• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Evaluasi Medication Errors (ME) Fase Administrasi

Proses evaluasi ME pada kasus yang menerima obat golongan antiemetik di RS Bethesda Yogyakarta periode Agustus 2008 dilakukan secara prospektif dengan mengamati penggunaan obat oleh pasien, baik ketika pasien di rawat di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta maupun di tempat tinggal pasien ketika dilakukan home visit. Identifikasi ME hanya dilakukan pada fase administrasi dan hanya pada obat-obat golongan antiemetik.

Gambar 11. Persentase Kejadian ME pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Berdasarkan hasil evaluasi terjadinya ME, dari 23 kasus yang dievaluasi terdapat 5 kasus atau 21,7% yang tidak terjadi ME dan 18 kasus atau 78,3% yang terjadi ME. Hasil evaluasi ME yang terjadi meliputi administration errors sebanyak 8 kasus atau 34,8%, dosis keliru sebanyak 8 kasus atau 34,8%, salah menulis instruksi sebanyak 1 kasus atau 4,3%, instruksi verbal dijalankan keliru sebanyak 1 kasus atau 4,3%, dan kontraindikasi sebanyak 5 kasus atau 21,7%.

44   

Kejadian ME yang ditemukan, semuanya terjadi saat pasien masih dirawat di bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta. Berdasarkan hasil evaluasi ME, diketahui pula bahwa dari 23 kasus, terdapat 34,8% yang berpotensi mengalami kejadian ME dan 65,2% kasus yang secara aktual mengalami kejadian ME.

Tabel XXIV. Pengelompokkan Kejadian ME di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008

Jenis ME Jumlah Kasus Persentase (%)

Administration error 8 34,8

Dosis keliru 8 34,8

Salah menulis instruksi 1 4,3

Instruksi verbal dijalankan keliru 1 4,3

Kontraindikasi 5 21,7

1. ME administration error

Kejadian ME administration error dapat menyebabkan kerugian bagi pasien, misalnya efek terapi obat menjadi kurang optimal.

Tabel XXV. Kelompok Kasus ME Administration Error pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008 Kasus Kejadian ME Sifat ME Kategori

ME

1

Pada tanggal 12 Agustus 2008 kasus mengalami mual namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Potensial A

2

Pada tanggal 24 Agustus 2008 kasus mengalami mual dan muntah namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Potensial A

3

Pada tanggal 28 Agustus 2008 kasus mengalami mual, namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Potensial A

6

Pada tanggal 25 Agustus 2008 kasus mengalami mual dan muntah namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Potensial A

13

Pada tanggal 13 Agustus 2008 kasus mengalami mual namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Potensial A

16

Pada tanggal 17 Agustus 2008 kasus mengalami mual namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Potensial A

17

Pada tanggal 16 Agustus 2008 kasus mengalami mual namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Potensial A

20

Pada tanggal 19 Agustus 2008 kasus mengalami mual namun berdasarkan daftar pemberian obat, obat golongan antiemetik tidak diberikan.

Kejadian ME administration error pada kasus 1, 2, 3, 6, 13, 16, 17,dan 20 adalah tidak adanya keterangan pada daftar pemberian obat, apakah obat golongan antiemetik yang bersangkutan telah diberikan atau belum. Terdapat dua kemungkinan yang dapat terjadi di sini, yaitu kemungkinan pertama adalah pada kasus-kasus ini obat golongan antiemetik memang tidak diberikan. Jika kemungkinan ini terjadi maka dapat merugikan kasus karena pada saat itu kasus sedang mengalami mual dan / atau muntah sehingga membutuhkan obat golongan antiemetik. Kemungkinan kedua yang dapat terjadi adalah pada kasus-kasus ini obat golongan antiemetik sebenarnya diberikan, namun terdapat ketidakberesan dalam pencatatan daftar pemberian obat. Jika kemungkinan ini terjadi, maka pemberian obat golongan antiemetik dapat saja menjadi double bila tidak ada koordinasi antara tenaga kesehatan (dalam hal ini perawat) satu dengan yang lain. Kejadian ME administration error pada kasus-kasus ini bersifat potensial, karena kejadian ME administration error ini belum tentu terjadi. Pada penelitian ini terdapat 34,8% kasus yang berpotensi mengalami ME administration error dengan kategori A .

2. ME dosis keliru

Medication error dosis terlalu rendah dapat menyebabkan efek terapi yang diharapkan menjadi kurang optimal. Berdasarkan British National Formulary, metocloparamid injeksi diberikan 3 kali 1 ampul (10 mg/2 ml) per-hari, namun pada kasus 4, 5, 8, 10, 11, 12, 16, dan 19, metoclopramid injeksi hanya diberikan 2 kali 1 ampul (10 mg/2 ml) per-hari. Kejadian ME dosis keliru pada kasus-kasus ini bersifat aktual, karena kejadian ME dosis keliru ini sudah

46   

benar-benar terjadi. Kategori C yang dimaksud di sini adalah obat mencapai pasien dan sudah terlanjur diminum / digunakan. Pada penelitian ini terdapat 34,8% kasus yang secara aktual mengalami ME dosis keliru dengan kategori C .

