• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika dan Konservasi Lingkungan

Dalam dokumen BAB VIII IPA DAN TEKNOLOGI (Halaman 55-69)

BAB X ISU LINGKUNGAN

10.3 Etika dan Konservasi Lingkungan

Manusia saat ini sering menghadapi alam hampir tanpa menggunakan hati nurani yaitu mengeksploitasi alam di luar batas kemampuan alam melakkan pemulihan dirinya serta sering melakukan aktivitas yang mencemari lingkungan. Dengan demikian manusia dipandang sebagai kunci pokok dalam kelestarian maupun kerusakkan lingkungan hidup yang terjadi. Cara pandang dan sikap manusia terhadap lingkungan hidup menyangkut mentalitas manusia itu sendiri yang mempertanyakan eksistensinya di jaman modern ini dalam kaitannya dengan waktu, tujuan hidup, arti materi dan kepuasan materi. Kiranya perlu dipahami oleh manusia tentang etika dalam hidup bersama dan memanfaatkan alam agar kelestarian mafaat lingkungan tetap terjaga..

Pengertian dan Definisi Etika Lingkungan Hidup

Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab, berisi ketentuan-ketentuan (norma-norma) dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian lingkungan Hidup (berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997) adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Etika lingkungan hidup merupakan petunjuk atau arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan. Dengan etika lingkungan maka hak dan kewajiban manusia terhadap lingkungan mendapatkan keseimbangnya; manusia harus membatasi perilaku dan berupaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kewajaran dan daya dukung lingkungan hidup. Dalam hal ini etika lingkungan “mengatur” hubungan antara sesama manusia yang tidak boleh berdampak negatif atau merusak lingkungan hidup; dan aktivitas manusia baik langsung maupun tidak langsung tidak boleh merusak kesimbangan, tatanan, dan daya dukung lingkungan hidup.

Beberap prinsip etika lingkungan hidup yang harus ditegakkan manusia adalah meliputi:

sikap hormat terhadap alam, bertanggung jawab, kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, tidak melakukan aktivitas dan bersikap yang merugikan, hidup sederhana dan selaras dengan alam, berkeadilan dan demokratis, integritas moral.

121

Etika menjamin konservasi dan keberlanjutan kegunaan sumberdaya apa pun yang terlibat dalam pembangunan kawasan. Etika adalah piranti moral bagi perumusan kebijakan pembangunan yang cerdas. Di Indonesia, pembangunan kawasan yang sudah pasti akan bersentuhan dengan hajat hidup orang banyak seperti usaha keluarga skala kecil, usaha tani, kerajinan, berdagang, atau manufaktur. Di dalamnya aka terjadi interaksi antara masyakarat, pemerintah dan lingkungan hidup. Untuk itu di dalam prencanaan program dan pelaksanaan pembanugan harus memperhatikan beberapa prinsip yaitu: (i) memberikan prioritas kepada usaha swaproduksi daripada impor; (ii) mengembangkan teknologi produksi yang dapat mudah diadopsi oleh pelaku usaha kecil; (3) tidak mengganggu ekosistem kawasan, berarti memelihara keterpaduan dan kekukuhan sistem alami tempat kegiatan tersebut bekerja; (4) penganekaragaman hasilpanen atau hasil barang untuk meningkatkan pendapatan; (5) memastikan hak perolehan pilih akan hasilpanen atau hasilbarang bagi konsumen; dan (6) pemajuan kesehatan dan kesejahteraan penduduk (Notohadikusumo, 2005). Lebih lanjut dikemukakan bahwa asas konservasi lahan adalah penerapan tataguna lahan dan dilakukan secara bersama-sama segenap pemangku kepentingan.

Konservasi lahan harus dirancang pada aras (level) regional dengan sistem lahan sebagai satuan kerja dengan mempertimbangkan bentang lahan kawasan (landscape region) yang memiliki struktur geologi dan pedologi, iklim, dan keterpaduan sejarah geomorfologi yang khas.

