• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: KAJIAN PUSTAKA

B. Peserta Didik dalam Pendidikan Islam

2. Etika Peserta Didik

65

semaksimal mungkin meraih kerelaannya dengan berbagai macam cara yang terpuji.64

2. Etika Peserta Didik

Dalam beberapa literatur yang menuliskan tentang peserta didik, menyatakan etika peserta didik dengan istilah tugas dan kewajiban. Akan tetapi kebanyakan literatur yang peneliti baca, mengistilahkan tugas dan kewajiban peserta didik dengan etika belajar. Salah satu literatur yang menyebutkan etika peserta didik dengan sebutan tugas dan kewajiban adalah seperti yang diungkapkan oleh Asma Hasan Fahmi, yang dikutip oleh Samsul Nizar dalam bukunya filsafat pendidikan Islam pendekatan historis, teoritis dan praktis, mengungkapkan bahwa, di antara tugas dan kewajiban peserta didik yang perlu diperhatikan oleh peserta didik:

a. Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu. Hal ini disebabkan karena belajar adalah ibadah dan tidak sah ibadah kecuali dengan hati yang bersih.

b. Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keutamaan.

c. Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari ilmu diberbagai tempat. d. Menghormati pendidiknya.

e. Belajar secara sungguh-sungguh dan tabah.65

Selanjutnya ditambahkan oleh Al-Abrasyi bahwa di antara tugas dan kewajiban peserta didik adalah:

64

Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam (Yogyakarta: Ar-Ruz, 2006) hlm. 127-128

65

66

a.Sebelum belajar, hendaknya terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk.

b. Niat belajar hendaknya ditujukan untuk mengisi jiwa dengan berbagai

fadhilah.

c.Tidak terlalu sering menukar guru, kecuali dengan pertimbangan yang matang.

d. Tidak melakukan suatu aktivitas dalam belajar kecuali atas petunjuk dan izin pendidik.

e.Memaafkan guru (pendidik) apabila mereka bersalah, terutama dalam menggunakan lidahya.

f.Saling mengasihi dan menyayangi di antara sesamanya, sebagai wujud untuk memperkuat rasa persaudaraan.

g. Bergaul dengan baik terhadap guru-gurunya.

h. Senantiasa mengulang pelajaran dan menyusun jadwal belajar yang baik guna meningkatkan kedisiplinan belajarnya.

i.Menghargai ilmu dan bertekad untuk terus menuntut ilmu sampai akhir hayat.66

Kesemua hal di atas cukup penting untuk disadari oleh setiap peserta didik. Di samping yang telah terpapar diatas, dalam kitab adab

al-‘Alim wa Al-Muta’llim karya KH. Hasyim Asy’ari yang telah diterjemahkan

ke dalam bahasa Indonesia, menambahkan bahwa selain memiliki etika yang

66

67

terpapar oleh tokoh-tokoh sebelumnya, peserta didik setidaknya memiliki beberapa etika berikut:67

a.Sebelum mengawali proses mencari ilmu, seorang peserta didik hendaknya membersihkan hati terlebih dahulu dari berbagai macam kotoran dan penyakit hati, seperti kebohongan, prasangka buruk, hasut (dengki) serta akhlak-akhlak atau akidah yang tidak terpuji. Yang demikian itu sangat dianjurkan demi menyiapkan diri peserta didik yang bersangkutan di dalam menerima, menghafal, serta memahami ilmu pengetahuan secara lebih baik dan mendalam.

b. Membangun niat yang luhur. Yakni, mencari ilmu pengetahuan demi semata-mata mencari ridho Allah swt., serta bertekad mengamalkannya setelah ilmu itu diperoleh, mengembangkan syari’at Islam, mencerahkan mata hati (batin), dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt. Oleh karena itu, dalam upaya mencari ilmu pengetahuan seorang peserta didik tidak sepantasnya menanamkan motivasi demi mencari kesenangan-kesenangan duniawi seperti pangkat atau jabatan, kekayaan, pengaruh, reputasi dan sebagainya.

c.Menyegerakan diri dan tidak menunda-nunda waktu dalam mencari ilmu pengetahuan. Mengingat bahwa waktu (kesempatan) yang telah berlalu mustahil akan terulang kembali. Mengesampingkan segala aktivitas lain yang dapat mengurangi kesempurnaan dan kesungguhannya dalam mempelajari sebuah ilmu pengetahuan.

