Berikut adalah tabel 4.2 yang menyajikan etogram beberapa hewan sekunder yang teramati selama 2 periode yaitu rentang waktu 08.00-11.00 dan 13.00-14.00.
Tabel 4.2 Etogram hewan sekunder
08.31 Biawak (Varanus salvator)
Lokomosi Pola berjalan bergantian (kaki kanan depan maju bersamaan kiri belakang)
Alarming Menengok secara tiba-tiba lalu terdiam dan lari dengan cepat
08.37 Bajing (Callosciurus notatus)
Climbing Berjalan dipohon kayu secara vertikal menggunakan cakar kecil ditangan dan kakinya.
Foraging Bajing menjilat-jilat batang pohon untuk
mendapatkan getahnya
08.43 Burung merak (Pavo cristatus)
Lokomosi Berjalan dengan dua kaki secara bergantian sambil melihat-lihat keadaan sekitar
Foraging
Mematuk-matukan paruh ke tanah sambil kaki yang mengais
09.00 Burung gereja (Passer montanus)
Lokomosi Berpindah dengan cara melompat-lompat dengan kedua kakinya Flying Melayang di udara sambil mengepakkan kedua sayap Foraging Mematuk-matukan paruh ke tanah sambil kaki yang mengais
15.11 Sunda Flying Lemur (Galeopterus variegatus)
Resting Berdiam di batang utama pohon secara vertikal dengan cara mencengkram batang pohon dengan kuku
Foraging Anak lemur meunculkan kepala dari pelukan induk agar dapat mencapai daun muda disekitarnya. 12.30 Ikan glodok (Gobbidae)
Freezing Ikan glodok berdiam pada batu karang tanpa melakukan gerakan apapun kecuali
pergerakan insang
Lokomosi Ikan glodok berpindah sangat cepat
menggunakan kibasan ekornya
Biawak termasuk hewan diurnal yaitu hewan yang beraktivitas di siang hari. Aktivitas dimulai pagi hari sekitar 06.05 dengan mencari makan lalu berjemur pada siang hari setelah itu kembali mencari makan dan istirahat di liangnya pada malam hari sekitar 17.15. Biawak lebih senang menghabiskan
aktivitas di daerah terbuka dibanding di dalam hutan. Namun untuk biawak muda biasanya lebih suka menghabiskan waktu diatas pohon karena merasa lebih aman dari predator (Bennet, 1995).
Perilaku lokomosi biawak terbilang tidak terlalu cepat dalam keadaan normal. Namun biawak yang merasa terancam dan agresif dapat bergerak sangat cepat dan gesit. Pola lokomosi biawak hampir sama dengan hewan quadripedal lainnya yaitu bergantian. Biawak bergerak dengan melangkahkan kaki kanan depan bersamaan kaki kiri belakang dan sebaliknya. Biawak dapat berlari lebih cepat dari manusia karena memiliki struktur tubuh yang ramping dan otot kaki yang kuat. Dalam kondisi apapun biawak mempunyai perilaku unik yaitu menjulu-julurkan lidahnya baik saat diam maupun bergerak. Perilaku menjulurkan lidah ini merupakan bentuk pengindraan lingkukngan sekitar. Pada lidah biawak banyak terdapat kemoreseptor yang berfungsi mendeteksi mangsa atau keberadaan pemangsa (De Lisle, 2007).
Bajing merupakan mamalia pengerat famili sciuridae. Walaupun terlihat serupa, bajing dan tupai merupakan hewan yang berbeda. secara anatomi tupai memiliki moncong yang lebih panjang dari bajing. Selain itu makanan bajing merupakan buah dan biji-bijian sedangkan tupai termasuk pemakan serangga. bajing termasuk hewan diurnal yang beraktivitas di siang hari. Bajing biasa mulai beraktivitas dari pukul 08.00 hingga 17.00 untuk beristirahat dalam liang pohonnya. Aktivitas bajing sebagian besar dilakukan diatas pohon maka dari itu lokomosi bajing kebanyakan adalah climbing, running, dan jumping antar dahan pohon. Perilaku climbing, running, maupun jumping dilakukan hampir dengan cara yang sama. Bajing bergerak dengan menggerakkan anggota gerak depan secara bersamaan lalu diikuti anggota gerak belakang. Gerakan terlihat seperti lompatan kecil ketika dilakuakn berulang. Namun jika dalam kondisi perlahan bajing juga dapat menggerakkan anggota geraknya seperti hewan quadripedal lainnya (Morgart, 1985).
Bajing menunjukkan perilaku foraging ketika pagi, siang, dan sore hari. Makanan bajing biasanya berupa buah-buahan dan kacang-kacangan. Bajing sangat suka dengan makanan manis yang mengandung banyak air. Maka tidak
jarang bajing juga suka mencari madu atau getah pohon yang dapat dikonsumsi dengan menjilatnya (Bradley, 1968).
Perilaku lokomosi burung merak terdiri dari walking dan flying. Perilaku berjalan burung merak yaitu berjalan secara bergantian antar kaki kanan dengan kaki kiri mirip seperti ayam. Sedangkan perilaku terbang burung merak cukup unik karena burung merak tidak dapat terbang sangat tinggi dalam waktu yang lama. Burung merak terbang menggunakan kedua sayapnya namun harus dengan bantuan dorongan kedua kaki atau dahan-dahn pohon sekitar untuk mencapai tempat yang lebih tinggi (Bundle, 2003). Perilaku mencari makan burung ada berbagai jenis strategi yang dilakukan sesuai dengan morfologi, habitat, dan jenis makanannya. Perilaku mencari makan berdasarkan jenis makanan yaitu pemungut (glean) untuk burung pemakan biji, buah, dan benih; penyambar (attack) untuk burung pemakan serangga dan daging, penyelam (dive) untuk burung yang makanan utamanya hidup perairan dalam; penyaring (filter) untuk burung pemakan invertebrata kecil seperti cacing; dan penghisap (suck) untuk burung pemakan nektar. Perilaku mencari makan burung merak termasuk pemungut (glean) karena burung merak merupakan pemakan general dari biji, buah, serangga kecil. Burug merak mencari makan dengan cara mematu-matuk area di sekitarnya dan terkadang melukan perilaku mengais tanah untuk menemukan makanannya. Burung merak termasuk hewan diurnal sehingga dapat perilaku mencari makanan ini dapat ditemukan mulai dari pukul 05.30 hingga 17.30 (Thankappan, 1974).
