V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Total Economic Values (TEV) PT IIS Kebun Buatan
5.3.2 Estimasi TEV HCVA
Hasil identifikasi aliran barang dan jasa ekosistem dalam HCVA diperoleh dari hasil estimasi valuasi ekonomi baik barang dan jasa yang memiliki harga pasar maupun belum memiliki harga pasar. Valuasi nilai ekonomi total menggunakan pendekatan harga pasar aktual dan benefit transfer. Hasil valuasi disajikan dalam bentuk tabulasi sesuai dengan komponen nilai ekonomi total menurut Pearce (1993). Hasil valuasi dapat saja bias terkait penilaian yang mungkin over estimated maupun under estimated. Untuk menghindari bias, maka valuasi dilakukan sesuai dengan fakta yang ada di lapangan dan disesuaikan dengan harga lokal serta melakukan verifikasi atas setiap informasi yang disampaikan narasumber/responden dan cross check antar informasi yang masuk. Nilai Ekonomi Total (TEV) HCVA PT. IIS Kebun Buatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
A. Nilai Guna Langsung
Nilai guna Langsung dari keberadaan HCVA di PT. IIS Kebun Buatan lebih banyak pada pemanfaatan barang dan jasa ekosistem yang sudah memiliki harga pasar. Pemanfaatan secara langsung produk barang dan jasa ekosistem hanya berupa hasil hutan bukan kayu (non timber forest product) berupa madu, rotan, dan ikan oleh masyarakat adat Melayu Suju dan Sehujan atau masyarakat lokal di wilayah Kabupaten Pelalawan. Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sebagian besar dipenuhi dari kegiatan pembelian. Kebutuhan obat-obatan juga dipenuhi dari kegiatan pembelian bukan melalui ekstraksi sumberdaya hutan. Kawasan areal PT. IIS Kebun Buatan sudah tidak ada pemanfaatan langsung kegiatan berburu seperti burung, rusa dan babi. Hampir tidak ada yang memanfaatkan hasil hutan berupa kayu karena pemenuhan kebutuhan kayu untuk perumahan tergantikan melalui pembelian dan sebagian besar rumah masyarakat menggunakan material bangunan tembok/beton. Pemanfaatan terbatas pada hasil hutan bukan kayu juga dikarenakan luasan hutan yang tersisa di areal izin lokasi PT. IIS Kebun Buatan relatif sangat kecil.
Hasil valuasi sumberdaya HCVA secara rinci disajikan dalam Lampiran 1 dengan menunjukkan nilai harga barang dan jasa yang tertinggi dan terendah. Hal ini dikarenakan harga barang dan jasa mengalami fluktuasi dan tergantung pada
suplai di pasar atau dengan kata lain terjadi perubahan harga. Hal ini juga dilakukan untuk mengurangi bias nilai.
Valuasi ekonomi menggunakan pendekatan harga pasar (actual market) dengan nilai tertinggi dan terendah berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber dan responden. Tabel 12 menunjukkan nilai guna langsung untuk kawasan HCVA berupa ekosistem riparian, hutan areal kebun inti dan hutan sialang, dan Danau Gadis, sedangkan makam nenek moyang tidak memiliki nilai ekonomi langsung. Ekosistem riparian sempadan Sungai Kerinci dengan panjang 3.97 km lebar sempadan 50 m kanan/kiri sehingga memiliki luas 38.39 ha dan sungai Laniago dengan lebar 15m kanan/kiri dan panjang 15 km, sehingga memiliki luas 9.31 ha. Total luas ekosistem riparian sempadan sungai di kawasan perusahaan perkebunan PT. IIS Kebun Buatan seluas 47.7 ha.
