• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi dengan Metode OSCA a.Tes atau Uji Kompetensi a.Tes atau Uji Kompetensi

Dalam dokumen TESIS S540907019 SARWOKO (Halaman 46-54)

TINJAUAN PUSTAKA KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka 1. Role Play

5. Evaluasi dengan Metode OSCA a.Tes atau Uji Kompetensi a.Tes atau Uji Kompetensi

Kompetensi adalah kewenangan dan hak yang bertanggungjawab atas dasar kemampuan yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap dan tingkah laku (Riwanto, 2005:11). Pengertian yang sama juga dikemukakan oleh Sotedjo (Soetedjo, 2006:11).

Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu (Atanasia, 2007:1).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka pengertian tes / uji kompetensi adalah suatu pertanyaan atau tugas yang terencana untuk memperoleh informasi tentang kemampuan ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap dan tingkah laku peserta didik yang dipergunakan sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.

Jenis tes/ uji kompetensi yang sering digunakan terdiri dari objective

structured clinical assessment (OSCA), merupakan uji kompetensi yang

xlvii

perilaku peserta ujian. Computer base case simulation, merupakan uji kompetensi untuk menilai manajemen yang mencakup permasalahan dan pemecahannya. Clinical skill assessment, merupakan pengembangan lebih lanjut dari ujian model OSCA yang menilai kompetensi profesional komprehensif (pengetahuan, ketrampilan dan perilaku) yang dilakukan serentak lewat keadaan yang telah dikondisikan. Medical problem solving, uji kompetensi dalam bidang medik dengan bentuk simulasi tertulis yang tujuannya memecahkan masalah pasien yang dimulai dari menegakkan diagnosa, memilih strategi dalam pengelolaan dan memodifikasi tindakan.

Patient management problems, uji kompetensi yang berupa simulasi situasi

klinis tertulis atau kompeten yang merupakan analisis dan keputusan proses ujinya melalui identifikasi problem, pengumpulan data, interpretasi data dan manajemen pasien yang dinilai tidak hanya pengetahuan tetapi juga kemampuan dalam memecahkan masalah (Riwanto, 2005:4).

b. Tes atau Uji Kompetensi Model OSCA

Tes/ uji kompetensi model OSCA di institusi pendidikan tenaga kesehatan dilaksanakan berdasarkan surat edaran Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah nomor 089/15783/2 tanggal 19 Oktober 2004 tentang himbauan uji kompetensi model OSCA pada ujian akhir program.

Pengertian tes/ uji kompetensi model OSCA adalah salah satu model uji kompetensi yang dilakukan untuk mengukur kompetensi peserta uji. Dilakukan uji pengamatan dan penilaian dalam rangkaian stasi dengan

metode : wawancara, pemeriksaan, dan perawatan pada pasien yang mencerminkan beberapa kondisi gangguan kesehatan (Riwanto, 2005:16).

Objective structured clinical assessment dapat diberikan pengertian:

objective, jawaban sudah tersedia baku dalam bentuk check list, MCQ, B/S,

butir-butir soal singkat dalam jumlah tertentu dan soal sesuai dengan kondisi nyata dalam praktik. Structured, terdapat struktur tertentu yang secara konsisten harus diikuti dalam menyusun soal OSCA. Clinical

assessment, tes yang dilakukan adalah ketrampilan yang terkait dengan

pasien.

Kelebihan uji/ tes model OSCA adalah model ujian OSCA lebih mencerminkan/ mengukur kompetensi, memiliki dan memenuhi persyaratan tes profesional yang baik meliputi valid, reliabel, objectif, relevan, fokus, mendorong proses belajar, mampu membedakan mahasiswa pintar dan bodoh menekankan umpan balik dan diselenggarakan dalam atmosfir rileks (Riwanto, 2005:3), lebih valid, yaitu mampu mengevaluasi kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor, secara serentak reliabel dan objektif, dapat mengevaluasi banyak serentak dengan bahan uji lisan kasus dan dapat digunakan untuk menilai semua kompetensi klinik, penilaian sumatif, formatif, uji seleksi dan pelengkap metode lain (Riwanto, 2005:12).

Namun model ujian OSCA memiliki beberapa kekurangan diantaranya bersifat kompartemental (mengulang bagian yang tidak perlu) dan membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk persiapan.

xlix

Tahap-tahap uji kompetensi model OSCA terdiri dari : tahap persiapan, pelaksanaan dan penilaian. Tahap persiapan menururt Titin (2007:5) meliputi persiapan tempat, ruangan dan peralatan.

