• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Evaluasi Drug Therapy Problems (DTP)

gastrointestinal. Kejadian ME kontraindikasi pada kasus-kasus ini bersifat aktual, karena kejadian ME instruksi verbal dijalankan keliru ini sudah benar-benar terjadi.Pada penelitian ini terdapat 21,7% kasus yang secara aktual mengalami ME kontraindikasi dengan kategori D.

Tabel XXIX. Kelompok Kasus ME Kontraindikasi pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008 Kasus Kejadian ME Sifat ME Kategori

ME

7

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

8

metoclopramid kontraindikasi pada pasien yang 3-4 hari post-operasi gastrointestinal. Pada kasus ini metoclopramid diberikan 2 hari post-appendectomy.

Aktual D

14

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

20

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

21

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

D. Evaluasi Drug Therapy Problems (DTP)

Proses evaluasi DTP pada kasus yang menerima obat golongan antiemetik di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta periode Agustus 2008 dilakukan dengan penelusuran pustaka. Evaluasi DTP hanya dilakukan pada obat-obat golongan antiemetik saja. Jenis DTP yang ditemukan pada penelitian ini adalah perlu obat tambahan, dosis terlalu rendah, efek samping obat (ADR) dan interaksi obat, dosis terlalu tinggi dan kepatuhan pasien (compliance).

Berdasarkan hasil evaluasi terjadinya DTP, dari 23 kasus yang dianalisis terdapat 9 kasus atau 39,1% yang tidak terjadi DTP dan 14 kasus atau 60,9%

yang terjadi DTP. Jumlah DTP yang terjadi pada setiap kasus juga berbeda-beda, ada yang satu jenis DTP, dua jenis DTP, tiga jenis DTP, dan lima jenis DTP per kasus. Hasil evaluasi DTP yang terjadi meliputi perlu obat tambahan sebanyak 1 kasus atau 4,3%, dosis terlalu rendah sebanyak 8 kasus atau 34,8%, interaksi obat sebanyak 12 kasus atau 52,2% dan compliance sebanyak 2 kasus atau 8,7%. Kejadian DTP yang ditemukan, semuanya terjadi saat pasien masih dirawat di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta, kecuali kejadian DTP compliance pada kasus 13 terjadi saat pasien sudah berada di rumah.

Gambar 12. Persentase Kejadian DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Tabel XXX. Pengelompokkan Kejadian DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Jenis DTP Jumlah Kasus Persentase (%)

Perlu obat tambahan 1 4,3

Dosis terlalu rendah 8 34,8

Interaksi obat 12 52,2

Compliance 2 8,7

50   

1. DTP perlu obat tambahan

Terjadinya DTP perlu obat tambahan dapat merugikan kasus. Hal ini dikarenakan kasus dapat saja mengalami dehidrasi apabila kejadian mual dan muntah ini terus berlangsung tanpa pemberian obat golongan antiemetik.

Tabel XXXI. Kelompok Kasus DTP Perlu Obat Tambahan pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008 Kasus Penilaian Rekomendasi

7 Pasca operasi (cholesistoctomy) tanggal 2 September 2008 kasus mengalami mual dan muntah, namun kasus tidak diberi obat golongan antiemetik.

Pemberian obat golongan antiemetik, misalnya metoclopramid injeksi 1-2 ampul (10mg/2ml) mendekati operasi berakhir.

2. DTP dosis terlalu rendah

Tabel XXXII. Kelompok Kasus DTP Dosis Terlalu Rendah pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus Obat Penilaian Rekomendasi 4, 5, 8, 10,

11, 12, 16, 19

metoclopramid Pemberian metoclopramid injeksi kurang tepat karena dosis yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan, yaitu 3x/hari 1 ampul (10 mg/2 ml). Kasus 4, 5, 8, 10, 11, 12, 16, 19 hanya mendapatkan 1 ampul (10 mg/2 ml) 2x/hari.

Dosis metoclopramid injeksi dinaikkan sesuai dengan dosis yang seharusnya diberikan.

