• Tidak ada hasil yang ditemukan

(enam) bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni

Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember

2015 2014 2014 2013 2012

Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian

Penjualan Bersih 43.742,6 39.093,5 80.690,1 75.025,2 66.626,1

Beban Pokok Penjualan (33.482,3) (29.241,1) (60.190,0) (54.953,9) (48.118,8)

Laba Kotor 10.260,3 9.852,4 20.500,1 20.071,3 18.507,3

Beban Penjualan (2.753,1) (2.360,1) (5.295,4) (4.027,6) (3.732,3)

Beban Umum dan Administrasi (765,3) (691,7) (1.399,3) (1.443,5) (1.424,5)

Penghasilan Lain-Lain 103,3 61,6 151,8 237,5 59,4

Beban Lain-lain (124,4) (134,1) (263,1) (317,2) (114,5)

Penghasilan Keuangan 25,3 31,5 57,5 48,9 120,0

Biaya Keuangan (52,4) (19,0) (47,4) (69,1) (34,7)

Bagian atas Hasil Bersih Entitas Asosiasi 7,5 2,7 14,1 9,4 2,6

Laba sebelum Pajak Penghasilan 6.701,2 6.743,3 13.718,3 14.509,7 13.383,3

Beban Pajak Penghasilan (1.689,4) (1.712,0) (3.537,2) (3.691,2) (3.438,0)

Laba Periode/Tahun Berjalan 5.011,8 5.031,3 10.181,1 10.818,5 9.945,3

Penghasilan Komprehensif Lain Pos yang Tidak Akan Direklasifikasi ke Laba Rugi

Pengukuran Kembali Imbalan

Pascakerja (142,4) (162,6) (221,4) (12,5) (227,7)

Beban Pajak Penghasilan Terkait 35,4 40,6 55,2 3,1 56,9

(107,0) (122,0) (166,2) (9,4) (170,8)

Pos yang Dapat Direklasifikasi ke Laba Rugi

Selisih Kurs karena Penjabaran

Laporan Keuangan 0,1 0,3 0,1 (1,1) 30,9

Penghasilan Komprehensif Lain, Setelah

Pajak (106,9) (121,7) (166,1) (10,5) (139,9)

Jumlah Penghasilan Komprehensif

Periode/Tahun Berjalan 4.904,9 4.909,6 10.015,0 10.808,0 9.805,4

1. Perbandingan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dengan periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 (tidak diaudit)

Penjualan Bersih

Penjualan bersih Perseroan meningkat 11,9% menjadi Rp43.742,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp39.093,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama disebabkan oleh kenaikan volume penjualan domestik dan kenaikan harga produk rokok Perseroan selama periode tersebut yang sebagian besar didorong oleh kenaikan cukai dan perubahan komposisi harga dan produk Perseroan.

Penjualan bersih Perseroan dari SKM meningkat sebesar 18,8% menjadi Rp27.456,9 miliar, yang memberikan kontribusi sebesar 62,8% dari total penjualan bersih untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015, dibandingkan dengan Rp23.103,5 miliar, yang memberikan kontribusi sebesar 59,1% dari total penjualan bersih untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014. Volume penjualan SKM

meningkat dari 33,4 miliar batang ke 36,1 miliar batang. Sampoerna A memberikan kontribusi sebesar 43,9%

dari penjualan bersih untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dibandingkan dengan

43,1% untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014. Merek Sampoerna U berkontribusi

sebesar 10,4% dari penjualan bersih Perseroan pada periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dibandingkan 10,8% pada periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014. Dji Sam Soe SKM (Magnum) juga mengalami kenaikan yang signifikan dengan kontribusi sebesar 8,5% dari penjualan bersih Perseroan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015, dari sebesar 5,2% untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014.

Penjualan bersih Perseroan dari SKT menurun sebesar 2,1% menjadi Rp9.098,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp9.294,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama disebabkan oleh tren perubahan preferensi perokok dewasa dari produk SKT ke produk SKM, yang mencerminkan penurunan keseluruhan segmen SKT di pasar Indonesia. Meskipun

tren preferensi perokok dewasa berubah dari produk SKT ke produk SKM, merek Dji Sam Soe mengalami

kenaikan penjualan dari Rp7.872,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 menjadi sebesar Rp9.506,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015, didorong oleh volume penjualan yang positif dari Dji Sam Soe Magnum dan suksesnya peluncuran Dji Sam Soe Magnum Blue, dimana keduanya merupakan bagian dari portofolio SKM Perseroan. Merek Dji Sam Soe memberikan kontribusi sebesar 21,7% dari penjualan bersih Perseroan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dibandingkan dengan 20,1% untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014.