Persiapan tempat ujian harus memenuhi syarat kompetensi dan diatur jarak antar stasi agar mudah dicapai oleh peserta ujian dan tidak saling komunikasi.

Persiapan ruangan yang akan dipergunakan untuk uji OSCA diatur dengan tujuan agar peserta ujian tidak saling mempengaruhi dan memudahkan dalam perpindahan antar stasi. Ruangan dapat berbentuk kamar atau bilik yang diberi sekat sketsel sejumlah 19 stasi dengan jarak antar stasi kurang lebih 2 meter (Dinkesprop Jateng, 2008:11).

Persiapan alat meliputi (a) menyiapkan pasien, pasien simulasi, phantom, data hasil wawancara, data pemeriksaan fisik. (b) menyiapkan nomor stasi dan nomor dada/punggung. (c) Menyiapkan alat-alat yang digunakan baik logam maupun habis pakai yang dilakukan untuk melakukan tindakan. (d) Menyiapkan cairan-cairan yang digunakan untuk tindakan sesuai perintah soal. (e) Menyiapkan dokumen-dokumen meliputi : instruksi untuk peserta ujian, instruksi untuk penguji/ observer/ dosen, instruksi untuk pasien simulasi, pertanyaan/ soal yang akan diberikan, lembar jawab soal kognitif, check list (tool) untuk penguji.

Persiapan alat bantu uji lainnya yaitu timer atau pemberi tanda waktu ujian dimulai maupun diakhiri dengan bel dan satu orang pembantu umum yang bertugas untuk menyetting temapt dan tanda-tanda ujian,

membuat nomor ujian, melakukan kontrol terhadap bahan-bahan ujian sekaligus membantu pengelolaan hasil ujian yang berupa kertas jawaban dan koordinasi dalam penilaian.

Tata ruang dalam uji model OSCA (Dinkesprop Jateng, 2008:11) Diploma III Kebidanan Jawa Tengah adalah:

Gambar 2.1 Tata ruang ujian model OSCA

Pembagian stasi pada tempat ujian. Jumlah stasi pada uji kompetensi model OSCA terdiri atas / bagian meliputi : 11 (sebelas) stasi untuk uji tulis, 4 (empat) stasi untuk uji ketrampilan (skill) dan 4 (empat) stasi untuk istirahat. Setiap perpindahan stasi diberikan waktu selama 10 (sepuluh) menit tiap stasinya (Dinkesprop Jateng, 2008:11).

Pada stasi kognitif akan dituliskan sebuah kasus klinik kemudian terdapat 10 butir soal, tiap butir soal terdapat 4 pilihan jawaban (A, B, C,

Stasi 1 Kognitif Stasi 2 Kognitif Stasi 3 Tindakan

Stasi Istirahat Stasi 4 Kognitif Stasi 12 Kognitif Stasi 11 Kognitif Stasi 10 Kognitif

Stasi Istirahat Stasi 9 Tindakan Stasi 8 Kognitif Stasi 7 Kognitif Stasi Istirahat Stasi 6 Tindakan Stasi 5 Kognitif Stasi 13 Kognitif Stasi 14 Tindakan Stasi Istirahat Stasi 15 Kognitif Meja + Kursi Koordinator

li

dan D). Peserta ujian harus menjawab kesepuluh butir soal pada lembar jawaban yang telah disediakan.

Pada stasi tindakan akan dituliskan soal dengan kasus kemudian peserta ujian bertugas melakukan tindakan sesuai dengan permintaan soal. Stasi tindakan disediakan lembar penilaian (tool), panduan untuk pasien simulasi, panduan untuk penguji/ observer dan alat-alat yang akan digunakan untuk tindakan. Pada stasi tindakan penguji hanya menilai apa yang dikerjakan oleh peserta ujian dengan menggunakan lembar penilaian yang telah disediakan. Diharapkan penguji diam tidak berkomunikasi dengan teruji. Posisi jangan terlalu dekat dengan teruji, setiap peserta ujian diamati oleh penguji yang sama sehingga terstandar.

Materi ujian kompetensi dengan model OSCA pada mata kuliah asuhan kebidanan I di Akademi Kebidanan Estu Utomo Boyolali sebagaimana tabel berikut:

Tabel 2.1 Materi uji kompetensi model OSCA mata kuliah Asuhan Kebidanan I (Akbid EUB, 2008).