67

KH. M Hasyim Asy’ari, Etika Pendidikan Islam , terj.,Mohamad Kholil (Yogjakarta: Penebit Titian, 2007), hlm. 21-26

68

d. Rela, sabar, dan menerima keterbatasan (keprihatinan) dalam masa-masa pencarian ilmu, baik yang menyangkut makanan, pakaian, dan sebagainya. Imam Syafi’i mengungkapkan

“Tidaklah beruntung orang yang dalam mencari ilmu pengetahuan selalu mengedepankan kemuliaan dirinya dan hidup dalam keserba mewahan. Akan tetapi, orang yang beruntung dalam mencari ilmu pengetahuan adalah mereka yang senantiasa rela dan sabar dalam menjalankan kehinaan, kesusahan hidup, dan melayani kepada ulama (guru)”

e.Membagi dan memanfaatkan waktu serta tidak menyia-nyiakannya, karena setiap sisa waktu (yang terbuang sia-sia) akan menjadi tidak bernilai lagi. Mengetahui waktu-waktu yang terbaik (tepat) dalam melakukan berbagai aktifitas belajar. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa waktu terbaik untuk menghafal pelajaran adalah saat sahur (menjelang shubuh). Sedangkan waktu terbaik untuk membahas pelajaran adalah pagi hari. Adapun siang hari merupakan saat yang sangat tepat untuk beraktifitas menulis. Kemudian untuk kegiatan muthola’ah (mengkaji pelajaran) dan

muzakarah (berdiskusi) akan sangat efektif jika dilakukan pada malam

hari. Selain soal waktu, peserta didik juga perlu memperhatikan masalah tempat belajar.

f.Tidak berlebihan (terlampau kenyang) dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Karena, mengonsumsi makanan dan minuman terlalu banyak dapat menghalangi seseorang dari melakukan ibadah kepada Allah swt. Suatu syair menyatakan:

69

“Sungguh kebanyakan penyakit yang biasa kita temui disebabkan oleh faktor makanan dan minuman”.

Di sisi lain, sedikit mengonsumsi makanan dan minuman juga dapat menjadikan hati seseorang terbebas dari aneka macam penyakit hati. g. Bersikap wara’ (waspada) dan berhati-hati dalam setiap tindakan.

Seseorang yang sedang mencari ilmu pengetahuan sangat dianjurkan selalu berusaha memperoleh segala sesuatunya dengan cara yang halal, baik menyangkut makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Sungguh, yang demikian itu perlu untuk diperhatikan demi menjaga cahaya hati agar senantiasa cemerlang dalam menerima ilmu pengetahuan dan kemanfaatannya. Di samping itu, seorang peserta didik juga hendaknya mengambil rukhshah (kemudahan-kemudahan hukum yang diberikan Allah swt.,) dalam segala hal yang memang telah diperkenankan oleh Allah swt., melaksanakan rukhshah tersebut. Karena sesungguhnya Allah swt., sangat senang apabila rukhshah-Nya dilaksanakan oleh hamba-Nya sebagaimana ia melaksanakan azimah (perintah-perintah)-Nya.

h. Tidak mengonsumsi jenis-jenis makanan yang dapat menyebabkan akal (kecerdasan) seseorang menjadi tumpul (bodoh) serta melemahkan kekuatan organ-organ tubuh (panca indera). Jenis-jenis makanan tersebut di antaranya adalah: buah apel yang rasanya kecut (asam), aneka kacang-kacangan, air cuka, dan sebagainya.

70

i.Tidak terlalu lama tidur yakni selama itu membawa dampak negatif bagi kesehatan jasmani maupun rohaninya. Idealnya, dalam sehari semalam seorang peserta didik tidur tidak lebih dari 8 jam. Namun demikian, apabila memungkinkan dan kiranya tidak terlalu memberatkan, tidur kurang dari 8 jam dalam sehari semalam itu akan jauh lebih baik baginya.

j.Menjauhkan diri dari pergaulan yang tidak baik. Lebih-lebih dengan lawan jenis. Efek negatif dari pergaulan semacam itu adalah, banyaknya waktu yang terbuang sia-sia serta hilangnya rasa keagamaan seseorang yang diakibatkan seringnya bergaul dengan orang-orang yang bukan ahli agama. Oleh karenanya, apabila seorang peserta didik ingin bergaul (berinteraksi) dengan orang lain, hendaknya ia memilih orang-orang yang shohih, taat agama, bertaqwa kepada Allah swt., wara’, bersih, memiliki banyak kebaikan, mempunyai reputasi (harga diri) yang baik, tidak suka memusuhi orang lain, serta mau menasehati dan menolong orang lain.