Terjadinya DTP dosis terlalu rendah dapat menyebabkan efek terapi yang diharapkan menjadi kurang optimal. Berdasarkan British National Formulary, metocloparamid injeksi diberikan 3 kali 1 ampul (10 mg/2 ml) per-hari, namun pada kasus 4, 5, 8, 10, 11, 12, 16, dan 19, metoclopramid injeksi hanya diberikan 2 kali 1 ampul (10 mg/2 ml) per-hari.

3. DTP interaksi obat

Terjadinya DTP interaksi obat dapat menyebabkan terapi menjadi tidak optimal, misalnya dengan adanya penurunan absorpsi suatu obat oleh obat lain dan menurunnya kadar plasma suatu obat karena berinteraksi dengan obat lain. Pada beberapa kasus, terdapat pula interaksi obat yang dapat merugikan kasus,

misalnya peningkatkan sifat hepatotoksik dari parasetamol karena berinteraksi dengan fenobarbital.

Tabel XXXIII. Kelompok Kasus DTP Interaksi Obat pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008 Kasus Jenis Obat Penilaian Rekomendasi 3 metoclopramid

dan codein

Berdasarkan British National Formulary

metoclopramid berinteraksi dengan codein. codein akan menurunkan efek dari metoclopramid.

Mengatur waktu pemberian

metoclopramid dan codein agar tidak bersamaan.

4, 5, 9, 11, 16

metoclopramid dan parasetamol

Berdasarkan British National Formulary

metoclopramid berinteraksi dengan parasetamol. metoclopramid akan meningkatkan absorpsi parasetamol.

Mengatur waktu pemberian

metoclopramid dan parasetamol agar tidak bersamaan.

7, 15, 16, 21 domperidon dan parasetamol

Berdasarkan British National Formulary

domperidon berinteraksi dengan parasetamol. domperidon akan meningkatkan absorpsi parasetamol.

Mengatur waktu pemberian domperidon

dan parasetamol agar tidak bersamaan.

11 metoclopramid dan digoxin

Berdasarkan Drug Interaction Facts metoclopramid berinteraksi dengan digoxin dengan tingkat signifikasi 2. metoclopramid dapat menurunkan kadar digoxin dalam plasma sehingga menurunkan efek terapinya.

Mengatur waktu pemberian

metoclopramid dan digoxin agar tidak bersamaan.

11 metoclopramid dan aspirin

Berdasarkan British National Formulary

metoclopramid berinteraksi dengan aspirin. metoclopramid akan meningkatkan kecepatan absorpsi aspirin.

Mengatur waktu pemberian

metoclopramid dan aspirin agar tidak bersamaan.

Kasus DTP interaksi obat yang terjadi merupakan DTP yang bersifat potensial, artinya DTP tersebut berpotensi terjadi, namun belum terjadi pada kasus. Pada penelitian ini DTP interaksi obat paling banyak adalah interaksi antara metoclopramid dan parasetamol, yaitu sebanyak 5 kasus. Berdasarkan British National Formulary, efek dari interaksi kedua obat tersebut adalah peningkatan absorpsi parasetamol. Oleh karena itu penggunaan metoclopramid dan parasetamol perlu diperhatikan agar tidak digunakan secara bersamaan.

Obat lain yang mempunyai kemungkinan untuk berinteraksi jika diberikan bersamaan adalah domperidon dan parasetamol. Pada penelitian ini DTP interaksi obat antara domperidon dan parasetamol terjadi sebanyak 4 kasus.

52   

Berdasarkan British National Formulary, efek dari interaksi kedua obat tersebut adalah peningkatan absorpsi parasetamol.

Metoclopramid dan codein bila diberikan bersamaan kemungkinan akan terjadi interaksi. Berdasarkan British National Formulary, efek dari interaksi antara metoclopramid dan codein adalah penurunan efek metoclopramid pada gastrointestinal. Kejadian DTP interaksi obat antara metoclopramid dan codein pada penelitian ini sebanyak 1 kasus.

Pemberian metoclopramid dan aspirin secara bersamaan juga dapat menyebabkan terjadinya interaksi obat antar keduanya. Berdasarkan British National Formulary, efek yang timbul akibat interaksi antara metoclopramid dan aspirin adalah peningkatan kecepatan absorpsi aspirin. Kejadian DTP interaksi obat antara metoclopramid dan aspirin pada penelitian ini sebanyak 1 kasus.

