• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika kasih dan hukum

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 126-130)

Judul: Etika kasih dan hukum

Menurut Anda mana yang benar: kasih dan hukum adalah alternatif dalam etika Kristen, atau kasih dan hukum adalah dua sisi dari satu kenyataan yang sama? Dalam pengalaman Anda sendiri, sungguhkah kasih dan hukum berjalan serasi dalam perilaku keseharian Anda? Nasihat Paulus merupakan gema dan uraian lanjut dari ajaran Tuhan Yesus sendiri. Jika orang sungguh mengasihi Allah dan sesama manusia, maka ia pasti menggenapi semua hukum Allah baik yang mencakup relasi dengan Allah maupun dengan sesama (ayat 8-9). Inti dari hidup kudus dan benar adalah kasih kepada Allah dan sesama. Sebaliknya, inti dari semua perbuatan dosa adalah tidak mengasihi. Lebih tajam lagi, semua pelanggaran hukum Allah terhadap sesama disebabkan oleh kasih yang timpang; kasih yang ditujukan hanya kepada diri sendiri, tetapi tidak didampingi oleh kasih kepada sesama. Sehingga terjadilah hutang kasih, ketimpangan kasih! Karena kasih ditujukan hanya pada diri sendiri, kasih merosot menjadi egoistis dan penuh hasrat liar yang merendahkan orang lain. Karena egoistis, orang melakukan berba-gai perbuatan yang adalah lawan dari kasih kepada sesama. Maka terjadilah pelanggaran hukum dalam wilayah sosial.

Jawaban untuk kejahatan sosial tidak cukup dengan law enforcement (pelaksanaan hukum secara tegas), tetapi harus didorong oleh love enforcement (memberlakukan kasih secara gigih). Hukum bukan sumber etika, tetapi rambu atau kerangka etika. Nafas yang menghasilkan kehidupan etis adalah kasih kepada Allah dan sesama seperti kepada diri sendiri. Apabila kita menekankan pelaksanaan hukum tanpa motivasi kasih, kita akan "kudus" tetapi munafik atau "benar" tetapi legalistis. Sebaliknya menekankan kasih tanpa peduli hukum akan menciptakan kekacauan moral dan kemerosotan kasih menjadi kasih yang egoistis atau hasrat pemuasan nafsu secara liar. Etika Kristen memberi jawaban indah dan kuat. Kita harus melunasi hutang kasih kita kepada sesama; kasih yang lengkap dan utuh ini serasi dengan perilaku manusia terang!

127 Sabtu, 24 April 2010 Bacaan : Kisah 13:47

(24-4-2010)

Kisah 13:47

Menjadi terang

Judul: Menjadi terang

Alangkah berani khotbah pembelaan Paulus di Antiokhia di Pisidia ini! Ketika sebagian orang Yahudi menolak Injil yang Paulus dan Barnabas beritakan, Paulus mengklaim bahwa Allah telah membuat mereka menjadi terang bagi orang asal kafir. Terjemahan harfiah klaim tersebut bisa seperti ini: "Aku telah menjadikan kamu terang bangsa-bangsa kafir." Mari kita periksa berbagai tekanan dahsyat dalam pernyataan tersebut.

Pertama, untuk para pendengar Paulus, klaim ini merupakan peringatan keras bahkan ultimatum yang tidak main-main. Terang Injil yang Paulus beritakan telah mereka tolak. Maka terang itu digeser dari mereka, tidak lagi menyinari mereka, tetapi sekarang dibawa pergi untuk menyinari bangsa-bangsa yang hidup dalam ketidaktahuan akan Allah. Mengerikan! Umat pilihan Tuhan pun akan mengalami kegelapan jika terus menolak terang Injil!

Kedua, Paulus menegaskan bahwa Allahlah yang telah menetapkan ia menjadi terang bangsa kafir. Tentu kita mengerti bahwa sebagai manusia yang terbatas tidak mungkin Paulus menjadi terang bangsa kafir. Tentu yang dimaksud adalah pelayanan Paulus, Injil yang ia beritakan, Yesus Kristus yang menghasilkan Injil itulah yang sejatinya terang bangsa kafir. Istilah "terang" ini bisa juga diterjemahkan secara tajam menjadi "keselamatan," maka klaim Paulus itu

berbunyi: "Aku telah menjadikan kamu keselamatan bangsa-bangsa kafir!" Hanya Kristus yang hidup dan karya-Nya adalah terang, dapat mengenyahkan kegelapan dosa, menghasilkan hidup yang penuh dengan pengharapan dan berkat.

Meski inti klaim tersebut adalah Kristus, tetap saja kita merasakan betapa agungnya pelayanan mewartakan Injil Yesus Kristus itu. Sebab dengan perkataan dan perilaku kita menyaksikan Yesus Kristus, dengan hidup dan kesaksian kita sedemikian menyatu dengan sang Terang, kita dimuliakan menjadi terang yang membawa pengharapan serta keselamatan kepada orang yang hidup dalam gelap!

Sekitar kita gelap! Kegelapan nurani, moral, juga nalar terjadi akibat orang memberi diri kepa-da dosa. Kristus dalam kita adalah terang untuk kegelapan ini. Bicaralah, bertindaklah, pancar-kan terang Injil dalam hidupmu!

