Salah satu model pemasyarakatan penerapan PHT yang dinilai cukup berhasil mewujudkan petani sebagai ahli PHT adalah Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Pelaksanaan SLPHT telah berkembang, yang semula hanya pada komoditas padi, saat ini meluas ke komoditas palawija. Salah satu faktor keberhasilan pelaksanaan SLPHT adalah peran Pemandu Lapangan (PL) sebagai fasilitator SLPHT. Untuk mengindikasikan keberhasilan SLPHT perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap perbaikan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), tindakan (psikomotorik) petani dan kepemanduan SLPHT. Untuk mengetahui efektivitas, dampak dan permasalahan-permasalahan yang muncul dalam
pelaksanaan SLPHT, dipandang perlu melakukan evaluasi pelaksanaan dan kepemanduan SLPHT.
Evaluasi Pelaksanaan dan Kepemanduan SLPHT telah dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat dan diikuti oleh penanggung jawab dan Pemandu Lapangan kegiatan SLPHT dari 32 provinsi. Pertemuan Evaluasi juga mengundang Narasumber Dr. Gatot Mudjiono, Dr. Suryo Wiyono, dan Prof. M.A. Yunita T. Winarto. Beberapa hal yang dihasilkan sebagai berikut;
1. Kegiatan SLPHT merupakan sarana dan proses pembelajaran bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam pengelolaan agroekosistem secara mandiri dan berkelanjutan sehingga produktivitas lahan yang dikelolanya pada taraf tinggi, OPT terkendali, keuntungan optimal dan lingkungan relatif aman.
2. Jumlah unit SLPHT yang dibiayai oleh APBN sejak tahun 2007 sampai dengan 2011 mengalami penurunan, yaitu dari 1.025 unit pada tahun 2007 menjadi 502 unit pada tahun 2011. Namun pada tahun 2012, jumlah SLPHT meningkat menjadi 1.950 unit, dan pada tahun 2013 direncanakan 2.450 unit yang tersebar di 32 provinsi.
3. Beberapa kendala pelaksanaan SLPHT yang ditemukan di lapangan antara lain:
a. Masih kurangnya pemandu lapangan sehingga pelaksanaan SLPHT kurang optimal.
b. Kesulitan penentuan Calon Petani Calon Lokasi (CP/CL) secara tepat antara lain terkait kepemilikan lahan, usia produktif, dan komposisi gender.
c. Pencairan dana pelaksanaan SLPHT yang seharusnya dimulai pada awal musim tanam sering kali terlambat sehingga menghambat pelaksanaan SLPHT.
d. Tugas Pemandu Lapangan semakin berat dengan semakin banyaknya tugas-tugas lain di luar bidang perlindungan tanaman dan tugas-tugas administratif terkait pelaksanaan kegiatan
e. Masih terbatasnya pembinaan dan pemberdayaan alumni SLPHT f. Pelaksanaan SLPHT masih mempertimbangkan pemerataan/
penyebarluasan sehingga penguasaan/pendalaman petani dalam penerapan PHT masih terbatas.
g. Terjadi kecenderungan bahwa SLPHT tidak diarahkan kepada penggalian potensi dan strategi dalam pengelolaan agroekosistem,
tetapi lebih diarahkan kepada pengenalan dan penerapan teknologi baru.
h. Peningkatan jumlah formulasi dan promosi pestisida sehingga semakin banyak petani yang cenderung kembali menggunakan bahan-bahan kimia
4. Untuk meminimalkan kendala pelaksanaan SLPHT di lapangan, persiapan pelaksanaan (H-Min) perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu, pertemuan persiapan SLPHT harus dilaksanakan seoptimal mungkin yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Analisis peran (siapa mengerjakan apa)
b. Penelusuran budidaya petani (pemetaan kebiasaan petani) c. Penentuan calon lokasi dan petani calon peserta yang tepat
d. Penentuan studi kasus/studi petani disesuaikan dengan kebutuhan daerah/lahan pertanaman dan keadaan OPT
e. Penetapan kontrak belajar yang kondusif
5. Hasil evaluasi terhadap 5 (lima) indikator utama pelaksanaan SLPHT padi pada tahun 2011 sebanyak 366 unit yang tersebar di 31 provinsi, sebagai berikut :
a. Rata-rata pengetahuan dan kemampuan peserta terhadap teknologi PHT mengalami peningkatan (74,83 %), dan nilai pre test rata-rata 43,51 menjadi nilai post test 76,07
b. Rata-rata intensitas serangan OPT utama pada petak PHT adalah 6,29 % lebih rendah dibandingkan dengan pada petak non PHT (10,18 %).
