yang menggambarkan pandangan dan keyakinan kita tentang perempuan dan laki-laki. Hal ini tentunya sangatlah kompleks karena stereotipe-stereotipe tersebut sangat beragam dan terpengaruh oleh budaya. Menurut penelitian yang luas terhadap pelajar perguruan tinggi di 30 negara (Williams & Best, dalam Santrock, 2003), laki-laki secara luas diyakini lebih dominan, mandiri, agresif, berorientasi pada prestasi dan mampu bertahan, sedangkan perempuan secara luas diyakini lebih mengasihi, bersahabat, rendah diri, dan lebih menolong disaat-saat sedih.
Pada penyelidikan yang lebih baru, perempuan dan laki-laki yang tinggal di negara yang tingkat perkembangannya tinggi lebih menganggap diri mereka sama daripada perempuan dan laki-laki yang tinggal di negara yang tingkat perkembangannya rendah (Santrock, 2003). Pada hasil penyelidikan ini, perempuan lebih mungkin menerima persamaan antar jenis kelamin daripada laki-laki. Sebagai tambahan, jenis kelamin disadari
sebagai sesuatu yang sama oleh penganut agama Kristen daripada komunitas muslim.
e. Seksualitas
Terdapat dua arti mengenai seksualitas, pertama seksualitas menyinggung hal reproduksi atau perkembangbiakan lewat penyatuan individu yang berbeda yang masing-masing menghasilkan sebutir telur dan sperma, dan yang ke-2 adalah menyinggung tingkah laku, perasaan, atau emosi yang berasosiasi dengan perangsangan alat kelamin, daerah erogenus, atau dengan proses perkembangbiakan (Chaplin, 2004)
Tingkah laku seksual remaja biasanya sifatnya meningkat atau progresif. Biasanya diawali dengan necking (berciuman sampai daerah dada), diikuti petting (saling menempelkan alat kelamin), kemudian hubungan intim, atau beberapa kasus seks oral, yang secara besar meningkat pada masa remaja (Santrock, 2003).
Tingkah laku seksual remaja selain nekcing, petting, atau hubungan intim dan oral seks juga terdapat tingkah laku seksual berupa masturbasi atau tingkah laku seksual yang sejenis. Masturbasi adalah cara penyaluran seksual yang paling sering dilakukan oleh banyak remaja. Remaja saat ini tidak merasa bersalah dalam melakukan masturbasi, berbeda degan remaja masa sebelumnya (Sorensen, dalan Santrock, 2003). Ketika remaja mencari tahu identitas seksual mereka, mereka memiliki aturan seksual. Aturan seksual adalah pola yang khas berupa
gambaran peran seseorang, mengenai bagaimana individu harus bertingkah laku secara seksual. Perbedaan antara aturan seksual perempu an dan laki-laki dapat menyebabkan timbulnya masalah dan kebingungan bagi remaja ketika tengah mencari identitas seksual mereka.
Dalam pembentukan identitas seksual, remaja membutuhkan informasi yang tepat mengenai masalah seksualitas. Sumber informasi seks yang paling umum adalah teman sebaya, kemudian diikuti oleh literatur, ibu, sekolah, dan pengalaman (Santrock, 2003). Walaupun sekolah biasanya dianggap sebagai sumber utama pendidikan seks, hanya 15 % informasi mengenai seks yang dimiliki remaja diperoleh dari pengajaran sekolah (Santrock, 2003).
Berdasarkan komitmen dan eksplorasi pada remaja identitas diri dapat dibagi kedalam empat status yaitu penyebaran identitas (identity diffusion),
pencabutan identitas (identity foreclosure), penundaan identitas (identity moratorium), dan pencapaian identitas (identity achievement)(Santrock, 2003).
a. Penyebaran identitas(identity difusion)
Identity diffusion ialah istilah yang digunakan Marcia untuk menggambarkan remaja yang belum mengalami krisis (yaitu mereka yang belum menjajaki pilihan-pilihan yang bermakna) dan belum membuat komitmen apapun. Mereka tidak hanya belum memutuskan pilihan-pilihan
pekerjaan dan ideologis, tetapi juga cenderung memperlihatkan minat yang kecil dalam persoalan-persoalan semacam itu.
