• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN .1 Hasil Penelitian .1 Hasil Penelitian

4.2.2 Evaluasi nilai densitas polyurethane

Pada saat ikan ditangkap dan dimasukan ke dalam palka hingga ikan sampai pada konsumen, maka ikan diusahakan tetap diselimuti oleh es. Sistem penjagaan mutu ikan dengan cara seperti ini dikenal sebagai sistem rantai dingin. Pada sistem rantai dingin ini palka kapal ikan memiliki peran sangat penting, yaitu selain sebagai tempat penyimpanan juga berfungsi sebagai alat transportasi karena keberadaan palka tersebut di kapal. Bentuk konstruksi palka dan struktur dindingnya dapat disampaikan pada Gambar 12. Konstruksi palka pada gambar x adalah konstruksi palka untuk sistem pemuatan ikan secara curah, di mana sistem ini banyak digunakan oleh nelayan pesisir utara Jawa Tengah.

abc abcde abcf

Keterangan :

1. Sekat antar palka/ kamar mesin 2. Penampang sisi kulit kapal 3. Penampang loteng palka /geladak

a. Lapisan penutup palka

b. Rongga, sekat penyokong dan insulasi c. Pelat baja dalam/papan dalam

d. Rongga disebelah kulit kapal e. Kulit kapal

f. Lantai papan dek

Gambar 12 Palka ikan berinsulasi (sumber : Ilyas (1988) )

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas insulasi polyurethane adalah densitas material polyurethane yang dituang dalam kompartemen. Hasil perhitungan dari proses fabrikasi insulasi di lapangan menunjukkan nilai densitas berkisar antara 28 - 35 kg/m3. Nilai densitas insulasi ini sebagian telah memenuhi syarat yang ditetapkan untuk standar insulasi yang baik, yaitu ρ ≥ 30 kg/m 3

(Dellino 1997). Fakta di lapangan juga menunjukkan, ketika nilai densitas

polyurethane dinaikkan mendekati nilai ρ = 34 kg/m3

, maka tekanan busa polyuretahne saat terjadi pengembangan menyebabkan suara gemertak pada dinding papan palka. Hal ini menunjukkan bahwa pada nilai densitas tersebut tekanan yang ditimbulkan oleh busa saat terjadi proses pengembangan dapat menimbulkan kerusakan pada konstruksi. Jika dikehendaki untuk menaikan densitas insulasi lebih tinggi dari nilai di atas, harus dipertimbangkan untuk menggunakan sistem hubungan konstruksi kapal yang lebih baik, sehingga mampu menahan gaya deformasi saat terjadi proses pengembangan material larutan polyurethane.

Daya simpan dari palka ikan dapat dihitung berdasarkan luasan permukaan palka, kualitas insulasi, dan perbandingan jumlah ikan dengan es yang ada dalam

palka. Jika ikan disusun dalam palka sesuai dengan ketentuan cara pemuatan yang baik, maka tinggi tumpukan tidak lebih dari 0,5 m. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerusakan fisik ikan karena tekanan berat dari lapisan muatan di atasnya. Kerusakan fisik ikan akan menjadi media bagi berkembang biaknya bakteri pembusukan. Dengan demikian proses pembusukan pada ikan yang disimpan dalam palka menjadi lebih cepat.

Berdasarkan prinsip di atas, contoh perhitungan tentang daya simpan palka dapat ditunjukkan dengan menggunakan salah satu palka hasil survey, sebagai mana dapat dilihat pada Tabel 13. Dimensi palka tersebut dilengkapi dengan asumsi bahwa kedua palka memiliki kualitas insulasi dan perbedaan suhu luar-dalam yang sama, yaitu nilai konduktivitas termal k = 0,023, tebal dinding insulasi x = 0,15 m dan perbedaan suhu luar-dalam T = 28oC.

Tabel 13 Contoh perhitungan tentang daya simpan palka terkait dengan volume/luas permukaan ruang palka.