Berdasarkan Drug Interaction Facts, obat lain yang mempunyai kemungkinan untuk berinteraksi jika diberikan bersamaan adalah metoclopramid dan digoxin dengan tingkat signifikasi 2. Onset dari interaksi antara kedua obat tersebut lambat dengan tingkat keparahan sedang (moderate). Efek dari interaksi ini adalah penurunan kadar digoxin dalam plasma sehingga efek terapinya menjadi menurun.

4. DTP compliance

Terjadinya DTP compliance dapat menyebabkan terapi menjadi tidak optimal.

Tabel XXXIV. Kelompok Kasus DTP Compliance pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008 Kasus Penilaian

11, 13 Pasien menggunakan domperidon setelah makan, padahal seharusnya domperidon digunakan 15-30 menit sebelum makan

Drug Therapy Problems dapat diketahui dengan melakukan analisis kasus, seperti yang dapat dilihat pada tabel XXXV s.d. XLIII.

Tabel XXXV. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 3 Subyektif

Ny.STA, nomor RM 01-92-13-12, umur 31 tahun dirawat di RS sejak tanggal 24 Agustus s.d. 1 September 2008 dengan keluhan utama + 2 bulan batuk-batuk, sore hari sebelum ke RS batuk keluar darah, malam sebelumnya batuk berdahak serta mengeluarkan darah

Diagnosis utama : TB paru Diagnosis sekunder : haemoptoe

Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

24/08/2008 ; 01/09/2008

Hb (gr%) 10,00 ; 11,80 12,00 – 18,00 Hct (%) 31,3 ; 36,9 36,0 – 46,0 AL (ribu/mmk) 13,56 ; 11,98 4,10 – 13,00 AT (ribu/mmk) 368,0 ; 620,0 140,0 – 440,0 Suhu (°C) Berkisar antara 36,2 – 39

Nadi (kali/menit) Berkisar antara 80 – 100 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 16 – 24

TD (mmHg) Berkisar antara 100 – 120 (SBP) dan 60 – 80 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat codeine 3x10 mg (oral); ofloxacin 2x400mg (oral); rifampicin 1x300mg (oral); pehadoxin F 1x¾ (oral); PZA 500 mg 1x2 (oral); ethambutol 500mg 1x1½ (oral); Kalnex® 3x1 (oral); FDC 1x2 (oral); Pamol® b/p (oral); HP pro 3x1 (oral); Lipofood® 2x1 (oral); Primperan® 3x10 mg (oral); Curliv plus® 3x1 (oral); Adona® 3x1 (oral); Ultraproct® 1x1 (oral); Ultrapoct N® cream 3x1

Penilaian

Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama antara metoclopramid (Primperan®)(oral) dan codein (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa berkurangnya efek metoclopramid (Primperan®). DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

Rekomendasi

Mengatur waktu pemberian metoclopramid (Primperan®) dan codein agar tidak bersamaan.

54   

Tabel XXXVI. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 4* Subyektif

Ny.SJN, nomor RM 00-64-15-64, umur 49 tahun dirawat di RS sejak tanggal 12 Agustus s.d. 21 Agustus 2008 dengan keluhan utama pusing, dada terasa panas, dan mual-mual.

Diagnosis utama : tanpa keterangan Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

13/08/2008

Hb (gr%) 14,60 12,00 – 18,00

Hct (%) 42,5 36,0 – 46,0

AL (ribu/mmk) 12,34 4,10 – 13,00

AT (ribu/mmk) 165,0 140,0 – 440,0

Suhu (°C) Berkisar antara 36,2 – 37,5 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 80 – 88 Nafas (kali/menit) -

TD (mmHg) Berkisar antara 100 – 110 (SBP) dan 60 – 80 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat parasetamol 3x500 mg (oral); Primperan® 3x10 mg (oral); metformin 3x500 mg (oral); simvastatin 1x10 mg mlm (oral); Glucobay® 2x1 (oral); Metrix® 1x2 mg (oral); Cetalgin® 3x1 (oral); zypraz 2x1 (oral); Kalxetin® 1x10mg pagi (oral); metoclopramide 10mg/2ml 2x1 (inj); ranitidin 50mg/2ml 2x1(inj)

Penilaian

1. Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama metoclopramid (Primperan®)(oral)dan parasetamol dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya absorpsi dari parasetamol. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

2. Pemberian metoclopramid (Primperan®) (inj) kurang tepat. Dosis metoclopramid (inj) seharusnya 1 ampul (10 mg/2 ml) 3x/hari, namun pasien hanya mendapatkan 1 ampul (10 mg/2 ml) 2x/hari. DTP yang terjadi bersifat aktual, yaitu : dosis terlalu rendah.

