C. Deskripsi Hasil Wawancara
1. Enterprise strategy
Strategi ini berkaitan dengan respons masyarakat. Setiap organisasi mempunyai hubungan dengan masyarakat. Dinas Pariwisata Kabupaten Karo berusaha melakukan pendekatan dengan masyarakat setempat.
b) Corporate Strategy
Strategi ini berkaitan dengan misi organisasi, sehingga sering disebut Grand Strategy yang meliputi bidang yang digeluti oleh suatu organisasi. Dalam hal ini Dinas Pariwisata memiliki misi melakukan pembangunan dan penataan air terjun Sipiso-piso dan Tongging.
c) Business Strategy
Strategi pada tingkat ini menjabarkan bagaimana merebut pasaran di tengah masyarakat. Beberapa rencana pembangunan dan penataan sekitar objek diharapkan mampu merebut pasar pariwisata baik lokal maupun internasional.
d) Functional Strategy
Strategi ini merupakan strategi pendukung dan untuk menunjang suksesnya strategi lain. Penulis melihat bahwa ada hubungan kerjasama antar dinas terkait dan masyarakat dalam pengembangan objek wisata.
C. Analisi SWOT Objek Wisata
Analisis SWOT adalah sebuah analisis yang dicetuskan oleh Albert Humprey pada tahun 1960-1970-an. Analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk menggambarkan kondisi dan mengevaluasi suatu masalah,
proyek atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor internal (dalam) yaitu Strengths (kekuatan), Weakness (kelemahan) dan faktor eksternal (luar) yaitu, Opportunity (peluang) dan Threats (ancaman).
1. Strengths (kekuatan)
Dari hasil lapangan yang peneliti peroleh maka yang menjadi kekuatan dari Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging adalah Air terjun Sipiso-piso dan Tongging merupakan produk pariwisata layak jual Kabupaten Karo merupakan Air terjun Tertinggi di Indonesia dan Tongging sebagai Geo Site nomor 1 dari Danau Toba. Bahkan menurut salah satu informan menerangkan bahwa dengan keindahan alam yang luar biasa Wisatawan yang datang ke Objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging tidak akan merasa kecewa karena selain menikmati keindahan Air terjun Sipiso-piso pengunjung juga akan dapat merasakan langsung keindahan Tongging dengan view langsung mengarah ke Danau Toba selain itu juga objek wisata tersebut didukung dengan lancarnya transportasi.
2. Weakness (kelemahan)
Meskipun demikian tetap saja objek wisata tersebut memiliki kelemahan, adapun yang menjadi kelemahan dari pengembangan Objek Wisata tersebut adalah ketidakmampuan Pemerintah dan masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan potensi yang ada. Dalam
pengembangannya tentunya Sumber Daya Manusia sangat mempengaruhi berkembang tidaknya suatu objek wisata.
3. Opportunity (peluang)
Namun dengan adanya fokus pembangunan dari Pariwisata yang memfokuskan pembangunan pariwisata pada 10 kawasan destinasi pariwisata dimana salah satunya adalah Danau Toba. Danau Toba sedang dirancang sebagai salah satu destinasi Pariwisata berskala Internasional.
Hal ini menjadi salah satu Peluang bagi objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging untuk dapat dikenal masyarakat luas dan dapat meningkatkan pembangunan dan berbagai fasilitas yang mendukung pengembangan objek wisata.
4. Threats (ancaman).
Berdasarkan hasil penelitian dengan informan menjelaskan bahwa apabila peluang tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat dengan maksimal tentunya akan berdampak buruk bagi kunjungan wisatawan. Pemerintah dan masyarakat harus dapat bekerjasama dalam hal pelayanan dan penambahan berbagai fasilitas pendukung seperti pembangunan infrastruktur, fasilitas Permainan air, penginapan dan pembangunan toilet umum.