Tabel XXVI. Kelompok Kasus ME Dosis Keliru pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008 Kasus Kejadian ME Sifat ME Kategori

ME 4, 5, 8, 10,

11, 12, 16, 19

Pemberian metoclopramid injeksi kurang tepat karena dosis yang diberikan kurang dari dosis yang seharusnya diberikan, yaitu 3x/hari 1 ampul (10 mg/2 ml). Kasus 4, 5, 8, 10, 11, 12, 16, 19 hanya mendapatkan 1 ampul (10 mg/2 ml) 2x/hari.

aktual C

3. ME salah menulis instruksi

Medication error salah menulis instruksi dapat menyebabkan terjadinya ME lain, misalnya administration error. Oleh sebab itu menulisan instruksi penggunaan obat baik pada etiket maupun pada form daftar pemberian obat harus benar-benar diperhatikan.

Tabel XXVII. Kelompok Kasus ME Salah Menulis Instruksi pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus

2008

Kasus Kejadian ME Sifat ME Kategori ME

3

Metoclopramid (dalam hal ini Primperan®) seharusnya diberikan ½ jam sebelum makan,namun instruksi yang tertulis pada daftar pemberian obat metoclopramid diberikan saat makan.

Aktual C

Pada penelitian ini ME salah menulis instruksi terjadi pada 1 kasus, yaitu pada kasus 3. Pada kasus ini terjadi kesalahan menulis instruksi pada daftar pemberian obat. Kesalahan menulis instruksi pada daftar pemberian obat sangat memungkinkan terjadinya ME administration error. Kategori C yang dimaksud di sini adalah obat mencapai pasien dan sudah terlanjur diminum / digunakan. Kejadian ME salah menulis instruksi pada kasus 3 ini bersifat aktual, karena kejadian ME salah menulis instruksi ini sudah benar-benar terjadi. Pada

penelitian ini terdapat 4,3% kasus yang secara aktual mengalami ME salah menulis instruksi dengan kategori C .

4. ME instruksi verbal dijalankan keliru

Pada penelitian ini ME instruksi verbal dijalankan keliru terjadi pada kasus 11. Pada kasus ini obat (domperidon) digunakan setelah makan oleh pasien, padahal instruksi penggunaan obat 15-30 menit sebelum makan. Kategori C yang dimaksud di sini adalah obat mencapai pasien dan sudah terlanjur diminum / digunakan. Kejadian ME instruksi verbal dijalankan keliru pada kasus 11 ini bersifat aktual, karena kejadian ME instruksi verbal dijalankan keliru ini sudah benar-benar terjadi. Pada penelitian ini terdapat 4,3% kasus yang secara aktual mengalami ME instruksi verbal dijalankan keliru dengan kategori C .

Tabel XXVIII. Kelompok Kasus ME Instruksi Verbal Dijalankan Keliru pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode

Agustus 2008

Kasus Kejadian ME Sifat ME Kategori ME

11

Pasien menggunakan domperidon setelah makan, padahal instruksi penggunaan domperidon adalah 15-30 menit sebelum makan.

Aktual C

5. ME kontraindikasi

Pada penelitian ini ME kontraindikasi terjadi pada lima kasus. Berdasarkan British National Formulary, domperidon kontraindikasi pada pasien dengan gangguan fungsi hati, namun pada kasus 7, 14, 20, dan 21, domperidon tetap diberikan pada pasien yang mengalami ketidaknormalan angka SGOT/SGPT yang merupakan penanda fungsi hati. Selain itu, kontraindikasi juga terjadi pada kasus 8, yaitu metoclopramid diberikan 2 hari post-appendectomy padahal metoclopramid kontraindikasi pada pasien yang 3-4 hari post-operasi

48   

gastrointestinal. Kejadian ME kontraindikasi pada kasus-kasus ini bersifat aktual, karena kejadian ME instruksi verbal dijalankan keliru ini sudah benar-benar terjadi.Pada penelitian ini terdapat 21,7% kasus yang secara aktual mengalami ME kontraindikasi dengan kategori D.

Tabel XXIX. Kelompok Kasus ME Kontraindikasi pada Kasus di Bangsal dewasa kelas III RS Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008 Kasus Kejadian ME Sifat ME Kategori

ME

7

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

8

metoclopramid kontraindikasi pada pasien yang 3-4 hari post-operasi gastrointestinal. Pada kasus ini metoclopramid diberikan 2 hari post-appendectomy.

Aktual D

14

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

20

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

21

Berdasarkan data hasil laboratorium, pada kasus terdapat ketidaknormalan pada angka SGPT/SGOT yang merupakan penanda fungsi hati. Domperidon kontraindikasi pada gangguan fungsi hati.

Aktual D

Dokumen terkait