Rekomendasi

1. Mengatur waktu pemberian metoclopramid (Primperan®)dan parasetamol agar tidak bersamaan.

2. Menaikkan dosis metoclopramid (inj) menjadi 1 ampul (10 mg/2 ml) 3x/hari. *DTP yang sama terjadi pada kasus 5

Tabel XXXVII. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 7 Subyektif

Ny.MNY, nomor RM 01-92-11-82, umur 40 tahun dirawat di RS sejak tanggal 21 Agustus s.d. 8 September 2008 dengan keluhan utama + 1 bulan sering kambuh sakit perut dan mual.

Diagnosis utama : Cholesystitis Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

21; 22; 31/08/2008 ; 02/09/2008

Hb (gr%) 14,30 ; - ; 12,50 ; 13,30 12,00 – 18,00 Hct (%) 42,4 ; - ; 38,5 ; 42,5 36,0 – 46,0 AL (ribu/mmk) 15,14 ; - ; - ; - 4,10 – 13,00 AT (ribu/mmk) 297,0 ; 333,0 ; - ; - 140,0 – 440,0 Suhu (°C) Berkisar antara 36 – 39

Nadi (kali/menit) Berkisar antara 80 – 89 Nafas (kali/menit) -

TD (mmHg) Berkisar antara 100 – 140 (SBP) dan 60 – 100 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat Vomitas® 3x10 mg (oral); domperidon 3x10 mg (oral); Curcuma® 3x200 mg (oral); cefadroxyl 2x500mg (oral); parasetamol 3x500 mg b/p (oral); Multivitaplex® 2x1 (oral); Enzyplex® 2x1 (oral); vit. K 2x1 (inj); ceftriaxon 2x1g (inj); Flagyl® 2x1 (inj); ranitidin 50 mg/2ml 2x1 amp (inj); ketorolac 3% 2x1 (inj); metronidazole 2x1 (inj); metronidazole suppo 2x1 (dubur) Penilaian

1. Perlu adanya obat tambahan pada tanggal 2 September 2008 untuk mencegah mual dan muntah pasca operasi (cholesistoctomy). DTP yang terjadi bersifat aktual, yaitu : perlu obat tambahan.

2. Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama domperidon (oral) dan parasetamol (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya absorpsi dari parasetamol. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

Rekomendasi

1. Pemberian metoclopramid injeksi 1-2 ampul (10mg/2ml) mendekati operasi berakhir.

2. Mengatur waktu pemberian domperidondan parasetamol agar tidak bersamaan.

56   

Tabel XXXVIII. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 8* Subyektif

Sdr.SRY, nomor RM 01-92-03-53, umur 34 tahun dirawat di RS sejak tanggal 4 Agustus s.d. 10 Agustus 2008 dengan keluhan utama sakit pada perut bagian kanan bawah, kedua pinggang kanan dan kiri sakit, dan bila buang air kecil kesakitan.

Diagnosis utama : peritonitis umum, e.c. appendititis akut perforata Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

04/08/2008

Hb (gr%) 17,30 13,50 – 17,50

Hct (%) 49,7 41,0 – 53,0

AL (ribu/mmk) 11,52 4,10 – 10,90

AT (ribu/mmk) 252,0 140,0 – 440,0

Suhu (°C) Berkisar antara 36 – 38 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 80 – 90 Nafas

(kali/menit)