D. Pembangunan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
Indikator keberhasilan suatu daerah dapat dilihat dari pembangunan daerah itu sendiri. Menurut Nugroho dan Dahuri dalam
Badruddin menyatakan pembangunan dapat diartikan sebagai suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi55
55
. Dari Keterangan Informan menyatakan bahwa Dinas Pariwisata Kabupaten Karo sedang merancang dan melaksanakan beberapa pembangunan yang dianggap akan mendukung pengembangan objek wisata tersebut. Adapun beberapa Pembangunan yang akan dilakukan adalah pembangunan Gapura selamat datang, pembangunan gedung souvenir dan tempat persinggahan bagi wisatawan . Pemerintah juga akan melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana seperti perbaikan pagar , penataan taman, dan pengecatan pada fasilitas-fasilitas pendukung pengembangan objek wisata. Penulis menyimpulkan dari keterangan informan mengenai pembangunan yang dirancang adalah dalam rangka memenuhi aspirasi masyarakat setempat guna meningkatkan perekonomian masyarakat .
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh H.R Mulyanto mengenai program-program yang akan dilakukan dalam pembangunan Wilayah harus dirancang dan dilaksanakan oleh, serta rujukan bagi kepentingan-kepentingan bersama para pelaku-pelaku yakni
1. Pemerintah:
http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/ Diakses Tanggal 02 September 2016 Pukul 16.00 wib
Pemerintah akan bertugas melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, koordinasi maupun administrasi seluruh program-program di dalam proses pembangunan wilayah sebagai bagian dari tugas-tugasnya di dalam pengat uran sebagai administrator wilayah.
Termasuk juga sebagai tugas pemeri ntah adalah menciptakan iklim sosial dan politik serta keamanan yang menunjang serta menyediakan kemudahan-kemudahan seperti pemberian pinjaman, hibah, atau rangsangan pajak, bagi pemilik modal atau dunia usaha yang berperan serta, bantuan untuk mengembangkan sumberdaya manusia, transportasi serta fasilitas-fasilitas sanitasi, dan berbagai tingkat pengaturan Pemerintah Pusat dalam penyediaan lahan (Pemerintah). Dari hasil penelitian lapangan peneliti menyimpulkan bahwa Pemerintah Kabupaten Karo sudah menjalankan sebagian tugasnya dalam pembangunan objek wisata Air terjun dan Tongging. Hal ini dilihat bahwa pemerintah telah membuat rancangan program pembangunan yang akan segera dilaksanakan pada tahun 2017.
2. Masyarakat
Dalam melaksanakan pengembangan wilayah objek wisata, sebaiknya program-program yang akan dilaksanakan harus bersifat menampung, dan memenuhi kehendak atau aspirasi masyarakat (bottom-up) yang disalurkan melewati DPRD. Dengan demikian masyarakat akan bersedia berperan sebagai subyek dan pelaku aktif pengembangan wilayah, sehingga akan memberikan peran sertanya secara maksimal.
Dari teori tersebut peneliti melihat bahwa Masyarakat Air terjun sipiso-piso dan Tongging telah berperan aktif dalam pengembangan objek wisata. Dari keterangan wawancara dengan informan menjelaskan bahwa masyrakat telah turut berpartisipasi dalam penyediaan makanan, minuman, memberikan pelayanan kepada pengunjung dan ikut menjaga kelestarian alam. Namun meskipun demikian peneliti melihat bahwa peran masyarakat harus lebih ditingkatkan dan lebih dibina oleh Pemerintah agar masyarakat lebih paham sadar wisata.
3. Dunia Usaha atau pemilik modal
Dunia usaha atau pemilik modal akan berperan sebagai pemasok jasa, keahlian atau expertise, dana maupun material yang diperlukan.
Mereka akan mendapatkan lahan usaha, dan keuntungan dari usaha serta perannya di dalam pelaksanaan pengembangan wilayah, dengan terciptanya pasar bagi produl-produk mereka.
Berdasarkan teori diatas Peneliti melihat bahwa pemilik modal pada Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging sudah memiliki peran yang cukup membantu pengembangan objek wisata tersebut.
