3.PERUMUSAN STANDAR AUDITING DI INDONESIA
1. ETIKA DAN MORAL
Manusia sebagai individu merupakan bagian integral dari sosial masyarakat. Hal ini menjadikan manusia suatu sosok yang tidak boleh semena-mena dengan inidividu lain disekitarnya. Untuk dapat dikatakan sebagai manusia yang baik maka manusia tersebut harus menghiraukan moral dan etika yang berlaku di masyarakat.
Etika yang sering di sebut dengan istilah etik mengandung banyak pengertian. Sisi estimologi, etika berasal dari kata latin “ethos” yang berarti kebiasaan. Etika merupakan ilmu normatif jadi etika berisi ketentuan-ketentuan (norma-norma) dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etika salah satu cabang filsafat yang mempelajari pandangan dan persoalan yang ada kaitannya dengan kesusilaan. Sehingga etika merupakan refleksi kritis dan rasional mengenai (a) nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia; dan mengenai (b) masalah-masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma-norma moral yang umum diterima (Keraf, 1998 dalam Siti 2006). Dalam kamus bahasa Indonesia (1988), etika dirumuskan dalam tiga arti, yaitu:
(1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
(2) Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
(3) Nilai mengenai benar dan salah yang di anut suatu golongan atau masyarakat. Dengan demikian yang dimaksud etika adalah penyelidikan filosofis mengenai kewajiban-kewajiban manusia, dan hal-hal yang baik dan buruk. Dan dalam etika
terdapat beberapa macam aliran yang menggambarkan tentang kebenaran atau kekeliruan dalam beretika, yang meliputi: (1) aliran kognitif dan non kognitif, (2) moral religius, (3) aliran konsekuensial dan non konsekuensial, (4) Utilitarianism, (5) Kantianism, (6) Hukum Alam : Etika Hak, (7) Penerapan Teori Etika.
Adapun aliran dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Aliran Kognitif dan Non-Kognitif
Suatu keadaan yang dapat digunakan untuk mengetahui tentang keberadaan kebenaran yang sebenarnya dapat ditemui, dapat dinilai dari aliran kognitif dan non kognitif. Aliran kognitif menyatakan bahwa suatu kebenaran moral dapat dinilai secara objektif. Sehingga arti kebenaran tersebut tergantung dari moral yang terdapat pada tiap individu. Sedangkan menurut aliran non kognitif kebenaran tersebut dapat menjadi semu, sehingga sifat dari kebenaran tersebut menjadi relatif. Penilaian dari sisi ini sangat dipengaruhi unsur kepercayaan dan budaya di mana etika berada.
(2) Moral Religius
Setiap individu mempunyai kepercayaan terhadap penguasa alam (Tuhan), walaupun ditunjukkan dari persepsi yang berbeda dan jalan yang berbeda. Pada hakekatnya, Tuhan merupakan suatu eksistensi mutlak dari kebenaran itu sendiri, sehingga segala sesuatu yang dianggap sebagai perintah (firman) Tuhan merupakan suatu kebenaran.
Kepercayaan yang muncul sedemikian kuat, menimbulkan banyak persepsi yang berbeda dari adanya Tuhan itu sendiri. Sebab yang dinamakan kepercayaan datangnya dari kalbu manusia yang berarti telah melewati akal dan pemikiran secara logika. Sedangkan kritik yang muncul dari penilaian akan eksistensi Tuhan, dan siapa yang dapat membuat nilai atas Tuhan merupakan unsur kelemahan pada metafisik manusia yang hanya mampu berfikir tanpa mau berusaha untuk merasakan.
Kondisi tersebut memunculkan paham atheisme yang sifatnya anti ketuhanan. Menurut Chryssides, religius yang disebut sebagai paham ketuhanan, sebenarnya merupakan keyakinan atas kondisi diluar dunia metafisika. Sedangkan keberadaan Tuhan tidak sepenuhnya dapat diyakini dari realitas
metafisika tersebut. Sehingga moral religius tersebut bukan berarti hanya terkondisi pada keyakinan pada Tuhan dalam bentuk agama yang dianut oleh tiap individu.
