BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
6. Evaluasi proses penetapan APBD
Setelah selesai dilakukan proses verifikasi RKA-SKPD, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) menyusun Raperda tetang APBD beserta lampiran-lampirannya yang hasilnya kemudian dikirimkan kepada DPRD untuk dimintakan pembahasan dan persetujuan. Dengan telah dikirimkan Raperda tentang APBD oleh pihak eksekutif, DPRD menyelenggarakan rapat Panitia Musyawarah (Panmus) untuk menentukan jadwal rapat-rapat pembahasan Raperda APBD. Untuk pembuatan jadwal, kewenangan penjadwalan
pembahasan Raperda APBD sepenuhnya menjadi hak dari pihak legislatif, namun biasanya pihak Eksekutif juga akan diminta untuk memberikan masukan.
Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, Bupati Kabupaten Karanganyar menyampaikan pidato pengantar Nota Keuangan tentang Raperda APBD didepan rapat paripurna DPRD tahap pertama. Setelah penyampaian pidato pengantar Nota Keuangan tentang Raperda APBD, langkah selanjutnya yaitu pembahasan Raperda APBD pada komisi-komisi. Dalam pembahasan ini, komisi-komisi di dewan akan mengundang dinas/instansi mitra kerjanya untuk melakukan pembahasan yang berkaitan usulan anggaran unit kerja yang telah diajukannya. Dalam rapat dengan komisi, unit kerja akan diminta keterangannya mengenai setiap detil usulan anggaran dari kegaitan- kegiatan yang direncanakan. Termasuk dalam tahap ini, akan dibahas diantaranya mengenai masalah indikator kinerja, kewajaran anggaran yang diajukan, urgensi kegiatan yang diusulkan dan masalah-masalah teknis lainya.
Setelah pembahasan di komisi telah selesai dilaksanakan, tahap selanjutnya yaitu akan diselenggarakan rapat paripurna tahap kedua. Pada rapat paripurna tahap kedua berisi penyampaian pandangan umum fraksi-fraksi terhadap Raperda APBD yang telah diajukan oleh
dengan Raperda APBD yang diajukan oleh pihak Eksekutif. Pertanyaan yang seringkali muncul dalam rapat ini yaitu mengenai masalah target pendapatan dan alokasi belanja disamping masalah- masalah penting lainnya. Biasanya pihak Legislatif meminta Eksekutif untuk menaikan target pendapatan untuk tahun yang akan datang tanpa memandang potensi yang ada dan memberikan masukan agar alokasi anggaran supaya lebih banyak untuk kegiatan-kegiatan yang menyangkut pelayanan publik. Kemudian juga banyak dijumpai adanya permohonan pergeseran anggaran dari satu kegiatan ke kegiatan lain yang pada akhirnya akan menimbulkan perbedaan yang cukup signifikan antara dokumen APBD dan KUA-PPAS. “Pihak DPRD biasanya akan meminta kami (SKPD) untuk menaikan pendapatan tanpa melihat potensi yang ada. Jika mereka (DPRD) ingin menaikan target pendapatan, seharusnya mereka juga mau menaikan anggaran belanja.” (Muhammad Hatta, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar).
Setelah rapat paripurna tahap dua berakhir, selanjutnya TAPD akan menyiapkan jawaban Bupati atas pertanyaan dan pandangan umum fraksi-fraksi, termasuk melakukan perubahan-perubahan Raperda APBD yang dikehendaki oleh pihak Legislatif. Jawaban Bupati tersebut untuk selanjutnya akan disampaikan pada saat rapat paripurna tahap ketiga. Dalam rapat paripurna tahap ketiga agendanya yaitu penyampaian jawaban Bupati atas pandangan fraksi maupun
pertanyaan-pertanyaan yang telah disampaikan pada rapat paripurna tahap kedua. Setelah jawaban Bupati pada rapat paripurna ketiga, tahap selanjutnya yaitu akan dilakukan rapat paripurna tahap keempat yang agendanya adalah pembahasan akhir Raperda APBD, yang berisi mengenai pandangan akhir fraksi-fraksi dan sekaligus persetujuan dewan terhadap Raperda APBD. Setelah rapat paripurna tahap keempat berakhir dengan ditandainya persetujuan dewan terhadap Raperda APBD yang diajukan oleh Eksekutif tahap selanjutnya yaitu evaluasi Raperda APBD oleh Gubernur. Setelah dievaluasi oleh Gubernur dan tidak mengalami masalah, maka Bupati dan DPRD mengesahkan Raperda APBD menjadi Perda APBD.
b. Analisis Alokasi Belanja Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar
Belanja Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar selama periode penelitian mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya pendapatan pemerintah yang berasal dari berbagai sumber, baik melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat maupun lain-lain pendapatan yang sah. Semua penerimaan daerah dari berbagai sumber tersebut harus dimanfaatkan Pemerintah Daerah secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan dana dalam APBD dapat dialokasikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan
Pada lampiran 5 dapat diketahui bahwa anggaran belanja untuk tiap-tiap unit kerja dari tahun ke tahun hampir semuanya mengalami kenaikan, dan memiliki besar proporsi belanja yang hampir sama untuk tiap tahunnya. Unit kerja yang mendapatkan alokasi belanja terbesar berada pada Dinas Pendidikan (tahun 2008) dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah raga (tahun 2009). Pada tahun 2009, Dinas Pendidikan diubah menjadi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga. Anggaran belanja pada urusan ini selama tiga tahun berturut-turut selalu mendapatkan alokasi belanja paling besar. Alokasi belanja Dinas Pendidikan (Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga) untuk tahun 2007 sebesar Rp 261.980.107.260,00 atau sebesar 41,43%, tahun 2008 sebesar Rp 327.915.170.320,00 atau sebesar 41,17% dan untuk tahun 2009 sebesar Rp 388.303.416.000 atau sebesar 48,56%.