Berdasarkan wawancara dengan informan mejelaskan bahwa pemilik modal sudah mulai membantu pengembangan objek wisata dengan bekerjasama dengan masyarakat setempat. Selain ikut mengembangkan objek wisata pelaku usaha atau pemilik modal juga sudah membantu masyarakat setempat dalam menciptakan lowongan pekerjaan.
E. Fasilitas pendukung dalam pengembangan objek wisata
Fasilitas Adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan suatu usaha. Sesuatu yang dapat memudahkan dan melancarkan suatu usaha tersebut biasanya berupa benda – benda atau uang. Dalam mendukung pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging tentunya tidak terlepas dari dukungan fasilitas. Fasilitas yang memadai akan mempengaruhi pengembangan suatu objek wisata. Berdasarkan pendapat Larry E. Herber mengemukakan unsur-unsur dalam suatu rencana destinasi tidak terlepas dari penyediaan fasilitas pendukung pengembangan objek wisata. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan peneliti menyimpulkan bahwa Fasilitas yang ada masih kurang memadai seperti fasilitas permainan air, penginapan,dan toilet umum.
Fasilitas sangat membantu di dalam pengembangan objek wisata sampai saat ini Dinas Pariwisata Kabupaten karo masih berusaha untuk meningkatkan fasilitas pendukung pengembangan objek wisata. Dinas Pariwisata menyadari bahwa fasilitas objek wisata kita masih sangat kurang selain itu juga pemerintah ingin fasilitas yang akan diberikan adalah fasilitas yang tepat sasaran dan berguna didalam penegmbangan objek wisata tersebut.
F. Program pengembangan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat
Pengembangan keterampilan merupakan hal penting dalam pengembangan suatu objek wisata. Dalam pengembangan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat tentu dipengaruhi oleh Sumber daya manusia. Suatu program akan
berjalan dengan baik apabila pelaku yang terlibat didalamnya memiliki SDM yang tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan menjelaskan bahwa sudah ada upaya pengembangan keterampilan yang di kerjasamakan dengan Koperasi Kabupaten Karo. Koperasi sendiri sudah mulai membina masyarakat dalam pengembangan keterampilan membuat kerajinan tangan berupa souvenir. Dalam hal pemberdayaan masyarakat Dinas pariwisata kabupaten Karo juga bekerjasama dengan dinas lainnya yang terkait didalam pengembangan objek wisata
G. Upaya menjaga Kebersihan objek wisata
Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya, debu, sampah, dan bau. Penanganan Pengelolaan sampah yang masih dalam kategori belum serius menyebabkan banyak permasalahan kebersihan di kawasan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging. Ini menjadi salah satu permasalahan yang harus diselesaikan guna meningkatkan ketertarikan pengunjung untuk datang kembali. Peneliti melihat bahwa Pemerintah melalui Dinas Kebersihan sudah mulai melakukan pembenahan melalui program sapta pesona dengan pelaksanaan pendistribusian tong sampah di beberapa titik dan adanya usaha persuasif kepada masyarakat dan pengunjung melalui spanduk dan pamvlet yang berisikan pentingnya menjaga kebersihan di kawasan objek wisata. Dalam menjaga kebersihan masyarakat juga mulai memahami pentingnya kebersihan, peneliti melihat bahwa masyarakat mulai sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. Namun tetap saja ada beberapa masyarakat yang masih rendah kesadarannya akan
pentingnya kebersihan bagi kesehatan dan didalam pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan mejelaskan bahwa pemerintah dan masyarakat telah bekerjasama dalam upaya menjaga kebersihan namun masih ada saja kendala yang harus dihadapi seperti kurangnya tong sampah, petugas kebersihan yang kurang dan rendahnya kesadaran masyarakat.
Harus disadari bahwa Kebersihan objek wisata sangat penting untuk diperhatikan karena bila tidak hal ini akan menjadi ancaman didalam pengembangan objek wisata. Kebersihan bukan hanya tanggung jawab Pemerintah tetapi juga tanggung jawab bersama.
