JENIS LAINNYA YANG BERNILAI EKONOMIS
G. Pendapatan Anggota Kelompok Tani HLK
4.7 EVALUASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL (SWOT) .1. Faktor Internal
133 merupakan data masyarakat yang yang menempuh pendidikan sampai SLTA bahkan ada yang kuliah dan lulus Sarjana.
• Kurang lebih 10,09% penduduk miskin di kepulauan talaud dan 90% menetap di sekitar kasawan hutan
• Peningkatan pendidik masyarakat akan berpengaruh terhadap peningkatan pola hidup sehat.
T4 Konflik kepentingan pemanfaatan SDA
• Masih berlangsungnya konflik masyarakat dengan Negara seputar tata batas, masyarakat dengan masyarakat lain, masyarakat dengan satwa, kabupaten dengan kabupaten lain, dan kabupaten dengan pusat.
• Maraknya kasus tanah Negara yang diklaim oleh masyarakat dan memiliki sertifikat.
4.7 EVALUASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL (SWOT)
134 yangdisajikan pada Tabel 21 juga menampilkan dimana pada tabelini dapat diketahui bahwa variabel yangrelatif mempunyai skor paling tinggi adalahvariabel kebijakan dan regulasi dalam pengelolaan HLk belum optimal dan rendahnya kualitas dan kuantitas SDM dengan skorsebesar 0,27 yang kemudian disusul olehvariabel rendahnya koordinasi dengan stakeholder lain belum tersentuh nilai skor 0,12. Variabel yangmempunyai skor terendah yaitu variabelbelum tersentuh teknologi dengan skor 0,03.
Tabel 20. Matriks IFAS dalam Pengelolaan HLK
No Faktor Kekuatan Bobot Rating Skor
1 Status kelembagaan KPHL Sitaro Resort Talaud
0,16 5 0,78
2 Potensi keanekaragaman hayati HLK 0,16 5 0,78 3 Partisipasi masyarakat dan lembaga
formal yang cukup tinggi
0,13 4 0,50
4 Adanya dukungan dari Pemda 0,13 4 0,50
5 Nilai-nilai adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat sekitar HLK
0,16 5 0,78
Sub total 0,73 3,34
No Faktor Kelemahan Bobot Rating Skor
1 Kebijakan dan regulasi dalam pengelolaan HLK yang diatur oleh Perda
belum kuat
0,09 3 0,27
2 Koordinasi dengan stakeholder lain belum optimal
0,06 2 0,12
3 Rendahnya kualitas dan kuantitas SDM 0,09 3 0,27 4 Belum optimalnya penggunaan teknologi 0,03 1 0,03
Sub Total 0,27 0,69
Total 1,00 4,03
135 4.7.2 Faktor Eksternal
Berdasarkan hasil wawancara terhadap anggota KTH dan parapakar diperoleh evaluasi variabel-variabelpeluang seperti yang disajikan pada Tabel 22 Berdasarkan data pada tabel ini dapatdiketahui bahwa variabel yang relative mempunyai skor paling tinggi adalahvariabel adanya dukungan dana daripemerintah melaui alokasi APBD setiap tahun dengan nilai skor sebesar 1,25.Variabel yang mempunyai skor terendahyaitu kurangnya dukungan masyarakat dan pemerintah dalam kegiatan HKm dan optimalisasi HHBK dengan besar skor 0,8.Berdasarkan hasil wawancara terhadap anggota KTH dan para pakardiperoleh evaluasi variabel-variabel eksternal ancaman seperti yang disajikanpada Tabel 22. Berdasarkan data pada tabelini dapat diketahui bahwa variabel yangrelatif mempunyai skor paling tinggi adalahvariabel tingginya intensitas gangguan hutan berupa kebakaran hutan, lonsor, banjir dan illegal logging,kemudian disusul tumpang tindinya kewenangan dan kondisi social yang dipengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat yang mengakibatkan ketersediian lahan makin meningkat dan ekonomi makin rendah dan miskin dengan skor 0,2. Variabel yangmempunyai skor terendah yaitu rawan konflik dan pemanfaatan kepentingan dengan skor 0,05.
