• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Aspek Penyuluhan

2.3.8 Evaluasi Penyuluhan Pertanian

Menurut (Farid et al. 2016: 7), evaluasi penyuluhan pertanian adalah kegiatan untuk mengevaluasi suatu program penyuluhan pertanian dengan proses pengumpulan data, ukuran, evaluasi dan pengambilan keputusan yang akan digunakan untuk memperbaiki atau menyempurnakan rencana selanjutnya untuk mencapai tercapainya tujuan program penyuluhan pertanian (Mardikanto 2009). Evaluasi adalah kegiatan mengevaluasi kondisi, tanda atau kegiatan tertentu dengan menggunakan acuan tertentu.

A. Macam-Macam Evaluasi

Menurut (Farid et al. 2016:11) jenis-jenis evaluasi adalah:

1) Evaluasi Penyuluhan Pertanian.

Merupakan alat untuk membuat keputusan dan membuat penilaian. Dari hasil penilaian penyuluhan dapat diketahui sejauh mana perubahan sikap petani, kendala apa yang dihadapi petani, efektivitas program penyuluhan dan sejauh mana pemahaman permasalahan, serta peningkatan kegiatan.

Ada klasifikasi yang berbeda dari evaluasi dalam evaluasi seperti: evaluasi formatif dan sumatif, evaluasi formal dan informal, evaluasi internal dan eksternal, evaluasi proses dan produk (output), evaluasi deskriptif dan inferensial, evaluasi holistik (misalnya CIPP) dan analitik, Evaluasi on going, evaluasi akhir dan ex post, evaluasi teknis dan ekonomi, evaluasi program, pemantauan dan penilaian dampak.

2) Evaluasi Program Penyuluhan.

Setiap program kegiatan yang direncanakan harus diakhiri dengan evaluasi dan dimulai dengan hasil evaluasi kegiatan sebelumnya. Evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk melihat kembali apakah suatu program atau kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah direncanakan. Dari kegiatan evaluasi tersebut diketahui apa yang telah dicapai, apakah suatu

program dapat memenuhi kriteria yang ditentukan. Berdasarkan hasil evaluasi, diputuskan apakah suatu program harus dilanjutkan, direvisi atau bahkan diganti seluruhnya. Hal ini didasarkan pada konsep evaluasi, suatu proses memperoleh informasi melalui pengumpulan data dengan alat pengambilan keputusan tertentu. Oleh karena itu, pada hakikatnya evaluasi adalah suatu kegiatan yang memverifikasi atau mengevaluasi pelaksanaan suatu program.

3) Evaluasi hasil penyuluhan pertanian.

Tujuan penyuluhan pertanian adalah untuk memodifikasi perilaku petani (kognitif, afektif dan psikomotorik).

• Kognitif:

Kemampuan untuk mengembangkan kecerdasan (pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis).

• Afektif:

Sikap, Minat, Nilai, Bereaksi, Evaluasi / Nilai dan menghayati.

• Keterampilan psikomotor:

Kekuatan, kecepatan, presisi, ketepatan, daya tahan, dan harmoni

Oleh karena itu, penyuluhan pertanian berarti menilai tingkat pencapaian tujuan dalam bentuk perubahan perilaku petani dan keluarganya.

4) Evaluasi Metode.

Evaluasi metode merupakan evaluasi seluruh kegiatan penyuluhan pertanian yang untuk mencapai perubahan perilaku sasaran oleh penyuluh pertanian.

5) Evaluasi Sarana Prasarana.

Sarana dan prasarana merupakan alat pendukung penyuluhan pertanian, sangat krusial dalam kegiatan penyuluhan pertanian, keefektifitasan penyuluhan pertanian tergantung pada alat bantu penyuluh, perlengkapan, peralatan, bahan sarana prasarana yang digunakan. Evaluasi sarana-prasarana pada dasarnya

mengevaluasi kesiapan perangkat sarana-prasarana yang menunjang kegiatan penyuluhan.

6) Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan Pertanian.

Merupakan expositions yang sistematis, sebagai upaya evaluasi atas suatu kegiatan oleh evaluator melalui pengumpulan dan analisis informasi secara sistematik tentang perencanaan, pelaksanaan, hasil serta dampak kegiatan penyuluhan pertanian. Hasil evaluasi ini untuk menilai relevansi, efektifitas/efensiensi pencapaian hasil suatu kegiatan, untuk selanjutnya dipergunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di perencanaan dan pengembangan kegiatan selanjutnya.

B. Prinsip Evaluasi

Evaluasi adalah suatu kegiatan untuk mengevaluasi keadaan, gejala atau kegiatan tertentu. Menurut Mardikanto (2009), kegiatan evaluasi harus menghormati prinsip evaluasi, yang terdiri dari:

a. Kegiatan evaluasi wajib merupakan bagian essential dan tidak terpisahkan dari kegiatan pemrograman dalam arti bahwa tujuan evaluasi harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai seperti yang tercantum dalam pemrograman.

b. Setiap evaluasi wajib memenuhi persyaratan.

c. obyektif, ialah selalu sesuai pada fakta.

d. Memakai pedoman tertentu yang sudah dibakukan.

e. Memakai metoda pengumpulan data yang tepat dan teliti.

f. Setiap evaluasi wajib menggunakan alat ukur yang tidak sama untuk mengukur tujuan evaluasi yang tidak selaras juga.

g. Penilaian harus dalam bentuk berikut:

 Data kuantitatif untuk mengetahui secara jelas tingkat pencapaian target dan tingkat penyimpangan dari implementasi.

 Data kualitatif untuk mengetahui faktor-faktornya; Penentu keberhasilan,

penyebab kegagalan dan faktor yang mendukung dan menghambat keberhasilan tujuan program yang direncanakan.

h. Evaluasi harus efektif dan efisien, yang berarti:

Evaluasi harus memberikan hasil yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas (pencapaian tujuan) program. Evaluasi harus mempertimbangkan ketersediaan sumber daya, sehingga tidak memulai kegiatan yang terlalu detail tetapi tidak banyak fungsi untuk mencapai tujuan, tetapi fokus pada kegiatan strategis (yang berdampak besar dan luas terhadap pencapaian tujuan).

C. Tahapan Evaluasi

Menurut penelitian oleh Erwin (2012:3), cara peningkatan pedesaan dinilai dengan cara:

1. Siapkan Indikator Untuk Mengukur Kemajuan.

Penanda adalah faktor yang menunjukkan pola dalam suatu situasi yang dapat digunakan untuk mengukur perubahan dan pencapaian keterampilan dasar yang digambarkan oleh keterampilan tersebut. Penanda dibuat berdasarkan atribut tujuan penilaian dan kemudian didefinisikan dalam hal tindakan operasional yang dapat diukur dan dikenali.

2. Pembuatan Alat Ukur Untuk Pengumpulan Data.

a. Struktur dan Persyaratan alat ukur yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi antara lain:

 Pertanyaan yang berisi untuk mengukur informasi (memori).

 Pertanyaan yang berisi untuk mengukur pemahaman.

 Pertanyaan yang berisi untuk mengukur kemampuan berpikir kritis.

 Skala penilaian untuk mengukur keterampilan atau latihan akal sehat.

 Aspek informasi.

 Minat pada skala kompilasi.

Alat estimasi/alat penilaian harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

− Validitas, yaitu alat estimasi yang digunakan sesuai dengan objek yang akan diestimasi.

− Dependability, artinya kapasitas alat penduga dapat digunakan oleh orang lain dan diperoleh hasil yang serupa dalam segala kondisi.

− Objektivitas, menyiratkan bahwa alat estimasi harus objektivitas yang substansial dan tidak salah lagi, dengan hanya satu terjemahan yang akan dianalisis.