H. Keterlibatan Masyarakat dalam Pengembangan Objek Wisata
Dalam mengembangkan pariwisata daerah, keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan. Kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat merupakan salah satu cara untuk mengembangkan pariwisata daerah . Masyarakat sebagai pemilik atraksi wisata dapat menjadi salah satu yang menyebabkan kemajuan wisata daerah tersebut. Menyangkut keterlibatan masyarakat dengan pengembangan pariwisata peneliti bertanya kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo. Dari keterangan informan menyebutkan masyarakat lokal sudah terlibat dalam usaha pengembangan pariwisata. Keterlibatan masyarakat seperti masyarakat sebagai pelaku wisata di objek wisata, menyediakan jasa wisata, pemberian layanan kepada pengunjung wisata, penyediaan sarana pendukung pariwisata.
Dari keterangan informan keterlibatan masyarakat dalam hal usaha pengembangan pariwisata Air terjun Sipiso-piso yaitu masyarakat berpartisipasi dalam bidang kebersihan dalam pengelolaan sampah, masyarakat lokal menyediakan makanan dan minuman beberapa Rumah makan dan tempat minum, jasa penyedian tikar untuk pengunjung objek wisata. Untuk keterlibatan masyarakat lainnya dalam pengembangan pariwisata Air terjun Sipiso-piso yaitu dapat kita lihat dari penyediaan Agrowisata seperti Panen bawang sendiri, petik buah mangga sendiri, tangkap ikan dari keramba sendiri, penyediaan berbagai souvenir dan juga cendramata khas daerah, penyediaan jasa photographer cetak langsung photo, dan pengelolaan dan pemeliharaan toilet umum.
Dari keterangan informan keterlibatan masyarakat dalam hal usaha pengembangan pariwisata Tongging yaitu masyarakat berpartisipasi dalam bidang kebersihan dalam pengelolaan sampah, masyarakat lokal menyediakan makanan dan minuman, Jasa Penyewaan Pondok untuk bersantai, jasa penyedian tikar untuk pengunjung objek wisata. Untuk keterlibatan masyarakat lainnya dalam pengembangan pariwisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging yaitu dapat kita lihat dari penyediaan Agrowisata seperti Panen bawang sendiri, petik buah jeruk sendiri, penyediaan berbagai souvenir dan cendramata, penyediaan jasa photographer cetak langsung photo, pengelolaan dan pemeliharaan toilet umum.
I. Upaya Promosi objek wisata yang dilakukan
Promosi merupakan salah satu upaya di dalam memperkenalkan suatu objek wisata. Menurut Gun Promosi juga merupakan komponen dari daya tarik wisata yang meliputi, perangkutan, informasi dan promosi serta pelayanan. Berdasarkan teori tersebut maka dapat dikatakan bahwa
promosi memiliki peran penting didalam mengembangkan objek wisata.
Berdsarkan hasil wawancara dengan informan mengatakan bahwa pemerintah melalui Dinas Pariwisata telah melakukan upaya promosi seperti mengikuti event Nasional untuk memperkenalkan objek-objek wisata yang ada di Kabupaten Karo dengan mengikuti Pameran Pariwisata. Adapun media yang digunakan adalah dengan pencetakan buku buflet yang berisi penjelasan Objek-objek wisata yang ada di Kabupaten Karo, promosi lain dilakukan dengan pembuatan kaset yang berisi video dan foto objek wisata yang ada di Kabupaten karo,promosi juga dilakukan melalui Web-site, pemasangan Spanduk di tempat-tempat tertentu serta Kerjasama dengan pihak travel. Namun untuk kerjasama dengan Media TV dan pihak Bandara pemerintah belum melakukannya hal ini dikarenakan anggaran yang kurang memadai.