Berkisar antara 18 – 24

TD (mmHg) Berkisar antara 120 – 150 (SBP) dan 70 – 90 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat Rantin® 2x150 mg (oral); Spasmium® 2x1 (oral); ceftriakson 1 g b/p (inj); metronidazol 2x1 (inj); Kaltrofen® 1x100 mg (inj); Broadced® 1000 mg/vial 3x1 (inj); Remopain® 3% 3x1 (inj); Flagyl® suppo 1000 mg b/p (dubur); Primperan® 10mg/2ml 2x1 (inj); Rantin® 50mg/2ml 2x1 (inj); Vomidex® 10mg/2ml 1x1 (inj)

Penilaian

Pemberian metoclopramid (Primperan®) (inj) kurang tepat. Dosis metoclopramid (inj) seharusnya 1 ampul (10 mg/2 ml) 3x/hari, namun pasien hanya mendapatkan 1 ampul (10 mg/2 ml) 2x/hari. DTP yang terjadi bersifat aktual, yaitu : dosis terlalu rendah.

Rekomendasi

Menaikkan dosis metoclopramid (inj) menjadi 1 ampul (10 mg/2 ml) 3x/hari. *DTP yang sama terjadi pada kasus 10, 12, dan 19.

Tabel XXXIX. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 9 Subyektif

Sdr.RIP, nomor RM 00-95-56-02, umur 34 tahun dirawat di RS sejak tanggal 22 Agustus s.d. 24 Agustus 2008 dengan keluhan utama kepala sangat pusing, riwayat sinusitis

Diagnosis utama : rhinosinusitis Diagnosis sekunder :hipertensi Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

22/08/2008

Hb (gr%) 17,30 13,50 – 17,50

Hct (%) 47,8 41,0 – 53,0

AL (ribu/mmk) 12,70 4,10 – 10,90

AT (ribu/mmk) 337,0 140,0 – 440,0

Suhu (°C) Berkisar antara 36 – 37 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 80 – 88 Nafas

(kali/menit)

Konstan pada 20

TD (mmHg) Berkisar antara 140 – 190 (SBP) dan 100 – 120 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat Noperten® 1x5 mg (oral); Celebrex® 2x100 mg (oral); Bellapheen® 3x500 mg (oral); Rhinofed® 3x5 mg (oral); Vertivom® 3x10 mg (oral); Pondex® 3x250 mg (oral); Lanama/pamol® 3x500 mg (oral); Yekalgin 3x1500 mg (oral); Avelox® 1x400mg (oral); disadrin (15 mg/5ml) 3x1 (oral); Rantin® 2x1 (oral); Kalmethasone® (0,5 mg) 3x2cc (oral); Toradol® 30 mg 1amp (inj); stesolid 10 mg/2ml ½ amp (inj); Remopain/kaltrofen® 3% atau 30 mg 1amp (inj); Rantin® 1 g 1amp (inj); Primperan® 10 mg/2 ml 1amp (inj); Nasacort® (nasal spray)

Penilaian

Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama metoclopramid (Primperan®) (inj) dan parasetamol (Pamol®) (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya absorpsi dari Parasetamol. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

Rekomendasi

Mengatur waktu pemberian metoclopramid (inj) dan parasetamol (oral) agar jangan bersamaan.

58   

Tabel XL. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 11 Subyektif

Ny.KTM, nomor RM 01-92-10-12, umur 49 tahun dirawat di RS sejak tanggal 18 Agustus s.d. 27 Agustus 2008.

Diagnosis utama : tanpa keterangan Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

18 ; 27/08/2008

Hb (gr%) 8,70 ; 11,90 12,00 – 18,00

Hct (%) 31,8 ; 40,3 36,0 – 46,0

AL (ribu/mmk) 12,51 ; - 4,10 – 13,00

AT (ribu/mmk) 221,0 ; - 140,0 – 440,0

Suhu (°C) Berkisar antara 36 – 40,6 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 76 – 100 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 18 – 24

TD (mmHg) Berkisar antara 90 – 130 (SBP) dan 60 – 80 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat Rantin® 2x150mg (oral); Methycobal® 3x1 (oral); Farmasal® 1x100mg (oral); digoxin 0,25mg 1x½ (oral); Vomitas® 3x10 mg (oral); ISDN 3x5mg (oral); Pamol® 4x500 mg (oral); aspar-K 2x300 mg (oral); ofloxacin 450mg 2x ½ (oral); Rantin® 1 g 2x1amp (inj); Primperan® 10mg/2ml 2X1 amp (inj); ceftazidime 1gr 2x1 amp (inj); KCL (inj)