Kerusakan Alam dan Penyebabnya

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: (i) bentuk kerusakan lingkungan hidup akibat peristiwa alam seperti gunung berapi, angin topan, dan gempa; serta (ii) . bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia.

Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi. Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara lain berupa: hujan abu vulkanik yang menyebabkan gangguan pernafasan), material padat (batuan, kerikil, pasir), serta lava panas, awan panas, dan gas beracun yang dapat merusak dan membunuh makhluh hidup.

Letusan beberapa gunung berapi yang dahsyat di muka bumi ini ternyata dapat mempengaruhi perubahan suhu permukaan bumi seperti ditunjukkan pada Tabel 10.1.

Kerugian akibat kerusakan yang ditimbulkan letusan gunung berapi sangat bervariasi tergantung intensitas dan frekuensi letusan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui metode dari Economic Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC) (www.eclac.cl) telah mengukur total kerugian dan kerusakan akibat erupsi Gunung Merapi tahun

122

2010 yaitu sebesar Rp. 4,23 trilyun (www.bnpb.go.id) dan secara keseluruhan sektor pertanian budidaya dan tanaman pangan tetap menjadi sektor yang paling terkena dampak di samping sektor perumahan dan sektor industri dan usaha mikro kecil dan menengah (Marhaento dan Kurnia, 2015).

Tabel 10.1. Data teknis letusan dahsyat beberapa gunung berapi di bumi dan penaruhnya terhadap penurunan suhu bumi belahan utara (Rampino & Self, 1984 dalam Pratomo, 2006) Erupsi

*) latitude atau derajat lintang Utara (U) atau Selatan (S); **) VEI = Volcano Explosivity Index;

Angin topan dan gempa bumi juga merupakan kerusakan alam (bukan oleh manusia) yang sering terjadi. Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah. Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Sementara itu gempa bumi menimbulkan bahaya yang tidak kalah dahsyatnya dengan letusan gunung berapi. Gempa bumi getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra dengan intensitas mulai dari lemah atau sampai tinggi hingga menimbulkan kerusakan yang parah misalnya gempa di Yogyakarta dan gempa di Aceh yang menimbulkan tsunami pada tahun 2004 dengan merusak permukiman hingga lenyap dari posisi awalnya seperti diilustrasikan pada Gambar 11.7. Gempa sangat dahsyat di Aceh (26 Desember 2004) (dengan rpusat gempa sekitar 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra)

123

diperkirakan berkekuatan 9,1- 9,3 pada skala Richter selama 10 menit yang diikuti dengan munculnya gelombang raksasa. Biasanya, gempa semacam ini hanya berlangsung beberapa detik saja dan menurut para ahli ini merupakan gempa terbesar kedua dalam 100 tahun terakhir; tahun 1960, sebuah gempa bumi di Chile tercatat berkekuatan 9,5 skala Richter (DW Akademie, 2014).

Gambar 10.7. Dampak tsunami aceh tahun 2014

sumber: http://www.dw.com/id/apa-yang- sebenarnya-terjadi-dalam-tsunami-2004/a-18141866

Manusia dalam kehidupannya seringkali melakukan aktivitas yang bersifat mengganggu dan merusak lingkungan baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Perkembangan pola hidup manusia dari bentuk kehidupan masa lalu yang sederhana dan konvensional menjadi bentuk kehidupan yang modern ternyata telah meningkatkan keragaman dan intesitas bentuk perusakan terhadap alam lingkungan hidupnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain: (i) pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industry, (ii) banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan, (iii) tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain: penebangan hutan secara berlebihan dan illegal logging, perusakan mangrove, perburuan liar, konservasi rawa-rawa untuk permukiman, konservasi hutan untuk lahan pertanian. pembuangan sampah tidak terkendali, merusak fungsi daerah aliran sungai (DAS) misalnya dengan mendirikan bangunan di atasnya, dan penambangan liar (pasir dan emas).

