• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PEMILU LEGISLATIF 2014: PROVINSI DI ACEH

Dalam dokumen EVALUASI PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF tahun (Halaman 166-183)

MAWARDI ISMAIL DAN AYI JUFRIDAR

I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Provinsi Aceh berada di bagian paling barat Indonesia. Provinsi yang luasnya 5.677.081 ha dan jumlah penduduk 4.693.900 jiwa, terdiri atas 18 kabupaten dan tiga kota, 289 Kecamatan, 778 mukim dan 6.493 gampong (desa)i. Provinsi ini masih tergolong agraris,dimana sebagian besar penduduknya masih tergantung pada pertanian. Pertanian masih merupakan sektor yang memberikan porsi paling besar dalam penyerapan tenaga kerja yakni 46,86 persen diikuti oleh sektor jasa (19,67 persen, dan perdagangan (15,70 persen). Sisanya sektor industri pengolahan (4,11 persen) dan lainnya (13,66 persen)i.

Aceh merupakan salah satu provinsi yang memiliki kekhususan dalam bidang pemerintahan daerah. Kekhususan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 mengatur juga tentang Pemiluhan Umum Legislatif, khususnya tentang keikutsertaan partai politik lokal, serta tentang lembaga penyelenggara pemilihan umum. Ketentuan ini merupakan implementasi dari MoU Helsinki yang ditandatangani Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 15 Agustus 2005.i

Pemilu legislatif 2014 di Aceh berlangsung lancar dan aman di tengah merebaknya kekhawatiran adanya aksi teror seperti kekerasan, pembakaran, pengrusakan, dan pemukulan. Beberapa kasus kekerasan yang terjadi sebelum pemungutan suara antara lain pembakaran kendaraan kader Partai Nasional Aceh (PNA) di Aceh Utara, penembakan kader partai PNA di Kabupaten Pidie dan Aceh Utara, penculikan kader PNA di Aceh Utara, pembakaran Posko Nasdem di Aceh Utara, penculikan kader Nasdem di Aceh Timur, serta sejumlah aksi kekerasan lainnya. Di tengah teror kekerasan tersebut, pemungutan dan penghitungan suara tanggal 9 April 2012 berjalan lancar.

Dengan kekhususan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, terdapat sejumlah perbedaan pelaksanaan pemilu legislatif di Aceh dengan pemilu di daerah lainnya di Indonesia, terutama pada sistem rekrutmen penyelenggara, nama penyelenggara, jumlah calon anggota legislatif dan persyaratan tambahan, serta adanya keikutsertaan partai politik lokal. Perbedaan tersebut menimbulkan polemik dalam proses pelaksaaan tahapan demi tahapan pemilu di Aceh.

Jumlah pemilih dalam pileg di Aceh yang tercatat dalam DPT, DPTB, DPK, dan DPKTB tercatat 3.370.844 pemilih. Dan yang menggunakan hak pilih berjumlah 2.615.264 atau 77,58 persen. Jumlah suara tidak sah untuk DPR adalah 11,43 persen, untuk DPD 14,34 persen, dan untuk DPR Aceh 8,26 persen.i

Pemilu legislatif di Aceh juga melibatkan tujuh anggota KIP Provinsi, 115 anggota KIP di 23 kabupaten dan kota, 1.445 anggota PPK di 289 PPK, 19.365 anggota PPS di 6.455

166

desa/gampong, serta 75.873 anggota KPPS yang bekerja di 10.839 TPS yang tersebar di seluruh Aceh.i

b. Ruang Lingkup dan Tujuan Penelitian

Penelitian ini meliputi penelitian terhadap kerangka hukum (legal framework), pelaksanaan pemilihan umum dan hal-hal lain yang terkait dengan pemilihan umum legislatif di Aceh. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui dan menjelaskan tentang kerangka hukum (legal framework) yang ada, terutama yang berlaku di Aceh, serta bagaimana pelaksanaan pemilihan umum legislatif 2014 berlangsung di Aceh.

c. Metodologi Penelitian

Lokasi dan Populasi penelitian

Penelitian dilakukan di Provinsi Aceh, sedangkan yang menjadi populasinya

adalah semua pihak dan semua hal yang terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum legislatif, yang meliputi kerangka hukum (legal framework), penyelenggara, pemantau, peserta, pemilih dan pengamat/akademisi.

