• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Analysis Textual and Contextual af Aesthetic Randai

ESTETIKA RANDAI Analisis Tekstual

1. Seni tari (pencak silat)

Masyarakat Minangkabau, menyebutkan kata tari diartikan sebagai laku olah gerak dan rasa, yang dikenal dengan sebutan pamenan (permainan) yang memiliki akar gerak ilmu beladiri pancak (Sedyawati, 1998: 72; Murgiyanto, 1991: 276; Maryono, 1998: 9; Nor, 1986: 26). Motif-motif gerak dalam Randai mencakup gerak tari, gerak pencak, dan gerak silat. Randai memiliki unsur-unsur dan ciri-ciri tari, meskipun dengan cara penyajian yang berbeda. Adapun ciri-ciri umum yang terkandung dalam tari, antara lain: (1) ekspresi manusia secara artistik, (2) gerak yang dilakukan oleh manusia, (3) gerak yang berpola dan berbentuk, (4) gerak stilasi, (5) mengandung ritme, (6) di dalam ruang, (7) mempunyai simbol atau arti, dan (8) menyampaikan pesan. Seringkali pengertian ini tidak terlepas adanya unsur cerita, dialog, nyanyian, akrobatik, demonstrasi kekebalan (Sedyawati, 1981: 69, dan Kapita Selekta, 1984: 111). Penggunaan gerak dalam gerak gelombang Randai adalah pencak silat dengan penekanan aspek bentuk dasarnya pada sikap dan unsur gerak kaki. Sedangkan aspek dinamik dan kualitas gerak mengalami perubahan sesuai dengan tujuan. Sebuah gerak pencak dapat menjadi lebih keras, tajam, dan cepat apabila digunakan dalam bersilat, sebaliknya menjadi lemah dan tidak terlalu tajam apabila dipakai dalam tari. Berdasarkan filsafat alam (alam berkembang jadi guru), semua tingkah laku hewan dapat diambil sebagai nama-nama gerak, yaitu aliran silat Kucing Siam, Harimau Campo, Kambing Hitam, dan Anjing Mualim (Jamal, 1985: 17).

Selain aliran silat tersebut, ada beberapa inti silat Minangkabau, yaitu langkah tigo, langkah ampek, dan langkah sambilan. Dari dasar silat ini muncul beberapa macam gaya silat menurut daerah masing-masing dengan menyebutkan nama-nama daerah di mana silat itu berkembang, di antaranya silat Lintau,

Gambar 1. Gerakan serang tangkis yang sering digunakan dalam gerak galombang randai (Sumber: koleksi Sri Rustiyanti, 2002)

Dengan dasar-dasar silat tersebut, setelah mengalami proses penggarapan muncul gerak silat sebagai dasar bagi seniman Minangkabau untuk menata menjadi suatu bentuk susunan tari. Pencak mempunyai dua pengertian, yaitu sebagai tarian dan sebagai permainan. Pencak sebagai tarian merupakan gerak tari yang diwarnai pencak yang pelaksanaannya seirama dengan karawitan, sedangkan pencak sebagai permainan dilakukan oleh dua orang dengan melakukan perkelahian bergaya silat, secara fisik pemain berhadapan satu lawan satu dengan gerak saling menyerang, tetapi tidak bersinggungan atau tidak bersentuhan, sehingga lebih ditentukan oleh Gambar 2. Gerak sauek dan gerak sudueng untuk menangkis dan menyerang (Sumber: koleksi Sri Rusti-yanti, 2002).

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

2. Seni musik (alat-alat karawitan)

Pada dasarnya Randai dapat diiringi alat-alat musik tradisional atau tidak sama sekali. Dalam Randai, alat-alat musik tradisional dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu musik internal dan musik eksternal. Musik internal yaitu musik yang dilahirkan oleh anggota tubuh manusia, seperti bunyi dari tapuak

galembong (tepuk pada celana yang mempunyai pisak yang lebar), tepuk tangan, tepuk paha, tepuk kaki, tepuk siku, petik jari, dan hentakan kaki. Musik eksternal yaitu alat-alat musik tradisional Minangkabau, seperti saluang, bansi, talempong, canang, gandang, dan rabab.

3 diwarnai pencak yang pelaksanaannya seirama dengan karawitan, sedangkan pencak sebagai permainan dilakukan oleh dua orang dengan melakukan perkelahian bergaya silat, secara fisik pemain berhadapan satu lawan satu dengan gerak saling menyerang, tetapi tidak bersinggungan atau tidak bersentuhan, sehingga lebih ditentukan oleh penyesuaian dengan gerakan lawan yang sedang dihadapi.

