• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI DAN ISOLASI SOSIAL

2 Tindakan Keperawatan Spesialis

3.8 Evaluasi Hasil

Pengukuran hasil kemampuan klien dengan masalah halusinasi dan isolasi sosial dinilai dengan cara membandingkan hasil pengkajian awal dengan kondisi setelah diberikan terapi spesialis keperawatan jiwa. Paket terapi yang diberikan terdiri dari 2 yaitu kelompok yang mendapatkan terapi generalis, TAKS dan CBSST serta keompok yang mendapatkan terapi generalis, TAKS ,CBSST dan psikoedukasi keluarga

Kelompok pertama : 17 klien mendapatkan tindakan berupa terapi generalis, TAKS dan tindakan keperawatan spesialis CBSST. Klien memiliki peningkatan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perilaku negative yang mengganggu,

Sesi Tindakan Keperawatan Spesialis:

Psikoedukasi Keluarga

N

1 Mendiskusikan pengalaman keluarga merawat klien halusinasi dan isolasi sosial

6 2 Mengajarkan cara merawat klien dengan halusinasi

dan Isolasi Sosial

6 3 Mendiskusikan stress yang dirasakan keluarga

akibat merawat klien dan Mengajarkan cara mengatasi stress

6

4 Mendiskusikan beban yang dirasakan keluarga akibat merawat klien dan Mengajarkan cara mengatasi beban

6

5 Mendiskusikan cara mencari dan menggunakan fasilitas kesehatan jiwa di masyarakat dan di rumah sakit

melawan pikiran negative dengan tanggapan rasional, berbicara untuk berkomunikasi dengan sikap yang benar, berbicara untuk menjalin persahabatan, berbicara untuk mengatasi situasi sulit meningkat. 3 orang klien masih memerlukan pendampingan perawat untuk melakukan latihan .

Kelompok kedua yaitu 17 klien dan 6 keluarganya mendapatkan tindakan terapi generalis, TAKS, CBSST dan Psikoedukasi keluarga. Keseluruhan klien mampu menunjukkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perilaku negative yang mengganggu, melawan pikiran negative dengan tanggapan rasional, berbicara untuk menjalin persahabatan, dan berbicara untuk mengatasi situasi sulit meningkat. Keenam keluarga mampu merawat klien dengan halusinasi dan isolasi sosial dengan pendampingan dari perawat. Keseluruhan keluarga mampu mengikuti semua sesi yang dilakukan dengan 2-3 kali pertemuan dimana dalam 1 kali pertemuan perawat melakukan 1-3 sesi. Hal ini dilakukan berdasarkan atas kesediaan waktu keluarga dan kemampuan keluarga dalam menerima informasi.

Tabel 3.16

Distribusi Hasil Evaluasi Terapi Keperawatan pada Klien Halusinasi dan Isolasi Sosial di Ruang Yudistira RSMM Bogor

9 September – 12 November 2013 No Terapi Keperawaan yang diberikan Jml Kemampuan Klien 1. Terapi generalis + TAK + CBSST

17 - Mampu mengidentifikasi isi, frekueansi, waktu terjadi, situasi pencetus dan respon halusinasi

- Mampu mengontrol halusinasi dengan menghardik - Mampu mengontrol halusinasi dengan peggunaan obat - Mampu mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap - Mampu mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan - Mampu mengidentifikasi penyebab isolasi sosial

- Mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dan kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain

- Mampu melakukan latihan berkenalan - Mampu berbicara dalam lingkungan social

- Mampu mengidentifikasi pikiran dan perilaku negative yang muncul dan megganggu

- Mampu melawan pikiran negative dengan tanggapan rasional - Mampu berbicara dengan baik

- Mampu berbicara dalam menjalin persahabatan - Mampu menghadapi situasi sulit

2 Terapi generalis + TAK + CBSST + Psikoedukasi keluarga 17 klien 6 klg

- Mampu mengidentifikasi isi, frekueansi, waktu terjadi, situasi pencetus dan respon halusinasi - Mampu mengontrol halusinasi dengan

menghardik

- Mampu mengontrol halusinasi dengan peggunaan obat

- Mampu mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap

- Mampu mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan

- Mampu mengidentifikasi penyebab isolasi sosial - Mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi

dan kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain

- Mampu melakukan latihan berkenalan - Mampu berbicara dalam lingkungan social

- Mampu mengidentifikasi pikiran dan perilaku negative yang muncul dan megganggu

- Mampu melawan pikiran negative dengan tanggapan rasional

- Mampu berbicara dengan baik

- Mampu berbicara dalam menjalin persahabatan - Mampu menghadapi situasi sulit

- Mampu mengoptimalkan perawatan klien dirumah dan rumah sakit melalui keterlibatan peran serta keluarga