Penilaian

1. Berdasarkan Drug Interaction Facts (Tatro, 2001) penggunaan bersama digoxin (oral) dan metoclopramid (Primperan®) (inj) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut dengan tingkat signifikansi 2. Metoclopramid dapat menurunkan kadar digoxin dalam plasma sehingga menurunkan efek terapinya. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

2. Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama metoclopramid (Primperan®) (inj) dan parasetamol (Pamol®) (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya absorpsi dari parasetamol. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

3. Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama metoclopramid (Primperan®) (inj) dan aspirin (Farmasal®) (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya kecepatan absorpsi dari aspirin. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

4. Penggunaan domperidon (Vomitas®) (oral) tidak tepat. domperidon seharusnya digunakan 15-30 menit sebelum makan, namun pasien menggunakan domperidon setelah makan. DTP yang terjadi bersifat aktual, yaitu compliance.

5. Pemberian metoclopramid (Primperan®) (inj) kurang tepat. Dosis metoclopramid (inj) seharusnya 1 ampul (10 mg/2 ml) 3x/hari, namun pasien hanya mendapatkan 1 ampul (10 mg/2 ml) 2x/hari. DTP yang terjadi bersifat aktual, yaitu : dosis terlalu rendah.

Rekomendasi

1. Mengatur waktu pemberian metoclopramid (inj) dan digoxin (oral) agar jangan bersamaan. 2. Mengatur waktu pemberian metoclopramid (inj) dan parasetamol (oral) agar jangan bersamaan. 3. Mengatur waktu pemberian metoclopramid (inj) dan aspirin (oral) agar jangan bersamaan. 4. Kasus lebih memperhatikan instruksi penggunaan obat agar tercapai tujuan terapi yang optimal. 5. Menaikkan dosis metoclopramid (inj) menjadi 1 ampul (10 mg/2 ml) 3x/hari.

Tabel XLI. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 13 Subyektif

Bp.KBG, nomor RM 01-92-07-68, umur 35 tahun dirawat di RS sejak tanggal 13 Agustus s.d. 15 Agustus 2008 dengan keluhan utama perut mules, diare 4x, mual dan muntah.

Diagnosis utama : gastroenteritis akut (GEA) Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

13/08/2008

Hb (gr%) 16,50 13,50 – 17,50

Hct (%) 47,1 41,0 – 53,0

AL (ribu/mmk) 6,74 4,10 – 10,90

AT (ribu/mmk) 214,0 140,0 – 440,0

Suhu (°C) Berkisar antara 36 – 36,5 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 50 – 84 Nafas

(kali/menit)

Berkisar antara 18 – 20

TD (mmHg) Berkisar antara 110 – 120 (SBP) dan 70 – 80 (DBP)

Penatalaksanaan 1. Obat rawat inap

Pasien mendapatkan obat Baquinor® 2x1 (oral); Arcapec® b/p 3x2 (oral); Vometa® 3x10 mg (oral); Tracordia® b/p 3x1(oral)

2. Obat rawat jalan

Pasien mendapatkan obat Baquinor® 2x1 (oral); Arcapec® b/p 3x2 (oral); Vometa FT® 3x10 mg (oral); Tracordia® b/p 3x1(oral), rims 1x1 (oral) Penilaian

Pada tanggal 16 Agustus 2008 (rawat jalan), domperidon digunakan sesudah makan. Seharusnya domperidon digunakan 15-30 menit sebelum makan. DTP yang terjadi bersifat aktual, yaitu compliance.

Rekomendasi

Kasus lebih memperhatikan instruksi penggunaan obat agar tercapai tujuan terapi yang optimal.

60   

Tabel XLII. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 15* Subyektif

Ny.SNT, nomor RM 01-91-72-87, umur 65 tahun dirawat di RS sejak tanggal 10 Agustus s.d. 13 Agustus 2008 dengan keluhan utama badan lemas, perut mual, muntah, BAK tak terasa.