Penggunaan air pabrik dan perumahan I per bulan sebesar 44.603,5 m3/bln atau dalam setahun sebesar 535.242 m3/tahun bersumber dari sungai kerinci dan pabrik-perumahan II sebanyak 39.388,33 m3/bln atau sebesar 472.660 m3/tahun bersumber dari sungai Laniago. Sepanjang musim penghujan air sungai Laniago tidak memiliki harga karena tidak ada kegiatan atau usaha yang menggunakan bahan baku air sungai tersebut kecuali pada saat musim kemarau. Hal ini disebabkan karena air sungai masih dianggap sebagai barang publik dan pada musim penghujan kesetersediaan air melimpah. Air sungai Laniago akan bernilai jika saat musim kemarau tiba. Masyarakat akan melakukan kegiatan pembelian air untuk pemenuhan kebutuhan MCK pada saat kemarau. Provinsi Riau dan kabupaten Pelelawan sekitarnya memiliki musim kemarau yang berlangsung selama 3 (tiga) bulan dalam satu tahun. Harga air diperoleh dari sewa mobil tangki kapasitas 15.000 liter dengan harga Rp 250.000 -300.000,00 dengan asumsi 50% untuk biaya produksi dan 50 % keuntungan bersih bagi penyedia jasa. Berdasarkan estimasi tersebut dapat diperoleh untuk harga air tertinggi sebesar Rp 10,00 per liter dan Rp 8.33,00 per liter untuk harga terendah. Penggunaan harga pasar pengganti (surrogate market) sewa mobil tangki air maka diperoleh total nilai guna langsung untuk pemanfaatan air di kedua pabrik dan emplesemen
sebesar Rp 1.181.640.000,00 per tahun untuk nilai tertinggi dan sebesar Rp 984.306.120,00 per tahun untuk nilai terendah. Kedua nilai tersebut jika dirata-
65
ratakan menjadi sebesar Rp 1.082.973.060,00 per tahun. Nilai guna langsung di kawasan ekosistem riparian selain air adalah kegiatan penangkapan ikan berbagai jenis dengan nilai ekonomi rata-rata hanya sebesar Rp 54.450.000,00 per tahun. Tabel 12. Nilai guna langsung HCVA PT. IIS Kebun Buatan
Nilai Ekonomi Aliran Barang dan Jasa HCVA
Valuasi (Rp) Tinggi Rata-rata Nilai (Rp/Tahun) Nilai Tertinggi (Rp/Tahun) Nilai Terendah (Rp/Tahun) 1. Ekosistem Riparian (Sempadan Sungai Kerinci dan Laniago)
1.238.340.000,00 1.036.506.120,00 1.137.423.060,00 2. Hutan Areal Kebun
Inti dan Hutan Sialang (40.60 Ha)
19.260.000,00 16.555.500,00 17.907.750,00 3. Makam Nenek
Moyang (0.66 ha) - -
4. Danau Gadis (1 ha) 51.150.000,00 43.200.000,00 47.175.000,00 Sub Total 1.308.750.000,00 1.096.261.620,00 1.202.505.810,00 Sumber: data primer 2012
Aliran barang dan jasa dari ekosistem riparian juga menghasilkan nilai ekonomi langsung tertinggi di antara HCV lainnya. Tingginya nilai guna langsung dari kawasan ekosistem riparian didorong karena tingginya penggunaan air untuk pemukiman karyawan dan kebutuhan pabrik kelapa sawit setahun sebesar 1.007.902 m3 per tahun yang berasal dari sungai Laniago. Nilai guna langsung di kawasan hutan areal kebun dan hutan sialang sebesar 40.60 ha berupa madu dan ikan dengan nilai ekonomi sebesar Rp 51.150.000,00 per tahun untuk nilai tertinggi dan Rp 43.200.000,00 per tahun untuk nilai terendah dengan rata-rata sebesar Rp 47.175.000,00 per tahun. Nilai guna langsung untuk kawasan hutan lebih banyak disumbang dari hasil ekstraksi pohon madu Rp 31.250.000,00 per tahun untuk nilai tertinggi dan Rp 25.000.000,00 untuk nilai terendah. Detail nilai guna langsung di kawasan HCVA di PT. IIS Kebun Buatan disajikan dalam Tabel 12. Penjelasan nilai guna langsung disajikan dalam Lampiran 1.
Total rata-rata nilai guna langsung kawasan HCVA PT. IIS Kebun Buatan sebesar Rp 1.137.423.060,00 per tahun untuk ekosistem riparian (sempadan sungai Laniago dan Kerinci). Total rata-rata nilai guna langsung untuk HCVA di PT. IIS Kebun Buatan sebesar Rp 1.202.505.810,00 per tahun atau sebesar Rp 13.367.117,00 per ha per tahun. Persentase nilai guna langsung ekosistem
riparian sebesar 94.59% (95.21% dari nilai guna langsung berupa pemanfaatan air untuk pabrik dan emplasemen), sedangkan kawasan hutan hanya sebesar 3.92% dan danau gadis hanya sebesar 1.49%.