Cara pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara:

1. Melakukan kajian terhadap dokumen yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu, antara lain: buku, peraturan perundang-undangan, media cetak, dokumen lainnya dari penyelenggara seperti berita acara rapat, surat-surat, serta data tertulis lainnya.

2. Wawancara dengan narasumber, meliputi: Penyelenggara (KIP, Bawaslu dan, pemeriksa daerah DKPP); pengurus partai politik (nasional dan lokal); akademisi , pengamat dan pemantau, serta pemilih.

3. Observasi langsung di lapangan terhadap sejumlah tahapan pemilu legislatif (penelitian partisipatif).

Analisis data

Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.

II. ELECTORAL LAW

Ketentuan hukum yang berlaku untuk pelaksanaan pemilihan umum legislatif di Aceh pada umumnya adalah sama dengan yang berlaku secara nasional, yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011, kecuali yang diatur lain dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006. Ketentuan tentang pemilihan umum untuk anggota DPR-RI dan DPD-RI, sepenuhnya mengikuti ketentuan yang berlaku secara nasional. Persoalan hukum yang ada terkait dengan adanya ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, yang terkait dengan lembaga penyelenggara, keikutsertaan partai politik lokal untuk pemilihan umum anggota DPRA/DPRK, dan beberapa penyimpangan terkait dengan pencalonan anggota DPR Aceh (untuk provinsi) dan DPRK (untuk kabupaten dan kota).

167

a. Nama Lembaga Penyelenggara

Ada perbedaan regulasi tentang nama dan pembentukan lembaga penyelenggara serta proses rekrutmen anggotanya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, lembaga penyelenggara pemilihan umum anggota DPR-RI, DPD-RI, dan DPRD di Aceh adalah KIP Aceh dan KIP Kab/Kota di Aceh (nama lain untuk KPUD). Ketentuan tentang KIP diatur dalam UU No.11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, sementara ketentuan tentang KPUD di provinsi lain diatur dalam UU No.15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Ketentuan tentang KIP dalam UU No.11 Tahun 2006, diakui keberadaannya berdasarkan Pasal 123 UU No.15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilu.

Menilik sejarahnya, KIP sebagai nama lembaga penyelenggara pemilihan umum berasal dari Undang Undang Nomor 18 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh dalam Bentuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (tatkala itu secara nasional belum ada lembaga bernama KPU). Dalam UU Nomor 18 Tahun 2001 disebutkan pemilihan diselenggarakan oleh Komisi Independen Pemilihani yang membahas tentang tugas-tugas dalam pemilihan kepala daerah secara langsung (yang secara nasional belum dilaksanakan). Selanjutnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, lembaga bernama KIP tersebut diberikan tugas untuk menyelenggarakan pemilihan umum presiden dan wakil presiden.i

Pasal 57 ayat (1) UU No.11 Tahun 2006 menetapkan bahwa anggota KIP Aceh berjumlah 7 (tujuh) orang, dan anggota KIP kabuten/kota berjumlah 5 (lima) orang. Anggota KIP Aceh diusulkan oleh DPRA, dan anggota KIP Kab/Kota diusulkan oleh DPRK. Pengusulan anggota KIP dilakukan dengan pembentukan tim adhoc, oleh DPR Aceh dan DPRK.

Sejumlah komisioner dan sekretariat KIP di Aceh mengakuii, perbedaan nama lembaga tersebut memberikan permasalahan tersendiri dalam pelaksanaan pemilu di Aceh. Dalam proses pencairan anggaran yang bersumber dari APBN, KIP di Aceh harus menggunakan stempel Komisi Pemilihan Umum, demikian juga dengan penyebutan nama lembaga ketika mendapatkan tugas atau mengikuti kegiatan di luar daerah, hanya menggunakan stempel KPUi. Dalam surat edaran dan peraturan yang diterbitkan KPU, nama KIP juga sering luput dari perhatian. KPU cenderung menggeneralisir penyebutan lembaga sebab hanya di Aceh satu-satunya yang menggunakan nama KIP, kendati dalam beberapa surat edaran, KPU juga mulai terbiasa menggunakan sebutan KIP bagi penyelenggara pemilu di Aceh.

Sebelumnya, KIP Aceh tidak memiliki dasar hukum mengenai tata naskah dinas kendati mereka tetap menggunakan dua stempel, dua lambang, dan dua nama lembaga untuk satu kedinasan. Baru belakangan ini KIP Aceh membuat tata naskah dinas yang menjadi dasar hukum penggunaan dua lambang dua stempel dan dua nama lembaga.