2. Seni musik (alat-alat karawitan)

Pada dasarnya Randai dapat diiringi alat musik tradisional atau tidak sama sekali. Dalam Randai, alat-alat musik tradisional dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu musik internal dan musik eksternal. Musik internal yaitu musik yang dilahirkan oleh anggota tubuh manusia, seperti bunyi dari tapuak galembong (tepuk pada celana yang mempunyai pisak yang lebar), tepuk tangan, tepuk paha, tepuk kaki, tepuk siku, petik jari, dan hentakan kaki. Musik eksternal yaitu alat-alat musik tradisional Minangkabau, seperti saluang,

bansi, talempong, canang, gandang, dan rabab. 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan :

1. Talempong melodi; 2.Talempong dasar; 3. Talempong tinggi; 4. Canang dasar; 5. Canang tinggi; 6. Gandang 1; 7. Gandang

2; 8. Bansi.

Gambar 3. Komposisi instrumen musik Talempong kreasi (ilustrasi: Ardipal, 2011).

Peranan alat musik dalam Randai pada hakikatnya adalah sebuah komposisi bunyi yang cukup sederhana dengan strukturnya, dan tidak semua alat musik dapat sesuai dan dipakai sebagai musik pengiring Randai. Kalau diamati hubungan gerak dan musik pada sebuah Randai, maka musik berperan sebagai berikut: 1) Musik sebagai partner Randai, yaitu memberikan pola-pola ritme dan melodi yang sesuai dengan tuntutan gerak gelombang; 2) Musik yang melatarbelakangi gerak tokoh lakon cerita; dan 3) Musik yang memberikan ilustrasi sesuai dengan aspek-aspek dramatis yang terdapat dalam cerita Randai.

Kehadiran bunyi musik tradisional memang tidak mutlak meskipun cukup penting untuk pemberi semangat dalam gelombang Randai, sehingga menjadi lebih hidup dan bergairah. Selain difungsikan untuk mengiringi gerak gelombang, juga berperan untuk membuka dan menutup acara pertunjukan Randai. Alat musik pemanggil dalam pertunjukan Randai sebagai pemberitahu bahwa saat itu akan diadakan pertunjukan Randai. Pemain musik tersebut terdiri dari seorang peniup sarunai, tiga orang pemukul talempong, dan sepuluh orang pemukul tambur (masing-masing pemukul tambur membawa sebuah tambur yang mempunyai ukuran yang berbeda-beda).

3. Seni vokal (dendang/lagu)

Secara umum, dendang dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu dendang ratok dan dendang gembira. Dilihat dari bentuk melodinya, dendang ratok termasuk dendang yang berirama bebas, sedangkan kalau dilihat dari unsur syair atau isi pantunnya, terlihat bahwa dendang ratok berisi ungkapan perasaan yang gundah dan sedih, yang meratapi nasib sambil berdendang (maratok). Dendang gembira merupakan ungkapan kegembiraan, syair atau pantun-pantun yang dilantunkan, umumnya berisi ungkapan sukacita.

Peranan alat musik dalam Randai pada hakikatnya adalah sebuah komposisi bunyi yang cukup sederhana dengan strukturnya, dan tidak semua alat musik dapat sesuai dan dipakai sebagai musik pengiring Randai. Kalau diamati hubungan gerak dan musik pada sebuah Randai, maka musik berperan sebagai berikut: 1) Musik sebagai partner Randai, yaitu memberikan pola-pola ritme dan melodi yang sesuai dengan tuntutan gerak gelombang; 2) Musik yang melatarbelakangi gerak tokoh lakon cerita; dan 3) Musik yang memberikan ilustrasi sesuai dengan aspek-aspek dramatis yang terdapat dalam cerita Randai.

Kehadiran bunyi musik tradisional memang tidak mutlak meskipun cukup penting untuk pemberi semangat dalam gelombang Randai, sehingga menjadi lebih hidup dan bergairah. Selain difungsikan untuk mengiringi gerak gelombang, juga berperan untuk membuka dan menutup acara pertunjukan Randai. Alat musik pemanggil dalam pertunjukan Randai sebagai pemberitahu bahwa saat itu akan diadakan pertunjukan Randai. Pemain

Gambar 3. Komposisi instrumen musik Talempong kreasi (ilustrasi: Ardipal, 2011).