B. Nilai Guna Tidak Langsung
Nilai guna tidak langsung (indirect use value) untuk valuasi ekonomi kawasan HCVA perkebunan kelapa sawit PT. IIS Kebun Buatan seluruhnya menggunakan metode valuasi benefit transfer. Krupnick (1993) dalam Fauzi (2010) menyatakan bahwa benefit transfer bisa saja dilakukan jika sumberdaya alam tersebut memiliki ekosistem yang sama baik dari segi tempat maupun karakteristik pasar. Metode valuasi benefit transfer digunakan karena kompleksitas ekosistem yang mengalirkan berbagai tipe dan jenis aliran barang dan jasa ekosistem yang membutuhkan metode valuasi yang kompleks dan rigid. Valuasi nilai guna tidak langsung menggunakan metode benefit transfer dari hasil penelitian Costanza et al.1997 yang berasal dari hasil review 100 jurnal dan kajian-kajian valuasi sumberdaya alam dengan menggunakan berbagai metode valuasi.
Besarnya nilai ekonomi aliran barang dan jasa ekosistem (HCVA) yang belum memiliki harga pasar atau yang termasuk dalam nilai guna tidak langsung, yaitu manfaat yang berhubungan dengan nilai ekologis yang dapat diberikan oleh ekosistem dalam hal ini HCVA- dibedakan menjadi high value dan low value. High value diperoleh berdasarkan metoda benefit transfer, yaitu dari hasil penelitian pada ekosistem hutan hujan tropis di beberapa negara (Ruitenbeek, 1999; Constanza 1997). Low value dan persentase “trust” factor adalah asumsi yang dibuat berdasarkan kondisi di Indonesia untuk mendapatkan reasonable minimum values dari biaya lingkungan dan biaya sosial (Manurung 2001). Reasonable minimum values ini dipergunakan dalam perhitungan analisis Total Economic Value (TEV) HCVA di perkebunan kelapa sawit.
Tabel 13 menyajikan estimasi nilai ekonomi tidak langsung dari setiap kawasan HCV di perkebunan kelapa sawit PT. IIS Kebun Buatan sesuai dengan analisis valuasi yang dilakukan oleh Manurung (2001). Valuasi untuk ekosistem riparian sempadan sungai menggunakan nilai valuasi sungai atau danau dan kawasan hutan menggunakan nilai di kawasan tropis.
67
Tabel 13. Nilai guna tidak langsung HCVA PT. IIS Kebun Buatan
Tipe HCVA Nilai rendah (US$/ Ha) Nilai Tinggi (US$/ Ha) Trust factor Nilai Minimum (US$/Ha) Luas HCV (Ha) Nilai Valuasi (Rupiah /Tahun) Ekosistem Riparian (Sempadan Sungai Kerinci dan Laniago)
Pengatur tata air 4 15 75% 3
47.7 1.302.210,00
Pengendali erosi 71 283 75% 53 23.005.710,00
Sub total 24.307.920,00
Danau Gadis (1 ha)
Pengatur tata air 4 15 75% 3 1 27.300,00
Sub total 27.300,00
Hutan Areal Kebun Inti dan Hutan Sialang (40.60 Ha)
Penyerap karbon 272 272 30% 82
40.6
30.295.720,00
Pengatur tata air 4 15 75% 3 1.108.380,00
Pembentukan lapisan tanah 11 11 75% 8 2.955.680,00 Pengendali erosi 71 283 75% 53 19.581.380,00 Sub total 53.941.160,00 Makam Nenek Moyang (0.66 ha) - - - -- TOTAL 78.276.380,00
Sumber: data primer 2012
Nilai guna tidak langsung HCV untuk kawasan ekosistem riparian
(Sempadan Sungai Laniago dan Kerinci) dengan luas 47.7 ha sebesar Rp 24.307.920,00 per tahun, sedangkan nilai ekonomi kawasan hutan areal kebun
inti dan hutan sialang sebesar Rp 53.941.160,00 per tahun dan nilai ekonomi dari kawasan danau Gadis sebesar Rp 27.300,00 per tahun. Total nilai guna tidak langsung untuk kawasan HCVA di areal izin perkebunan PT. IIS Kebun Buatan sebesar Rp 78.276.380,00 per tahun atau sebesar Rp 870.274,00 per ha/tahun dengan menggunakan nilai tukar 1 US$ sebesar Rp 9.100,00. Persentase kontribusi komponen HCVA terhadap besaran nilai guna tidak langsung. Ekosistem riparian menyumbangkan nilai guna tidak langsung sebesar 31.05%, hutan areal kebun inti dan hutan Sialang menyumbang sebesar 68.91% dan kawasan Danau Gadis sebesar 0.03%. Komponen nilai tertinggi pada aliran jasa ekosistem sungai berupa penyerap karbon untuk setiap 1 hektar menyumbangkan
nilai Rp 746.200,00 per tahun. Hal ini juga didukung luasan HCV untuk ekosistem hutan memiliki aliran jasa ekosistem yang beragam dan disumsikan bekerja secara optimal.