128 Minggu, 25 April 2010

Bacaan : Roma 14:1-12

(25-4-2010)

Roma 14:1-12

Jangan jadi Tuhan!

Judul: Jangan jadi Tuhan!

Ssst! Tahukah Anda siapa-siapa saja di gereja atau persekutuan yang tidak rohani? Coba perhatikan cara berpakaian mereka, cara doa mereka, apa saja yang mereka makan. Psst! Kelompok persekutuan atau gereja mana saja yang tidak rohani? Tradisi ibadah apa saja yang tidak mereka turuti?

Ada berbagai isu yang oleh Alkitab tidak diberikan garis jelas, yang menyebabkan orang Kristen saling menghakimi. Dalam perikop ini Paulus mengacu pada dua isu, soal makanan (ayat 2) dan hari-hari khusus (ayat 5). Perbedaan pendapat muncul karena perbedaan latar belakang kelompok Kristen Yahudi dan bukan Yahudi. Daging yang dijual di tempat umum di kota-kota Romawi-Yunani dianggap tidak halal oleh orang Yahudi. Mungkin karena sudah dipersembahkan di kuil-kuil kafir. Maka orang Kristen Yahudi memiliki keberatan nurani untuk memakan daging. Terjadilah saling tuduh, yang makan daging merasa lebih kuat iman, yang tidak makan merasa lebih rohani. Pertikaian lain adalah di sekitar hari-hari raya. Meski sudah Kristen, orang asal Yahudi masih merayakan hari raya sesuai tradisi keyahudian mereka. Yang tidak berasal dari tradisi sama merasa tidak relevan merayakan hari raya tersebut. Maka terjadi lagi saling tuding. Kalau dibiarkan tentu tak baik bagi keutuhan gereja dan kesaksiannya!

Tentang hal-hal yang Alkitab tidak bicarakan dengan jelas, orang Kristen tak perlu saling menilai. Baik tentang makanan, hari raya, atau isu lain yang seringkali kita tidak sepakat sebab Alkitab tidak menyatakan dengan jelas. Kita harus berlapang dada untuk saling menerima. Bagaimana mempraktikkan sikap toleran ini. Pertama, masing-masing harus melakukan dengan hati yang yakin bukan dalam keraguan. Kedua, masing-masing melakukan dengan mengucap syukur kepada Tuhan. Apa pun perbuatan kita bukan untuk menyenangkan orang lain, tetapi untuk mensyukuri Allah. Ketiga, prinsip terpenting, semua orang harus hidup dalam

tanggungjawab kepada Allah (ayat 12). Kita tidak berhak menilai! Jika kita menghakimi, kita mengambil posisi dan hak Allah!

129 Senin, 26 April 2010 Bacaan : Roma 14:13-23

(26-4-2010)

Roma 14:13-23

Jangan menghakimi!

Judul: Jangan menghakimi!

Mana lebih sering kita hasilkan melalui perilaku kita: membangun atau menjatuhkan orang lain? Bagaimana agar pertimbangan dan penilaian kita senantiasa konstruktif?

Kita harus membangun tekad dan kebiasaan untuk tidak menghakimi saudara seiman. Kita harus ingat bahwa hak menghakimi ada pada Tuhan maka menghakimi berarti merampas hak Tuhan. Kita juga perlu sadar bahwa sebagai manusia yang tak sempurna, penghakiman kita pasti menimbulkan dampak tidak membangun pada orang lain! Letak kesalahan dari menghakimi perilaku orang lain ialah menjadikan diri sendiri sebagai ukuran. Kerohanian dan kepentingan diri sendiri menjadi standar untuk orang lain. Pada intinya, sikap demikian tidak serasi dengan kasih Kristus. Juga menggeser hal yang hakiki dalam pertimbangan dan perilaku Kristen, yaitu soal Kerajaan Allah, dengan soal yang tidak hakiki yang dijadikan ajang pertikaian itu!

Maka demi mempraktikkan kasih Kristus dan mewujudnyatakan Kerajaan Allah, perhatian kita harus berubah. Yang penting untuk kita awasi bukanlah perilaku orang lain, bukan juga apakah saya merasa benar atau tidak! Yang kita perlu pupuk ialah memastikan bahwa perbuatan kita dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sesuai prinsip kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Kerajaan Allah, serta berdampak membangun bagi orang lain (ayat 19).

Kerohani-an yang baik selalu terkait dengan keutuhan seluruh Tubuh Kristus dan pewujudan penuh Kerajaan Allah. Kerohanian yang baik menyadari bahwa perbedaan tahap pertumbuhan dapat mempengaruhi penilaian rohani seseorang. Karena itu, tepat merelatifkan penilaian diri sendiri dan memutlakkan kepentingan bersama! Sikap tenggang rasa ini menempatkan diri sendiri sebelum dan di bawah kepentingan orang lain!

Bayangkan apa jadinya bila dalam segala hal setiap orang Kristen dan setiap gereja

mengutamakan kebenaran, kedamaian, dan sukacita Kerajaan Allah dalam Roh Kudus! O ya, jangan hanya bayangkan; praktikkan!

130 Selasa, 27 April 2010

Bacaan : Roma 15:1-13

(27-4-2010)

Roma 15:1-13

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 126-130)

Dokumen terkait