• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Pendapatan Daerah

Dalam dokumen Midterm Review RPJMD 2010 2015 (Halaman 35-42)

EVALUASI KINERJA KEUANGAN

4.1. Evaluasi Pendapatan Daerah

Pendapatan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pendapatan asli daerah meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Dana perimbangan terdiri dari dana bagi hasil pajak/bukan bagi hasil pajak, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus. Sedangkan lain-lain pendapatan daerah yang sah meliputi hibah, dana darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi lainnya, dana penyesuaian dan otonom khusus serta bantuan dari pemerintah daerah lainnya.

Sejalan dengan perubahan undang-undang yang mengatur tentang pajak daerah dan retribusi daerah, yaitudari Undang-Undangan No 34 tahun 2000 menjadi Undang-Undangan No. 28 Tahun 2009, maka orientasi kebijakan pandapatan utama pemerintah Provinsi Sumatera Barat pada dua tahun terakhir lebih menekankan kepada penyusunan peraturan daerah untuk pelaksanaan undang- undang tersebut serta dampak pemberlakuan perubahan terhadap perkiraan pendapatan asli daerah. Di samping itu, juga dilakukan penyempurnaan terhadap pelaksanaan peraturan terkait sehingga mampu meningkatkan penerimaan daerah. Secara lebih khusus, kebijakan pendapatan yang dituangkan dalam RKPD tahun 2012 adalah sebagai berikut:

1. Penerapan Perubahan Perda tentang pajak dan retribusi

daerah, khususnya pengenaan pajak pada mobil plat merah, pajak progresif dan menaikan tarif pajak.

2. Peningkatan pelayanan kepada pajak daerah melalui

samsat keliling, samsat quick respon (SQR), drive thru

untuk mempermudah dan menambah akses wajib pajak.

3. Mengembangkan Sistem Informasi manajemen (SIM)

Samsat Link berbasis teknologi.

4. Mengintensifkan Razia kendaraan bermotor

5. Meningkatkan perubahan status rumah sakit daerah

menjadi BLUD

6. Pemberian insentif kepada pemungut retribusi, untuk

meningkatkan kinerja instansi pemungut.

7. Mengoptimalkan koordinasi dengan kabupaten kota dan

perusahaan-perusahaan yang beroperasi didaerah.

8. Mengoptimalkan inventarisasi izin pertambangan yang

diterbitkan kabupaten/kota, provinsi dan pusat.

9. Meningkatkan koordinasi dengan pemerintah pusat terkait

dengan dana DAU, DAK, Dana Penyesuain dan dana bagi hasil.

Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2012 juga telah menerapkan kebijakan pemutihan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, kendaraandengan nomor polisinon-BA. Kebijakan ini dilakukan agar berbagai jenis kendaraan non-BA yang beroperasi dan menikmati fasilitas jalan di Sumatera Barat juga membayar pajak kendaraan bermotor di Sumatera Barat.

Dengan kebijakan ini diharapkan penerimaan pajak

kendaraan bermotor pada tahun-tahun mendatang dapat ditingkatkan.

Evaluasi kinerja pendapatan daerah dapat dilakukan

dengan berbagai cara, antara lain berdasarkan

perkembangan/peningkatanrealisasi jumlah pendapatan.

Secara total, realisasi jumlah pendapatan daerah Provinsi Sumatera Barat mengalami peningkatan sebesar 33,8%, yaitu dari Rp. 2.184,0 Milyar pada tahun 2011 menjadi Rp.2.922,6 Milyar pada tahun 2012. Besarnya peningkatan pendapatan ini terjadi karena penerimaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah Pusat yang diakui/

diperlakukan sebagai bagian pendapatan hibah. Padahal setelah diterima, dana ini akan didistribusikan kembali kepada pemerintah kota/kabupaten. Dana BOS yang berjumlah Rp. 543,9 Milyar hanya numpang lewat. Oleh sebab itu,

pemberlakukan penerimaan Dana BOS ini sebagai

Pendapatan Hibah dalam analisis kinerja adalah kurang tepat, karena tidak mencerminkan hal sesungguhnya atau dapat dibelanjakan untuk tujuan lain.

Jika Pendapatan Hibah Dana BOS dikeluarkan dari perhitungan/analisis, realisasi jumlah pendapatan daerah Provinsi Sumatera Barat mengalami peningkatan dari Rp. 2.184,0 Milyar pada tahun 2011 menjadi Rp. 2.378,7 Milyar pada tahun 2012; yang berarti meningkat sebesar Rp. 194,7 Milyar. Peningkatan jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya sebesar Rp. 1,1 Milyar, sedangkanpeningkatan jumlah pendapatan dana perimbangan berjumlah Rp. 212,0 Milyar, yang terdiri dari peningkatan Dana Alokasi Umum (DAU) berjumlah Rp. 153,9 Milyar dan pendapatan bagi hasil pajak dan bukan pajak berjumlah Rp. 66,4 Milyar. Dengan demikian, peningkatan jumlah PAD jauh lebih rendah dari pada peningkatan jumlah pendapatan DAU dan Bagi Hasil Pajak.