Table 3.18

Distribusi Penilaian Stresor Klien dengan Halusinasi dan Isolasi Sosial Sebelum dan Sesudah Terapi CBSSTdi Ruang Yudistira RSMM Bogor

9 September – 12 November 2013 (n=17)

No Respon Terhadap Stresor Jumlah

Sebelum

Jumlah Sesudah

1 Respon kognitif halusinasi

d. Mendengar suara-suara

e. Sulit konsentrasi dan membuat keputusan f. Disorientasi

Respon Kognitif isolasi sosial

d. Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan e. Menggangap interaksi dengan orang lain

merupakan sesuatu yang tidak berarti f. Perasan negatif terhadap diri sendiri

14 10 6 10 8 2 3 5 3 5 4 1

2 Respon Afekitif halusinasi

d. Senang

e. Merasa terganggu f. Ketakutan

Respon Afektif isolasi sosial

d. Sedih

e. Merasa ditolak orang lain

f. Merasa tidak dipedulikan orang lain

10 12 8 9 11 8 6 5 3 3 4 3

3 Respon Fisiologis halusinasi

c. Kewaspadaan meningkat d. Gangguan tidur

Respon Fisiologis isolasi sosial

c. Lelah/letih/lemah d. Banyak tidur 9 13 10 5 5 5 4 3

4 Respon perilaku halusinasi

d. Bicara, tertawa sendiri

e. Diam seperti menikmati yang mengasikan f. Cenderung mengikuti halusinasi

Respon Perilaku isolasi sosial

c. Lebih senang menyendiri d. Malas melakukan aktifitas

11 14 7 15 11 4 6 3 5 4

5 Respon sosial halusinasi

d. Acuh dengan lingkungan

e. Kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain

f. Tidak tertarik dengan kegiatan harian

Respon Sosial isos

c. Menghindar dari orang lain d. Sulit berinteraksi 12 9 14 15 8 6 4 6 6 3

Berdasarkan table 3.18 diketahui bahwa semua klien yang mendapatkan paket terapi generalis halusinasi dan isolasi sosial baik individu, keluarga maupun kelompok dan terapi spesialis baik CBSST dan FPE masih meninggalkan gejala sisa meskipun telah terjadi penurunan tanda gejala. Evaluasi ini bisa menjadi pertimbangan terapis

untuk mencoba mengkombinasikan terapi CBSST dengan terapi lain seperti PMR, TS.

Tabel 3.17

Distribusi Evaluasi Respon terhadap Stressor Klien

Halusinasi dan Isolasi sosial Sebelum dan Sesudah Pemberian Terapi CBSST di Ruang Yudistira RSMM Bogor

9 September – 12 November 2013 (n=17)

Berdasarkan tabel 3.17 didapatkan gambaran respon klien dengan halusinasi dan isolasi sosial terjadi perbedaan rata-rata setelah diberikannya terapi latihan keterampilan CBSST dimana rata-rata respon kognitif sebelum latihan CBSST diberikan sebesar 34,93, dan setelah diberikan latihan CBSST menjadi 17,25. Berdasarkan nilai terhadap penilaian stresor pada respon kognitif pada tabel 4.17 menunjukkan terjadi penurunan respon kognitif klien halusinasi dan isolasi sosial sebesar 17,68 setelah mendapatkan terapi CBSST.

Perubahan respon kognitif maladaptif untuk masalah halusinasi yang paling banyak dialami 14 klien berupa mendengar suara-suara mengalami penurunan menjadi 3 klien (78,5%), untuk masalah isolasi sosial yang paling banyak dari 10 klien yang mengalami sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan mengalami penurunan dari 10 klien menjadi 5 klien (50%).

Untuk rata-rata respon afektif sebelum diberikan latihan keterampilan sosial sebesar 19,47 dan setelah diberikan latihan keterampilan kognitif perilaku sosial sebesar 10,20. Berdasarkan nilai terhadap penilaian stresor pada respon afektif pada tabel 3.17 menunjukkan terjadi penurunan respon negatif klien isolasi sosial sebesar 9,27 setelah mendapatkan terapi keperawatan. Respon afektif yang maladaptif terbanyak yang dialami 12 klien halusinasi adalah merasa terganggu setelah mendapat terapi

No Penilaian Terhadap Stresor N Isolasi Sosial Mean Sebelum Mean setelah Mean selisih 1 Respon kognitif 17 34,93 17,25 17,68 2 Respon Afektif 17 19,47 10,20 9,27 3 Respon Fisiologis 17 11,00 7,13 3,87 4 Respon Perilaku 17 17.00 7,73 9,27 5 Respon Sosial 17 22,67 8,60 14,07

CBSST turun menjadi 5 klien (58,3%). Sementara itu dari 11 klien yang merasa ditolak orang lain setelah diberikan terapi keperawatan tinggal hanya 4 klien (63,6%) saja yang masih merasakan hal yang sama.