Diagnosis utama : diabetes mellitus Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal

10/08/2008

Hb (gr%) 12,8 12,00 – 18,00

Hct (%) 35,2 36,0 – 46,0

AL (ribu/mmk) 7,81 4,10 – 13,00

AT (ribu/mmk) 375,0 140,0 – 440,0

Suhu (°C) Berkisar antara 36 – 37,3 Nadi (kali/menit) Berkisar antara 80 – 88 Nafas

(kali/menit)

Berkisar antara 16 – 20

TD (mmHg) Berkisar antara 120 – 160 (SBP) dan 70 – 110 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat domperidon 3x10 mg (oral); Tensivask® 1x5 g (oral); stirizime 1x1 (oral); Sibelium® 3x5 g (oral); Sistenol® 3x1 (oral); Sporacid® 2x100 mg (oral); Mixtard® 2x12 IU (inj); Remopain® 1 amp (inj); ranitidin 1 amp (inj); Ultraproct® 2x1 suppo (dubur); Zelavel® 1x1 (oral); dulladryl 2cc (inj); gynofort 2% (vagina)

Penilaian

Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama domperidon (oral) dan parasetamol (Sistenol®) (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya absorpsi dari parasetamol. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

Rekomendasi

Mengatur waktu pemberian domperidon(oral) dan Sistenol® (oral) agar jangan bersamaan.

Tabel XLIII. Contoh Analisis DTP pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Kasus 16 Subyektif

Bp.SYT, nomor RM 00-15-59-01, umur 57 tahun dirawat di RS sejak tanggal 13 Agustus s.d. 22 Agustus 2008 dengan keluhan utama badan panas, perut mules, diare 5x cair

Diagnosis utama : gastroenteritis akut (GEA)

Objektif

Parameter Tanggal periksa Nilai normal 13/08/2008

Hb (gr%) 15,00 13,50 – 17,50

Hct (%) 42,9 41,0 – 53,0

AL (ribu/mmk) 17,80 4,10 – 10,90 AT (ribu/mmk) 190,0 140,0 – 440,0 Suhu (°C) Berkisar antara 36 – 39,8

Nadi (kali/menit) Berkisar antara 80 – 100 Nafas (kali/menit) Berkisar antara 18 – 24

TD (mmHg) Berkisar antara 70 – 130 (SBP) dan 50 – 90 (DBP)

Penatalaksanaan

Pasien mendapatkan obat Pamol® 3x500 mg (oral); Arcapec® 3x10 mg (oral);

domperidon 3x10 mg (oral); Metrix® 2 mg 1x½ (oral); Primperan® 10mg/2ml 2x1 (inj); ranitidin 2x1amp (inj); Tracordia® 3x1 (oral); gentamycin 80mg 2x1A (inj); Cravit® 1x1 (oral); OMZ® 1x1 (oral); Vomitas® 3x10 mg (oral)

Penilaian

1. Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama metoclopramid (Primperan®) (inj)dan parasetamol (Pamol®) (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya absorpsi dari parasetamol. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

2. Berdasarkan British National Formulary penggunaan bersama domperidon (oral) dan parasetamol (Pamol®) (oral) dapat menimbulkan interaksi antar kedua obat tersebut, yaitu berupa meningkatnya absorpsi dari parasetamol. DTP yang terjadi bersifat potensial, yaitu : interaksi obat.

3. Pemberian metoclopramid (Primperan®) (inj) kurang tepat. Dosis metoclopramid (inj) seharusnya 1 ampul (10 mg/2 ml) 3x/hari, namun pasien hanya mendapatkan 1 ampul (10 mg/2 ml) 2x/hari. DTP yang terjadi bersifat aktual, yaitu : dosis terlalu rendah.

Rekomendasi

1. Mengatur waktu pemberian metoclopramid(inj)dan parasetamol (oral) agar jangan bersamaan.

2. Mengatur waktu pemberian domperidon(oral) dan parasetamol (oral) agar jangan bersamaan.

62   

E. Evaluasi Masalah Utama ME Fase Administrasi dan DTP

Berdasarkan evaluasi kejadian ME fase administrasi dan DTP, diketahui bahwa kejadian ME fase administrasi yang paling banyak terjadi adalah administration error dan dosis keliru, sedangkan DTP yang paling banyak terjadi adalah interaksi obat. Setelah mengetahui jenis ME fase administrasi dan DTP yang paling banyak terjadi, maka dilakuan evaluasi terhadap permasalahan utama yang menyebabkan terjadinya ME fase administrasi dan DTP tersebut. Oleh sebab itu diperlukan adanya data tambahan berupa wawancara dengan dokter, perawat, dan apoteker, yang dapat membantu untuk menarik kesimpulan tentang permasalahan utama terjadinya ME fase administrasi dan DTP.