136 Tabel 21. Matriks Evaluasi EFAS dalam Pengelolan HLK
No Faktor Peluang Bobot Rating Skor
1 Dukungan pemerintah dalam bentuk anggaran yang dialokasikan memalui APBD
setiap tahun
0,25 5 1,25
2 Dukungan pemerintah pusat dan masyarakat melalui kegiatan HKm
0,20 4 0,8
3 Diversifikasi usaha dan pendapatan masyarakat :optimalisasi HHKB
0,20 4 0,8
Total 0,65 2,85
No Faktor Ancaman Bobot Rating Skor
1 Tingginya intensitas gangguan hutan:kebakaran hutan,illegal loging, banjir,
tanah longsor
0,10 2 0,2
2 Tumpang tindih kewenangan 0,10 2 0,2
3 Kondisi social : laju pertumbuhan penduduk yang pesat, ketersediaan lahan yang kuran
untuk diusahakan, dan ekonomi miskin
0,10 2 0,2
4 Rawan konflik dan pemanfaatan kepentingan
0,05 1 0,05
Sub Total 0,35 0,65
Total 1,00 3,5
137 4.7.3. Analisis Matriks Internal Eksternal
Hasil analisis menunjukkan bahwatotal skor faktor internal kekuatan adalahsebesar 3.34; faktor internal kelemahan 0,69; sedangkan untuk faktor eksternal peluang 2,85; faktor eksternal ancaman 0,65.
Berdasarkan nilai-nilai ini diperoleh posisi strategi pengembangan hutan lindung Karakelang terletak pada Kuadran 1 dengan nilai koordinat (2,65 ; 2,2), dan diagram SWOT-nya disajikan pada Gambar 17.
. ---
2,0
K 4 1,0 K 1 0,5
-1,5 -1,0 -0,5 0,5 1,0 1,5
K 3-0,5 K 2
- 1,0 -1,5
Gambar 20.Diagram SWOT
Gambar 17 menunjukkan bahwa faktor ekstenal dan internal Pengelolaan berada pada kuadran 1 yang artinya mendukung startegi pengelolaan yang dilakukan (2,65 ;2,2).
PELUANG
KEKUATAN
ANCAMAN KELEMAHAN
138 4.7.4 Penentuan Prioritas strategi
Metode yang digunakan dalammenganalisis prioritas strategipengembangan hutan rakyat adalah metodeanalisis hierarki proses (AHP) meliputiaspek pendanaan, aspek pemberdayaanpetani, aspek kemitraan petani dan investorserta aspek pemantapan kelembagaan hutanrakyat. Menurut Gane (2007) strategimanajemen yang diterapkan pada sector kehutanan meliputi sumberdaya, kegiatan,output, organisasi dan lembaga bersama–sama sebagai suatu sistem.Penentuan arahan menggunakanindikator dari analisa SWOT yang dapatdilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Tabel Indikator Faktor Strategis
Kriteria Indikator (Strategi WO)
Implementasi kebijakan pemerintah
Mengoptimalkan dukungan pemerintah,untuk meningkatkan
kuantitas aparatur
Tata Kelola
Melakukan kegiatan formal demi meningkatkan kualitas SDM aparatur, sehingga dapat menciptakan efektivitas
kerja yang optimal
Sinergis Stakeholder
Mengoptmalkan fungsi koordinasi antara instansi dalam rangka pengembangan HKm pada kawasan
HLK
Kelembagaan
Kejelasan PERDA dengan memanfaatkan dukungan pemerintah
dan masyarakat
Perlindungan Optimalisasi HHBK dengan pola Agroforestry
139 A. Matriks Gabungan Perbandingan Berpasangan
Para pakar telah diberikan form matriks perbandingan berpasangan sesuai 16 pernyataan disetiap masing-masing kelompok SWOT dan menghasilkan uji penilaian pakar. Hasil matriks gabungan perbandingan berpasangan faktor kekuatan dari keempat pakar dapat dilihat pada Tabel 23. Berdasarkan Tabel 23, matriks gabungan perbandingan berpasangan hasil uji penilaian ke empat pakar dari Lima pernyataan faktor kekuatan memperoleh interval nilai dari nilai terendah 4,42 (faktor S2) yaitu (Potensi keanekaragaman hayati HLK) dan 7,82 (faktor S5) yang tertinggi yaitu (dukungan modal dalam pengelolaan HLK), jika dijumlahkan dari atas ke bawah.