124

Saat ini perusakan lingkungan akibat konversi lahan sudah cukup memprihatinkan. Konversi lahan di kawasan hulu dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak hanya berakibat pada kawasan sekitar konversi, melainkan juga berakibat pada kawasan yang ada di bagian hilir daerah alirang sungai (DAS) mengingat adanya interkoneksitas kawasan hulu dan hilir. Contoh kasus sering menjadi sorotan telah dipublikasikan oleh Lestari dan Dharmawan (2011) yaitu bencana banjir di hilir DAS Ciliwung tepatnya di Jakarta yang terjadi akibat perubahan tata ruang di bagian hulu yaitu wilayah Bopunjur (Bogor, Puncak, Cianjur). Jika terjadi banjir di kawasan hilir, kebanyakan orang menyebutnya sebagai “Banjir kiriman dari Bogor”. Istilah ini menandakan bahwa fungsi wilayah hulu sebagai wilayah resapan air tidak lagi berjalan dengan baik.

Upaya untuk melestarikan lingkungan hidup

Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Di lain pihak pemerintah harus mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan dengan membuat dan menegakkan implementasi berbagai peraturan/perundangan yang diperlukan serta menyusun program pembangunan berkelanjutan sesuai amanat masyarakat dunia yang tercermin dalam konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan yang merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah: menjamin pemerataan dan keadilan, menghargai keanekaragaman hayati, menggunakan pendekatan integrative, dan menggunakan pandangan jangka panjang.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain dengan pelestarian tanah, pelestarian udara, dan pelestarian hutan.

Pelestarian tanah, yaitu tindakan yang bertujuan melesatrikan fungsi dan daya dukung tanah meliputi tanah datar tempat bermukimna dan melakukan berbagai aktivitas, lahan miring/perbukitan yang rawan menimbulkan bencana, dan tanah dengan berbagai fungsinya. Banjir dan erosi yang biasanya menyebabkan pengikisan lapisan tanah dan berdampak pada hilangnya kesuburan tanah harus dicegah. Penanaman pohon atau penghijauan lahan tandus, memelihara hutan lindung pada daerah berkemiringan dan daerah tangkapan air, serta peningkatan kualitas teknik budidaya tanaman dan yang teknik olah tanah bersifat melindungi tanah (terasering lahan berkemiringan) merupakan suatu keharusan.

Pelestarian udara, yaitu tindakan yang bertujuan untuk memulihkan dan menjaga kualitas udara agar layak bagi kehidupan atau bebas polutan. Pembiaran udara yang tercemar polutan berarti akan membiarkan perusakan komponen ekosistem, karena sebagian besar mahkhluk hidup

125

teruama manusia dan hewan memerlukan oksigen untuk respirasi dan akan terganggu dan teracuni bila kadar polutan di atas ambang aman. Banyak burung pemakan serangga yang hijrah ke tempat lain untuk menghindari polutan udara, padahal burung sangat berperan dalam perlindungan tanaman pertanian dari gangguan berbagai hama ulat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain: melakukan penanaman pohon dan/atau tanaman hias, karena beberapa jenis tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia.

Sebagai organisme autotrof, tumbuhan melangsungkan proses fotosintesis yang menggunakan gas karbondiaoksida yang diserap melalui stoma (mulut daun) dan air yang diserap oleh bulu-bulu akar untuk menghasilkan gula (terpolimerisasi menjadi karbohidrat di sel daun) dan gas oksigen yang bermanfaat bagi hewan dan manusia. Upaya pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran dengan mengendalikannya di tingkat sumbernya misalnya yaitu menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan, knalpot kendaraan dan cerobong asap pabrik yang dilengkapi dengan filter. Sementara itu kita juga harus mengurangi penggnaan bahan-bahan yang dapat merusak lapisan ozon.

Pelestarian hutan sangat penting dan mendasar untuk dilakukan oleh semua pemangku kepentingan dan masyarakat luas yang dapat dilakukan dengan berbagai cara yang memungkinkan.