Keterangan :

1. Talempong melodi; 2.Talempong dasar; 3. Talempong tinggi; 4. Canang dasar; 5. Canang tinggi; 6. Gandang 1;

7. Gandang 2; 8. Bansi.

musik tersebut terdiri dari seorang peniup sarunai, tiga orang pemukul talempong, dan sepuluh orang pemukul tambur (masing-masing pemukul tambur membawa sebuah tambur yang mempunyai ukuran yang berbeda-beda).

3. Seni vokal (dendang/lagu)

Secara umum, dendang dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu dendang ratok dan dendang gembira. Dilihat dari bentuk melodinya, dendang ratok termasuk dendang yang berirama bebas, sedangkan kalau dilihat dari unsur syair atau isi pantunnya, terlihat bahwa dendang ratok berisi ungkapan perasaan yang gundah dan sedih, yang meratapi nasib sambil berdendang (maratok). Dendang gembira merupakan ungkapan kegembiraan, syair atau pantun-pantun yang dilantunkan, umumnya berisi ungkapan sukacita.

Dendang berarti lagu, berdendang berarti bernyanyi. Dendang termasuk salah satu seni musik tradisi Minangkabau yang berbentuk vokal (suara yang dihasilkan oleh manusia). Dendang adalah suara

Sri Rustiyanti (Estetika Randai Analisis Tekstual dan Kontekstual) MUDRA Jurnal Seni Budaya

yang dilagukan manusia dan sangat berfungsi dalam pelaksanaan sebuah Randai. Suara dendang itu untuk memberi batas peralihan dari adegan satu ke adegan berikutnya dan untuk menjelaskan jalan cerita Randai yang tidak begitu penting untuk didialogkan antara para tokoh lakon cerita, sehingga dengan dendang jalan cerita tidak terputus dan dapat diikuti melalui syair dendang yang dinyanyikan oleh pendendang (orang yang melagukan dendang). Namun ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa kehadiran dendang dalam Randai berfungsi sebagai pengatur cerita dari satu adegan ke adegan berikutnya.

Jenis dendang yang digunakan dalan Randai tergantung dari jumlah legaran (adegan) cerita Randai. Sekarang sudah menjadi kesepakatan bagi seluruh seniman Randai, bahwa dendang yang digunakan akan selalu dimulai dengan dendang Dayang Daini sebagai dendang persembahan, kemudian dilanjutkan dendang Simarantang untuk legaran (adegan) pertama. Dendang untuk legaran-legaran di tengah menggunakan dendang bebas, sesuai menurut suasana cerita itu sendiri, dan legaran terakhir menggunakan dendang Palayaran.

Bentuk penampilan dendang dalam Randai untuk menyampaikan sesuatu, misalnya menyampaikan keadaan dalam perjalanan, keadaan suasana, perpindahan legaran, mengatur langkah gerak. Selain pendendang yang mengalunkan dendang yang dibawakannya, juga diikuti oleh anak Randai (penari gelombang) pada setiap baris akhir dendang secara bersama-sama. Dendang dalam Randai tidak selalu dibarengi dengan karawitan, karena untuk pengatur gerak langkah dapat diiringi dengan dendang saja.

4. Seni drama (akting dan dialog)

Kedudukan drama dalam Randai merupakan satu hal yang sangat penting. Randai tidak akan terwujud tanpa kehadiran drama, karena seni drama diantaranya menyangkut masalah akting dan dialog

daripada bentuk sastra yang lain (Brahim, 1968: 47). Menurut Ommaney, bahwa akting merupakan keselarasan yang sempurna antara suara dan tubuh untuk menciptakan suatu lakon. Suara ketika melontarkan berbagai macam dialog dan tubuh melahirkan berbagai macam gerak, semua itu selaras dan memberi gambaran seorang tokoh yang dibawakan (Hamzah, 1985: 64).

Penokohan adalah proses penampilan tokoh sebagai pemeran dalam suatu cerita, sedangkan pelaku yang melakukan peran tokoh pelaku. Tokoh atau karakter merupakan bahan baku yang paling aktif sebagai penggerak jalan cerita, menjalin alur cerita, dan pembentuk alur cerita (Soedirosatoto, 1989: 39). Oleh karena itu, seseorang dalam memainkan karakter harus mampu menampilkan citra tokoh seorang pelaku dalam memerankan karakter tokoh tidak akan terlepas dari ekspresi yang bersifat kejiwaan dan kejasamanian (Anirun, 1978: 11). Kedua ekspresi itu untuk menampilkan dan mengungkapkan karakternya. Dalam menampilkan perwujudan karakter yang nyata, seorang pelaku dituntut satu kemampuan untuk menyatukan dan mendayagunakan ekspresinya.