Selanjutnya hasil matriks gabungan perbandingan berpasangan faktor kelemahan dari keempat pakar dapat dilihat pada Tabel 23.
Tabel 23.Matriks gabungan perbandingan berpasangan dari keempat pakar faktor Kekuatan atau Strength (S)
S1 S2 S3 S4 S5
S1 1,00 1 1,19 1,41 1,32
S2 1 1,00 1,19 1,68 1,73
S3 0,84 0,84 1,00 1,19 1,73
S4 0,71 1,00 1,00 1,00 1,50
S5 0,76 0,84 1,00 0,45 1,00
Ʃ 4,31 4,42 4,96 6,32 7,82
Tabel 24. Matriks gabungan perbandingan berpasangan keempat pakar faktor Kelemahan atau Weakness (W)
W1 W2 W3 W4 W5
W1 1,00 2,34 3,87 2,21 2,71
W2 0,43 1,00 0,44 1 1,32
W3 0,26 2,30 1,00 1,73 1,32
140
W4 0,38 1,32 0,58 1,00 3,00
W5 0,37 0,76 0,76 0,33 1,00
Ʃ 2,43 7,72 6,65 6,28 9,34
Berdasarkan tabel 24 di atas, matriks gabungan perbandingan berpasangan hasil uji penilaian keempat pakar dari Lima pernyataan faktor kelemahan dari menghasilkan nilai terendah 2,43 untuk faktor W1 yaitu (regulasi dan kebijakan pengelolaan HLK yang diatur oelh Perda belum kuat) dan nilai tertinggi untuk faktor W59,34 yaitu (belum optimalnya penggunaan teknologi).
Hasil dari matriks gabungan perbandingan berpasangan dari masing-masing faktor dan kelompok memperlihatkan nilai dominan dan tidaknya faktor dan kelompok.Perbandingan berdasar pada penilaian (Judgment) dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dengan elemen-elemen lainnya yang ada dalam hirarki.Hasil matriks gabungan perbandingan berpasangan faktor peluang dari ketiga pakar dapat dilihat pada tabel 25.
Tabel 25. Matriks gabungan perbandingan berpasangan keempat pakar faktor Peluang atau Opportunity (O)
O1 O2 O3
O1 1,00 2,00 1,26
O2 1 1,00 1
O3 1 0,40 1,00
Ʃ 3,00 3,40 3,26
141 Berdasarkan tabel 25 di atas, matriks gabungan hasil penilaian keempat pakar dari 3 pernyataan faktor peluang menghasilkan interval dari nilai terendah 3,00 pada faktor O1 yaitu (dukungan dana dari pemerintah melalui alokasi anggaran APBD tiap tahun) dan 3,26 yang tertinggi pada faktor O3 yaitu (ootimalisasi pengelolaan HHBK), jika dijumlahkan dari atas ke bawah. Selanjutnya, untuk melihat hasil analisis dari ketiga pakar yang telah diberikan form matriks berpasangan sesuai 16 indikator disetiap masing-masing kelompok SWOT.Hasil matriks gabungan perbandingan berpasangan faktor ancaman dari ketiga pakar dapat dilihat pada Tabel 26.