Pada pilkada 2006, KIP Aceh bahkan pernah memakai lambang Pemerintah Daerah Provinsi Aceh tanpa ada yang mempesoalkan legalitasnya, seolah lembaga independen tersebut merupakan bagian dari satuan kerja dinas Pemerintah Aceh. Seperti diakui oleh Ridwan Hadi, selain mengganggu irama hubungan antara KPU dengan KIP di Aceh, perbedaan tersebut juga mengganggu tata pengelolaan keuangan. Meski sudah ada dasar hukum bahwa KIP di Aceh merupakan bagian dari KPU, dasar tersebut tidak diakui dalam pengelolaan keuangan.

168

Bahkan, terkadang masalah kecil menjadi serius dalam pertanggungjawaban keuangan seperti kegiatan yang didanai dari APBN, tetapi lambang di spanduk telanjur menggunakan KIP. Secara fisik, lambang KIP dengan KPU tidak berbeda, hanya pada nama lembaga saja.Ditambahkan Ridwan Hadi, dalam aturan pengangkatan sekretaris pun tidak mengatur tentang tata cara pengangkatan sekretaris KIP, melainkan pengangkatan sekretaris KPUD. Untuk pengaturan tata persuratan, KIP Aceh harus menyesuaikan diri terhadap perbedaan tersebuti.

Masalah hukum lainnya adalah ada perbedaan penafsiran terhadap ketentuan Pasal 126 UU Nomor 15 tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilu.Pemerintah Aceh beranggapan bahwa pembiayaan penyelenggaraan pemilu didanai oleh APBN, oleh karenanya tidak dapat dibantu melalui APBA. Akibatnya, sampai sekarang, KIP Aceh belum menerima bantuan dana dari Pemerintah Aceh, sehingga sebagian programnya yang tidak cukup atau tidak mendapat alokasi dana dari APBN, tidak dapat dilaksanakan. Padahal, ketentuan perundang-undangan memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk menyalurkan bantuan pemilu kepada KPUD, sejauh tidak tumpang tindih dengan alokasi dalam APBN. Kemendagri kemudian menerbitkan surat edaran yang antara lain menyebutkan item-item kegiatan kepemiluan yang bersumber dari APBD, terutama untuk kegiatan sosialisasi yang tidak dialokasikan dalam APBN. Namun, surat edaran Kemendagri tersebut tidak dilaksanakan semestinya oleh Pemeritah Provinsi Aceh. Sedangkan di kabupaten dan kota, kondisinya lebih beragam. Sebagian pemerintahan kabupaten dan kota mengalokasikan dana untuk kegiatan KIP kabupaten dan kota, sedangkan sebagian lainnya tidak dengan berbagai alasan.

b. Rekrutmen KIP Aceh dan KIP Kabupaten/Kota

Rekrutmen Komisi Independen Pemilihan (KIP) di Aceh yang dilakukan DPR Aceh untuk anggota KIP Provinsi Aceh serta oleh DPRK untuk anggota KIP kabupaten dan kota, menyisakan potensi konflik kepentingan serta potensi persoalan independensi dan kapasitas lembaga serta output yang dihasilkan. Rekrutmen anggota penyelenggara Pemilu oleh DPRA/DPRK ditengarai tidak dapat menghasilkan penyelenggara pemilu yang independen, karena DPRA/DPRK dipengaruhi oleh partai politik dominani.

Proses rekrutmen komisioner KIP Aceh dan KIP kabupaten dan kota dimulai dengan pembentukan panitia seleksi berjumlah lima orang oleh Komisi A DPR Aceh dan DPRK setempat. Pengumuman penerimaan anggota timsel tersebut dilakukan secara terbuka melalui media massa yang dilakukan oleh sekretariat DPRA dan DPRK masing-masing kabupaten/kota. Untuk terpilih menjadi anggota panitia seleksi, harus mengikuti ujian tertulis dan wawancara dengan Komisi A DPRA/ DPRK masing-masing kabupaten/kota.

