1.6 Kerangka Teori
1.6.4 Etnografi Komunikasi sebagai Model Analisis
Pemakaian bahasa dalam komunikasi selain ditentukan oleh faktor-faktor linguistik, juga ditentukan oleh faktor-faktor-faktor-faktor non linguistik atau luar bahasa. Faktor yang demikian itu sering pula dikatakan berkaitan erat dengan faktor sosial. Asumsi tersebut cukup beralasan karena pada dasarnya bahasa merupakan bagian dari suatu sistem sosial, yang juga terkait erat dengan sistem budaya. Sehingga, bahasa juga tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor budaya.
Menurut Hymes, bahasa harus dilihat sebagai masalah yang tidak berdiri sendiri atau terpisah dari sistem sosial dan budaya lain yang hidup dalam sebuah masyarakat. Dalam hal ini, Hymes menerapkan pelbagai disiplin dalam membicarakan, membahas, dan menguraikan bahasa. Dengan menganggap bahasa sebagai bagian yang bersifat integral dari organisasi sosio-budaya serta perlakuan yang umum, Hymes menganjurkan penelitian yang melihat bahasa bukan sebagai sesuatu yang terpisah atau sebagai hubungan erat yang abstrak dari masyarakat yang menuturkannya, melainkan terbentuk dalam keadaan dan pola yang senantiasa berubah-ubah.
Hymes menggunakan pendekatan etnografi pertuturan atau etnografi komunikasi untuk mengungkapkan “teori” sosiolinguistik-nya. Dalam meneliti
bahasa, Hymes menganjurkan bahwa yang harus dijadikan kerangka rujukan untuk peran bahasa dalam masyarakat dan budaya adalah budaya komunikasi dan bukan bahasa, serta etnografi dan bukan linguistik. Kaidah pendekatan Hymes adalah pengamatan partisipatif dan kaidah ini menghasilkan satu kasus konkret untuk setiap pengamatan dan penelitian.
Kajian sosiolinguistik dalam penelitian ini dipusatkan pada model fungsional pemakaian bahasa pada dimensi sosial budaya masyarakat tuturnya. Model yang dimaksud adalah Model Etnografi Komunikasi yang dikembangkan oleh Hymes (1972, 1973, 1980). Istilah etnografi komunikasi (ethnography of communication) merupakan pengembangan dari etnografi berbahasa (ethnography of speaking). Konsep etnografi berbahasa oleh Hymes (1972: 37) dimaksudkan sebagai kajian situasi dan penggunaan tutur serta pola dan fungsi tutur dalam tindak tutur yang rutin dan khusus. Pengembangan istilah tersebut dimaksudkan oleh Hymes (1980: 8) untuk memfokuskan kerangka acuan karena pemerian tempat bahasa di dalam suatu kebudayaan bukan pada bahasa itu sendiri, melainkan pada komunikasinya.
Kerangka etnografis melibatkan beberapa faktor yang terdapat dalam sebuah tuturan. Kerangka yang awalnya disebut dengan etnografi pertuturan itu pada akhirnya berkembang menjadi etnografi komunikasi. Etnografi komunikasi dapat digunakan di dalam penelitian hubungan bahasa dengan manusia (masyarakat). Analisis dengan menggunakan model Etnografi Komunikasi dapat memberikan gambaran etnografis masyarakat bahasa, yang di antaranya mencakup pola komunikasi, fungsi komunikasi, hakikat dan batasan masyarakat
bahasa, alat komunikasi, komponen komunikatif, hubungan bahasa dengan pikiran dan organisasi sosial, serta perilaku bahasa lainnya.
Perilaku bahasa dianggap memiliki pola yang teratur dan mempunyai kendala yang dapat dinyatakan dalam bentuk-bentuk norma bahasa. Etnografi komunikasi terarah pada penyelidikan keteraturan yang terdapat dalam penggunaan bahasa serta bagaimana bagian-bagian komunikasi dibentuk. Selanjutnya, bagaimana bagian-bagian tersebut tersusun di dalam suatu cara bahasa di dalam arti yang sangat luas dan bagaimana pola-pola yang ada berhubungan secara sistematis dengan aspek-aspek kebudayaan lainnya.