Berdasarkan tabel 26 di atas, matriks gabungan hasil penilaian keempat pakar dari 4 pernyataan faktor ancaman dari nilai terendah 2,60 pada faktor T1 yaitu (tingginya intensistas gangguan hutan) dan yang tertinggi nilai 7,14 jika dijumlahkan dari atas ke bawah pada faktor T4 yaitu (rawan konflik pemanfaatan kepentingan).
Tabel 26. Matriks gabungan perbandingan berpasangan keempat faktor Ancaman atau Threat (T)
T1 T2 T3 T4
T1 1,00 1,19 1,50 3,08
T2 0,67 1,00 1,32 1,00
T3 0,68 1,00 1,00 2,06
T4 0,26 0,88 0,64 1,00
Ʃ 2,60 4,07 4,45 7,14
Selanjutnya, setelah para pakar menganalisis nilai pada masing-masing faktor, diberikan form matriks perbandingan berpasangan untuk
142 menguji nilai dari kelompok SWOT pada yang merupakan hirarki kedua diatas faktor-faktor SWOT sebagai hirarki ketiga.Hasil matriks gabungan perbandingan berpasangan kelompok SWOT dari ketiga pakar dapat dilihat pada tabel 27.
Tabel 27.Matriks gabungan perbandingan berpasangan kelompok SWOT
S W O T
S 1,00 1,73 2,45 4,40
W 0,58 1,00 1,26 2,94
O 0,36 0,80 1,00 3,34
T 0,23 0,34 0,30 1,00
Ʃ 2,16 3,87 5,01 11,69
Berdasarkan tabel 27 di atas, matriks gabungan hasil penilaian keempat pakar dari 4 kelompok SWOT memperoleh interval nilai dari 2,16 – 11,69. nilai terendah pada kelompok Kekuatan (S) dan nilai yang tertinggi pada kelompok Ancaman (T) jika dijumlahkan dari atas ke bawah.
Hasil dari nilai-nilai uji para pakar menghasilkan interval nilai masing-masing faktor dan kelompok.Tabel matriks perbandingan berpasangan menghasilkan sebuah skala kepentingan relative dari masing-masing elemen. Penilaian akan menghasilkan sebuah skala penilaian berupa angka. Perbandingan berpasangan dalam bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan prioritas.
143 B. Normalisasi Matriks Gabungan Perbandingan Berpasangan
Prioritas lokal pada masing-masing faktor SWOT diperoleh dari rata-rata nilai normalisasi matriks gabungan dikali dengan total nilai mariks gabungan. Hasil dari matriks-matriks gabungan yang menghasilkan nilai prioritas dapat dilihat pada tabel-tabel 28.
Tabel 28. Matriks normalisasi dari gabungan perbandingan berpasangan dari keempat pakar faktor Kekuatan (S)
S1 S2 S3 S4 S5 TOTAL Eigen
Faktor Rata-Rata S1 0,23 0,23 0,24 0,18 0,18 1,10 0,22 0,95 S2 0,23 0,23 0,24 0,24 0,24 1,20 0,24 1,06 S3 0,19 0,19 0,20 0,24 0,24 1,10 0,22 1,10 S4 0,23 0,23 0,20 0,21 0,21 0,96 0,19 1,21 S5 0,23 0,19 0,12 0,06 0,14 0,63 0,13 1,92 Ʃ 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 5,00 1,00 5,24 Tabel 29. Matriks Normalisasi dari gabungan perbandingan berpasangan 3. Prioritas Kelompok SWOT
Gambar 21.Matriks Evaluasi perbandingan berpasangan Kelompok SWOT
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4 0,45 0,5
S W O T
GRAFIK KELOMPOK SWOT
KELOMPOK SWOT EIGEN FAKTOR
144 Berdasarkan gambar di atas, kelompok kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O) dan ancaman (T) dalam empat kelompok tersebut kelompok kekuatan (S) lebih tinggi dengan nilai adalah 0.4439 dibandingkan antara kelemahan, peluang dan ancaman, untuk ancaman (W) dengan nilai terendah yaitu 0.0845.
C. Prioritas Lokal dan Prioritas Global Pengelolaan HLK