Standarisasi dan keterbukaan di masing-masing daerah terhadap kapasitas tim seleksi yang lulus sangat beragam. Di Kota Lhokseumawe, beberapa peserta berkapasitas yang sudah dikenal publik, justru tidak lulus. Namun, ada juga anggota panitia seleksi dinilai cukup punya kapasitas. Dengan kekuasaan penuh yang dimiliki Komisi A, membuat mereka bisa saja menitipkan orang-orangnya dalam panitia seleksi dan komisioner yang akan diluluskan.i Pertanyaan dalam ujian tertulis bagi calon komisioner di sejumlah kabupaten dan kota tidak mencerminkan kemampuan calon dalam melaksanakan tugas sebagai komisioner. Sebut saja, dalam ujian tertulis di Kota Lhokseumawe, terdapat pertanyaan: Siapa saja yang

169

menandatangani Perjanjian Helsinki antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Pertanyaan-pertanyaan lainnya lebih bersifat hafalan pasal dari Undang-Undang Nomo 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, termasuk pertanyaan berapa jumlah pasal dan bab dalam UU No.11 Tahun 2006.

Fit and Proper Test di Kabupaten Aceh Utara sempat bermasalah karena Komisi A DPRK menggugurkan calon komisioner dengan alasan tidak lulus uji mampu baca al-Quran. Padahal, tidak ada dasar hukum manapun termasuk dalam UU No.11 Tahun 2006 yang memberi ruang bagi Komisi A untuk menjatuhkan calon komisioner karena persyaratan membaca Al-Quran. Bahkan, UU No.11 Tahun 2006 Tetang Pemerintahan Aceh memerintahkan DPRK untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutatan terhadap 15 calon anggota KIP dan kemudian memberi peringkat satu sampai lima sebagai komisioner terpilih serta peringkat enam sampai 10 sebagai calon pergantian antarwaktu.

Persoalan tersebut membuat Ketua Komisi A DPRK Aceh Utara, Amiruddin B, sempat dilaporkan ke polisi dengan tudingan pencemaran nama baik. Sejumlah calon kimisioner yang dinilai tidak bisa membaca Al-Quran menggugat dan Amiruddin B sempat diperiksa polisi kendati kasus itu kemudian menguap tanpa penyelesaian tuntas.

Di kabupaten dan kota lain di Aceh, persoalan hukum juga terjadi dalam rekrutmen anggota KIP. Di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, hasil seleksi yang dilakukan Komisi A tidak mendapat pengesahan oleh paripurna karena pimpinan dewan menolak menganggendakan rapat paripurna. Pemberitahaan media waktu itu menyebutkan, pimpinan dewan menolak karena tidak ada orangnya yang lulus dalam lima besar komisioner. Di Aceh Tengah kemudian muncul dua versi anggota KIP, yakni versi Komisi A dan versi hasil paripurna DPRK. Anggota KIP Aceh Timur yang tidak diluluskan paripurna DPRK, secara terang-terangan menyebutkan dirinya bersama sejumlah teman-teman sudah menyerahkan sejumlah uang kepada Ketua Komisi A DPRK Aceh Tmur. Komposisi keanggotaan KIP Aceh Timur kemudian sampai ke PTUN dan PT-TUN yang mengesahkan anggota KIP Aceh Timur yang benar adalah versi Komisi A (sementara anggota KIP versi paripurna DPRK sudah menyelesaikan tugasnya dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden. Sampai sekarang, keputusan PTUN tersebut belum bisa dieksekusi). Tolak-tarik kepentingan antara Komisi A, paripurna DPRK, serta kepentingan kepala daerah membuat KIP Aceh sempat membuat terjadinya kekosongan komisioner di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Timur, dan Kabupaten Nagan Raya. Tugas-tugas kepemiluan di empat kabupaten tersebut diambilalih KIP Aceh.i

Rekrutmen penyelenggara pemilu di Aceh yang dilakukan dewan, disahkan KPU, dan dilantik gubernur untuk KIP provinsi dan bupati/walikota untuk KIP kabupaten/kota, menciptakan rangkaian birokrasi panjang dan memberi peluang terhadap masuknya intervensi berbagai kepentingan, apalagi di tengah kondisi keterbukaan di daerah yang masih rendah. Di Kabupaten Aceh Tengah, setelah turunnya SK keanggotaan KIP dari KPU, ternyata belum menyelesaikan masalah. Bupati Aceh Tengah menolak melantik komisioner terpilih. Berkali-kali KIP Aceh menyurati Bupati Aceh Tengah untuk melantik, bahkan bertemu langsung. Namun, pelantikan tetap tidak dilakukan Bupati Aceh Tengah sampai kemudian datangnya surat dari gubernur Aceh.