Pada respon perilaku rata-rata sebelum diberikan latihan keterampilan sosial sebesar 17,00 dan setelah diberikan latihan keterampilan sosial sebesar 7,73. Berdasarkan nilai terhadap penilaian stresor pada respon perilaku pada tabel 4.17 menunjukkan terjadi penurunan respon negatif klien isolasi sosial sebesar 9,27 setelah mendapatkan terapi CBSST.

Respon prilaku maladaptif yang dilakukan 14 klien halusinasi adalah diam seperti menikmati yang mengasikkan turun menjadi 6 klien (57,1%), sedangkan masalah isos dari 15 klien. yang lebih senang sendiri setelah diberikan terapi keperawatan 10 orang klien menunjukkan kemauan untuk melawan pikiran negative dan merubah perilaku negative dengan melakukan interaksi dengan teman-temannya di ruangan, walaupun masih ada 5 orang klien yang memerlukan motivasi dari perawat untuk melakukan sosialisasi. Sebelum diberikan terapi CBSST, 15 orang klien malas melakukan aktifitas, namun setelah di berikan terapi, 10 orang klien menunjukkan ketertarikan dan kemampuan untuk melakukan aktifitas yang sudah dijadwalkan di ruangan dengan mandiri dan 5 orang klien kadang-kadang masih perlu pendampingan dan motivasi untuk melakukan aktifitasnya.

Rata-rata respon fisiologis sebelum diberikan latihan CBSST sebesar 11,00 dan setelah diberikan latihan keterampilan sosial sebesar 7.13. Berdasarkan nilai terhadap penilaian stresor pada respon fisiologis pada tabel 3.17 menunjukkan terjadi penurunan respon negatif klien halusinasi dan isolasi sosial sebesar 3,87 setelah mendapatkan terapi CBSST. Respon fisiologis yang banyak ditemukan pada klien adalah gangguan tidur pada lelah, letih dan lesu pada 13 klien, setelah pemberian terapi keperawatan gangguan tidur, perasaan letih, lesu dan lelah berkurang menjadi 5 klien sedangkan 5 klien lainnya tidak merasakan adanya perubahan tersebut. Respon fisiologis tidur lebih banyak tidak mengalami perubahan setelah diberikan terapi. Hal ini disebabkan dampak dari pemberian obat antipsikotik yang diberikan pada klien

Rata-rata respon sosial sebelum diberikan terapi latihan keterampilan CBSST sebesar 22,67 dan setelah diberikan terapi latihan keterampilan CBSST sebesar 8,60 Berdasarkan nilai terhadap penilaian stresor pada respon sosial pada tabel 3.17 menunjukkan terjadi penurunan respon sosial klien halusinasi dan isolasi sosial sebesar 14,07 setelah mendapatkan terapi CBSST. Respon maldaptif yang ditemukan adalah 14 klien tidak tertarik dengan kegiatan harian, setelah pemberian terapi turun menjadi 6 klien saja. Untuk masalah isolasi sosial dari 15 klien yang menghindar dari orang lain, setelah diberikan turun menjadi 6 klien. Artinya 9 klien berespon positif terhadap interaksi sosial dan menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Tabel 3.18

Distribusi Hasil Kemampuan Sebelum Dan sesudah Diberikan Terapi CBSST pada Klien Halusinasi dan Isolasi Sosial di Ruang Yudistira RSMM Bogor

9 September – 12 November 2013 (n=17)

Variabel Min Max Mean

Kemampuan

Sebelum 8 12 9.23

Sesudah 11 19 15.20

Selisih 3 7 5.97

Berdasarkan tabel 3.18 didapatkan hasil rata-rata kemampuan sosialisasi klien sebelum diberikan terapi SST yaitu 9,23 dan setelah mendapatkan terapi CBSST mengalami peningkatan menjadi 15.20. Peningkatan kemampuan yang dicapai sebesar 5,97. Hal ini berarti bahwa terdapat peningkatan kemampuan klien bersosialisasi.