− Metode estimasi yang nyaman (praktis), bahan studi yang mudah digunakan, dapat diterapkan dan dapat diterapkan.

− Langsung (sederhana), artinya tidak terlalu berantakan/rumit, jadi basic banget.

b. Langkah untuk menilai perluasan pedesaan dapat dilakukan sebagai berikut:

 Pertanyaan yang mengukur informasi adalah pertanyaan yang mengukur

apakah mereka mengetahui sesuatu tentang zat tertentu dengan pertanyaan yang sangat singkat.

 Soal yang mengukur pemahaman berkaitan dengan kemampuan ilmiah

individu.

 Soal yang mengukur kemampuan memecahkan masalah.

3. Skala Pengukuran Informasi Skala.

a. Likert.

Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan sikap individu atau kelompok orang terkait fenomena sosial. Dalam penelitian fenomena ini sudah ditetapkan oleh peneliti sehingga dapat disebut variabel penelitian.

Variabel yang sudah ditetapkan dijabarkan sebagai indikator variabel, kemudian

indikator dijadikan dasar menyusun instrument dapat berupa pernyataan atau pertanyaan Sugiyono (2018:93).

b. Guttman

Menurut Sugiyono (2020: 149), skala Guttman digunakan untuk mengukur informasi tentang seorang individu. Pertemuan satu lawan satu tentang keajaiban persahabatan. Alat adalah pertanyaan yang dijawab oleh responden.

Tanggapan responden berupa kata yang derajadnya dari kata positif hingga negatif, seperti "ya" dan "tidak". Masing dari dua opsi memiliki nilai yang tergantung pada pernyataan atau pertanyaan apakah itu menguntungkan.

4. Rancang Tes Dan Kumpulkan Informasi.

Pendekatan untuk menguji perbedaan tergantung pada alasan dan keadaan masyarakat. Sehingga harus menggambarkan/menunjukkan populasi yang akan dinilai. Contoh dalam evaluasi pemekaran desa menyinggung tentang gambaran para peternak/paguyuban petani yang menjadi sasaran pemekaran.

Pada dasarnya good example harus ditujukan pada populasi (specialist) raiser/federasi dalam pelatihan.

5. Melakukan investigasi dan memahami informasi.

Langkah untuk menyelidiki dan memahami informasi meliputi:

a. Hapus dengan mengedit di bidang dan hapus informasi "lainnya" (anomali).

b. Coding, coding untuk kenyamanan saat memasukkan informasi.

c. Pengaturan (penyusunan lembaran).

Pemeriksaan informasi ini tergantung pada alasan penilaian dan tujuan pengumpulannya, serta penyelidikan yang akan dilakukan. Pemrosesan informasi dapat digunakan oleh perangkat komputasi seperti program Excel atau diproses secara fisik. Hal yang perlu diperhatikan untuk memahami hasil evaluasi adalah alasan mengapa tujuan pemekaran tidak tercapai, tidak on target, elemen apa yang menghambat dan melemahkannya, dan pengaturan/gagasan apa yang

ada untuk pengembangan ke depan. di. Implikasi dari penilaian ini berguna untuk perbaikan program di masa depan dan pemikiran dinamis oleh para ahli strategi perluasan/perubahan pertanian.

6. Mengungkapkan.

Pada tingkat dasar, penyusunan laporan penilaian tidak sama dengan penyusunan laporan review pada umumnya, baik secara sistematis maupun terkait dengan pokok laporan yang disampaikan. Bahasa dan struktur kalimat yang digunakan lebih akrab, lebih jelas, karena pembaca laporan evaluasi lebih beragam dari segi pendidikan dan pengalaman. Dalam praktiknya, penyusunan atau evaluasi sistematis laporan pembesaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi/sektor dan poin/tujuan evaluasi yang sebenarnya.