C. Nilai Pilihan (Biodiversitas)
Nilai pilihan dari kawasan HCVA di perkebunan kelapa sawit PT. IIS Kebun Buatan menggunakan nilai pilihan untuk konservasi biodiversitas. Valuasi nilai pilihan untuk konservasi biodiversitas menggunakan metode valuasi benefit transfer karena kompleksitas dan keragaman jenis satwa liar dan flora yang ada di kawasan HCVA. Nilai pilihan biodversitas diperoleh juga mendasarkan pada pengelolaan HCVA di kawasan perkebunan kelapa sawit sebagai areal untuk dikonservasi.
Metode valuasi benefit transfer untuk nilai pilihan biodiversitas mengacu pada Bishop (2001). Hasil review diperoleh nilai pilihan biodiversitas dengan nilai tertinggi sebesar 65US$ per ha yang diperoleh dari Howard (1995) dan nilai terendah diperoleh dari Kumari (1995b) sebesar 0.2US$ per ha. Hasil dari valuasi nilai pilihan biodiversitas disajikan dalam Tabel 14 dengan menggunakan nilai tukar dollar Amerika sebesar Rp 9100,00. Dalam perhitungan nilai pilihan (biodiversitas) menggunakan hasil benefit transfer yang sudah disesuaikan oleh Manurung (2001).
Tabel 14. Nilai pilihan (biodiversitas) di kawasan HCVA PT. IIS Kebun Buatan Tipe HCVA Nilai rendah (US$)2 Nilai Tinggi (US$) Trust factor Nilai Minimum (US$) Luas HCV (ha) Nilai Valuasi (Rupiah/Ha) Ekosistem Riparian (Sempadan Sungai Kerinci dan Laniago)
3 3 75% 2 47.7 868.140,00
Danau Gadis (1 ha) 3 3 75% 2 1 18.200,00
Hutan Areal Kebun Inti dan Hutan Sialang (40.60 Ha)
3 3 75% 2 40.60 738.920,00
Makam Nenek Moyang (0.66 ha)
TOTAL 1.625.260,00
Sumber: data primer 2012
Nilai pilihan biodiversitas HCVA PT. IIS Kebun Buatan diestimasi terdapat di kawasan ekosistem riparian, ekosistem hutan areal kebun inti dan Sialang dan
2
69
dananu Gadis. Nilai pilihan biodiversitas diasumsikan sama di semua kawasan
HCV tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan nilai pilihan biodiversitas Rp 1.625.260.00 per ha.
