• Tidak ada hasil yang ditemukan

Exploration Activities Unit Geomin sebagai unit eksplorasi Antam menjaga

Dalam dokumen Berinvestasi Saat Ini Untuk Masa Depan (Halaman 136-138)

keberlanjutan operasi dengan memastikan ketersediaan cadangan bijih dan sumber daya mineral yang merupakan bahan baku dan produk utama Perseroan. Tanggung jawab Unit Geomin meliputi pencarian potensi mineral yang baru dan perizinannya, dan peningkatan informasi geologi area eksplorasi dan tambang Antam dan tingkat

kepastian informasi tersebut.

Setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Australia, Antam berkewajiban untuk menyediakan kepada publik pelaporan hasil eksplorasi dan estimasi cadangan bijih dan sumber daya mineral yang mengacu pada standar pelaporan yang diterbitkan oleh Joint ore Reserves Committee (JoRC) yang beranggotakan Australasian Institute of Mining and Metallurgy, Australian Institute of Geoscientists, dan Minerals Council of Australia atau yang lebih dikenal sebagai standar JoRC. Standar ini dianggap sebagai standar pelaporan cadangan bijih dan sumber daya mineral de facto industri pertambangan dan pengaplikasiannya meningkatkan kualitas dan tingkat kepercayaan pelaporan cadangan bijih dan sumber daya mineral Antam. Antam mengacu pada standar JoRC edisi 2004 yang mengharuskan estimasi cadangan bijih dan sumber daya mineral disusun oleh competent person yang merupakan anggota dari Australian Institute of Geoscientists atau organisasi profesional yang diakui oleh JoRC dan memiliki pengalaman yang relevan dengan gaya mineralisasi dan tipe deposit yang menjadi obyek

penelitian selama minimal lima tahun.

Selama 2011, Antam memprioritaskan penemuan sumber

daya baru komoditas emas, bauksit dan batubara serta melakukan pendetailan klasifikasi cadangan dan sumber daya komoditas emas, nikel, dan bauksit untuk mendukung proyek-proyek pengembangan yang berbasis pada komoditas-komoditas tersebut.

As Antam’s exploration unit, the Geomin unit is tasked with maintaining operations by ensuring the availability of ore reserves and mineral resources. The Geomin Unit’s responsibilities includes exploring for potential new

minerals as well as its licensing and update and assure the

level of accuracy of information pertaining to Antam’s geological exploration sites and mines.

Since its listing with the Australian Securities Exchange, Antam is required to provide the public with access to results of its exploration and estimated ore and mineral

resources that are based on the reporting standards

issued by the Joint Ore Reserves Committee (JORC), whose

members comprise the Australasian Institute of mining and metallurgy, the Australian Institute of Geoscientists,

and the Minerals Council of Australia. This standard is

considered to be the mining industry’s de facto standard for ore and mineral resources reporting and its application

enhance the quality and credibility of Antam’s report. The JORC standard’s 2004 edition serves as the main reference for Antam, which require that the ore reserves and mineral

resources estimates must be prepared by a competent person who is a member of the Australian Institute of Geoscientists or other professional organizations duly

recognized by JORC and possesses relevant experience with the style of mineralization and type of deposits that serve as the object of research of a minimum of five years.

Throughout 2011, Antam prioritizes exploration of new resources, namely gold, bauxite and coal, as well as to detail the classification of reserves and resources of gold, nickel, and bauxite to support of development projects that are based on the these three commodities.

Antam mengeluarkan Rp187,5 miliar untuk mendanai aktivitas eksplorasinya di tahun 2011 (tidak termasuk biaya eksplorasi entitas anak), naik 52% dibandingkan angka tahun lalu sebesar Rp123,3 miliar. Realisasi biaya tersebut mencapai 94% dari anggaran biaya eksplorasi di periode tahun tersebut dan 64% dari total biaya eksplorasi ini merupakan pos biaya ditangguhkan yang dikapitalisasi di laporan keuangan Antam. Jumlah biaya eksplorasi per komoditas pada tahun 2011 untuk komoditas nikel sebesar Rp59,5 miliar, komoditas emas Rp110,3 miliar, komoditas bauksit Rp16,1 miliar dan batubara mencapai

Rp1,6 miliar.

NiKeL

Selama 2011, Antam melakukan aktivitas eksplorasi yang berfokus pada komoditas nikel di Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Maluku Utara, dan Provinsi Papua Barat. Tujuan utama dari aktivitas eksplorasi ini ialah untuk melakukan estimasi cadangan dan sumber daya

mineral nikel Antam secara lebih terperinci untuk

mendukung pencapaian target kinerja produksi bijih nikel dan feronikel, persiapan pembukaan tambang baru, serta proyek-proyek pengembangan berbasis nikel. Jumlah total biaya eksplorasi nikel Antam di 2011 mencapai Rp59,5 miliar.