Sampai di awal dekade ini eksploitasi hutan yang dilakukan terus menerus ternyata kurang diimbangi dengan pemulihan kembali hutan. Laju keruskan hutan masih jauh lebih tinggi dari laju rehabilitasi hutan. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan di samping masalah kebakaran.Semenatar itu faktanya hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air. Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan di antaranya:

(i) reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul, (ii) melarang secara keras dan konsisten menerapkan sanksi berat bagi kegiatan penebangan hutan secara sewenang-wenang dan tidak sesuai dengan aturan/perundang-undangan yang berlakum, (iii) ikut memelihara dan melestarikan hutan sesuai dengan fungsi dan peruntukannya.

Di samping itu saat ini mulai dikembangkan menjadikan kegiatan pelesitarin hutan sebagai bagian dari kegiatan ekowisata. Ekowisata sebagai industri pariwisata merupakan bagian dari cultural industry yang melibatkan seluruh masyarakat sekaligus merupakan kegiatan konservasi yaitu melindungi, mengawetkan, dan memanfaatkan secara lestari sumberdaya alam yang digunakan untuk ekowisata (Hijriati dan Mardiana, 2014). Kegiatan ini secara ekonomis memberikan manfaat untuk masyarakat setempat dan menjadi penggerak pembangunan ekonomi

126

di wilayahnya serta memastikan usaha ekowisata dapat berkelanjutan, mengandung unsur pendidikan untuk mengubah persepsi, seseorang agar memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan.

Pelestarian laut dan pantai yang sesungguhnya merupakan sumber daya alam potensial.

Berbagai dampak aktivitas manusia seperti pengambilan pasir pantai, pengambilan karang di laut, pemanfaatan lahan mangrove untuk kegiatan lain yang mengubah fungsinya, serta penggunaan bom dan racun untuk pengambilan ikan laut telah menunjukkan hasilnya seperti terjadinya abrasi pantai dan nelayan kesulitan mendapatkan tangkapan ikannya. Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara: (i) melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai, (ii) melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut, (iii) melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan, dan (iv) melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

Pelestarian flora dan fauna juga merupakan kegiatan yang mendesak untuk dilakukan.

Hilangnya salah satu jenis flora dan/atau fauna akan mengganggu mata rantai kehidupan yang akan berakibat terjadinya gangguan keseimbangan alam. Jenis-jenis tertentu di hutan alam banyak yang menjadi penyangga bagi kelangsungan ketersediaan bahan pangan. Jenis-jenis umbi-umbian tertentu misalnya setelah melalui proses domestikasi kemudian hari akan menjadi andalan bagi penyediaan bahan pangan manusia dan sumber energi alternatif. Dengan demikian kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah: (i) mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa, (ii) melarang kegiatan perburuan liar, dan (iii) menggalakkan kegiatan penghijauan.

Pelindungan Kawasan Konservasi saat ini harus menjadi perhatian lebih serius mengingat tekanan terhadap kawasan konservasi semakin berat. Mengingat pentingnya konsewasi sunberdaya hayati, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan untuk melindungi 10% dari luas daratan dan 20 juta ha habitat pesisir dan laut sebagai kawasan konsewasi (Dephutbun, 2000).

Sesuai GBHN 1999 (Ketetapan MPR Nomor IVlMPW 1999 tentang GBHN Tahun 1999-2004), yang saat ini masih sangat relevan untuk dilanjutkan implementasinya, arah kebijakan pembangunan perlindungan dan konsewasi alam adalah: (i) mengelola dan memelihara daya dukung SDA agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi; (ii) meningkatkan pemanfaatan potensi SDA dan lingkungan hidup dengan melakukan konsewasi, rehabilitasi, dan penghematan penggunaan dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan; (iii) mendelegasikan

127

secara bertahap wewenang pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan SDA secara selektif dan pemeliharaan lingkungan hidup sehingga kualitas ekosistem tetap terjaga yang diatur dengan undang-undang; (iv) mendayagunakan SDA untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dm keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serta penataan ruang, yang pengusahaannya diatur undang-undang; (v) menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelestarian kemampuan keterbaharuan dalam pengelolaan SDA yang dapat diperbarui untuk mencegah kerusakan yang tidak dapat balik.