Palka Kapal 1 (contoh 1 hold) Palka Kapal 2 (contoh 1 hold) Volume (2,15 x 2,4 x 0,5) m3 (1,6 x 2,1 x 0,5) m3 Perbandingan ikan : es 2 : 1 2 : 1

Jumlah ikan yang disimpan 1,09 Ton 0,47 Ton

Jumlah es pendingin 0,78 0,33

Daya simpan 29 hari 18 hari

Pada praktek di lapangan oleh nelayan, perbandingan jumlah es- ikan dapat berkisar 1 : 3, dan tinggi tumpukan bisa melebihi 0,5 m.

Dalam praktek di lapangan tentang pemuatan ikan hasil tangkapan, aturan di atas diabaikan oleh nelayan. Tinggi tumpukan ikan bisa lebih dari 0,5 m dan jumlah perbandingan es : ikan berkisar 1 : 3 atau kurang dari jumlah tersebut. Keadaan tersebut dapat berakibat pada penurunan mutu ikan hasil tangkapan. 4.2.3 Hambatan dalam aplikasi teknologi di lapangan

Hasil survei juga menunjukkan bahwa penentuan jumlah larutan yang akan dituang ke dalam kompartemen dinding palka, dilakukan melalui uji coba (trial

and error) hingga mendapatkan suatu nilai densitas material insulasi yang

dianggap ideal. Langkah tersebut ditempuh karena beberapa sebab, antara lain prilaku atau sikap para nelayan tradisional, penggunaan material polyurethane

yang belum begitu populer, dan minimnya informasi teknis tentang penggunaan material tersebut untuk keperluan insulasi dinding palka.

Beberapa perilaku yang terkait dengan persoalan sosial ekonomi dan budaya masyarakat tradisional berpotensi menghalangi masuknya informasi perkembangan Iptek kepada masyarakat. Faktor pendidikan yang rendah, kebiasaan dan adat istiadat, mengakibatkan penyerapan teknologi di bidang tertentu menjadi lamban atau kurang sesuai dengan spesifikasinya. Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh aspek-aspek sosial budaya masyarakat nelayan terhadap upaya pemberdayaan masyarakat nelayan (Tjahjo & Nasution 2005), menempatkan dimensi tingkah laku pada urutan skor tertinggi yaitu 75,98, dibandingkan dimensi lain seperti kesehatan masyarakat 52,82, ekonomi 44,63, hukum adat 31,87, dan 69,05 politik.

Beberapa langkah dapat ditempuh agar masyarakat nelayan siap untuk menerima transformasi teknologi, di antaranya adalah perbaikan sistem kelembagaan masyarakat nelayan. Menurut Tri Hartono dan Nasution (2005), program pendukung penguatan kelembagaan masyarakat nelayan mencakup : (a) Program penambahan atau perbaikan infrastruktur sosial di bidang kesehatan; (b) Program sosialisasi dan penyuluhan di bidang sanitasi lingkungan; dan (c) Program penyuluhan dan penerapan teknologi tepat guna. Dominasi program penyuluhan sebagai program pendukung dikarenakan menonjolnya pengaruh faktor-faktor dan besarnya peranan dimensi tingkah laku dalam masyarakat. Hal ini tampak dari kendala-kendala upaya pemberdayaan masyarakat nelayan selama ini bersumber dari aspek sosial budaya dalam masyarakat.

Peran kelembagaan nelayan ini akan memberikan konstribusi pada perubahan atribut nelayan tradisional menjadi atribut nelayan industri. Hal ini sebagaimana dijelaskan tentang salah satu usaha pendekatan pengentasan kemiskinan melalui pendekatan affirmative action, DKP (2000), bahwa

affirmative action yang dilakukan adalah merubah atribut nelayan artisanal dan

tradisional menjadi atribut yang dimiliki oleh nelayan industri. Perubahan yang dimaksud tidak hanya menyangkut aspek teknologi, tetapi juga aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan.

Dokumen terkait