J. Kerjasama yang dilakukan dalam Pengembangan Objek Wisata
Dalam pengembangan objek wisata kerjasama antar seluruh pihak sangatlah penting. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan menjelaskan bahwa Pemerintah dan masyarakat sudah mulai bekerjasama baik didalam menjaga kebersihan, penyediaan makanan dan minuman, Selain itu juga masayrakat tidak hanya bekerjasama dengan dinas Pariwisata saja melainkan ikut bekerjasama dengan Dinas lain seperti Dinas Kebersihan dalam hal menjaga kebersihan seperti mengangkat sampah dan penyedian tong sampah, Dinas Perhubungan didalam hal parkir wisatawan, Dinas Pertanian didalam mengembangkan pertanian bawang, mangga, dan komoditi pertanian
lainnya yang ada di Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging, Dinas peternakan didalam membantu masyarakat dalam mengembangkan peternakan ikan air tawar Danau toba, Koperasi dalam hal membantu masyarakat dalam mengembangkan keterampilan membuat kerajinan tangan atau souvenir, Dinas usaha mikro menengah membantu masyarakat didalam mengembangkan usaha, Keamanan membantu memberikan kenyamanan bagi pengunjung dan masyarakat, selain itu kerjasama dengan pusat maupun propinsi dalam hal pembangunan maupun pengembangan objek wisata .
K. Hambatan yang dihadapi dalam pengembangan objek wisata
Didalam proses pengembangan objek wisata tentunya tidak selalu berjalan sesuai dengan perencanaan. Ada saja kendala ataupun permasalahan yang harus dihadapi untuk mencapai tujuan. Hambatan atau kendala dapat terjadi baik secara internal maupun eksternal .
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan menjelaskan bahwa hambatan terbesar yang dihadapi dalam pengembangan Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging adalah rendahnya Sumber daya manusia baik pemerintah maupun masyarakat setempat. Sumber daya manusia juga merupakan komponen yang sangat penting didalam pengembangan objek wisata, Kualitas SDM menentukan perkembangan objek wisata, apabila SDM rendah maka perkembangan objek wisata juga kan melemah. Namun sebaliknya apabila SDM tinggi maka akan berpengaruh pada cepatnya pembangunan dan pengembangan objek wisata
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian analisis yang telah penulis kemukakan di bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis akan menarik suatu kesimpulan berdasarkan penelitian lapangan yang telah dilakukan dan memberikan saran terkait Strategi Pengembangan Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging dalam rangka Pembangunan Pariwisata Danau Toba di Desa Tongging Kecamatan Merek, Kabuapen Karo.
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan pada bab-bab sebelumnya, adapun yang menjadi kesimpulan dari skripsi ini adalah:
Strategi Pengembangan Objek Wisata air terjun Sipiso-piso dan Tongging dalam rangka Pembangunan Pariwisata Danau Toba di Desa Tongging Kecamatan Merek, Kabuapen Karo dapat dikatakan sedang dalam proses rancangan pengembangan yang dilakukan oleh Dinas pariwisata Kabupaten Karo dan masyarakat. Hal ini dapat dilihat bahwa Strategi Pengembangan Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging dalam rangka Pembangunan Pariwisata Danau Toba di Desa Tongging Kecamatan Merek, Kabuapen Karo sudah mulai mengembangkan komponen-komponen pengembangan suatu objek wisata, yaitu:
1. Potensi Objek wisata dan Strategi Pengembangan objek wisata
Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging dalam rangka Pembangunan Pariwisata Danau Toba di Desa Tongging Kecamatan Merek, Kabupaten Karo memiliki potensi yang luar biasa baik panoram keindahan , hasil pertanian, dan hasil perikanan dari Danau Toba sendiri. Objek wisata Air terjun Sipiso-piso merupakan produk pariwisata layak jual dari Kabupaten Karo. Dalam proses pengembangannya Dinas pariwisata dan masyarakat telah melakukan ke empat tingkatan dari strategi yaitu enterprise strategy, corporate strategy, business strategy dan functional strategy.
2. Analisis SWOT Objek Wisata
Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging dalam rangka Pembangunan Pariwisata Danau Toba di Desa Tongging Kecamatan Merek, Kabupaten Karo merupakan objek wisata yang layak jual memiliki Kekuatan atau kelebihan dibanding dengan objek lain hal ini dilihat dari potensi yang luar biasa dari objek tersebut. Namun dibalik kekuatan ada pula kelemahan dari objek ini yaitu kurangnya kemampuan Pemerintah dan masyarakat didalam mengelola objek tersebut. Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging merupakan objek wisata yang berpeluang menjadi salah satu objek wisata yang favorite di masyarakat luas. Namun hal tersebut dapat berjalan dengan baik apabila di dukung dengan berbagai fasilitas dan pelayanan masyarakat, fasilitas yang kurang memadai dan pelayanan yang belum maksimal dapat menjadi ancaman bagi pengembangan objek wisata tersebut.