Orang yang berada dalam status penyebaran identitas memiliki beberapa ciri antara lain memiliki banyak masalah psikologis dan interpersonal, menarik diri dalam pergaulan sosial dan tingkat keintiman rendah, merasa terasing dengan orang tua, dan memiliki perasaan tertolak dari orang tua.
b. Pencabutan identitas(identity foreclosure)
Identity foreclosure adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan remaja yang telah membuat suatu komitmen tetapi belum mengalami suatu krisis. Ini paling sering terjadi ketika orang tua meneruskan komiten kepada remaja mereka., biasanya secara otoriter. Dalam keadaan-keadaan semacam ini, remaja belum memiliki peluang-peluang yang memadai – untuk menjajaki berbagai pendekatan, ideologi, dan pekerjaan-pekerjaan yang berbeda yang mereka kembangkan sendiri.
Beberapa ciri orang yang berada dalam status ini adalah memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua namun perlu peningkatan sosialisasi dengan orang lain, memiliki tingkat otonomi yang rendah.
c. Penundaan identitas(identity moratorium)
Identity moratorium adalah istilah yang digunakan Marcia untuk menggambarkan remaja yang sedang berada ditengah-tengah krisis, tetapi komitmen mereka tidak ada atau didefinisikan secara samar
Ciri yang melekat pada orang dalam status ini adalah memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan memiliki masalah dalam otoritas, sedikit kaku dan autoritarian.
d. Pencapaian identitas(identity achievement)
Identity achievement adalah istilah Marcia bagi remaja yang telah mengalami suatu krisis dan sudah membuat suatu komitmen.
Beberapa ciri yang melekat pada orang dalam status ini adalah memiliki tingkat self esteem dan motivasi berprestasi yang tinggi, memiliki moral reasoning, memiliki keintiman, dan mampu untuk merefleksikan diri.
Sejumlah peneliti status identitas (Santrock, 1996) mengungkapkan terdapat suatu pola yang umum diantara individu yang telah mengembangkan identitas positif yaitu mengikuti siklus “MAMA”, moratorium-achivement-moratorium-achievement. Siklus ini bisa berlangsung berulang-ulang sepanjang hidup seseorang. Perubahan pribadi, keluarga, dan sosial tidak bisa diperkirakan, dan ketika terjadi, dibutuhkan fleksibilitas dan keterampilan untuk mengeksplorasi alternatif-alternatif baru dan mengembangkan komitmen-komitmen baru yang dapat memfasilitasi kemampuan-kemampuan individu dalam mengatasi masalah.
Sejumlah peneliti status identitas (dalam Santrock, 1996) mengungkapkan terdapat suatu pola yang umum diantara individu yang telah mengembangkan identitas posistif yaitu mengikuti siklus “MAMA”,
moratorium-achivement-moratorium-achievement. Siklus ini bisa berlangsung berulang-ulang sepanjang hidup seseorang. Perubahan pribadi, keluarga, dan sosial tidak bisa diperkirakan, dan ketika terjadi, dibutuhkan fleksibilitas dan keterampilan untuk mengeksplorasi alternatif-alternatif baru dan mengembangkan komitmen-komitmen baru yang dapat memfasilitasi kemampuan-kemampuan individu dalam mengatasi masalah.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Identitas Diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi identitas diri merupakan sesuatu yang sangat luas dan bervariasi, namun faktor-faktor tersebut bukan berarti tidak dapat diidentiifikasi. Berk (2006) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi identitas diri adalah kepribadian (personality), keluarga, teman sebaya, sekolah dan komunitas, dan lingkungan sosial yang lebih besar. a. Kepribadian
Identitas diri sangatlah dipengaruhi oleh kepribadian yang dimiliki oleh seseorang. Remaja yang memiliki asumsi bahwa suatu kebenaran yang absolut selalu dapat ditunjukkan akan cenderung memiliki status pencabutan identitas (Identity foreclosure). Sedangkan remaja yang kurang percaya diri untuk mengetahui sesuatu dengan pasti akan cenderung dalam status penyebaran identitas (Identity difusion). Remaja yang yakin bahwa mereka dapat menggunakan rasionalisasi untuk memilih beberapa alternatif akan cenderung berada dalam status pencapaian identitas
(Identity achievement) atau penundaan identitas (Identity moratorium) (Berzonsky & Kuk, dalam Berk, 2006).