(3) Aliran Konsekuensial dan Non Konsekuensial
Kedua aliran tersebut meyakini pada pola tindakan yang sama, dan dapat menyatakan akan kebenaran akan tindakan yang dilakukan. Tetapi dalam menghadapi permasalahan yang harus diselesaikan dari kebenaran akan tindakan tersebut, mempunyai pendekatan yang berlainan. Menurut aliran konsekuensial, permasalahan dapat dilihat dari berbagai sisi, sehingga mudah mencari alternatif pemecahannya. Sedangkan pada aliran non konsekuensial, hanya memandang permasalahan dari sumber masalah tersebut. Sehingga jika dapat dibuat secara fisik, kebenaran aliran konsekuensial dapat berwujud abu- abu dan pada aliran non konsekuensial hanya berupa hitam dan putih saja. Warna abu-abu merupakan pencerminan dari campuran berbagai warna. Sehingga mengindikasikan bahwa kebenaran tersebut dapat dilihat dari berbagai sisi kehidupan. Sedangkan warna hitam dan putih, menunjukkan suatu keadaan yang sudah terkondisikan sejak semula. Sehingga sulit untuk memberikan masukan pada proses pencarian kebenaran yang dilakukan. (4) Utilitarianism : Etika Kesejahteraan
Didalam aliran ini, muncul etika konsekuensialis yang merupakan suatu bentuk ukuran dari arti kebenaran atas dasar manfaat yang dapat diperoleh dari kebenaran tersebut. Manfaat yang diperoleh bisa menfaat negatif dan manfaat positif. Pada manfaat negatif, kebenaran tersebut ternyata tidak dapat menimbulkan kebahagiaan. Sedangkan manfaat positif menyatakan bahwa kebenaran tersebut akan mendatangkan kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah tujuan akhir dari manfaat.
Tetapi kebahagiaan merupakan suatu bentuk rasa yang tidak dapat dikuantifikasi. Sehingga ukuran yang muncul dapat berlainan tiap individu. Keadaan tersebut cenderung memunculkan persepsi egois.
(5) Kantianism : Etika Kewajiban
Aliran ini mengarah pada hal yang bersifat universal. Sehingga melibatkan seluruh norma-norma kemanusiaan. Pada aliran ini hanya dapat
mendefinisikan tentang arti suatu kebenaran melalui pendekatan nilai-nilai kemanusiaan yang dimunculkannya.
(6) Hukum Alam : Etika Hak
Suatu kebenaran yang dapat disepakati menjadi suatu hukum, berawal dari hak asasi manusia itu sendiri. Dari hak individu,kemudian meluas melalui kontak sosial kamasyarakatan, hingga pada akhirnya membentuk suatu legitimasi. Karena hanya berawal dari hak asasi manusia, kesepakatan tersebut sifatnya sangat rentan dan mudah digoyahkan jika suatu ketika hak terebut dilanggar oleh orang lain.
(7) Penerapan Teori Etika
Teori etika yang biasanya diterapkan , rata-rata berhubungan dengan pendekatan teori utilitarianism atau etika kesejahteraan. Didalamnya terdapat pendapat yang menyatakan bahawa suatu utilitas harus dapat terdistribusikan dalam hak dan kewajiban minoritas. Sehingga hak dan kewajiban minoritas tersebut dapat terakomodasi dengan sebenarnya.
Dalam permasalahan didunia bisnis, pemahaman ini dapat diwujudkan pada pengungkapan hak pemegang saham minoritas dalam mendistribusi dividen dari suatu perusahaan.
Selain dari teori utilitarianism, Chrissides juga memberikan alternatif penilaian moralitas tindakan dari perspektif kantianism dan hukum alam. Karena masing-masing perspektif penilaian tersebut mempunyai manfaat yang berbeda, sehingga kembali pada penilaian individunya sendiri
Pengertian moral akan memberikan dorongan yang kuat untuk hidup yang bersusila tinggi. Susila yang tinggi adalah moral dasar pembangunan dan kehidupan bangsa. Moral berasal dari kata Latin “mos” yang artinya kebiasaan (Burhanuddin, 2000:1). Kata moral tersebut dekat dengan istilah etika yang juga berasal dari Yunani ,”ethos”. Singkatnya etika dapat diartikan sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu kebiasaan (Bertens, 2001:4). Hal senada juga diungkap oleh Suseno (1988:6) dalam etika Jawanya yang menyatakan bahwa etika dalam arti sebenarnya berarti "filsafat mengenai bidang
moral". Jadi etika merupakan ilmu atau refleksi sistematik mengenai pendapat- pendapat, norma-norma, dan istilah-istilah norma.
Etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral dimana dalam penyelidikan tersebut dilakukan dengan tiga pendekatan. Tiga pendekatan tersebut adalah:
(1) Etika Deskriptif. etika yang mencoba menggambarkan/ melukiskan tingkah
laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan tentang baik buruk.
(2) Etika normatif. Etika ini dibagi menjadi dua etika normatif umum dan etika normatif khusus. Etika normatif umum mencoba memandang tema-tema umum sebagai obyek penyelidikannya. Sedangkan etika normatif khusus berusaha menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus.
(3) Metaetika. Etika ini mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis.
Pendekatan etika dapat digambarkan pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Pendekatan etika