Stasi Sub Pokok Bahasan

Prose dur Tindak an Penkes / Anam nesa Soal Tulis / Know ledge

I Proses kehamilan dan faktor – faktor yang

mempengaruhinya

II Perubahan fisiologis ibu hamil

III Perubahan fisiologis ibu hamil

IV Perubahan psikologi

V Anamnesa

VI Anamnesa

VII Pemeriksaan fisik (obstetrik)

VIII Pemeriksaan fisik (obstetrik)

IX Pemeriksaan fisik (obstetrik)

XII Diagnosa kehamilan

XIII Pemeriksaan penunjang

XI Pemeriksaan penunjang

XII Perencanaan dan Implementasi

XIII Perencanaan dan Implementasi

XIV Perencanaan dan Implementasi

XV Perencanaan dan Implementasi

Kisi-kisi soal uji kompetensi model OSCA dibuat sebelum membuat soal terutama pada soal kognitif. Bentuk soal uji kompetensi model OSCA. Bentuk soal ujian kompetensi dengan model OSCA terdiri dari 2 (dua) macam, yaitu kognitif/knowledge dan skill/tindakan. Bentuk soal kognitif/ knowledge berisi tentang kasus-kasus di klinik/rumah sakit/ puskesmas/lahan praktik lainnya, peserta ujian harus memilih dari pilihan jawaban yang telah disediakan baik MCQ.

Pelaksanaan ujian model OSCA mengacu pada petunjuk pelaksanaan uji OSCA dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah tahun 2008 yang disesuaikan dengan petunjuk teknis pelaksanaan uji OSCA semester Akademi Kebidanan Estu Utomo Boyolali. Adapun pelaksanaan ujian meliputi menyediakan tempat ujian yang berkapasitas 15 stasi, menyediakan peralatan yang digunakan untuk tindakan medis, bahan habis pakai, kursi-meja, bel, nomor stasi, daftar hadir, berita acara, komputer dan printer, alat tulis kantor dan berkas-berkas lain yang terkait, pasien simulasi

liii

Pembagian tugas dan tanggungjawab pelaksanaan uji kompetensi ini adalah : koordinator ujian, yaitu (a) membawa soal ujian baik soal tulis maupun soal ketrampilan. (b) mengatur tempat dan peralatan sesuai dengan materi ujian sehari sebelum pelaksanaan ujian. (c) melakukan koreksi uji tulis dan menjumlahkan seluruh nilai. (d) mengendalikan pelaksanaan ujian. (e) memberikan arahan kepada pasien simulasi, peserta ujian, observer dan fasilitator.

Penguji atau observer bertugas: (a) menilai sesuai format (tool) yang disediakan tanpa memberi komentar (observer hanya diam). (b) menyerahkan hasil penilaian kepada koordinator ujian.

Penilain hasil ujian terdapat dua pendekatan yaitu penilaian acuan norma (PAN) merupakan penentuan nilai mahasiswa dalam suatu proses pembelajaran yang didasarkan pada tingkat penguasaan kelompok tersebut. Pendekatan yang kedua adalah penilaian acuan patokan (PAP) merupakan suatu cara menentukan nilai seseorang didasarkan pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian hasil ujian tidak dapat secara murni menggunakan salah satu pendekatan, perlu adanya penyesuaian yang kadang-kadang merupakan kombinasi dari kedua pendekatan tersebut (Asmawi, 2001:154).

Penilaian pada ujian model OSCA menggunakan pendekatan penilaian acuan patokan (PAP). Ruang lingkup penilaian meliputi unsur pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

Kelulusan ujian kompetensi model OSCA berdasarkan ketentuan : setiap stasi harus lulus, nilai batas lulus (NBL) uji tulis atau kognitif 60

36 37

(enam puluh), nilai batas lulus (NBL) uji tindakan atau ketrampilan 70 (tujuh puluh). Nilai diperoleh dengan nilai uji tulis (UT) seluruh stasi (11 stasi), nilai uji tindakan atau ketrampilan (UK) seluruh stasi (4 stasi), bobot seluruh stasi (15 stasi) (Dinkes Prop Jateng, 2008:11).

Nilai UT + Nilai UK Rumus Nilai Akhir (NA) =

15

Uji ulang dilakukan bagi peserta yang nilai tiap stasinya tidak mencapai nilai batas lulus (NBL). Uji ulang hanya dilakukan pada stasi yang tidak lulus, tidak seluruh stasi dalam ujian model OSCA (Dinkes Prop Jateng, 2008:11).

Dalam dokumen TESIS S540907019 SARWOKO (Halaman 46-54)