5. Seni sastra (gurindam dan kaba)

Sebagai seni sastra, Randai adalah cerita yang unik, bukan saja untuk dibaca, melainkan juga untuk dipertunjukkan sebagai tontonan. Salah satu bentuk sastra Minangkabau yang paling populer yaitu pantun. Pantun sering digunakan untuk percakapan (dialog) dalam cerita Randai, percakapan sehari-hari, hiasan berpidato, syair dendang, dan sebagainya. Pantun dalam Randai terdiri dari beberapa baris dengan jumlah selalu genap. Separuh dari permulaan merupakan sampiran dan separuh bagian berikutnya adalah isi pantun yang sebenarnya. Bentuk pantun bermacam-macam, ada yang hanya terdiri dari dua baris, ada pula yang terdiri enam sampai dua belas baris. Dendang dalam Randai pada umumnya berbentuk pantun, syair, talibun, seloka, dan prosa

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

Minangkabau. Selanjutnya dalam uraian ini akan dibahas busana untuk penari gelombang dan busana untuk tokoh lakon cerita. Perlengkapan busana penari gelombang (anak Randai) lebih sederhana daripada busana tokoh lakon. Anak Randai selalu menggunakan celana galembong, celana yang dipakainya merupakan busana khas dalam Randai. Celana galembong berwarna hitam dan mempunyai pisak yang lebar tidak membatasi langkah gerak (pencak silat) yang mempunyai ruang gerak yang besar, sehingga dapat bebas melakukan gerak dengan sempurna.

a. Busana Niniak Mamak

Dalam masyarakat Minangkabau seorang penghulu/ niniak mamak merupakan pemimpin kaumnya, orang yang mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaum tersebut. Pada setiap unsur pakaian yang dipakai seorang niniak mamak, itu membayangkan pemikiran, pendirian, perbuatan, dan tanggung jawab dari niniak mamak sebagai penghulu itu sendiri. Oleh karena itulah, seorang niniak mamak mempunyai pakaian kebesaran yang terdiri atas: 1) Saluak atau deta, sebagai penutup kepala melambangkan aturan hidup masyarakat Minangkabau; 2) Baju hitam longgar, melambangkan keterbukaan pemimpin dan lapang dada dalam menghadapi berbagai cobaan; 3) Kain kaciak/kain sandang; 4) Keris, senjata penghulu sebagai senjata kebesaran bagi seorang penghulu; 5) Cawek/ikat pinggang, pengikat baju dan celana yang sudah melekat di badan, dengan tujuan supaya pemakainya kuat luar dalam, 6) Kain Sampieng; 7) Tongkat, melambangkan keberanian, tetapi dengan maksud tidak mencari musuh; dan 8) Sarawa/ celana, merupakan celana yang lapang (besar) yang melambangkan langkah yang cepat, untuk menjaga segala kemungkinan yang ada.

b. Busana Bundo Kanduang

Adapun Busana Bundo Kanduang mempunyai makna sebagai berikut: 1) Tangkuluak tanduak, melambangkan tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada bundo kanduang yang harus dijunjung tinggi; 2) Baju kurung, melambangkan demokrasi tetapi tetap pada batas-batas tertentu. Baju kurung melambangkan bahwa si pemakai terkurung oleh aturan yang sesuai dengan adat dan agama; 3) Kaduik jombak batali, melambangkan setiap perjalanan mempunyai maksud tertentu; 4) Kodek, melambangkan bahwa bundo kanduang harus mempunyai rasa periksa, malu, dan menjaga kesopanan; 5) Tarompah, sandal atau selop yang digunakan untuk alas kaki; 6) Salempang, melambangkan tanggung jawab yang harus dipikul dalam melanjutkan keturunan.

Gambar 4. Busana Niniak Mamak (Sumber: foto Dt. Endang Kuniang nan Kayo, 2012).

Gambar 5. Busana Bundo Kanduang (Sumber: foto Dt. Endang Kuniang nan Kayo, 2012). c. Busana Urang Tuo dan Urang Mudo

Secara umum pakaian harian di Minangkabau yang dipakai perempuan golongan tua (berumur) yaitu baju kurung dengan lengan panjang. Bahan dasar kain tidak harus beludru seperti pada bundo kanduang, tetapi dapat bermacam-macam tergantung dari kemampuan si pemakai. Kodek (sarung) juga disesuaikan kemampuannya. Ada yang memakai kain songket, kain batik, atau kain bugis. Selendang yang dipakai pada umumnya agak pendek dan dililitkan di kepala dengan kedua ujungnya ke belakang.