Direktur Konsewasi Kawasan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam (2000 dalam Setiawan dan Alikodra, 2001) menggariskan kebijaksanaan umurn pengelolaan kawasan konsewasi, sebagai berikut:

(i) Mengupayakan terwujudnya tujuan dan misi upaya konsewasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem yaitu : perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

(ii) Meningkatkan pendayagunaan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem kawasan konservasi dan hutan lindung untuk kegiatan yang menunjang budidaya. Jenis kegiatannya mencakup pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan dan pemungutan hasil hutan bukan kayu pada kawasan konservasi.

(iii) Memberdayakan peran serta masyarakat di sekitar kawasan konservasi dan hutan lindung melalui pembinaan masyarakat untuk berperan aktif dalam setiap upaya konservasi dan upaya peningkatan kesejahteraannya.

(iv) Keterpaduan dan koordinasi untuk mencapai pembangunan kawasan konservasi yang integral dengan pembangunan sektor lain di sekitarnya sehingga kegiatan pembangunan tersebut dapat terselenggara secara selaras, serasi, dan seimbang.

(v) Pemantauan dan evaluasi untuk mengetahui keefektifan pengelolaan dan penentuan arah kebijakan pengelolaan selanjutnya.

Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi sumberdaya hayatinya tersebut bagi kepentingan kesejahteraan umat manusia, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Sekali suatu spesies hilang atau punah maka spesies tersebut akan punah selamanya. Sementara itu masih banyak sekali spesies yang belum diketahui kegunaannya bagi umat manusia. Oleh karena itu prinsip save it, study it, and use it merupakan prinsip yang sangat tepat. Adapun masih banyaknya kerusakan yang terjadi pada kawasan konservasi saat ini

128

mengindikasikan masih banyaknya masalah yang dihadapi, antara lain adalah pandangan bahwa konservasi semata-mata merupakan kegiatan Departemen Kehutanan dan minirnnya peranan pemerintah daerah sebagai akibat kebijakan dan kewenangan pengelolaan kawasan konservasi masih bersifat sentralistis (Setiawan dan Alikodra, 2001).

EVALUASI

1. Global Warming yang menerpa bumi saat ini disebabkan oleh efek gas rumah kaca. Mengapa demikian?

2. Berikan contoh dampak Global Warming yang anda rasakan dan jumpai dalam kehidupan sehari-hari!

3. Efek kerusakan sumberdaya alam karena daya-daya alam itu sendiri (non antrophogenic) seperti gempa bumi dan tsunami serta letusan gunung berapi misalnya sering diperparah dengan adanya penurunan kualitas lingkungan akibat perilaku manusia. Jelaskan mengapa demikian dan berikan contoh.

4. Jelaskan hubungan banjir yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dengan fungsi hutan dan perilaku manusia. Bagaimana sikap dan bentuk partisipasi Anda untuk mencegah bencana banjir di kemudian hari?

5. Apa dampak kebakaran hutan dan lahan bagi masyarakat secara lokal, Nasional, dan global?

Menurut Anda bagaimana seharusnya peran pemerntah dan masyarakat dikembangkan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan.

129 DAFTAR PUSTAKA

Adam, John MF. 2011. Hubungan Antara Obesitas Dan Diabetes Mellitus Tipe 2.

Adiningsih NU. 2002. Mengkhawatirkan, Kondisi Lapisan Ozon Bumi. Harian Suara Pembaruan.

Jakarta.

Aesijah S. 2000. Latar Belakang Penciptaan Seni. Harmonia 1 (2): 62-74.

Afrizal LH. 2014. Psikoanalisa Islam, Menggali Struktur Psikis Manusia dalam Perspektif Islam.

Jurnal Kalimah 12 (2): 237-261.

Agusta, I. 2009. Kritik Ekolopgi Poskolonial. J Sodality 3 (1): 49-76.

