• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

4.2. n Parameter Biologi/Hama

4.4.1. Estimasi Beban Limbah Keramba Jaring Apung

Besarnya suatu dampak tergantung pada banyak faktor seperti skala dan frekuensi suatu aktivitas, kondisi biologi dan oseanografi dimana kegiatan itu berlangsung dan gabungan pengaruh di masa lalu, pengaruh saat ini dan kegiatan yang akan berlangsung di kawasan tersebut. Pada akhirnya, penentuan apakah dampak lingkungan akan terjadi hanya dapat di duga melalui beberapa proses kajian mengenai dampak lingkungan secara komprehensif (Milewski, 2001).

Langkah pertama dalam menentukan rencana pengelolaan limbah adalah menghitung jumlah potensial makanan yang tidak dimakan dan seberapa banyak feses yang dihasilkan oleh organisme yang dibudidayakan. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan pakan, tetapi komposisi dan bahan alami yang digunakan dalam makanan dan proses yang terlibat dalam penyiapannya merupakan hal yang terpenting (Mugg et al., 2003).

Pendekatan estimasi beban limbah budidaya yang diterapkan dalam studi ini mengacu pada penelitian sebelumnya (Usman et al., 2002) dan merupakan pengembangan formula estimasi dari beban pakan yang masuk keperairan. Usman

et al., (2002) yang menghitung beban limbah budidaya untuk senyawa nitrogen dengan cara sebagai berikut:

¾ Kebutuhan pakan untuk produksi 1 ton ikan kerapu = 2.200 kg.

¾ Dari analisa proksimat didapat kandungan N pelet (tergantung merk pakan) ikan kerapu = 181,5 kg N/2.200 kg pelet.

¾ Pakan sebagai uneaten food = 200 kg dengan N = 16,5 kg.

¾ Pakan yang dimakan = 2.000 kg dengan N = 165 kg; dikeluarkan melalui feses (tidak tercerna) = 840 kg dengan N = 26,7 kg; pakan yang dicerna = 1160 kg dengan N = 138,3 kg dimana sebagian akan dibuang melalui ekskresi dan panas = 107,8 kg N dan tersimpan dalam daging = 30,5 kg N.

¾ Jumlah loading N keperairan = 16,5 kg + 26,7 kg + 107,8 kg = 151 kg N. Penelitian ini terbatas pada kegiatan pembesaran ikan kerapu dengan bobot individu ikan rata-rata 100 g sampai berat konsumsi yaitu 500 g dengan lama

94

pemeliharaan 6 bulan (180 hari). Alasan yang mendasari pembatasan ini adalah keumuman yang dipakai oleh para pengusaha perikanan dalam membudidayakan ikan kerapu dengan sistem keramba jaring apung. Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa ukuran 1 unit keramba yang dipakai adalah 3 x 3 x 3 m3 dengan pada tebar 20 ekor/m3.

Berdasarkan luas lahan kesesuaian untuk budidaya sistem keramba jaring apung yang didapat, maka nilai estimasi beban limbah yang masuk ke perairan Teluk Pelabuhan Ratu adalah sebagai berikut:

1. Diketahui: Luas lahan yang sangat sesuai 8.500 ha Pemanfaatan sebesar 10 % dari luasan

1 unit keramba terdiri dari 10 keramba berukuran 3 x 3 x 3 m3 Padat penebaran sebanyak 20 ekor/m3

SR 80 % dengan bobot akhir 500 g/ekor 1 ha = 10000 m2 x

100 10

, jika ukuran keramba 9 m2, maka:

= 111 9 1000 2 2 = m

m , sehingga dalam 1 ha terdapat ± 100 buah keramba

Jadi, dari luasan sebesar 7.585,42 ha terdapat ± 758.542 keramba atau sebanyak 75.854,2 unit dengan padat penebaran yang dilakukan adalah sebanyak 20 ekor/m3. Dalam tulisan ini satu unit keramba terdiri dari 10 buah petakan keramba dengan ketentuan 9 buah keramba dimanfaatkan sebagai sarana produksi dan 1 petakan keramba dijadikan sebagai rumah jaga atau digunakan untuk keperluan lainnya. Sehingga setiap unit keramba hanya ada 9 keramba yang dioperasikan untuk membudidayakan ikan kerapu. Jika dalam 1 unit keramba serentak ditebar dengan benih ikan, sehingga 1 unit keramba berisi ± 4.050 ekor ikan kerapu. Selama masa pemeliharaan diasumsikan tingkat kelulushidupan ikan sebesar 80%, sehingga pada saat pemanenan diperkirakan total biomass ikan kerapu adalah 3.240 ekor. Jika bobot individu ikan 500g/ekor maka dalam satu siklus pemeliharaan (6 bulan) didapat total produksi sebesar 1,62 ton ikan kerapu.