D. Nilai Keberadaan
Valuasi nilai ekonomi total kawasan HCVA di perkebunan kelapa sawit PT.IIS Kebun Buatan untuk kategori nilai keberadaan (existence value) menggunakan metode valuasi Contingent Valuation Method (CVM). Pendekatan CVM sering digunakan untuk mengukur nilai pasif (nilai non-pemanfaatan) sumberdaya alam atau sering juga dikenal dengan nilai keberadaan (Fauzi, 2010). Penggunaan CVM karena sudah melalui proses pentahapan valuasi sumberdaya alam mulai dari actual market, surrogate market, dan tahapan yang terakhir adalah CVM. CVM mampu untuk menjawab nilai dari upaya pelestarian dan perlindungan keberadaan kawasan HCVA di perkebunan kelapa sawit PT. IIS Kebun Buatan. Penerapan metode CVM dilakukan terlebih dahulu dengan cara membangun pasar hipotetik. Pasar hipotetik dibuat dengan sebuah skenario bahwa kawasan HCVA akan dilakukan pelestarian HCVA atau dikonversi menjadi kebun kelapa sawit. Pertanyaan dalam pasar hipotetik akan dibentuk dalam skenario sebagai berikut:
Apakah Saudara setuju apabila dikenakan pungutan sebesar yang dipergunakan untuk perlindungan dan pelestarian
keberadaan flora fauna dan atau kawasan yang
dikeramatakan bagi masyarakat Adat Melayu Sujuhan dan Sijoe dan atau kawasan yang bernilai konservasi tinggi di dalam perkebunan kelapa sawit PT. IIS Kebun Buatan dan berapa rupiah Saudara bersedia memberikan iuran untuk usaha tersebut?
Tahapan valuasi nilai keberadaan selanjutnya dengan menggunakan kuesioner yang terdiri atas identitas responden, sikap terhadap tindakan konservasi dan pengetahuan mengenai spesies langka dan terancam punah dan atau kawasan keramat di lokasi perkebunan kelapa sawit, dan kesediaan membayar untuk keberadaan kawasan bernilai konservasi tinggi. Kuesioner tersebut diperoleh nilai maksimum dari WTP (Willingness To Pay) dengan menggunakan teknik bidding game. Langkah selanjutnya untuk mendapatkan nilai
keberadaan dari HCVA di perkebunan PT. IIS Kebun Buatan, yaitu menghitung nilai rataan WTP dengan menggunakan rumuas:
∑
Dimana:
= nilai rerata WTP
= jumlah tiap data = jumlah responden
= responden ke-i yang bersedia membayar
Tahap terakhir dalam penentuan nilai keberadaan yaitu menjumlahkannya dengan cara mengkonversikan nilai rerata WTP dengan jumlah populasi di desa-desa sekitar PT. IIS Kebun Buatan. Data Kecamatan Kerinci Kanan (BPS 2011) jumlah rumah tangga penduduk di desa Buatan Baru dan desa Delik sekitar perusahaan PT. IIS Kebun Buatan sebanyak 370 KK.
Responden dalam estmasi nilai keberadaan sebanyak 30 orang yang berasal dari 2 desa di sekitar areal perusahaan PT. IIS Kebun Buatan. Responden tersebut menjadi narasumber untuk pemanfaatan hasil hutan bukan kayu atau untuk penentuan nilai guna langsung. Hasil perhitungan nilai keberadaan dengan menggunakan metode CVM disajikan dalam Tabel 16. Responden dalam CVM terdiri dari 23 orang berjenis kelamin laki-laki (76.67%) dan perempuan sebanyak 7 orang (23.33%). Sebesar 83.33% pendapatan rata-rata responden diatas Rp 3.000.000,00 per bulan dan sisanya
sebesar 16.67 % dengan pendapatan antara Rp 1.000.000,00 hingga Rp 3.000.000,00. Tingkat pendidikan responden untuk SD sebesar 17 %,
tingkat pendidikan menengah sebanyak 40 %, perguruan tinggi sebanyak 13% dan tidak sekolah sebanyak 30 %. Nilai keberadaan HCVA di PT IIS Kebun Buatan dapat dilihat pada Tabel 15.