Sebelum mendapat terapi CBSST, keseluruhan klien belum mampu mengidentifikasi pikiran dan perilaku negative yang dialami serta cara melawan pikiran negative dan merubah perilaku negative, klien juga memiliki keterbatasan dalam melakukan sosialisasi. Sebagian besar klien belum mampu menjalin persahabatan , berbicara saat bekerjasama dalam kelompok serta menghadapi situasi sulit. Setelah mendapatkan terapi, keseluruhan klien mampu berbicara memperkenalkan diri dengan sikap yang baik dan suara yang jelas terdengar,

mampu menjalin persahabatan dan memiliki teman akrab, dan 13 klien yang mampu menghadapi situasi sulit. 2 orang klien masih membutuhkan pendampingan dari perawat untuk berlatih sesi 4 tersebut.

Tabel 3.19

Distribusi Hasil Kemampuan Keluarga Sebelum dan Setelah Diberikan Terapi Psikoedukasi Keluarga di Ruang Yudistira RSMM Bogor

9 September – 12 November 2013 (n=6)

Variabel Min Max Mean

Kemampuan Merawat

Sebelum 6 7 6,5

Sesudah 10 11 10,25

Selisih 4 4 3,75

Berdasarkan tabel 4.19 didapatkan hasil rata-rata kemampuan keluarga klien sebelum diberikan terapi FPE yaitu 6,5 dan setelah mendapatkan terapi FPE mengalami peningkatan menjadi 10,25. Peningkatan kemampuan yang dicapai sebesar 3,75. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan keluarga merawat klien setelah diberikan terapi psikoedukasi keluarga yang meliputi peningkatan kemampuan dalam merawat klien dengan halusinasi dan isolasi sosial, peningkatan kemampuan manajemen stres keluarga dimana rata-rata keluarga mendapatkan terapi relaksasi berupa hipnosis 5 jari, progressive muscle relation dan thought stopping. Selain itu keluarga mengatakan sudah mampu untuk melakukan manajemen beban dalam merawat anggota keluarga jika sudah pulang nantinya dan mau memanfaatkan sumber daya pelayanan kesehatan yang ada seperti RS dan puskesmas untuk membawa klien kontrol.

3.9 Kendala

3.9.1 Klien

Kemampuan klien yang berbeda-beda dalam menerima informasi selama mengikuti terapi CBSST menyebabkan frekuensi pertemuan tiap sesi berbeda beda. Ada klien membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk satu sesi latihan karena insight dan keinginan untuk berinteraksi tidak ada, sehingga klien kurang termotivasi untuk melakukan pembelajaran. Beberapa klien yang terlihat kurang termotivasi dalam mengikuti latihan CBSST karena klien berpikir bahwa dirinya tidak akan sembuh

walaupun sudah mengikuti latihan dan latihan yang diberikan tidak akan mempercepat klien untuk pulang. Selain itu pemberian obat-obatan golongan antipsikotik tipikal seperti haloperidol,chlorformazine dan triheksipenidil pada seluruh klien mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan terapi. Efek samping penggunaan jangka panjang obat-obatan ini akan memperberat gejala negatif yang ada. Penurunan motivasi untuk melakukan aktifitas termasuk motivasi untuk melakukan interaksi sosial dan emosi yang tumpul.

3.9.2 Keluarga

Keluarga sangat jarang menjenguk klien hal ini menunjukkan motivasi atau kesadaran keluarga dalam membantu perawatan klien juga masih kurang . Berbagai alasan yang disampaikan keluarga seperti jarak rumah yang jauh dari rumah sakit, sibuk bekerja dan kendala biaya serta keinginan anggota keluarganya di rawat lebih lama lagi di rumah sakit dengan alasan takut terjadi kekambuhan.

3.9.3 Lingkungan Perawatan

Ruangan Yudistira adalah ruangan yang dipergunakan sebagai tempat praktik berbagai institusi keperawatan. Banyaknya jumlah mahasiswa yang praktik lebih besar dari jumlah klien yang dirawat. Hal ini menyebabkan kejenuhan pada klien karena mendapatkan pertanyaan ataupun terapi generalis yang sama dari perawat yang berbeda. Akibatnya klien cenderung mengurangi interaksi dengan perawat. Selain itu lingkungan yang padat dapat mengurangi konsentrasi klien saat melakukan latihan. Hal lain yang dirasakan sebagai kendala adalah tidak ada ruangan khusus untuk TAK dimana pelaksanaan TAK dilakukan di ruang makan, ruang diskusi dan di halaman depan ruangan.