Merek Sampoerna Kretek memberikan kontribusi sebesar 7,1% dari penjualan bersih Perseroan untuk periode

enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dibandingkan dengan 8,2% untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014.

Penjualan bersih Perseroan yang berasal dari SPM meningkat sebesar 7,7% menjadi Rp6.473,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp6.011,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014, terutama disebabkan oleh kenaikan harga, yang sebagian diimbangi oleh penurunan volume penjualan SPM. Penjualan SPM memberikan kontribusi sebesar 14,8% terhadap penjualan bersih Perseroan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015, dibandingkan dengan 15,4% untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014.

Beban Pokok Penjualan

Beban pokok penjualan Perseroan meningkat sebesar 14,5% menjadi Rp33.482,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp29.241,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama disebabkan oleh kenaikan cukai dan biaya produksi akibat dari kenaikan beban gaji dan inflasi. Salah satu kontributor kenaikan beban pokok penjualan adalah pembayaran sebesar Rp604,3 miliar ke MPS terkait dengan perubahan volume produksi kontraktual dengan MPS, yang disebabkan oleh adanya penurunan permintaan SKT dari perokok dewasa selama beberapa tahun terakhir.

Beban Penjualan

Beban penjualan meningkat sebesar 16,7% menjadi Rp2.753,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp2.360,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014, terutama disebabkan oleh biaya distribusi yang lebih tinggi, sejalan dengan peningkatan volume penjualan, peningkatan inflasi yang menyebabkan peningkatan gaji dan imbalan kerja karyawan bagian penjualan dan kenaikan biaya pemasaran dan pengiklanan untuk portofolio produk SKM dan SKT saat ini serta peluncuran produk baru U Bold.

Beban umum dan Administrasi

Beban umum dan administrasi meningkat sebesar 10,6% menjadi Rp765,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp691,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama disebabkan oleh kenaikan biaya akibat inflasi, sebagaimana tercermin pada kenaikan gaji dan imbalan kerja karyawan.

Penghasilan dan Beban Lain-lain (Beban Lain-lain Bersih)

Penghasilan dan beban lain-lain (beban lain-lain bersih) menurun sebesar 70,8% menjadi Rp21,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp72,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama disebabkan oleh keuntungan atas penjualan aset tetap, diimbangi kerugian dari selisih kurs.

Penghasilan Keuangan

Penghasilan keuangan Perseroan menurun sebesar 19,7% menjadi Rp25,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp31,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 yang terutama disebabkan oleh pendapatan bunga dari kas di bank dan piutang dari pihak berelasi.

Biaya Keuangan

Biaya keuangan Perseroan meningkat sebesar 175,8% menjadi Rp52,4 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp19,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama disebabkan oleh tambahan penarikan atas fasilitas pinjaman jangka pendek Perseroan.

Selain itu, jumlah biaya keuangan Perseroan juga meningkat dikarenakan peningkatan biaya transaksi swap

Bagian atas hasil Bersih Entitas Asosiasi

Bagian atas hasil bersih entitas asosiasi berjumlah Rp7,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dibandingkan dengan Rp2,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014.

Laba Sebelum Pajak Penghasilan

Laba sebelum pajak penghasilan Perseroan menurun sebesar 0,6% menjadi Rp6.701,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp6.743,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014.

Beban Pajak Penghasilan

Beban pajak penghasilan Perseroan menurun sebesar 1,3% menjadi Rp1.689,4 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp1.712,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama sebagai akibat dari penurunan laba sebelum pajak penghasilan Perseroan.

Laba Periode Berjalan

Laba periode berjalan Perseroan menurun sebesar 0,4%, menjadi Rp5.011,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp5.031,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal

30 Juni 2014.

Selisih Kurs karena Penjabaran Laporan Keuangan

Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan menurun menjadi sebesar Rp0,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp0,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 sebagai akibat dari fluktuasi nilai tukar valuta asing.