b. Keluarga
Keluarga dimana remaja tinggal sangat memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam pembentukan identitas diri. Remaja yang memiliki keluarga yang memberikan rasa aman, yang membuat remaja dapat percaya diri bergerak dalam dunia yang lebih luas akan memiliki perkembangan identitas yang baik.
Catherine dan Cooper (dalam Santrock, 1996) meyakini bahwa atmosfir keluarga yang mendukung individualitas dan keterikatan merupakan hal yang penting bagi perkembangan identitas remaja. Secara umum, hasil penelitian Cooper mengungkapkan bahwa pembentukan identitas didorong oleh hubungan keluarga yang individual, yaitu yang mendukung remaja untuk mengembangkan pandangannya sendiri, dan juga hubungan yang mengikat yang memberikan landasan yang aman bagi remaja untuk mengeksplorasi dunia sosial yang luas di masa remaja.
Remaja yang memiliki perasaan terikat dengan orang tua dan kedua orang tuanya menunjukkan suatu perlindungan, tetapi remaja memiliki kebebasan untuk mengeluarkan pendapat akan berada pada status pencapaian identitas (identity achievment) atau penundaan identitas (identity moratorium). Remaja yang memiliki status pencabutan identitas (identity foreclosure) selalu memiliki hubungan yang dekat dengan orang
tua, tetapi kurang memiliki kemampuan untuk berpisah dengan orang tuanya. Remaja yang memiliki status penyebaran identitas (identity difusion) cenderung kurang mementingkan kedekatan dengan orang tuanya, dan juga kurang memiliki dukungan dan kehangatan dari orang tua, dan kurang memiliki komunikasi yang terbuka (Berk, 2006).
Stuart Huaser dan koleganya (dalam Santrock, 1996) juga memberi tekanan pada proses keluarga yang mendorong identitas remaja. Para ahli ini telah menemukan bahwa orang tua yang berlaku membiarkan (dengan cara menerangkan, menerima, dan berempati terhadap remaja) lebih bisa mendorong proses perkembangan identitas remaja dibandingkan dengan orang tua yang berlaku mengekang (seperti menghakimi dan tidak menghargai). Gaya interaksi keluarga yang memberikan hak pada remaja untuk menjadi seseorang yang berbeda, dalam suatu konteks dukungan dan mutualis, mendorong pola perkembangan identitas yang sehat.
S. Gulfem Cakir, dan Gul Aydin (2005) meneliti tentang hubungan antara pola asuh orang tua dengan status identitas remaja Turki. Mereka mengungkapkan bahwa remaja yang memiliki orang tua yang autoritatif lebih memiliki status identitas foreclosure dibanding orang tua yang permisif. Walaupun hasil ini bertentangan dengan penemuan sebelumnya, hal ini dapat dijelaskan sebab orang tua yang autoritatif memimpin anak remaja ke dalam penetapan identifikasi yang kuat dengan orang tua mereka dan orang tua autoritatif cenderung menginternalisasi nilai dan
aturan orangtua mereka. Sebagai Konsekwensi, pola asuh autoritatif memungkinkan untuk mendorong status identitas foreclosure.