Antam has spent Rp187.5 billion to fund its exploration activities in 2011 (excluding exploration costs of its subsidiaries), which is 52% higher compared to the previous year of Rp123.3 billion. These actual costs represents 94% of the budgeted exploration costs for the year and 64% of this total exploration cost consist of deferred cost items that were capitalized within the Company’s financial statements. The exploration cost per commodity in 2010 for nickel amounted to Rp59.5 billion, Rp110.3 billion for gold, bauxite amounted to Rp16.1 billion, and coal amounted to Rp1.6 billion.

NiCkeL

Antam’s exploration activities throughout 2011 primarily focused on nickel in three provinces, namely Southeast Sulawesi, North Maluku, and West Papua. The main objective of these exploration activities was to detail the estimation of nickel reserves and resources to support the

Company’s nickel ore and ferronickel production targets, prepare the opening of new mines, as well as nickel-based

development projects. Total cost for nickel exploration in 2011 amounted to Rp59.5 billion.

Aktivitas eksplorasi sangat penting untuk menunjang kegiatan penambangan bijih nikel di UBP Nikel Maluku Utara exploration activities are very important to support the nickel ore mining in North Maluku Nickel Mining Business Unit

Pada akhir tahun 2011, total tonase cadangan nikel saprolit Antam tercatat meningkat sebesar 181% menjadi 152,45 juta ton metrik basah dengan kandungan nikel rata-rata sebesar 2,01% seiring dengan ditingkatkannya klasifikasi sumber daya nikel saprolit di wilayah Sangaji, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara seiring dengan diselesaikannya studi kelayakan Proyek FeNi Halmahera Timur dan penyelesaian desain tambang untuk area tersebut di pertengahan tahun 2011 dan wilayah Mandiodo, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara yang akan mulai beroperasi secara komersial di tahun 2012. Sebagai akibat dari peningkatan klasifikasi tersebut, total tonase sumber daya nikel saprolit Antam mengalami penurunan sebesar 56% menjadi 140,8 juta ton metrik basah dengan kandungan nikel rata-rata sebesar 1,86% setelah memperhitungkan sumber daya nikel saprolit milik PT Gag Nikel, salah satu entitas anak Antam. Penurunan signifikan sumber daya nikel saprolit terjadi karena peningkatan klasifikasi daerah Sangaji dan Mandiodo dari sumber daya menjadi cadangan. Selain itu terjadi peningkatan cut off Ni untuk daerah Sangaji dari 1,4% Ni menjadi 1,55% Ni.

Pada periode yang sama, total estimasi tonase sumber daya nikel limonit mengalami peningkatan sebesar 2% menjadi 407,3 juta ton metrik basah dengan kandungan nikel rata-rata sebesar 1,43% setelah memperhitungkan sumber daya PT Gag Nikel. Seperti di periode-periode yang lalu, Antam hanya mengklasifikasikan nikel limonitnya sebagai sumber daya.

Antam saprolite nickel reserves increased by 181% at the end of 2011 to 152.45 million wet metric tons with average nickel content of 2.01% inline with higher classification of

saprolite resources at Sangaji, East Halmahera Regency,

North Maluku Province as Antam completed the feasibility

study of the FeNi Haltim project and the completion of the mine design in mid 2011 and mandiodo area, North

Konawe regency, Southeast Sulawesi Province, which will start commercial operation in 2012. Since saprolite nickel’s classification was upgraded, total resources consequently declined by 56% or amounted to 140.8 million tons with average nickel content of 1.86%, after taking into account

saprolite resources of Antam's subsidiary of PT Gag

Nikel. Lower saprolite nickel resources was due to higher classification of Sangaji and Mandiodo ores into reserves from resources. As well, Antam increased the nickel cut off in Sangaji from 1.4% Ni to 1.55% Ni.

While in the same period, total estimated tonnage for

limonite nickel resources increased by 2% or 407.3 million wet metric tons with average nickel content of 1.43% upon consideration of PT Gag Nikel’s resources. As in the previous periods, Antam only classifies limonite nickel as resource.

Exploration Activities

Pada akhir tahun 2011 total tonase cadangan nikel saprolit

Dalam dokumen Berinvestasi Saat Ini Untuk Masa Depan (Halaman 136-138)