Pengukuran Kembali Imbalan Pascakerja - Setelah Beban Pajak Penghasilan Terkait

Pengukuran kembali imbalan pascakerja (setelah beban pajak penghasilan terkait) menurun menjadi Rp107,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp122,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 disebabkan oleh perubahan asumsi-asumsi aktuaria dan penyesuaian atas liabilitas imbalan pascakerja.

Penghasilan Komprehensif untuk Periode Berjalan

Jumlah penghasilan komprehensif untuk periode berjalan menurun sebesar 0,1% menjadi Rp4.904,9 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dari Rp4.909,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 terutama disebabkan oleh selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan dan pengukuran kembali imbalan pascakerja.

2. Perbandingan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014 dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013

Penjualan Bersih

Penjualan bersih Perseroan meningkat sebesar 7,6% menjadi Rp80.690,1 miliar pada tahun 2014 dari Rp75.025,2 miliar pada tahun 2013 disebabkan oleh kenaikan harga rokok Perseroan, yang sebagian didorong oleh kenaikan cukai dan perubahan pada komposisi harga dan produk Perseroan. Kenaikan harga ini sebagian diimbangi dengan penurunan pada volume penjualan secara keseluruhan.

Volume penjualan domestik rokok secara keseluruhan menurun sebesar 1,5% menjadi 109,7 miliar batang pada tahun 2014 dari 111,3 miliar batang pada tahun 2013 disebabkan oleh penghentian produksi dua merek, yaitu Vegas Mild dan Trend Mild, sebagai tanggapan atas perubahan peraturan perpajakan yang berdampak pada penurunan volume penjualan sebesar 2,2 miliar batang secara keseluruhan.

Penjualan bersih Perseroan dari SKM meningkat sebesar Rp7.883,1 miliar atau sebesar 19,3% menjadi Rp48.722,0 miliar, yang memberikan kontribusi sebesar 60,4% dari total penjualan bersih pada tahun 2014, dibandingkan dengan Rp40.838,9 miliar, yang memberikan kontribusi sebesar 54,4% dari total penjualan bersih pada tahun 2013. Volume penjualan rokok SKM meningkat dari 63,3 miliar batang ke 69,0 miliar batang. Sampoerna A memberikan kontribusi sebesar 43,3% dari penjualan bersih Perseroan pada tahun 2014 dibandingkan dengan 41,8% pada tahun 2013. Merek Sampoerna U berkontribusi sebesar 10,9% dari penjualan bersih Perseroan pada tahun 2014 dibandingkan 8,2% pada tahun 2013.

Penjualan bersih Perseroan dari SKT menurun sebesar 15,2% menjadi Rp18.645,2 miliar pada tahun 2014 dari Rp21.993,8 miliar pada tahun 2013 terutama disebabkan oleh tren perubahan preferensi perokok dewasa dari produk SKT ke produk SKM, yang mencerminkan penurunan keseluruhan segmen SKT di pasar Indonesia. Merek Dji Sam Soe memberikan kontribusi sebesar 20,9% dari penjualan bersih pada tahun 2014, dibandingkan dengan 22,6% pada tahun 2013. Namun penurunan penjualan bersih dari Dji Sam Soe sebagian diimbangi oleh volume penjualan yang positif dari Dji Sam Soe Magnum dan suksesnya peluncuran Dji Sam Soe Magnum Blue, dimana keduanya merupakan bagian dari portofolio SKM Perseroan. Merek Sampoerna Kretek memberikan kontribusi sebesar 7,8% dari penjualan bersih Perseroan tahun 2014 dibandingkan dengan 9,1% pada tahun 2013.

Penjualan bersih Perseroan yang berasal dari SPM meningkat sebesar 10,5% menjadi Rp12.149,4 miliar pada tahun 2014 dari Rp10.997,7 miliar pada tahun 2013, terutama disebabkan oleh kenaikan harga, mengingat volume penjualan bersih SPM yang stagnan pada tahun 2014. Penjualan bersih SPM memberikan kontribusi sebesar 15,1% terhadap penjualan bersih Perseroan pada tahun 2014, sedangkan pada tahun 2013 sebesar 14,7%.