Proses fit and proper test anggota KIP di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh – sebagaimana pemberitaan tidak berlangsung transparan, tidak bisa diakses masyarakat

170

dengan mudah. Di beberapa daerah seperti Aceh Utara dan Lhokseumawe, kualitas pertanyaan anggota dewan tidak berkorelasi dengan kemampuan calon komisioner untuk melaksanakan tugas selaku penyelenggara pemilu. Misalnya, pertanyaan siapakah yang membuat lambang Indonesia sekadar menyebut satu contoh.i

Menurut Ridwan Hadi, rekrutmen yang tidak dilakukan lembaga satu tingkat di atasnya tidak menciptakan hubungan emosional yang kental di antara komisioner kabupaten/kota, provinsi, dan pusat. Salah satu tugas dari anggota KIP kabupaten/kota adalah membantu tugas-tugas yang diberikan KIP provinsi. Ketika diseleksi oleh lembaga lain, loyalitas anggota KIP kabupaten/kota tidak sama jika diseleksi oleh KPU Provinsi seperti yang berlaku di daerah lain di seluruh Indonesia. Pelantikan yang berbeda jadwal juga menyulitkan pelaksanaan rapat kerja untuk pembekalan kerja-kerja komisioner kabupaten/kota. KIP Aceh kesulitan menyusun jadwal karena ketika KIP di sebuah kabupaten sudah mulai bekerja, KIP di kabupaten lain malah belum terbentuk.

c. Rekrutmen Bawaslu Aceh

DPR Aceh dan Gubernur Aceh menganggap kewenangan pengawasan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden ada pada Panitia Pengawas Sistem Rekrutmen Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga dipahami berbeda di Aceh oleh Bawaslu RI dengan DPR Aceh dan gubernur Aceh. Pemilihan yang bersifat adhoc, dan kewenangan untuk mengusulkan anggota Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) tersebut ada pada DPRA dan DPRK masing-masing kabupaten dan kota. Padahal dalam UU No.11 Tahun 2006 disebutkan lembaga yang dibentuk oleh DPR Aceh bernama Panwaslih yang bertugas melakukan pengawasan pemilihan gubernur, bupati, dan walikota. Perbedaan pandangan ini membuat pembentukan Bawaslu Aceh sempat terkatung-katung sehingga beberapa tahapan pemilu luput dari pangawasan.

DPR Aceh dan Pemerintah Aceh bahkan sempat mengancam akan menarik semua pegawai yang bekerja di sekterariat Bawaslu Aceh serta mengancam tidak akan mengizinkan penggunaaan sarana perkantoran milik pemerintah daerah. Ancaman ini kemudian diwujudkan dengan keluarnya surat dari Pemerintah Aceh kepada Bawaslu Aceh agar Bawaslu Aceh tidak menggunakan dan harus mengosongkan fasilitas gedung milik Pemerintah Aceh, serta Pemerintah Aceh akan menarik Pegawai Pemerintah Aceh yang selama ini diperbantukan pada Sekretariat Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh. Untungnya, sampai dengan sekarang, isi surat Pemerintah Aceh tersebut tidak direalisasikan, sehingga Bawaslu Aceh masih tetap menggunakan fasilatas kantor milik Pemerintah Aceh dan Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Aceh,juga masih tetap bekerja pada Sekretariat Bawaslu Aceh.

Ancaman ini membuat pembentukan Panwaslu di kabupaten dan kota juga tersendat. Panwaslu sangat berhati-hati dalam menggunakan pegawai sekretariat untuk menghindari terjadinya penarikan pegawai yang mengganggu proses pengawasan pemilu. Konflik tersebut juga menutup peluang Bawaslu Aceh dan Panwaslu Kabupaten/Kota untuk mendapatkan bantuan dana dari APBA/APBK untuk membiayai kegiatan yang alokasi anggarannya tak tercantum dalam DIPA APBN.

Polemik pembentukan Bawaslu Aceh dan Panwaslu Kabupaten/kota berawal ketika Bawaslu, sesuai dengan kewenangannya berdasarkan UU No.15 Tahun 2011 melakukan perekrutan

171

calon anggota Bawaslu Aceh sebagai lembaga permanen untuk pengawasan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden/Wakil Presiden. Ini dilakukan karena dalam UU No.11 Tahun 2006, hanya terdapat pengaturan tentang pembentukan Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) sebagai lembaga adhoc, untuk pengawasan pemilihan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan walikota/wakil walikota. Sedangkan untuk Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden/Wakil Presiden, sama sekali tidak ada pengaturannya dalam undang-undang tersebut (UU No.11 Tahun 2006)i.