Perilaku terbang pada burung gereja digunakan sebagai lokomosi untuk mencari makan, breeding, mating, dan menghindari pemangsa. Perilaku terbang burung merupakan straight pattren karena burung gereja mempunyai jenis sayap elliptical wings. Karakteristik elliptical wings yaitu berbentuk pendek bulat, mempunyai aspek rasio yang rendah, mempunyai manuver tinggi untuk terbang diantara dahan. Jenis sayap ini biasanya biasanya dimiliki burung non-migrasi seperti forest raptor dan Passerines (Bundle, 2003).
Perilaku foraging burung gereja dipengaruhi oleh morfologi paruh dan jenis makanannya. Burung gereja secara umum merupakan pemakan benih (grain eating) sehingga memiliki bentuk paruh yang kecil dan tidak terlalu lancip. Hal
tersebut menjadikan perilaku mencari makan burung gereja adalah pemungut (glean). Burung ini termasuk hewan yang hidup secara berkelompok sehingga dapat ditemukan burung gereja dalam jumlah tertentu saat beraktivitas terutama mancari makanan (Moller, 1988).
Sunda flying lemur merupakan hewan nokturnal yang menghabiskan waktunya beristirahat sepanjang siang hari diatas pohon. Sekitar pukul 18.00 biasanya lemur ini mulai beraktivitas dan banyak melakukan gliding diantara pepohonan. Mereka biasanya lebih suka dengan pohon dengan kanopi yang rimbun dan menancapakan kuku-kuku mereka pada batang pohon agar tidak jatuh. Lokomosi lemur ini terdiri dari climbing dan gliding (Agoramoothy, 2006).
Sunda flying lemur memanjat dengan cara meregangkan badan dan menancapkan aggota gerak depan lebih tinggi lalu diikuti dengan lompatan dari kaki belakang. Sedangkan perilaku terbang dilkukan dengan cara merentang gliding membran (sejenis kulit) yang terhubung dari leher, sepanjang keempat kaki hingga jari-jari. Dengan bantuan dorongan kaki belakang dan ketinggian tertentu maka lemur ini dapat melayang dengan jarak lebih dari 100m dengan ketinggian 10 m. Hewan ini termasuk arboreal dan sangat lemah jika hidup di permukaan tanah (Beatson, 2014). Sunda flying lemur merupakan hewan omnivora namun lebih suka memakan bagian tanaman yang lunak seperti daun, bunga, buah, nektar, dan getah. Lemur ini biasanya memilih daun muda yang mengandung sedikit kalium dan nitrogen namun banyak mengandung tanin.
Ikan gelodok atau yang biasa disebut ikan tembakul ini adalah anggota famili gobidae dan genus periopthalmus. Ikan gelodok termasuk ikan amphibi yang dapat berjalan menggunakan sirp bagian dada. Ikan ini memiliki daya adaptasi tinggi di habitat intertidal dan dapat menyembunyikan dirinya dari gangguan pasang surut air laut. Ketika dalam air, ikan glodok cenderung berdiam di dasar pantai atau diatas batu tanpa melakukan gerakan tertentu kecuali gerakan insang. Namun ikan ini menjadi sangat cepat dan tidak terlihat saat melakukan perpindahan terutama saat merasa dirinya terancam (Siregar, 2014).
Lokomosi ikan glodok yaitu berupa berenang saat diair dan melompat saat didarat. Saat berenang ikan glodok cenderung menggunakan kekuatan kibasan ekor dan sedikit bantuan sirip bagian dada. Sedangkan saat melompat di darat ikan
glodok cenderung hanya mengandalkan otot-otot dan sirip di bagian dada. Ikan glodok termasuk hewan diurnal yang beraktivitas di siang hari dan beristirahat di liang pasir atau lumpur saat malam hari (Suke, 2014).
BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan terhadap pengamatan perilaku aktivitas harian monyet ekor panjang, maka kesimpulannya adalah: 1. Pola perilaku monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) selama 8 jam melalui metode adlibitum adalah agonistik, interaksi, foraging, resting, display, lokomosi, grooming, dan mating.
2. Proporsi individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terhadap beberapa perilaku dalam aktivitas hariannya selama 8 jam melalui metode scan sampling adalah yang tertinggi 0,52 untuk proporsi individu yang melakukan perilaku moving pada periode 1, dan proporsi individu sebesar 1 yang melakukan perilaku resting pada periode 4.
3. Durasi aktivitas harian monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) selama 8 jam melalui metode focal sampling adalah yang tertinggi yaitu perilaku lokomosi dan resting dengan durasi masing-masing 7000 dan 6000 detik, diikuti oleh perilaku foraging 3000 detik, dan perilaku agonistik, interaksi, mating, dan grooming yang kurang dari 2000 detik. 4. Pola perilaku monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) selama 8 jam
menggunakan diagram kinematik adalah perilaku lokomosi, diikuti perilaku istirahat, mencari makan, diikuti istirahat, kemudian perilaku membersihkan diri.