Evaluasi kinerja pendapatan daerah yang kedua dapat dilakukan berdasarkan perbandingan realisasi dengan anggaran. Pada tahun 2011, Provinsi Sumatera Barat menganggarkan pendapatan daerah sebesar Rp. 2.071,2 Milyar dan pada tahun 2012 sebesar Rp. 2.349,6 Milyar. Realisasi pendapatan pada kedua tahun tersebut sedikit lebih tinggi daripada yang dianggarkan, sehingga capaian realisasi pendapatan pada tahun 2011 adalah 105.5% dan pada tahun 2012 adalah 101,2%. Hal ini berarti kedua capaian ini mengambarkan kinerja yang baik, tetapi kualitas capaian pada tahun 2011 jauh lebih baik dibandingkan tahun 2012.

Analisis berdasarkan kelompok sumber pendapatan daerah menunjukkan bahwa capaian kinerja realisasi anggaran pendapatan dana perimbangan pada tahun 2011 dan tahun 2012 juga jauh berbeda, dimana capaian kinerja pada tahun 2011 adalah 103,8% dan tahun 2012 sebesar

103,3%. Akan tetapi, capaian realisasi anggaran PAD menunjukkan penurunan; jika pada tahun 2011 mampu dihasilkan tingkat capaian sebesar 106,72% tetapi pada tahun 2012 hanya mampu dihasilkan 99,46%. Dengan demikian, capaian kinerja realisasi anggaran PAD tahun 2012 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2011 dan juga dibandingkan dengan sumber pendapatan daerah lainnya.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dari segi jumlah, peningkatan realisasi PAD jauh lebih

rendah dibandingkan dengan peningkatan sumber

pendapatan daerah lainnya. Dari segi capaian realisasi anggaran pendapatan, capaian kinerja PAD juga lebih rendah dibandingkan dengan dua sumber pendapatan daerah lainnya. Tabel 4.1 berikut memperlihatkan perkembangan angaran dan realisasi pendapatan, serta tingkat capaian pada tahun 2011 dan tahun 2012.

Metode evaluasi kinerja pendapatan yang ketiga dapat dilakukan dengan membandingkan realisasi pendapatan dengan target yang ditetapkan dalam RPJMD. Pada tahun 2011, target pendapatan daerah yang ditetapkan berjumlah Rp. 1.986,6 Milyar dan meningkat menjadi Rp. 2.106,2 Milyar pada tahun 2012. Dari segi jumlah, pendapatan yang dihasilkan baik pada tahun 2011 maupun tahun 2012 jauh lebih besar dibandingkan target yang ditetapkan. Namun tahun 2012 menghasilkan realisasi peningkatan jumlah pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan tahun 2011, dimana pada tahun 2011 dihasilkan peningkatan jumlah pendapatan sebesar Rp. 197,4 Milyar dan pada tahun 2012 sebesar Rp. 272,4 Milyar.

Analisis berdasarkan sumber pendapatan menunjukkan terjadinya perbedaan sumber peningkatan jumlah pendapatan yang lebih besar. Pada tahun 2011, peningkatan realisasi PAD lebih besar daripada peningkatan realisasi Pendapatan Dana Perimbangan, yaitu sebesar Rp. 137,7 Milyar berbanding Rp. 37,3 Milyar pada tahun 2012. Kondisi sebaliknya terjadi pada tahun 2012, dimana peningkatan realisasi PAD lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan realisasi Pendapatan Dana Perimbangan, yaitu sebesar Rp. 80,9 Milyar berbanding Rp. 187,7 Milyar.

Perbedaan sumber peningkatan jumlah pendapatan tahun 2011 dan tahun 2012 tersebut menghasilkan terjadinya penurunan capaian kinerja realisasi target pendapatan PAD. Sebaliknya terjadi kenaikan capaian kinerja realisasi target Pendapatan Dana Perimbangan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kinerja pencapaian target pendapatan daerah sangat baik, dan kontribusi kinerja sumber Pendapatan Dana Perimbangan lebih tinggi dibandingkan dengan sumber PAD. Tabel 4.2 berikut menyajikan data tentang perkembangan target dan realisasi pendapatan tahun 2011 dan tahun 2012.

4.2. Struktur Belanja dan Evaluasi Kemampuan

Dalam dokumen Midterm Review RPJMD 2010 2015 (Halaman 35-42)