Beban Pokok Penjualan

Beban pokok penjualan Perseroan meningkat sebesar 9,5% menjadi Rp60.190,0 miliar pada tahun 2014 dari Rp54.953,9 miliar pada tahun 2013 terutama disebabkan oleh kenaikan cukai dan biaya produksi akibat dari kenaikan beban gaji dan inflasi. Biaya persediaan cengkeh yang semakin tinggi pada tahun 2012 berlanjut mempengaruhi beban pokok penjualan pada tahun 2014. Perubahan komposisi produk Perseroan sebagai dampak atas perubahan tren pasar dari SKT ke SKM juga mengakibatkan peningkatan beban cukai, mengingat produk SKM dibebankan cukai per unit yang lebih tinggi daripada produk SKT, yang sebagian diimbangi oleh harga bahan baku per unit dan beban tenaga kerja yang lebih rendah untuk SKM.

Beban Penjualan

Beban penjualan meningkat sebesar 31,5% menjadi Rp5.295,4 miliar pada tahun 2014 dari Rp4.027,6 miliar pada tahun 2013 terutama disebabkan oleh tingkat distribusi yang lebih tinggi di wilayah Jawa dan investasi pada penjualan dan pemasaran untuk portofolio produk SKM dan SKT saat ini (khususnya Dji Sam Soe Magnum dan A Mild) dan untuk peluncuran produk barunya, Dji Sam Soe Magnum Blue.

Beban umum dan Administrasi

Beban umum dan administrasi menurun sebesar 3,1% menjadi Rp1.399,3 miliar pada tahun 2014 dari Rp1.443,5 miliar pada tahun 2013 yang disebabkan oleh penurunan beban jasa manajemen, yang sebagian diimbangi oleh kenaikan biaya akibat inflasi, sebagaimana tercermin pada kenaikan gaji, upah dan imbalan kerja karyawan.

Penghasilan dan Beban Lain-lain (Beban Lain-lain Bersih)

Penghasilan dan beban lain-lain (beban lain-lain bersih) meningkat sebesar 39,6% menjadi Rp111,3 miliar pada tahun 2014 dari Rp79,7 miliar pada tahun 2013 terutama disebabkan oleh pembayaran yang terkait dengan penghentian fasilitas manufaktur SKT di Jember dan Lumajang, yang sebagian diimbangi oleh keuntungan dari penjualan aset tetap dan keuntungan selisih kurs.

Penghasilan Keuangan

Penghasilan keuangan Perseroan meningkat sebesar 17,6% menjadi Rp57,5 miliar pada tahun 2014 dari Rp48,9 miliar pada tahun 2013 yang terutama disebabkan oleh pendapatan bunga dari kas di bank dan piutang dari pihak berelasi.

Biaya Keuangan

Biaya keuangan Perseroan sebesar Rp47,4 miliar terutama dihasilkan dari transaksi swap mata uang asing

untuk lindung nilai terkait pinjaman dengan Philip Morris Finance SA. Biaya keuangan Perseroan menurun sebesar 31,4% menjadi Rp47,4 miliar pada tahun 2014 dari Rp69,1 miliar pada tahun 2013 terutama disebabkan oleh penurunan pembiayaan jangka pendek pihak berelasi dengan Philip Morris Finance SA dan PMID.

Bagian atas hasil Bersih Entitas Asosiasi

Bagian atas hasil bersih entitas asosiasi berjumlah Rp14,1 miliar pada tahun 2014 dibandingkan dengan Rp9,4 miliar pada tahun 2013.

Laba Sebelum Pajak Penghasilan

Laba sebelum pajak penghasilan Perseroan menurun sebesar 5,5% menjadi Rp13.718,3 miliar pada tahun 2014 dari Rp14.509,7 miliar pada tahun 2013.

Beban Pajak Penghasilan

Beban pajak penghasilan Perseroan menurun sebesar 4,2% menjadi Rp3.537,2 miliar pada tahun 2014 dari Rp3.691,2 miliar pada tahun 2013 terutama sebagai akibat dari penurunan laba sebelum pajak penghasilan Perseroan.

Laba Tahun Berjalan

Laba tahun berjalan Perseroan menurun sebesar 5,9% menjadi Rp10.181,1 miliar pada tahun 2014 dari Rp10.818,5 miliar pada tahun 2013. Laba tahun 2014 khususnya dipengaruhi oleh biaya terkait pengurangan kapasitas produksi SKT.

Selisih Kurs karena Penjabaran Laporan Keuangan

Sebagai akibat dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing, Perseroan memperoleh laba selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan pada tahun 2014 sebesar Rp0,1 miliar, dan rugi selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan sebesar Rp1,1 miliar pada tahun 2013.