Pola asuh orang tua yang diterapkan dalam keluarga juga memiliki pengaruh dalam pembentukan identitas diri remaja. Orang tua dengan gaya pengasuhan demokratis, yang mendorong remaja untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan keluarga akan mempercepat pencapaian identitas. Orang tua dengan gaya pengasuhan otokratis, yang mengendalikan perilaku remaja tanpa memberi remaja peluang mengemukakan pendapat, akan menghambat pencapaian identitas. Menurut Bernard (dalam Santrock, 1996) Orang tua dengan gaya pengasuhan permisif, yang memberi bimbingan terbatas kepada remaja dan mengizinkan mereka mengambil keputusan-keputusan sendiri akan meningkatkan kebingungan identitas.
c. Teman Sebaya
Teman sebaya adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat kedewasaan yang sama (Santrock, 2003). Salah satu fungsi utama dari teman sebaya adalah untuk menyediakan berbagai informasi mengenai dunia luar keluarga. Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, remaja mencoba untuk memperluas ide dan nilai yang dimiliki. Teman sebaya membantu remaja mengeksplorasi pilihan-pilihan dengan menunjukkan dukungan emosional, memberikan bantuan, dan model peran dalam perkembangan identitas (Josselson, dalam Berk, 2006). Teman dapat
menjadi rekan kerja yang aktif dalam membangun kesadaran atas identitasnya (Santrock, 2003).
Remaja dalam berinteraksi dengan teman sebaya sangatlah memungkinkan terjadinya sebuah konformitas. Konformitas ini dapat mempengaruhi aspek-aspek kehidupan remaja dan bahkan dapat mempengaruhi perkembangan identitas remaja. Adam G.R, dkk (1984) dalam penelitiannya terhadap korelasi antara status identitas ego dengan konformitas mengatakan bahwa siswa dengan identitas difusi lebih dipengaruhi oleh tekanan konformitas teman sebaya, sedangkan siswa yang memiliki identitas achievement berperilaku sesuai dengan temannya untuk kepentingan berprestasi.
d. Sekolah dan Komunitas
Perkembangan identitas juga tergantung dengan sekolah dan komunitas yang sangat kaya dan bervariasi kesempatan untuk eksplorasi. Sekolah dapat membantu perkembangan identitas dengan berbagai cara misalnya melalui ekstrakurikuler dan aktivitas komunitas yang dapat membuat remaja bertanggung jawab atas perannya, program pelatihan bekerja yang melibatkan remaja dalam dunia nyata orang dewasa bekerja (Cooper, Berk, 2006).
e. Lingkungan Sosial yang Lebih Besar (faktor kebudayaan dan etnis)
Konteks kebudayaan yang lebih luas dan periode waktu sejarah mempengaruhi perkembangan identitas. Faktor-faktor kebudayaan menjadi suatu perhatian yang besar bagi Erikson (Santrock, 1996). Banyak penelitian yang mengungkapkan faktor-faktor kebudayaan dan etnis berperan besar dalam perkembangan identitas, namun penelitian tersebut lebih menekankan pada bagaimana kelompok etnis minoritas berjuang mempertahankan identitas budaya mereka bersamaan dengan penyesuaian mereka terhadap budaya mayoritas. Phinney dan Alipuria (Santrock, 1996) dalam penelitiannya mengatakan bahwa proses eksplorasi identitas etnis lebih sering terjadi pada mahasiswa etnis minoritas dibandingkan dengan mahasiswa kulit putih.
Santrock (2003) secara tidak langsung juga menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas diri yaitu pengaruh keluarga terutama orang tua, dan aspek budaya dan etnis. Dalam pembentukan identitas karir faktor-faktor yang mempengaruhi adalah kelas sosial, orang tua dan teman sebaya, sekolah serta gender (Santrock, 2003).
Dari beberapa pendapat para ahli mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas diri, peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas diri dapat