Sri Rustiyanti (Estetika Randai Analisis Tekstual dan Kontekstual) MUDRA Jurnal Seni Budaya

Sedangkan busana laki-laki, terdiri atas celana galembong, baju longgar, sampieng, saluak. Secara garis besar hampir sama dengan pakaian niniak mamak, hanya bentuk dan bahannya yang lebih sederhana. Dengan demikian, busana orang tua, laki-laki maupun perempuan hampir sama dengan busana niniak mamak dan bundo kanduang tetapi sifatnya lebih sederhana, baik bahan kain maupun bentuk dan perlengkapannya.

Busana anak muda tidak banyak macamnya, satu-satunya yang sering dipakai oleh pemuda Minang yaitu busana yang terdiri: 1) Celana batik, 2) Baju putih gunting cina, 3) Peci/kopiah, dan 4) Sarung bugis. Adapun busana perempuan muda hampir sama dengan perempuan berumur, hanya bentuk dan variasinya yang membedakan. Busana perempuan muda terdiri atas: 1) Hiasan kepala, baik yang berbentuk suntiang besar atau suntiang berderai, 2) Baju kurung, 3) Sarung songket, 4) Salendang kain balapak, 5) Slop/sandal, dan 6) Perhiasan, seperti kalung, gelang, cincin, dan subang. Analisis Kontekstual

Jakob Sumardjo dalam Orasi Ilmiah Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sejarah Kebudayaan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung pada 11 September 2003 yang berjudul Indonesia Mencari Dirinya, bahwa manusia tidak dapat menolak di kebudayaan mana ia dibesarkan, meskipun setelah dewasa ia dapat mengingkari budaya asalnya dan memasuki budaya lain, manusia tetap terbebani dengan budaya asalnya. Dalam masyarakat, menakar identitas dapat dipantau melalui tiga bentuk, yaitu identitas budaya, identitas sosial, dan identitas pribadi (Liliweri, 2002: 95). Identitas budaya muncul karena seseorang itu merupakan anggota dari sebuah kelompok etnik tertentu, sedangkan identitas sosial adalah akibat dari keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok kebudayaan. Identitas sosial dapat berdasarkan umur, gender, pekerjaan, kelas sosial, dan agama. Adapun

karakteristik yang membedakan satu dengan yang lainnya, sebagaimana identitas asal, seperti kalimat Holt: “Tunjukkan bagaimana engkau menari, dan saya akan mengetahui dari mana asalmu…” (Soedarsono, 1991: 115). Petikan kalimat tersebut merupakan ungkapan yang sangat menarik, akibat dari akrabnya dengan genre tari yang ada di berbagai wilayah di Indonesia, ia bahkan berani menantang setiap orang untuk menari atau hanya bergerak satu dua sekuen saja. Dalam hal ini terlihat tingkat pemahamannya akan gerak dari satu kelompok komunitas masyarakat yang sangat karakteristik dibandingkan dengan kelompok yang lain di tengah fenomena kemajemukan berbagai suku di Indonesia. Dengan demikian tari merupakan kompleksitas dari seluruh kehidupan manusia. Dalam mengkaji suatu pertunjukan secara konstektual dapat dianalisis dari aspek sejarah dan fungsinya (Soedarsono, 2000: 104 dan 120).

1. Perspektif sejarah

Pembahasan dari perspektif sejarah tidak hanya terfokus pada sejarah politik dan sosial, karena secara historis Randai memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Membaca sejarah Minangkabau, maka akan ditemukan berbagai kekayaan adat dan budaya negeri tersebut. Kearifan adat dan budaya Minangkabau yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman telah menjadi ciri khas daerahnya. Maka salah satu falsafah yang dikenal dari masyarakat Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai. Falsafah ini seolah telah mengukuhkan eksistensi Islam dalam kehidupan sosial bermasyarakatnya, dan menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam keseharian orang Minang. Sumber gerak galombang dalam kesenian Randai yaitu Pencak, sebagai sarana pendidikan tradisional Minangkabau. Pada awal keberadaannya gerak Pencak sebagai ilmu beladiri, boleh dikata sulit didapat karena tidak banyak data tertulis yang ditemukan. Akan tetapi salah satu asumsi yang