Sebaliknya, DPRA dan Pemerintah Aceh menganggap bahwa Panwaslih yang diatur dalam UU No.11 Tahun 2006, juga mengawasi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden/Wakil Presiden, sehingga kewenangan pembentukannya ada pada DPRA/DPRK. Pendapat DPRA dan Pemerintah Aceh juga didasarkan pada Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum di Aceh. Dalam Qanun ini disebutkan bahwa kewenangan Panwaslih adalah mengawasi seluruh tahapan pemilu, baik pemilu legislatif, pemilu presiden/wakil presiden maupun pemilu gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan wali kota/wakil wali kota.

Sebenarnya ketentuan yang diatur dalam Qanun ini bertentangan dengan ketentuan Pasal 60 sampai dengan Pasal 62 UU No.11 Tahun 2006, yang ternyata hanya mengatur tentang Panwaslih untuk pemilihan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan wali kota/wakil wali kota. Panwaslih ini bersifat adhoc, yang tugasnya berakhir tiga bulan setelah pelantikan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan walikota/wakil walikota (Pasal 60 Ayat 3). Keberadaan Qanun ini ternyata luput dari pengawasan pembentukannya yang seharusnya dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri sehingga terjadi penolakan Bawaslu oleh DPRA dan Pemerintah Aceh.Penolakan juga dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk Panwaslu di masing-masing daerah. Komisi A DPR Aceh bahkan sempat memanggil seluruh Komisi A kabupaten/kota untuk penyeragaman sikap menolak Panwaslu yang dibentuk oleh Bawaslu Aceh.

d. Partai Politik Lokal dan Jumlah Calon Anggota DPRA/DPRK

Keberadaan partai politik lokal di Aceh diatur dalam Pasal 75 sampai dengan Pasal 95 UU Nomor 11 Tahun 2006, yang merupakan implementasi dari Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka, yang lebih dikenal dengan MoU Helsinki tanggal 15 Agustus 2005.i Ketentuan lebih lanjut tentang partai politik lokal di Aceh diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Partai Politik Lokal di Aceh.

Keikutsertaan partai lokal di Aceh dalam pemilu legislatif untuk anggota DPR Aceh dan DPR kabupaten/kota di Aceh diatur dalam Pasal 80 sampai dengan Pasal 90 UU No.11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Menurut Pasal 80 Ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2006, ketentuan lebih lanjut tentang pengaturan keikutsertaan partai lokal untuk memilih anggota DPRA dan DPRK di Aceh diatur dengan Qanun atau Peraturan Daerah Aceh.

Selanjutnya,Gubernur Aceh dengan persetujuan bersama DPRA menetapkan Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Partai Politik Lokal Peserta Pemilu Anggota DPRA dan DPRK. Pasal 17 Qanun tersebut memuat ketentuan bahwa daftar calon anggota DPR Aceh dan /DPR kabupaten dan kota di Aceh yang diajukan oleh partai lokal paling banyak 120

172

persen dari alokasi kursi di suatu daerah pemilihan. Ketentuan ini sebenarnya berasal dari ketentuan Pasal 54 UU No.10 Tahun 2008 Tentang Pemilu, yang juga dijadikan konsideran Mengingat pada Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2008. Ketika ketentuan Pasal 54 UU No.10 Tahun 2008 Tentang Pemilu telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi dengan UU No.8 Tahun 2012, seharusnya ketentuan Qanun Aceh No.3 Tahun 2008 juga harus menyesuaikan diri dengan ketentuan baru tentang pemilu.

Di samping itu, ketentuan Qanun Nomor 3 Tahun 2008, sesuai dengan namanya juga hanya mengatur tentang keikutsertaan partai lokal (tidak termasuk partai nasional ) dalam pemilu legislatif di Aceh. Oleh karena itu adalah keliru ketika ketentuan tentang partai lokal (terlepas dari apakah masih tetap berlaku), digunakan juga untuk partai nasional.

KIP Aceh berdalih bahwa mereka juga memberikan kewenangan mengajukan bakal calon 120 persen karena adanya kewajiban penyelenggara untuk memperlakukan peserta pemilu sama dan setarai. Ini juga dinyatakan dalam surat KIP Aceh Nomor 274/2181 tanggal 2 Juli 2013, sebagai jawaban terhadap surat Bawaslu Aceh Nomor 262/Bawaslu-Aceh/VI/2013

Dalam dokumen EVALUASI PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF tahun (Halaman 166-183)