c. Rata-rata frekuensi aplikasi pestisida kimia pada petak PHT adalah 0,98 kali, lebih rendah dibandingkan dengan petak non PHT (3,52 kali)
d. Rata-rata produktivitas pada petak PHT adalah 60,71 ku/ha, lebih tinggi (17,02%) dibandingkan dengan pada petak non PHT (51,88 ku/Ha)
e. Rasio keuntungan dan biaya usahatani (B/C Ratio) pada petak PHT sebesar 2,27, lebih tinggi (21,39 %) dibandingkan dengan pada petak non PHT (1,87).
6. Pemasyarakatan PHT dapat dikembangkan melalui tahapan pengenalan, implementasi, dan penguatan PHT sehingga selain tercapai jumlah dan peningkatan kemampuan peserta, diharapkan dapat
meningkatkan penerapan PHT dan terbangunnya sistem PHT dalam skala lebih luas.
7. Dampak SLPHT terhadap perubahan kebiasaan petani dapat lebih optimal apabila kegiatan SLPHT dilakukan minimal 3 kali secara berurut-turut pada kelompok tani yang sama. Berdasarkan penelitian selama 20 tahun oleh Prof. M.A. Yunita T. Winarto Antropolog dari Universitas Indonesia, SLPHT yang hanya dilaksanakan satu kali pada satu kelompok belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam peningkatan penerapan PHT. Untuk itu keberlanjutan pelaksanaan SLPHT bagi alumni SLPHT perlu diupayakan, antara lain melalui SLPHT Tindak Lanjut yang pada tahun ini mulai dilaksanakan serta mendorong pelaksanaan SLPHT swadaya (terutama dari petani ke petani).
8. Untuk dapat memasyarakatkan PHT secara luas, masif dan berkelanjutan perlu dibentuk kelembagaan PHT di tingkat kecamatan yang didukung tokoh-tokoh masyarakat, petugas pertanian dan pimpinan daerah.
9. Kecamatan PHT merupakan kecamatan yang telah menerapkan kaidah-kaidah PHT dalam budidaya tanaman dan melembaga di masyarakat sehingga serangan OPT terkendali, produksi aman konsumsi dan lingkungan lestari. Kecamatan PHT diperlukan sebagai mercusuar atau indikator keberadaan program PHT. Kecamatan PHT antara lain dicirikan dengan:
a. Adanya penerapan dan keberlanjutan penerapan PHT b. Adanya indikasi terjadinya penurunan luas serangan OPT
c. Adanya dukungan SDM petani, petugas jajaran pertanian, pelayan masyarakat, dan tokoh masyarakat yang bahu membahu dalam menerapkan dan memasyarakatkan PHT.
d. Adanya penguatan Kelembagaan PHT dengan terbentuk dan berfungsinya jejaring petani seperti adanya jejaring petani/kelompok tani alumni SPHT yang dapat berperan sebagai penyedia komponen sarana produksi pertanian (benih, pupuk organik, agens hayati, dll).
10. Keberhasilan SLPHT ditentukan oleh peran Pemandu Lapangan (PL) yang memiliki kompetensi di bidang kepemanduan SLPHT. Saat ini jumlah PL terbatas, dan sebagian besar dalam waktu dekat akan memasuki purna tugas. Upaya yang dilakukan adalah meningkatkan
kuantitas dan kualitas PL melalui Training of Trainers (TOT) PL-SLPHT, baik TOT PL I di tingkat Pusat maupun TOT PL II di tingkat provinsi. 11. Kegiatan prioritas yang diperlukan untuk pengembangan SLPHT Tahun
2013 dan 2014 antara lain sebagai berikut: a. TOT PL I dan TOT PL II
b. Pertemuan koordinasi PL I dan PL II sebelum pelaksanaan kegiatan; c. Lokakarya PL I dan PL II di tingkat provinsi
d. Pelatihan teknis bagi calon Petani Pengamat dan Petani Pemandu e. Apresiasi bagi petugas Pemandu Lapangan, Petani Pengamat, dan
Petani Pemandu
f. Magang pengembangan agens hayati bagi petani alumni SLPHT g. Studi banding ke lokasi SLPHT yang sudah maju bagi petani alumni
SLPHT
h. Sosialisasi PHT kepada seluruh lapisan masyarakat, misalnya kepada murid sekolah, tokoh masyarakat, dan aparat setempat.