Pola bahasa terdapat pada semua tingkat komunikasi seperti masyarakat, kelompok, dan individu. Pada tingkat masyarakat, komunikasi biasanya terbentuk melalui fungsinya, kategori percakapan, dan sikap serta konsepsi tentang bahasa dan manusia. Komunikasi tentunya juga terbentuk menurut peran dan kelompok tertentu di tengah-tengah masyarakat serta menurut jenis kelamin, usia, status sosial, dan jenis pekerjaan. Cara bahasa juga terbentuk menurut tingkat pendidikan, penduduk kota atau desa, daerah geografis, dan ciri-ciri organisasi sosial lainnya.
Hymes (1972a: 59) dalam “Models of the Interaction of Language and Social Life” menunjukkan delapan komponen yang dianggapnya berpengaruh terhadap pemilihan kode dalam bertutur yang disebut Components of Speech, yaitu: 1) tempat tutur, 2) suasana tutur, 3) peserta tutur, 4) tujuan tutur, 5) pokok tuturan, 6) nada tutur, 7) norma tutur, dan 8) jenis tuturan. Komponen-komponen tutur tersebut, sebelumnya meliputi enambelas komponen, yaitu: message form,
message contact, setting, scene, speaker or sender, addressor, hearer or receiver or audience, addressee, purpose – outcomes, purpose – goals, key, channels, forms of speech, norms of interaction, norms of interpretation, dan genres.
As has been shown, the sixteen components can be grouped together under the letters of the code word SPEAKING: setting, participants, ends, act sequences, keys, instrumentalities, norms, genres.
(Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, keenambelas komponen tutur dapat dikelompokkan dalam sebuah akronim SPEAKING: latar, peserta tutur, tujuan tutur, topik/urutan tutur, nada tutur, instrumentalitas, norma tutur, jenis tutur). Tiap-tiap fonem mewakili faktor penentu yang dimaksudkan, yakni: S (setting and scene); P (participants); E (end: purpose and goal); A (act sequences); K (key: tone or spirit of act); I (instrumentalities); N (norms of interaction and interpretation); dan G (genres).
Setting merujuk pada aspek tempat dan waktu (keadaaan fisik)
terjadinya sebuah tuturan, sedangkan scene (suasana tutur) mengacu pada suasana psikologis (baik bersifat resmi maupun tidak resmi) pada saat terjadinya sebuah peristiwa tutur. Participants (peserta tutur) mengacu pada penutur, mitra tutur, dan orang yang dituturkan. Pemilihan bahasa antarpeserta tutur ditentukan oleh perbedaan dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi yang pertama meliputi perbedaan usia, status sosial-ekonomi, dan kedudukan dalam masyarakat. Perbedaan dimensi yang kedua, antara lain meliputi perbedaan tingkat keakraban antara penutur dan mitra tutur.
Ends atau hasil, yaitu hasil atau tanggapan dari suatu pembicaraan yang
memang diharapkan oleh penutur (ends as outcomes) dan tujuan akhir pembicaraan (ends in views goals). Sebuah tuturan mungkin bertujuan menyampaikan buah pikiran, membujuk, dan mengubah perilaku (konatif). Act
sequences (topik tuturan) mengacu pada apa yang dibicarakan atau isi pesan
(message content) dan bentuk pesan/amanat atau cara penyampaiannya (message form). Dalam sebuah peristiwa tutur, beberapa topik tutur dapat muncul secara berurutan. Perubahan topik tutur dalam peristiwa tutur akan berpengaruh terhadap pemilihan bahasa.
Key, meliputi cara, nada, sikap, atau semangat dalam melakukan
percakapan. Nada tutur verbal mengacu pada perubahan bunyi bahasa, yang dapat menunjukkan suasana serius, suasana santai, dan suasana akrab. Nada tutur non verbal dapat berwujud gerak anggota badan, perubahan ekspresi wajah, dan sorot mata. Instrumentalities atau sarana, yaitu sarana percakapan, dengan media apa percakapan tersebut disampaikan, misalnya dengan cara lisan atau tulisan.