2. Diketahui produksi total 1,62 ton ikan kerapu dengan kebutuhan pakan sebanyak 2,2 ton untuk memproduksi 1 ton ikan dengan kandungan N sebesar

95

8,25 %. Dengan demikian, jumlah pakan yang dibutuhkan untuk produksi ikan sebanyak 1,62 ton adalah 3,56 ton pakan dengan N sebesar 0,29 ton.

3. Pakan sebagai Uneaten Food

Dari sejumlah pakan yang diberikan, tidak dimakan oleh ikan sebesar 9 % dengan kandungan N sebesar 8,25 %, sehingga dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: UF = 3,56 x 100 9 = 0,32 ton N = 0,32 x 100 25 , 8 = 0,03 ton

4. Jika diketahui pakan yang dimakan oleh ikan sebanyak 91 % dengan kandungan N sebesar 8,25 %; dengan demikian dari 3,56 ton pakan yang diberi pada ikan budidaya selama enam bulan masa pemeliharaan yang dimakan adalah 3,24 ton dengan kandungan N sebesar 0,27 ton.

5. Banyaknya feses yang dikeluarkan oleh ikan yang dipelihara adalah sekitar 42 % dari pakan yang dimakan dengan kandungan N sebesar 3,2 %; sehingga dari pakan sebanyak 3,24 ton yang dimakan oleh ikan, yang dikeluarkan menjadi feses sebanyak 1,36 ton dengan kandungan N sebesar 0,04 ton.

6. Sejumlah pakan yang dimakan oleh ikan, yang dicerna hanya 58 % dengan kandungan N sebesar 11,9 %. Dengan demikian, dari 3,24 ton pakan yang dimakan oleh ikan, yang dicerna adalah sebesar 1,88 ton dengan kandungan N sebesar 0,22 ton.

7. Dari sejumlah pakan yang dicerna, dikeluarkan oleh ikan berupa panas dan ekskresi lain di dapat kandungan N-nya sebesar 9,29 % serta kandungan N yang tersimpan dalam daging sebesar 2,63 %. Sehingga dari 1,88 ton pakan yang dicerna, yang dikeluarkan berupa panas dan ekskresi lain memiliki N sebesar 0,17 ton; yang tersimpan dalam daging sebesar 0,05 ton N.

8. Sehingga jumlah total loading N dari kegiatan budidaya sistem keramba jaring apung keperairan selama masa pemeliharaan adalah sebesar 0,24 ton N yang di dapat dari hasil penjumlahan total nitrogen pakan yang menjadi uneaten food dengan nitrogen pakan yang dikeluarkan berupa feses dan nitrogen pakan yang dikeluarkan berupa panas serta ekskresi lainnya. Secara singkat perhitungan ini dapat dilihat pada Tabel 11.

96

Tabel 11. Estimasi Beban Limbah Kegiatan Budidaya Perikanan Sistem KJA

Variabel Bobot (ton) N (ton)

Jumlah Total Pakan untuk 1,62 ton ikan (2.2 ton/tiap produksi 1 ton ikan

dengan N 8,25 %) 3,56 0,29

Uneaten Food (9 % dari total pakan dengan kandungan N 8,25 %) 0,32 0,03 Pakan yang Dimakan (91 % dari pakan yang diberi dengan N 8,25 %) 3,24 0,27 Feses (42 % dari pakan yang dimakan dengan N 3,2 %) 1,36 0,04 Tercerna (58 % dari pakan yang dimakan dengan N 11,9 %) 1,88 0,22 Ekskresi (9,29 % dari pakan yang dimakan) - 0,17 N dalam Daging (2,63 % dari pakan yang dimakan) - 0,05

Loading N (UF+Feses+Ekskresi) - 0,24

Sumber : Usman et al., (2001)

Tabel 11 memperlihatkan secara ringkas mengenai banyaknya bahan organik beserta jumlah Nitrogen yang masuk keperairan yang berasal dari kegiatan budidaya perikanan dengan sistem keramba jarring apung.

Adapun cara lain untuk menghitung loading nutrien ke dalam perairan selain yang dilakukan oleh Usman et al., (2001), dapat juga dilakukan dengan beberapa cara seperti berikut ini:

™ Formula Ackefors dan Enell (1994), yaitu:

ton Nitrogen = (A x Cd Nitrogen) – (B x Cf Nitrogen)

tonNitrogen adalah Loading Nitrogen ke dalam perairan; A adalah bobot basah pelet yang digunakan (kadar air 8 – 10 %); B adalah bobot basah ikan yang diproduksi; CdNitrogen adalah kandungan Nitrogen dari pelet (% berat basah) dan CfNitrogen adalah kandungan Nitrogen dari karkas ikan (% berat basah).