Pengukuran Kembali Imbalan Pascakerja - Setelah Beban Pajak Penghasilan Terkait

Pengukuran kembali imbalan pascakerja (setelah beban pajak penghasilan terkait) sebesar Rp166,2 miliar pada tahun 2014 dari Rp9,4 miliar pada tahun 2013 disebabkan oleh perubahan asumsi-asumsi aktuaria dan penyesuaian atas liabilitas imbalan pascakerja.

Penghasilan Komprehensif untuk Tahun Berjalan

Jumlah penghasilan komprehensif untuk tahun berjalan menurun sebesar 7,3% menjadi Rp10.015,0 miliar pada tahun 2014 dari Rp10.808,0 miliar pada tahun 2013 terutama disebabkan oleh selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan dan pengukuran kembali imbalan pascakerja.

3. Perbandingan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012

Penjualan Bersih

Penjualan bersih Perseroan meningkat sebesar 12,6% menjadi Rp75.025,2 miliar pada tahun 2013 dari Rp66.626,1 miliar pada tahun 2012 disebabkan oleh kenaikan volume penjualan domestik yang lebih tinggi pada tahun berjalan, yang meningkat menjadi 111,3 miliar batang pada tahun 2013 dari 107,7 miliar batang pada tahun 2012, dan kenaikan harga produk Perseroan, yang sebagian besar didorong oleh kenaikan cukai dan biaya produksi.

Penjualan bersih Perseroan dari produk SKM meningkat sebesar Rp7.688,6 miliar atau sebesar 23,2% menjadi Rp40.838,9 miliar, dimana jumlah tersebut memberi kontribusi sebesar 54,4% atas total penjualan bersih pada tahun 2013 dibandingkan dengan Rp33.150,3 miliar, dimana jumlah tersebut memberi kontribusi sebesar 49,7% atas total penjualan bersih pada tahun 2012. Volume penjualan SKM meningkat dari 56,6 miliar batang menjadi

63,3 miliar batang. Sampoerna A, berkontribusi sebesar 41,8% atas penjualan bersih Perseroan pada tahun

2013 dibandingkan dengan 40,3% pada tahun 2012. Diikuti oleh merek Sampoerna U, yang memberikan

kontribusi sebesar 8,2% atas penjualan bersih pada tahun 2013 dibandingkan dengan 6,0% pada tahun 2012. Penjualan bersih Perseroan dari produk SKT menurun sebesar 7,5% menjadi Rp21.993,8 miliar pada tahun 2013 dari Rp23.783,9 miliar pada tahun 2012, terutama disebabkan oleh tren perubahan preferensi perokok dewasa jangka panjang yang beralih dari produk SKT ke produk SKM, yang mencerminkan penurunan secara keseluruhan dari segmen SKT di pasar rokok Indonesia.

Penjualan bersih Perseroan dari SPM meningkat sebesar 22,4% menjadi Rp10.997,7 miliar pada tahun 2013 dari Rp8.984,4 miliar pada tahun 2012, yang disebabkan oleh kenaikan volume penjualan dan harga. Penjualan SPM memberikan kontribusi sebesar 14,7% atas penjualan bersih Perseroan pada tahun 2013 dibandingkan dengan 13,5% pada tahun 2012.

Beban Pokok Penjualan

Beban pokok penjualan Perseroan meningkat sebesar 14,2% menjadi Rp54.953,9 miliar pada tahun 2013 dari Rp48.118,8 miliar pada tahun 2012 terutama disebabkan oleh volume penjualan yang lebih tinggi, harga bahan baku baik tembakau maupun cengkeh yang lebih tinggi, kenaikan biaya akibat inflasi dan kenaikan tarif cukai. Harga persediaan cengkeh yang meningkat pada tahun 2012 mempengaruhi beban pokok penjualan di tahun 2013. Perubahan komposisi produk Perseroan yang diakibatkan oleh kelanjutan tren perubahan dari SKT ke SKM juga mengakibatkan kenaikan beban cukai, mengingat SKM dibebankan cukai per unit yang lebih tinggi dibandingkan SKT, yang sebagian diimbangi harga bahan baku per unit dan upah tenaga kerja untuk SKM yang lebih rendah.