1. Wawancara dengan dokter

Berdasarkan wawancara dengan tiga orang dokter yang ada di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta, dapat disimpulkan bahwa dokter menganggap bahwa isu mengenai ME sangatlah penting untuk diperhatikan. Oleh karena itu keberadaan apoteker di bangsal dirasa sangat diperlukan karena menurut pandangan dokter, apoteker dianggap lebih berkompeten dalam hal obat-obatan. Menurut salah seorang dokter dengan adanya apoteker di bangsal maka kejadian ME dapat ditekan.

Kepedulian dokter mengenai isu ME cukup terlihat dengan bukti bahwa dokter memperhatikan adanya interaksi obat, kekuatan obat, durasi, frekuensi pemberian, obat harus habis atau tidak perlu habis dan kontraindikasi selama obat digunakan oleh pasien di bangsal pada saat melakukan monitoring terhadap pasien untuk menekan terjadinya ME dan DTP.

2. Wawancara dengan perawat

Berdasarkan wawancara dengan empat belas orang perawat yang ada di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta, dapat disimpulkan bahwa perawat menganggap bahwa isu mengenai ME sangatlah penting untuk diperhatikan. Sama seperti dokter, perawat merasa keberadaan apoteker di bangsal sangatlah diperlukan, karena apoteker dianggap lebih berkompeten dalam hal obat-obatan.

Kepedulian perawat mengenai isu ME cukup terlihat dengan bukti bahwa perawat selalu memberikan informasi mengenai penggunaan obat kepada pasien. Selain itu, perawat juga mengecek ulang obat sebelum diberikan. Ketika terdapat pasien yang tidak mematuhi aturan penggunaan obat, perawat juga berusaha memberikan nasihat dan penjelasan mengenai tujuan pemberian obat yang bersangkutan.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah informasi yang diberikan apoteker kepada perawat sangatlah minim, baik dari segi frekuensi pertemuan antara apoteker dengan perawat maupun dari segi informasi yang diberikan. Pemberian informasi kepada perawat sebenarnya sangatlah penting untuk menekan kejadian ME fase administrasi dan DTP karena perawat yang secara langsung meberikan obat ketika pasien di bangsal.

3. Wawancara dengan apoteker

Berdasarkan wawancara dengan seorang apoteker yang ada di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta, dapat disimpulkan bahwa apoteker menganggap bahwa isu mengenai ME sangatlah penting untuk diperhatikan agar

64   

tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses terapi. Salah satu bukti bahwa apoteker peduli dengan isu ME, yaitu dengan adanya konseling yang diberikan kepada pasien dan kerabat yang menunggu pasien. Dalam konseling ini, informasi yang diberikan meliputi nama obat dan indikasi, cara pakai / aturan pakai, frekuensi, cara penyimpanan, efek samping yang mungkin dapat timbul, serta hal-hal lain yang dirasa diperlukan.

Melalui wawancara dengan apoteker ini, maka dapat diketahui bahwa konseling tidak dilakukan kepada semua pasien. Hal ini kemungkinan dikarenakan keterbatasan jumlah apoteker di bangsal sehingga apoteker hanya dapat melayani konseling untuk pasien-pasien tertentu dan bila situasi dan kondisinya memungkinkan.

Berdasarkan wawancara dengan dokter, perawat, dan apoteker maka dapat dijelaskan bahwa permasalah utama yang menyebabkan terjadinya ME fase administrasi dan DTP pada kasus yang menerima obat golongan antiemetik di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta periode Agustus 2008 adalah kurang optimalnya peran apoteker di bangsal dalam memonitoring penggunaan obat kepada pasien secara langsung.

Dokumen terkait