Alikodra HS, Pratondo BJ & Sahardjo BH. 2006. Aplikasi Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) Untuk Pengendalian Kebakaran Hutan Dan Lahan (Studi Kasus Di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat). Jurnal Ilmiah Geomatika 12 (2): 62-74.

Ambarsari N, Komala N & Cahyono WE. 2013. Korelasi Ozon Dan Bromin Monoksida Di Indonesia Berbasis Observasi Satelit Aura-Mls. J Sains Dirgantara 10 (2): 116-125.

Aryulina Diah, dkk. 2007. Biologi 1. Erlangga. Jakarta.

Audesirk,T; Audesirk ,G; dan Byers B.E. 2002. Biology: Life on the Earth, 6 th Ed. , Prentice Hall do Brasil, Ltd. Rio de Janeiro.

Astri Lestari A & Dharmawan AH. 2011. The Socio-Economic and Socio-Ecological Impact of Land Conversion. Sodality 5 (1): 1-12.

Baransano HK dan Mangimbulude JC. 2011. Eksploitasi dan Konservasi Sumberdaya Hayati Laut dan Pesisir di Indonesia. Jurnal Biologi Papua 3 (1): 39-45.

Barcroft, A., and Myskja, A.. 2003. Aloe vera Nature’s Silent Healer. London: BAAM Publishing Ltd.

diunduh di

http://books.google.co.id/books?id=nfJCulLeVrMC&printsec=frontcover&dq=Barcroft+Aloe+v era+nature's+silent+healer&hl=id&sa=X&ei=Xrw0UdvmNsuIrAeUr4HIDQ&redir_esc=y

Bhumiratana & Kongsawat. 2008 diunduh di http://antonbiologi.blogspot.co.id/2013 Burhanuddin, Salam. 1997. Etika Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Cahyono WE. 2014. Dampak Peningkatan Radiasi Ultraviolet B Terhadap Manusia. LAPAN.

Jakarta.

Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG, and Taylor MR. 2002. Biology. 4th Ed. , Addison Wesley World Student Series, San Fransisco.

Cambell. 2003. Biologi Edisi kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga

130

Cartega Protocol. 2000. Dapat diunduh di https://www.cbd.int/doc/legal/cartagena-protocol-en.pdf Casey, Denny. 2012. Nature of Science. Virginia Science Standards Institute. Diunduh di

http://www.vmnh.net/content/File/VSSI_1_2012/nospresentation72112.pdf

Daryanto dan Suprihatin. 2013. Pengantar Pendidikan Lingkungan Hidup. Yogyakarta:

Gava Media

Diwyanto, K., dan B. Setiadi. 2003. Peran Komisi Nasional Plasma Nutfah dalam Pengelolaan Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Daya Genetik Pertanian. Makalah Apresiasi Plasma Nutfah di Bogor, Juni 2003. Bogor.

Dewan Nasional Perubahan Iklim. 2010. Kurva Biaya (Cost Curve) Pengurangan Gas Rumah Kaca Indonesia. Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia. Jakarta.

Daryoso K, Wahyuni S & Saputro SH. 2012. Uji Aktivitas Katalis Ni-Mo/Zeolit P Ada Reaksi Hidrorengkah Fraksi Samp Ah Plastik (Polietilen). Indo. J . Chem. Sci. 1 (1): 50-54.

Departemen Kehutanan. 2009. Statistik Kehutanan Indonesia 2008. Departemen Kehutanan, Jakarta.

Dephutbun. 2000. Program pembangunan nasional (PROPENAS) perlindungan dan konservasi dam tahun 2000-2004. Departemen Kehutanan dan Perkebunan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam. Jakarta.

Dharmawan AH. 2007. Dinamika Sosio-Ekologi Pedesaan: Perspektif dan Pertauatn Keilmuan Ekologi Manusia, Sosiologi Lingkungan dan Ekologi Politik. Sodality 1 (1): 1-40.

DW Akademie, 2014. Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dalam Tsunami 2004?

DW Akademie, 2014. Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dalam Tsunami 2004?

Dalam dokumen BAB VIII IPA DAN TEKNOLOGI (Halaman 55-69)

Dokumen terkait