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

hanya datang membawa barang dagangan saja, tetapi juga sebagai penyebar agama dan pengembang kebudayaan bangsa asal mereka (Mansoer, 1970: 41). Para saudagar tersebut membawa banyak dagangan dan sangat berharga, serta membawa misi sebagai penyebar agama dan pengembang kebudayaan. Bahkan mereka juga membawa para ahli beladiri untuk melakukan tindakan pengamanan bagi kelancaran usahanya. Para ahli beladiri ini kemudian menyebarkan pengetahuan dan keahlian ilmu beladirinya kepada masyarakat setempat untuk keperluan pengamanan dagangan mereka serta kelancaran misi budayanya. Dari asumsi ini, sangat mungkin terjadi adanya Pancak (silat) di Minangkabau berawal dari kedatangan saudagar-saudagar dari India tersebut.

Pada masa lalu Pamenan dan Pancak, terbina sebagai materi ajar pendidikan tradisional Minangkabau pada surau-surau yang ada di berbagai pelosok daerah budaya Minangkabau. Materi ajar ini diajarkan sejalan dengan materi ajar lainnya, yaitu pengajaran agama Islam (baca Al-Qur’an beserta seluruh ajaran yang mengikutinya), pengajaran tentang pengetahuan adat istiadat Minangkabau, dan pengajaran-pengajaran praktis lainnya. Semua bentuk pengajaran itu menuju kepada sasaran untuk membentuk manusia Minangkabau siap menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks tanpa harus meninggalkan identitasnya sebagai orang Minangkabau.

Minangkabau sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia, merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal. Setiap anak yang lahir secara langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau garis keturunan ditarik berdasarkan keluarga ibu, maka anak laki-lakin yang sudah dewasa tinggal di surau dan anak perempuan tinggal di rumah. Selain dikenal dengan sistem matrilinialnya, ada beberapa ciri khas lain yang melekat bagi suku Minangkabau, di antaranya adalah kebiasaan merantau yang telah membudaya di kalangan orang Minang, dan juga mereka dikenal sebagai muslim yang taat.

Penampilan Randai biasanya dilakukan pada malam hari setelah sholat Isya’ sangat cocok saatnya bagi tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai masyarakat agraris masyarakat Minangkabau tentu merasa terisi kebutuhannya yang lain dalam kehidupannya,

dengan adanya penampilan Randai, masyarakat dapat menikmati adanya hiburan. Pada siang hari masyarakat sibuk dengan pekerjaanya masing-masing, baik sebagai petani maupun nelayan. Pada malam harinya mereka berbondong-bondong pergi menyaksikan penampilan Randai yang biasanya dilaksanakan di arena terbuka dengan penerangan beberapa lampu petromak.

2. Perspektif agama

Masyarakat Minangkabau adalah penganut agama Islam, bahkan sebagian penganutnya dapat dikatakan sebagai golongan fanatik. Agama ini telah diterima dan menyatu dengan budaya (adat istiadat) berabad-abad yang lampau, sehingga dalam kehidupan masyarakat dituntun oleh norma agama dan adat yang tak dapat dipisahkan. Sebelum agama Islam masuk ke Minangkabau, masyarakat telah menganut paham ke Tuhanan. Hal ini tergambar dari pepatah yang berbunyi ‘alam takambang jadi guru’ (alam terkembang jadikan guru) yang merupakan landasan dalam membentuk pribadi seseorang dalam agama Islam. Pepatah ini menuntut masyarakat supaya senantiasa mempelajari alam sekelilingnya seraya kebesaran Sang Khalik Maha Pencipta. Dalam ajaran agama Islam dikatakan, bagi orang yang pandai membaca akan memperoleh banyak pelajaran-pelajaran yang terdapat pada alam. Dalam Kitab Suci Al-Quran banyak ditemukan ayat-ayat yang menyuruh manusia menyelidiki dan mempelajari alam, salah satunya adalah :

إِنَِّفي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَ رْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

َلأَيَاتٍ ِلأُولِى اْلأَلْبَابِ (ال عمران: 190).

Artinya: “Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bagi orang yang memperhatikannya adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal” (Ali Imran:190).

Ajaran dasar adat Minangkabau mempunyai persamaan dengan ajaran agama Islam. Kekuatan adat dan agama, seperti yang diungkapkan dalam pepatah ‘adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah’. Adat dan agama merupakan pandangan bagi masyarakat Minangkabau yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam kegiatan keagamaan perlu juga adanya kesenian untuk memeriahkan pelaksanaannya. Tujuan