Berdasarkan luas perairan efektif untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung di perairan Teluk Pelabuhan Ratu yaitu 7.585,42 ha dengan pemanfaatan sebesar 10 % per hektar (Hanafi et al., 2001), maka jumlah keramba yang dapat dikembangkan adalah sebanyak 75.854,2 unit dengan jumlah untuk masing- masing unit adalah 10 keramba dengan ukuran 3 x 3 x 3 m3. Jika masing-masing keramba diterapkan padat penebaran sebanyak 20 ekor/m3 dengan ukuran 100 g/ekor selama 6 bulan pemeliharaan atau mencapai berat 500 g/ekor dengan tingkat kelulushidupan rata-rata adalah 80 %. Sehingga jumlah ikan yang ada untuk 10 unit/ha luasan lahan selama 6 bulan pemeliharaan berjumlah 4.050 ekor dengan berat total biomass adalah 1,62 ton serta memerlukan pakan sebanyak 3,56 ton. Selama pemeliharaan, tiap ton ikan yang dihasilkan menghabiskan pakan

97

sebanyak 2,2 ton dengan kandungan N sebesar 8,25 % dan N karkas ikan sebesar 2,63 %.

Berdasarkan penjabaran prediksi ini, maka: ton Nitrogen = (A x CdNitrogen) – (B x CfNitrogen)

= (3,56 x 100 25 , 8 ) – (1,62 x 100 63 , 2 ) = 0,29 – 0,04 = 0,25 ton

Jumlah loading nitrogen dari kegiatan pembesaran ikan kerapu dengan sistem budidaya keramba jaring apung yang masuk kedalam perairan Teluk Pelabuhan Ratu adalah sebesar 0,25 ton N/unit/ 6 bulan.

™ Perhitungan Nitrogen dari beban pakan yang masuk keperairan menggunakan formula Ackefors dan Enell (1994), yaitu:

ton N adalah jumlah Nitrogen yang dilepaskan keperairan;

= n i i bp 1 adalah beban pakan yang masuk keperairan dari n keramba; Pr adalah kandungan protein dalam pakan (% berat basah) dan 6,25 adalah konstanta faktor perkalian protein kasar.

Jika selama pemeliharaan menggunakan pakan sebanyak 35,64 ton dengan kandungan protein pakan sebesar 40%, maka:

25 . 6 43 , 1 N ton = = 0,23 ton

Berdasarkan formula yang dikembangkan oleh Usman et al., (2001) dan Ackefors dan Enell (1994), dapat diduga bahwa selama 6 bulan pemeliharaan ikan dengan sistem keramba jaring apung dapat menghasilkan loading nitrogen keperairan sebanyak 0,23 – 0,25 ton N/unit/6 bulan pemeliharaan. Jumlah buangan nitrogen keperairan ini memiliki kemungkinan untuk bertambah dan juga

6,25 Pr bp N ton n 1 i i

= × = 6,25 100 40 3,56 N ton × =

98

berkurang jika 1) Padat tebar ditingkatkan ataupun diturunkan; 2) Tingkat kelulushidupan ikan yang dipelihara meningkat ataupun menurun; 3) Penebaran ikan dilakukan tidak secara serentak; 4) Frekuensi dari pengoperasian kegiatan budidaya. Bertambah dan berkurangnya masukan nitrogen keperairan sangat erat kaitannya dengan jumlah pakan yang diberi serta tingkat kecernaan pakan oleh ikan yang dipelihara.

Untuk menghitung loading total bahan organik digunakan formula perhitungan yang mengacu pada formula Iwana (1991) dalam Barg (1992), yaitu:

TO = TU + TF

TO adalah total limbah bahan organik; TU adalah total pakan yang tidak dimakan dan TF adalah total feses yang dibuang.

Maka: TO = 0,32 + 1,36 = 1,68 ton

Perhitungan masukan total bahan organik yang dikemukakan oleh Iwana (1991) dalam Barg (1992) merupakan murni bahan organik selama masa pemeliharaan ikan hingga waktu pemanenan. Dalam formula ini tidak diketahui berapa kandungan nitrogen yang diasumsikan dalam total buangan bahan organik tersebut, sehingga sulit untuk memprediksi berapa kandungan nitrogen yang dilepaskan diperairan. Akan tetapi, jika mengacu pada perhitungan kandungan nitrogen pada formula sebelumnya (Usaman et al., 2001), maka nitrogen yang dilepaskan keperairan akibat kegiatan budidaya sistem keramba jaring apung adalah sebesar 0,07 ton N/unit/6 bulan pemeliharaan atau lebih kecil dibandingkan prediksi total nitrogen sebelumnya yaitu sebesar 0,24 ton N/unit/6 bulan pemeliharaan.