Secara umum, kita tidak bisa membandingkan TA 2007 dan TA 2008 dengan TA 2009, karena pada TA 2009 Dinas Pendidikan telah digabung dengan Urusan Pemuda dan Olahraga. Sehingga, kita hanya bisa membandingkan TA 2007 dengan TA 2008. Apabila kita perhatikan, maka sekilas akan terlihat hampir sama proporsi belanja Dinas Pendidikan pada TA 2007 dengan TA 2008.
Unit kerja yang mendapatkan alokasi belanja terbesar kedua yaitu Sekretariat Daerah. Pada urusan ini, alokasi belanja untuk tahun 2007 sebesar Rp Rp 123.103.748.500 atau sebesar 19,47% tahun 2008 sebesar Rp 157.548.893.400 atau sebesar 19,78%. Bagian belanja untuk urusan ini
mayoritas dipergunakan untuk belanja tidak langsung. Selanjutnya alokasi belanja terbesar ketiga yaitu pada Dinas Pekerjaan Umum dan LLAJ (atau Dinas Pekerjaan Umum di tahun 2009). Alokasi belanja pada urusan ini untuk tahun 2007 sebesar Rp 56.979.372.100,00 atau sebesar 9,01%, tahun 2008 sebesar Rp 59.995.975.050,00 atau sebesar 7,53% dan untuk tahun 2009 sebesar Rp 35.842.079.000,00 atau sebesar 4,48%. Penurunan belanja dari TA 2008 ke TA 2009 dikarenakan Dinas Pekerjaan Umum sudah dipisahkan dengan LLAJ.
Sementara itu, unit kerja yang mendapatkan alokasi anggaran belanja terkecil yaitu Kantor Catatan Sipil. Selama periode amatan bidang ini selalu mendapatkan alokasi belanja paling kecil. Alokasi untuk bidang ini selama periode amatan yaitu sebesar Rp 1.366.259.000,00 atau sebesar 0,22% untuk tahun 2007, tahun 2008 sebesar Rp 1.368.038.000,00 atau sebesar 0,17%. Pada tahun 2009, Kantor Catatan Sipil berubah menjadi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
Dengan melihat pada Lampiran 5, secara umum dapat diketahui bahwa anggaran belanja untuk setiap unit kerja dari tahun ke tahun hampir semuanya mengalami kenaikan. Adapun pada beberapa unit kerja di tahun 2009 mengalami penurunan karena adanya pemecahan unit kerja. Setiap unit kerja juga memiliki proporsi anggaran yang hampir sama untuk setiap tahunnya, walaupun memang ada sebagian kecil unit kerja yang
tahun ke tahun hampir selalu mempunyai besaran yang sama, padahal apabila dilihat dari besarnya jumlah anggaran selalu mengalami kenaikan. Hal ini menunjukan bahwa jumlah kenaikan anggaran belanja yang dialokasikan kedalam setiap bidang, mempunyai proporsi kenaikan yang hampir sama dari tahun-tahun sebelumnya. Atau dengan kata lain, alokasi belanja kedalam setiap bidang dalam setiap tahunnya hanya dilakukan dengan cara menambah jumlah anggaran tahun lalu dengan sejumlah prosentase tertentu atau biasa disebut dengan istilah inkremental.
Berdasarkan pada data alokasi belanja selama tiga tahun menunjukan bahwa alokasi belanja kepada unit kerja tidak menunjukan suatu fluktuasi yang berarti. Hal ini ditunjukan dengan besarnya proporsi anggaran yang hampir selalu sama, baik dalam setiap urusan maupun setiap unit kerja selama tiga tahun tersebut. Ini berarti bahwa selama periode pengamatan, tidak ada perubahan prioritas alokasi belanja kedalam bidang-bidang tertentu, khususnya yang mendukung terhadap tematik kabupaten yang akan dicapai pada suatu tahun tertentu. Disamping itu, dengan kenaikan anggaran yang proporsional tersebut dapat disimpulkan bahwa alokasi anggaran pada Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar hanya dilakukan dengan cara menambah anggaran tahun sebelumnya (data hitoris) dengan sejumlah prosentase tertentu atau incremental.
Catharina Nina Anggraeni menuturkan angka 10% yang dimaksud berasal dari analisis tim ahli yang dimiliki. “Kita (Bappeda) mendasarkan angka pertumbuhan di tahun mendatang berdasarkan analisis dari tim ahli.
Misalnya dari hasil analisis tim ahli, pertumbuhan tahun mendatang diperkirakan 10%, artinya pertumbuhan anggaran belanja untuk tahun mendatang maksimal 10%.” (Catharina Nina Anggraeni, Kasubag Perencanaan DP2KAD Kabupaten Karangnyar).
Dari hasil wawancara diatas, kita dapat melihat bahwa penyusunan anggaran belanja hanya dibatasi maksimal 10% dari tahun lalu. Program- program yang dirasa penting bagi masyarakat, tetapi tidak masuk dalam prioritas tidak akan mendapatkan anggaran. Kemungkinan besar, hal inilah yang menyebabkan kekecewaan di masyarakat akan pemenuhan kebutuhan publik. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tidak ada perubahan paradigma dalam penyusunan anggaran pada Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar.
BAB V