Selanjutnya, dalam hubungan dengan akhlak seorang peserta didik khusunya dengan penghormatan terhadap guru, dijelaskan lebih lanjut oleh Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:

Sebagian dari hak guru itu janganlah seorang peserta didik banyak bertanya kepadanya, dan jangan pula memaksanya agar menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya. Selain itu seorang peserta didik jangan pula banyak meminta sesuatu pada saat guru sedang letih, jangan menarik

71

kainnya jika ia sedang bergerak, jangan membuka rahasianya, jangan mencela orang di depannya, jangan membuat ia jatuh atau terhina di depan orang lain, dan kalau guru itu bersalah sebaiknya segera dimaafkan. Seorang peserta didik wajib menghormati atau memuliyakannya, selama guru itu tidak melanggar perintah Allah swt., atau melalaikannya. Selanjutnya seorang peserta didik jangan pula duduk di depan guru, dan jika ia membutuhkan sesuatu maka segeralah berlomba-lomba untuk membantunya. 68

Sejalan dengan itu, al-Abadari, sebagaimana dikutip Asma Hasan Fahmi, mengatakan agar seorang peserta didik tidak mengganggu gurunya dengan cara memperbanyak pertanyaan, terutama pada saat gurunya itu sedang dalam keadaan letih, dan jangan pula berlari-lari di belakang guru yang sedang berjalan.69

Penghormatan peserta didik terhadap guru dijelaskan pula oleh al-Ghazali. Menurutnya seorang peserta didik hendaknya mendahului mengucapkan salam kepada gurunya dan jangan banyak berkata-kata di depanya, dan jangan pula menyampaikan pendapat orang lain di hadapan gurunya, dengan maksud mengadu domba antara gurunya dengan orang lain.

Selanjutnya etika peserta didik itu dijelaskan oleh Thasyi Kubra Zadah, seorang peserta didik tidak boleh menilai rendah sedikitpun terhadap pengetahuan-pengetahuan yang tidak diketahuinya. Sebaliknya, ia harus

68

Abuddin Nata, op. cit, hlm. , Lihat Al-Namiri Al-Qurthubi, Jami’al Bayan al-ilm wa

Fadlihi, Juz I, Hlm. 129

69

Abuddin Nata, loc. Cit, Lihat Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam (terjemahan Ibrahim Husen dari Mabadi’ al-Tarbiyah al-Islamiyah,) Jakarta: Bulan Bintang, 1974, cet ke-1, Hlm. 175.

72

menganggap bahwa ilmu yang tidak dikuasainya itu sama manfaatnya dengan ilmu yang dikuasainya. Lebih lanjut Zadah mengatakan, seharusnya peserta didik tidak mengikuti teman-temannya yang bodoh yang suka ilmu-ilmu yang tidak dikuasainya, seperti filsafat. Selain itu ia harus pula bertekad untuk belajar sampai akhir hayatnya, mau merantau ke negeri-negeri jauh untuk mencari ilmu. Dengan cara demikian, ilmu yang dimilikinya akan berkembang dan ia akan memiliki wawasan yang luas serta tidak berpandangan sempit atau menganggap benar terhadap ilmu yang dimilikinya saja.

Selain itu terdapat pula pendapat Athiyah al-Abrasy yang mengungkapkan beberapa hal penting sebagaimana disebutkan di atas, juga menambahkan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, seorang peserta didik hendaknya tekun belajar bergadang (bangun) di waktu malam. Kedua, ia harus saling menyanyangi dengan sesama temannya, sehingga merupakan satu persaudaraan yang kokoh. Ketiga, seorang peserta didik harus tekun belajar, mengulangi pelajaran di waktu senja dan menjelang subuh. Waktu di antara isya dan sahur adalah waktu yang penuh berkah.70

Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, menambahkan tentang kode etik seorang peserta didik yang beliau sadur dari pendapat al-Ghozali dan dikutip oleh Fathiyah Hasan Sulaiman dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menyebutkan, seorang

70

Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam,(terjemahan Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry dari Al-Tarbiyah al-Islamiyah, 1974), cet ke-2, hlm. 141.

73

peserta didik setidaknya memiliki beberapa kode etik dan sifat-sifat yang baik, di antara kode etik tersebut adalah:

a.Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah swt., sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk menyucikan jiwanya dan akhlak yang rendah dan watak yang tercela (takhalli) dan mengisi dengan akhlak yang terpuji (tahalli) sesuai dengan firman Allah swt., dalam Q.S Al-An’am: 162, dan Al-Dzariyat: 56. b. Mengurangi kecendrungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrowi

(Q.S Adh-Dhuha: 4).

Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).71

Artinya, belajar tak semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, tapi juga belajar ingin berjihad melawan kebodohan demi mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi, baik di hadapan manusia terlebih di hadapan Allah swt.

c.Bersikap Tawadhu (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadinya untuk kepentingan pendidiknya. Sekalipun ia cerdas, tetapi ia bijak dalam menggunakan kecerdasan itu pada pendidiknya, termasuk juga bijak kepada teman-temannya yang IQ-nya lebih rendah dari padanya.

71

74

d. Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran, sehingga ia terfokus dan dapat memperoleh satu kompetensi yang utuh dan mendalam dalam belajar.

e.Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji (mahmudah), baik untuk ukhrowi maupun untuk duniawi, serta meninggalkan ilmu-ilmu yang terscela (madzmumah). Ilmu terpuji dapat mendekatkan diri kepada Allah swt., sementara ilmu tercela akan menjauhkan dirinya dari Allah swt., dan mendatangkan permusuhan antar sesamanya.

f.Belajar dengan bertahap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah (konkret) kepada pelajaran yang sukar (abstrak) atau dari ilmu yang fardlu ‘ain menuju ilmu yang fardlu kifayah (Q.S. al-Insyiqaq: 19).

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).72

g. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga peserta didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam. Dalam konteks ini, spesialisasi jurusan diperlukan agar peserta didik memiliki keahlian dan kompetensi khusus (Q.S. al-Insyirah: 7).

h. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari, sehingga mendatangkan objektivitas dalam memandang suatu masalah. i.Memprioritaskan ilmu diniyah yang terkait dengan kewajiban sebagai

makhluk Allah swt., sebelum memasuki ilmu duniawi

72

75

j.Mengenal nilai-nilai pragmatis sebagai suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang bermanfaat dapat membahagiakan, menyejahterakan, serta memberi keselamatan hidup dunia akhirat

k. Peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokternya, mengikuti segala prosedur dan metode madzab yang dianjurkan oleh pendidik-pendidik pada umumnya (selama tidak bertentangan dengan syari’at yang diperintahkan oleh Allah), serta diperkenankan bagi peserta didik untuk mengikuti kesenian yang baik.73

Lebih lanjut menurut Ibnu Jama’ah yang dikutip oleh Abd al-Amir Syams al-Din, etika peserta didik terbagi atas tiga macam, yaitu: (1) terkait dengan diri sendiri, meliputi membersihkan hati, memperbaiki niat atau motivasi, memiliki cita-cita dan usaha yang kuat untuk sukses, zuhud (tidak materialis), dan penuh kesederhanaan; (2) terkait dengan pendidik, meliputi patuh dan tunduk secara utuh, memuliakan, dan menghormatinya, senantiasa melayani kebutuhan pendidik dan menerima segala hinaan atau hukuman darinya; (3) terkait dengan pelajaran, meliputi berpegang teguh secara utuh pada pendapat pendidik, senantiasa mempelajarinya tanpa henti, mempraktekkan apa yang dipelajari dan bertahap dalam menempuh suatu ilmu.74

73

Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 113-114, lihat fathiyah Hasan Sulaiman, Madzhab Tarbawi ‘inda

al-Ghazali, (Cairo, Maktabah Misriyah, 1964), hlm. 52-58

74

Ibid, hlm. 115, lihat Abd al-Amir Syams al-Din, al-Madzhab al-Tarbawi ‘inda Ibn Jama’ah (Beirut: Dar Iqra’, 1984), hlm. 28-40.

76

Ali bin Abi Thalib memberikan syarat bagi peserta didik dengan enam macam, yang merupakan kompetensi mutlak dan dibutuhkan demi tercapainya tujuan pendidikan. Syarat yang dimaksud sebagaimana dalam syairnya yang dituliskan oleh Syekh al-Islam Burhanuddin Al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’allum, yaitu:

“Ingatlah! Engkau tidak akan bisa memperoleh ilmu kecuali karena enam syarat: aku akan menjelaskan keenam syarat itu padamu, yaitu:kecerdasan, hasrat atau motivasi yang keras, sabar, modal (sarana), petunjuk guru, dan masa yang panjang (kontinu) ”

Dari syair tersebut dapat dipahami bahwa syarat-syarat para pencari ilmu, yang juga merupakan etika peserta didik adalah mencakup enam hal, yaitu: Memiliki kecerdasan (dzaka’), Memiliki Hasrat (hirsh), Bersabar dan Tabah, Mempunyai seperangkat modal dan sarana (bulghah), Petunjuk pendidik (irsyad ustadz) dan masa yang panjang (thuwl al-zaman).

Nadham tersebut juga dituliskan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum oleh Burhanuddin al-Zarnuji.75

Dokumen terkait