Norms atau norma merujuk pada norma atau aturan yang membatasi
percakapan, misalnya apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan serta bagaimana cara membicarakannya (halus, kasar, terbuka, dan sebagainya). Genres, yaitu jenis atau bentuk kebahasaan yang sedang dituturkan. Hal itu langsung merujuk pada jenis wacana yang disampaikan, misalnya percakapan, cerita, dan pidato.
Secara lebih komprehensif, komponen tutur Hymes dikembangkan oleh Poedjosoedarmo (1979), yang disesuaikan dengan kondisi kebahasaan di Indonesia, khususnya masyarakat tutur Jawa. Komponen tutur dalam versi ini
lebih terperinci dan lebih luas, melebihi komponen tutur yang digunakan sebagai dasarnya, dengan menggunakan memoteknik O,O,E MAU BICARA.
O1 (Orang Pertama), yaitu pribadi penutur karena sedikit banyaknya ujaran memang ditentukan oleh pribadi penutur. Seorang penutur yang pemalu akan memiliki kebiasaan kebahasaan yang berbeda dengan seorang pemberani. Latar belakang penutur menyangkut jenis kelamin, asal daerah, asal golongan masyarakat, umur, profesi, kelompok etnis, dan aliran kepercayaannya. O2 (Orang Kedua), yaitu lawan tutur orang pertama atau mitra tutur. Hal yang perlu diperhatikan adalah anggapan O1 tentang seberapa tinggi tingkatan sosial orang kedua (O2) dan seberapa akrab hubungan antara ke dua orang tersebut. Anggapan terhadap keintiman relasi antara O1 pada O2 akan menentukan corak bahasa yang dituturkannya. E (Warna emosi / suasana emosi) O1 pada waktu hendak bertutur. Misalnya, seorang penutur yang gugup akan mengeluarkan tuturan-tuturan yang tidak teratur, kurang jelas, dan kurang beraturan.
Maksud dan tujuan percakapan. Misalnya, orang yang ingin meminjam uang kepada seseorang akan cenderung menggunakan wacana yang strukturnya berbelit-belit. Adanya O3 dan barang-barang lain di sekitar adegan percakapan. Misalnya, karena alasan mengikutsertakan O3 yang berasal dari luar pulau Jawa, O1 dan O2 yang semula menggunakan bahasa Jawa beralih menggunakan bahasa Indonesia. Urutan tutur, yaitu O1 yang memulai suatu percakapan akan lebih bebas menentukan bentuk tuturannya daripada lawan tuturnya dan bagaimana respon dari mitra tutur.
Bab pembicaraan, pokok pembicaraan yang juga mempengaruhi warna suasana bicara. Misalnya, percakapan mengenai kepercayaan, agama, dan topik serius akan dilaksanakan dengan menggunakan bahasa formal. Instrumen atau sarana tutur, seperti telegram dan telepon juga mempengaruhi bentuk ujaran. Biasanya bahasa yang digunakan harus ringkas dan langsung pada pokok permasalahan. Citarasa tutur, yang akan mempengaruhi bentuk ragam tutur (ragam santai, ragam bahasa formal, dan ragam bahasa indah). Adegan tutur, yaitu faktor-faktor yang terkait dengan tempat, waktu, dan peristiwa tutur. Register khusus atau bentuk wacana/genre tutur. Misalnya, pidato akan dilakukan dengan dimulai sapaan, salam, introduksi, isi, lalu penutup. Aturan atau norma kebahasaan lain, berupa norma (kejelasan dalam bicara) dan aturan yang berisi anjuran untuk tidak menanyakan tentang gaji, umur, dan lain-lain yang bersifat pribadi.
Dalam penelitian ini, teori yang digunakan sebagai acuan adalah kedua teori tersebut, yaitu teori Hymes dalam konsep “SPEAKING” sebagai teori dasar dan teori Poedjosoedarmo dalam memoteknik “OOE, MAU BICARA” sebagai teori pendukung. Kedua teori tersebut diterapkan, yang tentunya disesuaikan dengan situasi kebahasaan di wilayah penelitian.