71
Tabel 15. Nilai keberadaan HCVA di PT. IIS Kebun Buatan HCVA Mean WTP Responden
(Rp/bulan) Mean WTP Masyarakat (Rp/bulan) Mean WTP Responden (Rp/tahun) Mean WTP Masyarakat (Rp/tahun) 1. Ekosistem Riparian (Sempadan Sungai Kerinci 38.39 ha dan Laniago 9.31 ha) 8.883,00 3.286.710,00 106.596,00 39.440.520,00 2. Hutan Areal
Kebun Inti dan Hutan Sialang (40.60 Ha) 3. Makam Nenek Moyang (0.66 ha) 4. Danau Gadis (1 ha) Sub total Total Nilai Keberadaan 8.883,00 3.286.710,00 106.596,00 39.440.520,00 Sumber: data primer 2012
Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai rerata WTP responden sebesar Rp 8.883,00 per bulan, sedangkan nilai rerata per tahun sebesar Rp 3.286.710,00. Nilai rata-rata WTP masyarakat per tahun Rp 39.440.520,00. Nilai tersebut merefleksikan nilai keberadaan dari kawasan HCVA di perkebunan kelapa sawit. Besaran WTP responden Rp 106.596,00 per tahun sangat rasional dengan pendapatan masyarakat (responden) yang sebagian besar (83.33%) di atas Rp 3.000.000,00 per bulan. Penelitian ini tidak sampai mencari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesediaan membayar (WTP) masyarakat terhadap program pelestarian dan pengelolaan keberadaan HCVA di perkebunan Kelapa sawit.
Berdasarkan hasil paparan diatas komponen nilai ekonomi total (TEV) di perkebunan kelapa sawit PT. IIS Kebun Buatan dapat disajikan dalam Tabel 16 sebagai berikut.
Tabel 16. Estimasi nilai ekonomi total HCVA PT. IIS Kebun Buatan Komponen Nilai Ekonomi Nilai Ekonomi (Rp/Tahun) Rata-Rata (Rp/Ha/Tahun) Persentase Nilai Guna Langsung 1.202.505.810,00 13.367.117,00 90.97%
Nilai Guna Tidak
Langsung 78.276.380,00 870.124.00 5.92% Nilai Pilihan (Biodiversitas) 1.625.260,00 18.066,00 0.12% Nilai Keberadaan 39.440.520,00 438.423,00 2.98% Total Economic Value (TEV) 1.321.847.970,00 14.693.730,00 100.00% Sumber: data primer 2012
Tabel 16 menunjukkan bahwa komponen nilai guna langsung dari kawasan HCVA PT. IIS Kebun Buatan diestimasi sebesar Rp 13.367.117,00 per ha/tahun atau sebanyak Rp 1.202.505.810,00 per tahun. Nilai guna langsung merupakan komponen pembentuk nilai ekonomi total dengan kontribusi terbesar (90.97%). Nilai tersebut tentu saja memberikan kontribusi terbesar pada penjumlahan TEV HCVA PT. IIS Kebun Buatan yang disebabkan karena tingginya penggunaan sumberdaya air yang dihasilkan oleh sungai Laniago dan Kerinci untuk kebutuhan dua pabrik dan pemukiman karyawan. Nilai guna tidak langsung diestimasi sebesar Rp 78.276.380,00 per tahun dan nilai pilihan hanya
sebesar Rp 1.625.260,00 per tahun, sedangkan nilai keberadaan sebesar Rp 39.440.520,00 per tahun (WTP masyarakat). Nilai Ekonomi Total (TEV)
HCVA di perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. IIS Kebun Buatan sebesar Rp 1.321.847.970,00 per tahun atau sebesar Rp 14.693.730,00 per ha/tahun.
Nilai-nilai tersebut sebagian besar bersifat potensial. Nilai aktual dari TEV HCVA hanya pada aliran barang dan jasa yang sudah diperdagangkan atau memiliki harga pasar seperti rotan, ikan, dan madu. Nilai aktual dari aliran barang dan jasa ekosistem HCVA hanya sebesar 8.11 % dari nilai TEV atau rata-rata
sebesar Rp 107.160.000,00 per tahun, padahal TEV HCVA sebesar Rp 1.321.847.970,00 per tahun. Nilai-nilai tersebut berasal dari hasil hutan bukan
kayu dan sekitar kawasan riparian seperti ikan, rotan, dan madu. Nilai ekonomi
potensial adalah selisih antara nilai ekonomi total dengan nilai aktual Rp 1.214.687.970,00 per tahun atau dengan kata lain nilai potensial dari TEV
73
HCVA sebesar 91.89 % dari nilai ekonomi total. Perspektif perusahaan menunjukkan baik nilai aktual maupun nilai potensial, nilai ekonomi tersebut tidak memberikan penerimaan langsung bagi perusahaan. Nilai tersebut adalah marginal social benefit atas keberadaan HCVA. Nilai tersebut merupakan keuntungan sosial bagi masyarakat sekitar perusahaan.