Beban Penjualan

Beban penjualan meningkat sebesar 7,9% menjadi Rp4.027,6 miliar pada tahun 2013 dari Rp3.732,3 miliar pada tahun 2012 terutama disebabkan oleh kenaikan biaya akibat inflasi sebagaimana tercermin pada kenaikan gaji, upah dan imbalan kerja untuk tenaga penjualan.

Beban umum dan Administrasi

Beban umum dan administrasi meningkat sebesar 1,3% menjadi Rp1.443,5 miliar pada tahun 2013 dari Rp1.424,5 miliar pada tahun 2012 terutama disebabkan oleh kenaikan gaji, upah dan imbalan kerja.

Penghasilan dan Beban Lain-lain (Beban Lain-lain Bersih)

Penghasilan dan beban lain-lain (beban lain-lain bersih) meningkat sebesar 44,6% menjadi Rp79,7 miliar pada tahun 2013 dari Rp55,1 miliar pada tahun 2012 yang terutama disebabkan oleh kerugian dari selisih kurs, sebagian diimbangi dengan keuntungan dari penjualan aset tetap.

Penghasilan Keuangan

Penghasilan keuangan Perseroan menurun sebesar 59,3% menjadi Rp48,9 miliar pada tahun 2013 dari Rp120,0 miliar pada tahun 2012 dan terutama disebabkan pendapatan bunga yang dihasilkan dari kas di bank dan piutang dari pihak berelasi.

Biaya Keuangan

Biaya keuangan Perseroan sebesar Rp69,1 miliar terutama dihasilkan dari transaksi swap mata uang asing

untuk lindung nilai terkait pinjaman pihak berelasi dengan Philip Morris Finance SA. Biaya keuangan Perseroan meningkat 99,1% menjadi Rp69,1 miliar pada tahun 2013 dari Rp34,7 miliar pada tahun 2012 terutama disebabkan oleh pembiayaan jangka pendek pihak berelasi dengan Philip Morris Finance SA dan PMID.

Bagian atas hasil Bersih Entitas Asosiasi

Bagian atas hasil bersih entitas asosiasi Perseroan berjumlah Rp9,4 miliar pada tahun 2013 dibandingkan dengan Rp2,6 miliar pada tahun 2012.

Laba Sebelum Pajak Penghasilan

Laba sebelum pajak penghasilan Perseroan meningkat sebesar 8,4% menjadi Rp14.509,7 miliar pada tahun 2013 dari Rp13.383,3 miliar pada tahun 2012.

Beban Pajak Penghasilan

Beban pajak penghasilan Perseroan meningkat sebesar 7,4% menjadi Rp3.691,2 miliar pada tahun 2013 dari Rp3.438,0 miliar pada tahun 2012 terutama disebabkan oleh peningkatan laba sebelum pajak penghasilan.

Laba Tahun Berjalan

Laba tahun berjalan Perseroan meningkat sebesar 8,8% menjadi Rp10.818,5 miliar pada tahun 2013 dari Rp9.945,3 miliar pada tahun 2012.

Selisih Kurs karena Penjabaran Laporan Keuangan

Sebagai akibat dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing, Perseroan mengalami rugi selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan pada tahun 2013 sebesar Rp1,1 miliar dan memperoleh laba selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan pada tahun 2012 sebesar Rp30,9 miliar.

Pengukuran Kembali Imbalan Pascakerja Setelah Beban Pajak Penghasilan Terkait

Pengukuran kembali imbalan pascakerja (setelah beban pajak penghasilan terkait) berjumlah Rp9,4 miliar pada tahun 2013 dibandingkan Rp170,8 miliar pada tahun 2012 disebabkan oleh penerapan Pernyataan Standar

Akuntansi Keuangan (“PSAK”) baru pada tahun 2012 terkait dengan perubahan metode pengakuan keuntungan/(kerugian) aktuarial melalui pendapatan komprehensif lain dan perubahan dalam asumsi-asumsi aktuaria dan penyesuaian atas liabilitas imbalan pascakerja.

Jumlah Penghasilan Komprehensif untuk Tahun Berjalan

Jumlah penghasilan komprehensif untuk tahun berjalan meningkat sebesar 10,2% menjadi Rp10.808,0 miliar pada tahun 2013 dari Rp9.805,4 miliar pada tahun 2012 terutama disebabkan oleh selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan dan pengukuran kembali imbalan pascakerja.