3. Pembangunan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
Dalam proses pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging tidak terlepas dari Pembangunan dan juga pemeliharaan sarana dan prasarana. Masyarakat juga mendukung program pembangunan dan pemeliharaa sarana dan prasana yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata. Pembangunan yang dilakukan dianggap mampu melibatkan masyarakat dalam kegiatan pariwisata objek tersebut.
4. Fasilitas pendukung dalam pengembangan objek wisata
Fasilitas berupa benda maupun uang dianggap dapat membantu dan mempercepat proses pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging dalam rangka Pembangunan Pariwisata Danau Toba di Desa Tongging Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Fasilitas pendukung diharapkan adalah merupakan fasilitas yang tepat sasaran dan dapat memicu perbaikan kondisi objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging
.
5. Program pengembangan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat Program pengembangan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging sudah dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan masyarakat namun belum maksimal. Pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat harus bekerjasama dalam Pengembangan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat.
Pengembangan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat dianggap sangat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia pada objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging.
6. Upaya menjaga Kebersihan objek wisata
Kebersihan merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan objek wisata. Pemerintah dan masyarakat telah melakukan upaya menjaga kebersihan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging namun belum maksimal. Perlu penanganan yang serius untuk memperbaiki kondisi kebersihan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging. Kebersihan bukan hanya tanggung jawab Dinas terkait saja melainkan seluruh pelaku wisata ikut terlibat untuk menjaga kebersihan.
7. Keterlibatan Masyarakat dalam Pengembangan Objek Wisata
Masyarakat memiliki peran aktif didalam pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging. Masyarakat sudah ikut berperan aktif dalam pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging seperti terlibat menjaga kebersihan, menciptakan agrowisata dan penyediaan makanan dan minuman
8. Upaya Promosi objek wisata yang dilakukan
Promosi merupakan elemen pariwisata yang penting didalam memperkenalkan dan mengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging. Dinas pariwisata sudah melakukan upaya promosi objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging melalui spanduk, kaset, buku buflet, pameran wisata dan kerjasama dengan travel. Namun untuk kerjasama dengan pihak TV dan bandara belum dapat berjalan dengan baik dikarenakan anggaran yang masih kurang.
9. Kerjasama yang dilakukan dalam Pengembangan Objek Wisata
Pemerintah dan masyarakat sudah melakukan kerjasama dengan dinas terkait seperti kerjasama dengan Dinas pertanian, Dinas Peternakan, Dinas perhubungan, Keamanan, Koperasi dan pihak yang terkait lainnya dalam pengembangan objek wisata.
10. Hambatan yang dihadapi dalam pengembangan objek wisata
Hambatan yang dihadapi dalam pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging adalah rendahnya kesadaran akan pentingnya pengembangan pariwisata di dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.
Sumber daya manusia merupakan unsur penting didalam pengembangan objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging.
B. Saran
Adapun saran yang dapat peneliti berikan terkait dengan Strategi Pengembangan Objek Wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging dalam rangka Pembangunan Pariwisata Danau Toba di Desa Tongging Kecamatan Merek, Kabupaten Karo sebagai berikut:
Bagi Dinas Pariwisata kabupaten Karo
a. Agar Dinas Pariwisata Kabupaten Karo lebih serius lagi dalam mengembangkan potensi yang ada di objek wisata Air terjun Sipiso-piso dan Tongging .
b. Agar Dinas Pariwisata Kabupaten Karo lebih kreatif dan Inovetif dalam membuat Event
c. Agar Dinas Pariwisata Kabupaten Karo menggunakan
c. Agar Dinas Pariwisata Kabupaten Karo menggunakan